---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- YTH, Sdr abf di tempat, Izinkan saya utk menyampaikan penilaian saya secara logika atas tulisan anda ttg sdr mari-bersatu. abf nulis: Saya berani menebak bahwa anda seorang etnis Cina , yang sangat membenci bila rakyat Indonesia yang pribumi menjadi kaya. Logika Prihatin bilang: >> Bung abf, perkenankan saya menjelaskan posisi saya. Saya bukan teman ataupun lawan anda maupun bung mari bersatu, tetapi saya berpihak kepada warga negara Indonesia yg tidak ingin negara ini hancur oleh masalah SARA. Dari cara anda menulis, sudah sangat kelihatan sifat anda yg menggunakan isu SARA dalam perdebatan ini. Saya setuju dgn tujuan anda yg ingin membuat SEMUA rakyat Indonesia makmur, tetapi kenapa anda harus menuduh bahwa sang penulis adalah etnis Cina, apa ini relevan dgn topik masalah ini? Saya rasa jangankan orang non-pri, banyak juga orang pri yg masih bingung dgn upaya Adi Sasono dan ide ekonomi kerakyatannya, oleh karena kurang adanya penjabaran detil ttg konsep ini. Mengapa anda harus menyudutkan orang lain hanya karena latar belakang etnis tok. Apa anda ada bukti bahwa dia benci kalau rakyat Indonesia bisa kaya. Saya rasa mayoritas warga non-pri akan setuju kalau ini bisa tercapai, karena tentunya mereka tidak usah menjadi sasaran kerusuhan lagi toh. Abf nulis: Dahulu waktu keputusan pemerintah banyak yang memihak ke etnis Cina , orang Pribumi sedikit yang protes. Sekarang begitu pemerintah akan memajukan rakyat pribumi , orang Cina marah-marah . Prihatin komentar: >> Bung abf, apa anda dulu termasuk orang-orang yg protes thd ketidakseimbangan ini di era suharto dulu? Kalau tidak kenapa? Kalau anda ikut, lantas kenapa tidak dihiraukan oleh pemerintah? Mungkin saja orang-orang Cina itu tidak marah, hanya saja mereka merasa prihatin dgn kurangnya transparancy ttg konsep Adi Sasono ini. Apa anda tidak akan marah kalau harta anda akan diambil oleh pemerintah tanpa alasan yg jelas? Lantas apa anda tidak tau kalau banyak para pejabat yg masih berkuasa terlibat dalam KKN dgn konglomerasi, berapa banyak dana yg diselewengkan, tetapi apa anda juga ikut melayangkan tanda protes? Mengapa anda tidak mempertanyakn berapa banyak dana negara yg habis dihambur-hamburkan oleh Habibie dalam proyek IPTN-nya, apa hasilnya? Kemana semua dana itu dipakai, apakah bukan lebih baik kalau dana tsb dipakai utk menunjang kesehjahteraan rakyat? Mengapa anda diam ttg ini? Atau mungkin karena Habibie adalah seorang muslim dan anggota ICMI lantas ada memakluminnya? Mengapa demikian, bukankah itu artinya anda hanya melihat dari kacamata SARA saja. >> Perlu anda ketahui bung, di zaman suahrto dulu banyak pejabat yg memihak etnis cina bukan karena etnis cina yg memaksakan kehendaknya, malah sebaliknya, karena tau posisi etnis cina lemah secara poitik ataupun hukum, maka para pejabat menggunakan mereka sebagai sapi perah. Utk setiap keuntungan yg diperoleh oleh pengusaha, taukah anda berapa kali lipat yg masuk ke kantong pejabat. Para etnis Cina menggunakan usaha, sdangkan para pejabat hanya menggunakan modal dengul (nama tok). Jadi kita tidak bisa hanya menyalahkan sang pengusaha. Semua ikut andil dalam program KKN ini. Adalah tidak adil kalau anda menuduh etnis Cina lah biang keladi semua ini. Coba anda lihat, mengapa pemerintah tidak mau membantu pengusaha pribumi. abf nulis: Maunya situ apa sih ? Apa pengucuran kredit koperasinya Pak Adi Sasono sekarang harus diberikan ke konglomerat lagi . Rakyat pribumi tidak usah , apa begitu maunya ? Toh kreditnya hanya 10 Trilliun , jika dibandingkan yang dimakan si Owe Owe macam Liem , Phang-phangestu , Siti Murdaya Poooooooooo , Bob Hasan , Mochtar Riyadi dan James T. Riyadi (cina penjilat Habibie) , serta si Babi Gemuk Sjamsul Nursalim . Babi-Babi diatas memakan KLBI sebanyak 250 Trilliun , pengucuran kreditnya lancar , tanpa ada gangguan. Sedangkan 10 Trilliun yang akan dibagikan sebagai kredit kepada jutaan pedagang bermodal lemah , sampai sekarang masih tanda tanya , antara jadi atau tidak akibat ditentang orang-orang Cina macam sampeyan . Prihatin nanggepin: >> Bung abf, saya pribadi tidak tau lah apa maunya para konglomerat yg anda sebut diatas. Tetapi apa anda rela kalau programnya Adi Sasono ini malah bukannya menghasilkan kesehjahteraan yg merata tapi timbulnya kolusi dan konglomerasi baru yg dikuasai oleh pribumi yg jelas kroni-kroni mereka sendiri. Saya tidak rela, bukan karena saya anti pribumi, saya pun tidak rela selama in ekonomi dikuasai oleh para konglomerasi etnis cina atau etnis apapun. Karena saya pun merasakan betap sulitnya berusaha di masa monopoli oleh para konglomerat. Tetapi itu tidak berarti kita berhak utk merampas harta milik mereka melalui redistribusi aset. Seperti halnya warga negara lainnya, saya rela kalau benar-benar dana negara dipakai dgn tujuan murni dan transparen. abf nulis: Kredit Dari Pak Adi Sasono adalah salah satu cara untuk menghindari adanya kerusuhan akibat kesenjangan sosial. Perlu anda ketahui , banyak Paranormal memperkirakan bahwa kerusuhan sangat dahsyat akan terjadi pada tanggal 9 September 1999 pukul 9 lebih 9menit lewat 9 detik . Sebelumnya akan terjadi kerusuhan-kerusuhan yang lebih hebat dari kerusuhan Mei , puncaknya ya tanggal 9 September tadi . Mungkin akan terjadi pembantaian besar-besaran terhadap etnis rakus macam anda . Cara menghindarinya : berilah kesempatan penduduk Pribumi untuk maju , jangan sampai ada ambisi etnis Cina menguasai Indonesia . Prihatin nulis: >> Lagi-lagi anda membawa isu SARA, perlukah ini dalam menyokong pendapat anda? Dimana relevansinya? Kalau semua rang melihat masalah bukan dari kacamata hukum yg berlaku tetapi dari SARA, habislah negara ini bung. Dan prakiraan paranormal tsb akan benar. Anda mengatakan bahwa ada ambisi etnis cina utk menguasai Indonesia, in lelucon yg bodoh. Dimana logikanya ada penduduk yg hanya berjumlah 3% bisa menguasai negara ini bung? Kenapa perlu anda mainkan phobia thd etnis cina ini, bukan cara begini yg bisa membawa Indonesia dari Krisis ini tetapi malah mendekati ambang kehancuran. Sangat berbahaya!!! >> Soal masalah kredit Adi Sasono, dimana letak transparennya? Apa hasilnya? Toh harga barang masih naik saja. Skrg muncul lagi masalah beras bantuan Jepang yg dikorupsi. Inilah yg harusnya kita berantas. Para pejabat yg sering main kolusi dgn pengusaha. Jangan hanya anda salahkan si pengusaha, kalau gayung bersambut tentu saja Kolusi akan ada terus. Coba anda lihat di Singapura, oleh karena adanya prosedur yg transparen dan hukuman yg benar-benar dijalankan, korupsi sangat sukar utk dipraktekan. Pada akhirnya, budaya masyarakat berubah dan antipati thd segala tindak korupsi tinggi. abf nulis: Jika slogan anda "Mari Bersatu" , dalam artian pribumi nonpribumi bersatu namun si pribumi lapar , si nonpribumi hura-hura saya sangat tidak setuju . Ajakan anda berarti ingin mengajak bersatu namun si Cina tetap membawa hasil jarahannya ke kampungnya di Cina Sana. >> Prihatin nulis: Saya tidak yakin kalau itu yg dimaksud oleh bung mari, tetapi hanyalah tafsiran anda saja yg lagi-lagi memainkan isu SARA. Sudah kuno bung sudah kuno. Apa maksud anda hasil jarahan, apa para etnis cina menjarah harta anda? Nah disinilah anda tidak mengerti ttg keadaan yg sebenarnya. Mengapa koq penduduk yg hanya 3% jumlahnya (malah konglomerat hanyalah segilintir saja) berhasil menjalankan usaha mereka. Kalaupun adanya Korupsi, lantas kenapa para pejabat tak ada yg mencegah, malah ikut berkolusi? Siapa yg bersalah? Lucukan, banyak para pejabat sekrg ini yg ikut mencanangkan reformasi thd KKN tetapi mereka sendirilah pelaku dan penjarah harta negara. Dimana lah moral mereka ini? Merekalah sumber primary KKN ini bung, sedangkan para konglomerat itu adalah sekunder saja, yaitu pelaksana penjarahan. Semua sama bersalah. Tak peduli Islam, Cina, atau Arab, yg bersalah ya semuanya. Hidup Indonesia ku yg Bebas dari KKN. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Jan 1999 jam 04:37:09 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
