----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, 13 Januari 1999

Makin Tua makin Lucu

TIGA orang tua yang sudah tergolong 'gaek' bersengketa di muka
hukum. Ali Sadikin bersama Kemal Idris membayar pengacara Todung
Mulya Lubis untuk menuntut Baramuli karena dianggap telah
mencemarkan nama baik keduanya.

'Casus belli'-nya berkaitan dengan soal makar yang dituduhkan kepada
dua mantan petinggi ABRI itu tempo hari. Ketika Ali Sadikin dan Kemal
Idris menjadi pusat perhatian publik waktu itu karena ulang balik
dipanggil ke kantor Polda Metro Jaya dalam dugaan makar, komentar-
komentar bermunculan. Salah satunya datang dari Baramuli yang
setelah menjadi Ketua DPA terkenal ringan bicara tentang apa saja.

Yang menjengkelkan Ali Sadikin dan Kemal Idris adalah ucapan
Baramuli yang dimuat salah satu surat kabar terbitan Jakarta:
''Kalau Saya, Mereka Saya Tangkap.'' Tidak jelas sebagai siapa
Baramuli mengandaikan dirinya. Pernyataan yang sama dari
Baramuli dimuat surat kabar di Palu, 'Kota Mercusuar', dengan
judul: ''Orang Seperti itu tidak Bermoral.''

Pernyataan Baramuli tiga bulan lalu itu tiba-tiba disadari oleh
Ali Sadikin dan Kemal Idris sebagai ucapan yang tidak saja
mengabaikan asas praduga tak bersalah. Tetapi juga dianggap
tidak senonoh. Karena itu Baramuli harus mempertanggung-
jawabkan ucapannya di depan hukum.

Sengketa tiga orang gaek ini akan semakin seru dan mungkin
lucu kalau Baramuli balik menggugat Kemal Idris. Peluang untuk
itu ada pada Baramuli. Soalnya, ketika kasusnya menjadi sorotan
publik, Kemal Idris pernah berucap emosional ketika ditanya
wartawan tentang tanggapannya atas pernyataan Baramuli itu.
''Kalau omong di depan saya, saya tampar,'' begitu kira-kira
pernyataan Kemal Idris yang juga disiarkan luas oleh televisi
waktu itu.

Nah, bagi Baramuli yang mantan jaksa, siapa tahu ucapan Kemal
Idris itu bisa dijadikan alasan hukum untuk menggugat balik.

Negara yang menghormati hukum harus melayani konflik-konflik
warga negaranya, apa pun sifat dan derajat konflik itu. Orang tua
yang berkelahi karena tersinggung soal senyum yang menghina,
misalnya, harus dilayani kalau mereka membawa kasusnya ke polisi.

Kita berharap polisi tidak buru-buru mengajak damai tiga orang tua
yang bersengketa itu. Siapa yang bersalah harus dimasukkan ke dalam
penjara, kalau memang itu hukuman yang diharuskan oleh undang-
undang. Biar 'kapok'.

Baramuli, Ali Sadikin, dan Kemal Idris adalah miniatur problematik
politik kita yang didominasi oleh urusan para sepuh. Energi politik
terkuras hanya karena meluruskan perilaku orang-orang tua yang
sekarang baru disadari sebagai trauma.

Energi dan potensi kritis institusi dalam masyarakat tidak boleh
dikuras hanya untuk mengurus kecengengan-kecengengan orang tua.
Perpolitikan harus memberi tempat bagi problem-problem yang lebih
fundamental bagi persoalan bangsa ini ke depan. Jangan menjadi
ajang lucu-lucu para orang tua. _

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Jan 1999 jam 04:41:11 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke