---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Minggu, 21 Maret 1999 [Image] Grand Launching Partai Rakyat Demokratik Tampil Mantap Hadapi Pemilu [Image] Reporter: Sigit Widodo [Image] detikcom - Jakarta - Walaupun sempat dikuyo-kuyo rejim Orde Baru selama dua tahun, Partai Rakyat Demokratik (PRD) nampaknya bakal tampil mantap menghadapi Pemilu Juni mendatang. Hal ini terlihat dalam acara Grand Launching PRD di Gedung Wisma Trisula Perwari, Menteng, Jakarta, Minggu (21/3/1999). Acara yang digelar selama empat jam sejak pukul 10:00 WIB berlangsung cukup meriah. Ratusan kader PRD tampak memenuhi ruang pertemuan berukuran 20x10 meter itu. Kain Merah Menyala berukuran 5x3 meter dengan sebuah bendera partai terpampang di panggung. Di sebelah kanan tampak foto ketua umum PRD, Budiman Sudjatmiko berukuran 1x2 meter. Di sebelah kiri panggung terpampang tulisan "Bersama PRD Menuju Pemilu Multi-Partai Kerakyatan". Acara Grand Launcing ini diawali dengan pidato politik ketua Komite Pimpinan Pusat PRD (KPP-PRD), Faisol Riza. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan pidato Ketua Umum PRD, Budiman Sudjatmiko, yang hingga saat ini masih berada di LP Cipinang. Pidato Budiman itu dibacakan oleh Ida Nasim Muhammad, sekretaris KPP-PRD. Faisol dalam pidatonya mengatakan bahwa tahun ini merupakan tahun yang sangat penting dalam sejarah perjuangan PRD. Setelah bertahun-tahun menjadi mesin politik perlawanan "ekstra parlementar", PRD sekarang mengkombinasikan dua arena perjuangan: parlementer dan ekstra parlementer. Oleh karena itu Faisol mengingatkan kader-kader PRD bahwa dengan memutuskan mengikuti pemilu Juni mendatang akan melahirkan tugas-tugas baru. Namun PRD menurut Faisol akan tetap memilih aksi-aksi massa sebagai metode perjuangan. Justru perjuangan parlementer PRD akan lebih difungsikan untuk tetap mendukung aksi-aksi massa. Budiman dalam pidatonya menegaskan bahwa PRD tetap menggunakan asas Sosial-Demokrasi-Kerakyatan. "Partai Rakyat Demokratik secara historis telah menegaskan asas perjuangannya sebagai partai yang berasaskan Sosial-Demokrasi-Kerakyatan," tegas Budiman. Menurut Budiman, pengorganisasian massa dalam PRD bukanlah sekedar mobilisasi massa tanpa mendidik mereka. "Pengorganisasian selalu kita ikuti dengan pendidikan politik," ujar Budiman. Dia mengingatkan bahwa keduanya harus digabungkan menjadi satu. Tanpa pendidikan politik maka massa hanya menjadi obyek dari aktivitas politik para politisi elitis. Namun di lain pihak jika pendidikan politik tidak diikuti dengan perluasan basis dukungan massa maka partai hanya sekedar menjadi asosiasi kaum intelektual yang berada di atas angin. Rudi Lontoh, salah seorang kader PRD, mengatakan bahwa tugas PRD ketika berpartisipasi dalam pemilu adalah mengingatkan rakyat agar mereka sadar bahwa pemilu tidak jurdil. Menurut Rudi pemilu yang jurdil harus dilakukan oleh pemerintah sementara. Selain itu juga dipersyaratkan dihapusnya Dwi Fungsi ABRI. UU Pemilu yang demokratis menurut Rudi juga belum dipenuhi. PRD nampaknya mengukuhkan diri sebagai Partai Sosialis-nya Indonesia. Puluhan dukungan dari partai dan organisasi sosialis sedunia berdatangan. Tercatat dukungan dari: Resistance Socialist Youth Organization Australia, Socialist Party of Netherland, Socialis Arbeid Partei of The Netherland, Parti Rakyat Malaysia, Labour Party of Pakistan, Party of Democratic Socialism Jerman, Socilaist Party of Labour Philipina, New Zealand Alliace dan beberapa organisasi lainnya. Tercatat pula dukungan dari Front Pembebasan Nasional Sandinista, Nicaragua. Tampak hadir penasehat presiden Philipina Joseph Estrada, Renato Constantino Jr., membacakan pidato solidaritas. Selain Renato hadir pula perwakilan Democratic Socialist Party Australia, Samuel King. Samuel dalam sambutannya mengajak semua kekuatan masyarakat tertindas melawan kapitalisme global. Dari dalam negeri tampak hadir perwakilan masyarakat adat Lampung, Tuan Daud. Hadir pula pemimpin perjuangan rakyat Papua Barat, Jacob Rumba, serta perwakilan Partai Sosialis Timor Leste, Chris Boca. Chris mengatakan bahwa kemenangan PRD adalah kemenangan rakyat Maubere (Timor Timur-Red) dan penderitaan PRD adalah penderitaan rakyat Maubere. PRD memang mendukung penuh kemerdekaan Timor Timur dari Indonesia. PRD menolak pemilu diadakan di Timor Timur. Menurut PRD yang harus dilakukan di Timor Timur adalah sebuah referendum yang diawasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sebagai puncak acara dilakukan pelantikan simbolik kepada enam orang anggota baru PRD. Keenam orang itu adalah: Pramoedya Ananta Toer, Dr. Dede Utomo, Gimin, Ismail, Suparlan dan Beni Sumarji. Gimin adalah perwakilan Buruh, Ismail Perwakilan Mahasiswa dan Suparlan perwakilan Pelajar. Dua orang yang paling menerik perhatian adalah Pram dan Dede. Pram dikenal sebagai mantan ketua Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra), sebuah organisasi kebudayaan underbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). Karena jabatannya ini, Pram sempat bertahun-tahun menjalani hidup sebagai narapidana politik di pulau Buru tanpa pengadilan. Sedangkan Dede adalah aktivis kelompok homoseksual. Saat ini dia menjabat sebagai ketua Gaya Nusantara dan ketua jaringan Gay-Lesbian Indonesia. Memang keduanya mempunyai kesamaan nasib dengan PRD. Mereka adalah simbol dari kelompok-kelompok yang dipinggirkan dan dijauhi oleh sistem masyarakat Orde Baru. Hak Cipta ) detikcom Digital Life 1999 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Mar 1999 jam 10:24:12 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
