----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

SOEHARTO SI DUDA KEMBANG

Oleh : EAN

Kita catat dulu sebagian bunyi teks Ikrar Husnul Khatimah yang disusun
sendiri oleh Pak Harto. yang disodorkan draft-nya kepada saya, dan ia
ikrarkan kepada Tuhan pada pagi hari 14 Pebruari 1999 di rumahnya:
"....saya
memohon maaf kepadaMu ya Allah, dan saya mempertanggung-jawabkan
padamu di akhirat. Apabila ada kesalahan dan kekhilafan di dunia ini,
saya akan mempertanggung-jawabkannya di hadapan hukum yang
berlaku..."

Pak Harto itu ibarat duda kembang: diributkan oleh banyak orang,
terutama
oleh mantan 'istri-istri'nya. Baik 'istri' politik, 'istri' ekonomi
maupun 'istri'
dalam berbagai bidang lainnya.

Pak Harto digugat cerai melalui proses yang penuh asap kabut gelap oleh
para istri setelah berpuluh tahun enak hidup bersamanya. Ia dikutuk,
dilaknat, dibenci, dirasani.

Para mantan istri itu menghadapi tiga pilihan sikap. Pertama, ingin
memusnahkannya, tapi tak berani. Kedua, bernafsu mengadilinya tapi ndak
bisa-bisa. Ketiga, melunakkan hatinya? Gengsi dong. Akhirnya yang
dipilih
adalah alternatif ke empat: membencinya, ngrasani dan memakinya dari
jauh.
Pilihan ini diambil oleh para mantan istri secara bertele-tele entah
sampai
kapan. Pak Harto harus dipertahankan sebagai satu-satunya simbol
kejahatan Orde Baru, supaya mantan-mantan istrinya yang dulu terlibat
dalam kejahatan kolektif bisa terbebas dari tudingan-tudingan.

Kebetulan saya tidak pernah menjadi 'istri' Pak Harto. Menjadi
'selir'pun tak
pernah. Seandainya pernah jadi Menteri Orba, saya akan malu tampil
sebagai
pahlawan reformasi dan bicara aspirasi rakyat sekarang ini.

Saya juga tidak pernah jadi Manggala BP-7 seperti Gus Dur, tidak pernah
jadi anggota MPR seperti Cak Nur, tak pernah jadi PNS seperti Pak Amin.
Pernahnya empat kali ketemu: pertama takbiran bareng ketika ia masih
berkuasa sehingga alhamdulillah saya berhasil tidak bersalaman
dengannya.
Kedua ketemu dia bareng Gus Dur, Cak Nur dll. untuk mengalihkan
kekuasaan dari dia ke Komite Reformasi, tapi orang memilih Habibie jadi
presiden. Ketiga dan empat saya ketemu empat mata ketika ia sudah tidak
berkuasa, sudah diinjak-injak dan diludahi banyak orang, sudah tidak
bisa
disandari lagi. Saya tidak mau ikut meludahi dia. Dia diproses hukum
saja,
diadili, tapi tak usah diludahi.

Saya membawakannya buku "Iblis Indonesia, Dajjal Dunia" kumpulan kritik
saya kepada Presiden Soeharto 1990-1998. Alhamdulillah ketika ia masih
jadi
presidenpun saya tidak nempel, menjilat, bersandar atau menjadi
benalunya.
Tuhan sangat pemurah, hidup saya tak kurang suatu apa. Bahkan radius
spiritual-ekonomi-budaya masyarakat yang bersama saya di skala sepak
terjang Padhang mBulan, Hamas, Zaituna, Kiai Kanjeng dll. sangat
dibarokahi Allah -- sehingga tak perlu saya dan kami menjadi benalu
siapapun, apalagi menjadi benalu di pohon yang sudah tumbang. Kalau mau
jadi benalu sekarang, mestinya ke pohon Habibie, atau Gus Dur, Mega,
Amin, dan bukan bodoh menjilat Soeharto yang sudah roboh.

Tapi kalau Anda ingin mencicipi bagaimana rasanya difitnah - seperti
saya -
sesekali bertemulah dengan si Duda. Saya bersyukur karena sehabis ketemu

dia dan difitnah orang, saya lantas bawa Qur'an ke mana-mana. Kalau ada
orang tanya kenapa ketemu Soeharto, saya jawab apa adanya. Kalau orang
menuduh, saya langsung keluarkan Qur'an dan minta dia pegang bersama
saya untuk bersumpah: yang berdusta menanggung adzab Tuhan.

Bahkan di depan sekitar 15 ribu jamaah di Masjid Agung Surabaya 21
Pebruari 1999, juga di depan masyarakat daerah lain sebelumnya --
Tanjungpriok, Sorobayan, Ngantang, dll dalam acara Ikrar Husnul
Khatimah Keluarga Besar Bangsa Indonesia -- saya genggam Qur'an itu
dan saya teriakkan: "Ya Allah, kalau sepeser sajapun saya pernah
menerima
suap atau sogokan haram jenis apapun dari Pak Harto atau keluarga
Cendana, atau uang haram apapun lainnya, maka adzablah aku, patahkan
kakiku, ledakkan kepalaku atau apapun saja bentuk laknatMu. Akan tetapi
kalau Engkau tidak menjumpaiku demikian, aku mohon ampunilah dosa para
pemfitnah, tenangkan jiwanya dari kecemasan, bersihkan hatinya dari
dengki
dan kebencian, teguhkan akalnya agar mampu berpikir sehat dan adil..."

Di Padhang mBulan 2 Maret 1999 25 ribu jamaah juga saya ajak berwirid
dan
bersumpah karena mereka dituduh dibiayai oleh Cendana.

Sebenarnya fitnah menyertakan tambahan ilmu dan rejeki, min haitsu la
yahtasib, yang tak terduga-duga. Sehingga dari sudut saya pribadi, malah

kapan-kapan ingin membayar siapa saja yang memfitnah saya.

Akan tetapi karena fitnah itu menyangkut jamaah Padhang mBulan dan
masyarakat luas, apalagi jika dengan fitnah itu berbagai upaya
kemashlahatan dan kemanfaatan sosial yang kami lakukan menjadi tidak
efektif, maka tidak ada jalan lain kecuali mengajak para pemfitnah
ber-mubahalah.

Sesungguhnya prinsip ikrar, sumpah, mubahalah atau Jawa-nya 'sumpah
pocong' itulah yang saya tawarkan kepada si Duda dalam hubungannya
dengan Indonesia. Saya katakan kepadanya: "Pak, kalau Sampeyan omong
di konferensi pers, di teve atau di manapun, mana mungkin orang percaya.

Sedangkan kepada penguasa orde reformasipun rakyat tidak percaya.
Bangsa kita mengalami krisis legitimasi, kriris kepemimpinan, krisis
kepercayaan, horisontal maupun vertikal. Pak Wiranto bilang 'ABRI tetap
konsisten...', lantas Ambon hangus. Konsisten apanya. Sementara rakyat
butuh tahu apakah Pak Wiranto jujur atau tidak, Pak Habibie bohong atau
tidak, Pak Harto mau come back atau tidak. Maka kalau Pak Wiranto, Pak
Habibie atau Sampeyan berani datang ke Masjid, berikrar kepada Allah
didengar oleh banyak orang bahwa tidak begini dan ya begitu, ada
kemungkinan rakyat mulai sedikit punya harapan...."

Dan si Duda bikin teks ikrar di atas. Ia mau menjalani proses hukum.
Kalau ia dusta, Tuhan mengadzabnya.*****

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Mar 1999 jam 10:24:54 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke