---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- KOLOM Arwah Perwira Alengka. Re : Anatomi Politik Gus Dur. 17 Maret 1999. *****Untuk hemat pulsa, Arwah Perwira Alengka cuma buka apakabar ini seminggu sekali. Baca dengan cepat, sampai ketemu tulisan mirip ilmiah : Anatomi Politik Gus Dur oleh Pandu Nusantara. Tulisan baik. Bobot Baik. Dimainkan dalam black heart thick face. Tanpa pandang apa dan siapa Pandu Nusantara, tulisan itu bagus----! Dia berhasil menguraikan 4 rahasia dari Lo Han Tin nya Gus Dur. Masih sisa 4 lagi. PR untuknya. Dalam tanggapan ini Arwah Perwira Alengka tidak akan rubah tulisan menjadi rumit dan complicated. Tapi Anatomi Politik Gus Dur yang tiga seri itu boleh di baca sebagai referensi---, dengan white heart feeling tentunya. Kalau tidak--- Gus Dur akan terlihat seperti pesakitan. Sam Kok saja ada dua versi. Ada edisi Lauw Pie jadi Hero, ada edisi Co Coh jadi good guy. Lihat saja pandangan mayoritas saat ini atas Gus Gur. Banyakan mana. Gus Dur masih jauh dari Sam Kok--- jadi tidak perlu disetarakan. Meniru kata kata Pandita Alengka, mungkin versi Pandu Nusantara---, Gus Dur adalah Co Coh. Tetapi versi Arwah Perwira Alengka, Gus Dur dari dulu seorang Lauw Pie. Biar sejarah yang menentukan. Soal thick face--- dia jelas. Soal black heart--- , Gus Dur itu white heart kok. Tidak tegaan. Soal Join them dan pukul dari dalam----, adalah nama lain untuk jurus yang sama "bargain damai untuk konklusi". Bagi kaum black heart berarti Machiavelli. Bagi kaum white heart---, namanya "Guru Bangsa". Dalam politik, orang cuma ingat satu rule. Tiada kawan abadi kecuali kepentingan abadi. Sementara ada kata lain--- yaitu moral dan etika. Saat pemain politik saat ini banyak versi, para pemain ini harus kita pilahkan dulu. Ada yang bermain politik untuk kepentingan kelompok dan golongannya. Ada yang bermain politik untuk kepentingan uang. Ada yang bermain untuk kepentingan negara dan bangsa. Namun ada juga yang bermain untuk kepentingan kemanusiaan dan universal human right. Dan yang paling langka--- ada yang sekedar bermain karena dia senang permainan politik tersebut. Jika orang bermain politik masih dalam tataran kepentingan kelompok nya, pay them no mind. Itu namanya Demokrasi. Bila ada yang bermain politik untuk kepentingan uang---, pay them a little mind---, itu namanya dagang politik---, bikin partai modal 200 juta dapat bantuan pemerintah 2 milyard. Dan bila ada yang bermain politik hanya untuk sekedar menikmati permainan politik--- siapkan psikiater. Antara Hitler dan Bapak Bangsa Sukarno--- nanti bisa tidak jelas bedanya. Sekarang tinggal sisanya---, yang bermain memang demi kepentingan negara dan bangsa, dan satu lagi yang bermain demi universal human right. Dengan tidak mau ketemu Madeleine Albright---, Gus Dur coba menjaga Alengka,s Dignity. Jelek jelek begini---, toh staf mereka sudah sering kontak. Beri Alengka ini muka---, jangan semua anak bangsa Alengka ini mesti ngekor pada ibu nya yang Medeleine Albright. Kasihan Ibu Pertiwi asli dikhianati. Tanpa membesarkan pribadi Gus Dur---- dia mainkan peran Guru Bangsa yang memberikan contoh--- gini lho bermain politik. Murid murid silahkan berdiri di tepi jalan mengelu elukan kedatangan pejabat kerajaan asing---- dengan bendera kecil di tangan, sang guru ada di bilik sekolah. Gus Dur bermain demi kepentingan negara dan bangsa. Bukan NU semata. Dan siapa yang bermain demi universal human right? Dari tulisannya Pandu Nusantara--- seharusnya Adi Sasono. Begitukah ? Semoga Arwah Perwira Alengka salah. Soal paragraf yang menyatakan Adi Sasono dan Dawam Raharjo yang membesarkan Gus Dur sepulangnya dari Irak---, terima kasih. Statement ini lucu. Arwah Perwira Alengka juga bisa bilang----, bahwa karena jasa Perwira Alengka lah maka citra Neo TDA diseluruh dunia bisa pulih kembali. Megalomania. Sementara sebenarnya ratusan ribu warga Neo TDA yang mati matian memperbaiki citra diri sat ini dan Mahapatih Wir beserta ratusan patih patih lainnya bekerja 24 jam nonstop sehari semalam di Cilangkap seolah olah dianggap tidak ada. Jika ada peran kecil dari Perwira Alengka--- mungkin iyaaa. Tapi berjasa untuk segalanya---?, I,m nothing. Arwah Perwira Alengka ini tidak ada artinya dalam besarnya organisasi Neo TDA. Dahulu---, mungkin Gus Dur malah tidak memerlukan Adi dan Dawam--- hanya merekanya saja---- yang terus menerus mendekatkan diri. Who knows ?. Sama seperti Patih Samsyul Maarif yang mungkin tidak memerlukan seorang Arwah Perwira Alengka yang tidak bisa dikendalikannya ini. Arwah Perwira Alengka saja yang terus menulis dan menulis--- sampai beliou pusing sendiri. Ini anak nulisnya kok nggak bisa diatur. Begitupun inti analisis Pandu Nusantara benar. Jurus Gus Dur memang akan membuat posisi Habibie dan Suharto menjadi lemah sekaligus coba menyadarkan kaum modernis yang kini menjelma menjadi fundamentalis kanan. Sasaran awal jurus dialog empat adalah menghentikan ketegangan di masing masing kubu demi mencegah revolusi sosial. Tujuan antaranya adalah menempatkan Soeharto di posisi masa lalu, jangan main di masa kini. Sasaran akhir adalah keseimbangan kekuatan antara pemerintah dan non pemerintah. Tujuan terkandungnya jelas tidak akan diungkapkan yaitu--- agar NU dengan massa tradisionalnya jangan terus menerus dipinggirkan. Tetapi Pandu Nusantara sudah buka semuanya yaa--- biarlah terbuka. Yang jelas Gus Dur main dengan white heart. Bukan black heart. Artinya kalau kalah----, yang kalah jangan langsung digantung mati kayak Ali Bhuto. Kalau menang , jangan merasa mengalahkan. Win win solution sajalah. Dan tiga seri tulisan itu baru membuka empat tabir rahasia Lo Han Tin. Masih ada empat lagi---, ayo. Yang sedikit disayangkan adalah tulisan begitu baik dan mendalam Pandu Nusantara tentang politik Aliran Islam NU kok sama sekali tidak mengulas environmental factor, yaitu faktor geo politik regional dan international. Sementara APEC, AFTA, NAFTA, Globalisasi, dan Free Market adalah simpul simpul permainan silat Gus Dur. Baca tulisan Arwah Perwira Alengka yaitu Surat Kepada Empu Supo-yang mana kami saat ini sedang menatap outward. Maka jangan mainkan lagi inward. Kita akan berbenturan sendiri. Percayalah---, sekarang alihkan perhatian keluar---, selamatkan kerajaan ini. Jangan otak atik dulu urusan kecil---, nanti semua terlambat. Pandu Nusantara sangat menguasai peta internal politik Alengka. Seharusnya juga menguasai geo politik global. Benar tulisan Pandu Nusantara, berdirinya ICMI dan TDA yang ijo royo royo sebenarnya adalah kesempatan emas. Sayang--- semua terlewat. Sayang semua menggunakan kesempatan itu hanya sebagai kendaraan politik dan kendaraan karrier semata. Semua korupsi---, semua mencari jabatan, semua mencari projek dan pengaruh. Tidak ada yang memikirkan ekonomi kerakyatan --- kecuali Eyang Soeharto sendiri. ( Aneh kan---- ??? tidak percaya---- lihat nanti ) Melihat ini ----, sebagai ahli strategi yang visioner, Gus Dur pernah bicara pada Soeharto dalam waiting in Nation. Tetapi Eyang marah. Soal kemudian NU di gebuk--- itu konsekwensi sebuah keyakinan. Cipasung---, Situbondo , Banyuwangi sampai Ambon semua memang NU yang kena gebuk. Gus Dur salah ---? Tidak. Dia benar dalam jurus dialog empat ini.!!. Perhitungan kita---, kalau main hancur hancuran---, yang selamat dari jurus Lo Han Tin ini hanya Gus Dur, Mega, Sultan, SBY dan Adi Sasono. Percaya deh. Buka dulu rahasia lain dari jurus Lo Han Tin itu---, baru jelas. Gus Dur bantu Soeharto--- dengan sinkangnya----, sebetulnya karena alasan hakiki yang tidak bisa Arwah Perwira Alengka buka disini. Dasarnya tetap bela Islam. Hanya---, nanti keenakan Eyang Soeharto dibela di milis ini. Dan Mas Tommy nanti petantang petenteng lagi muncul di pengadilan. Tapi Eyang Suharto sudah tahu semua inti permainan ini dan menjadi sangat benci dengan para mentri dan mantan patih nya yang sudah diberi kesempatan tetapi bukannya kerja bener malah cuma main golf dan taunya cuma babat dan libas. Waktu yang sangat berharga disia siakan. Tahu tahu semua sudah terlewat dan ketika Eyang tanya mana hasilnya---- tidak ada--- dan waktu yang tersisa cuma dua tahun, sehingga hanya bisa bisa digunakan untuk jarah dan bakar. Harusnya bukan dengan begitu. Ada sembilan tahun sejak ICMI berdiri dan ada 7 tahun sejak ijo royo royo. Cukup dengan Tap MPR dan UU--- serta hati yang bersih ---,semua bisa diatur rapi. Cina tidak perlu lari. Ekonomi tidak perlu mati---, dan proporsi ekonomi bisa bergeser sekuensial. Sayang semua telah terlalu. Saat ini---, Eyang menyesalpun sudah terlambat. Jika dulu Eyang dengar kata kata sesepuh Soejarwo----, biar Gus Dur dan Cak Nur yang urus Islam---, Habibie urus pesawat, kapal dan mobil saja, maka---- dengan konstalasi politik manapun, dan campur tangan asing siapapun---, Eyang tetap bisa turun dengan tenang. Sekarang semua sudah berlalu dan selesai. Yang tersisa cuma uang hasil korupsi itu. Tinggal mereka mau menyumbang untuk Islam atau tidak. Dan apakah hati masyarakat Islam masih bisa terbeli. Semoga mereka belum trauma. Dan untuk Adi Sasono yang bisa lolos dari jurus Lo Han Tin ini, di luar sudah di siapkan Gus Dur suatu permainan yang namanya Pat Kwa Tin. What is that ? PR untuk Pandu Nusantara. Jawabannya boleh ditulis di milis ini tetapi jangan terlalu ilmiah dan komplikated. Nanti Proletar marah--- katanya sok intelektual. Padahal jawabannya simpel sekali. Isinya cuma segitu gitunya--- tak perlu di ilmiahkan. ( Oh iya-anda menulis untuk ISTIQLAL yaa --- ah pantes memang harus agak kece ). Kata kunci untuk analisis anda selanjutnya adalah Sosdem 11 negara di Eropah mendukung siapa. Bagaimana posisi IRI dan NDI serta state departmen dalam mengantisipasi Neo Alengka. Kemudian pikirkan untung rugi jika kita bangkitkan kembali pergulatan lama antara kelompok PSI, Masyumi, NU, PNI dll dll dalam format politik saat ini. Kita kotakkan lagi generasi muda Alengka ini dalam kotak kotak sempit primordialisme yang semuanya juga Islam. Untuk apa bahas posisi Anatomi Politik Gus Dur----, ingin menjatuhkan Gus Dur secara lebih intelek ? Atau memang ingin mengingatkannya. Semoga mengingatkan. Menurut Arwah Perwira Alengka Gus Dur itu lemahnya cuma dibidang perbankan. Masak kiai mau beli bank segala. Gak kapok kapok. Dulu Nusumma, Sekarang Bank Papan dan Ficorinvest. Gagal terus. Maksudnya sih kasih kesempatan untuk pesantren pesantren biar belajar punya bank----, tapi dasar balung Gus Dur itu bukan balung bankir ----, yaaa gagal terus. ( Punten Nuwun Sewu--- Gus Dur ) Kembali ke Pandu Nusantara---, mulai saat ini mungkin sebaiknya kita saling kerja sama. Kita bisa koalisi. Sementara yang kita hadapi saat ini adalah hantaman dari luar negeri. Untuk apa kita gontok gontokan di dalam. Gus Dur saja---, saat PAN dan PKB bilang Habibie mesti di demisioner--- malah bela Habibie dan nyalahin Matori. Kenapa---? Karena Gus Dur melihat kepentingan negara dan bangsa. Saat ini agen agen asing sudah tidak perlu melihat anatomi orang per orang lagi. Semua sudah in mind di otak mereka. Kalau ragu ---. Itupun sudah ada file nya. Lengkap. Jadi ---, kalau Arwah Perwira Alengka mau buka file tentang Adi Sasono dan Dawam Raharjo dan meluncurkannya di milis ini--- bisa. Tapi tidak akan dilakukan, sebab nanti seolah olah katanya membalas dendam dan membenarnya issue di tabloid Aksi bahwa Adi Sasono duel dengan Mahapatih Wir karena Adi Sasono telah berkali kali minta pada Habibie agar Mahapatih Wir dicopot. Itukan maunya Adi Sasono. Padahal--- dari kami Neo TDA tidak begitu. Jangan coba main api. Soal saat ini Gus Dur temanan dengan Mahapatih Wir--- yaaa--- urusan mereka. Soal Adi Sasono yang memang lebih pintar dari yang kita duga - yaah itu kan baik. Permainan jadi seru dan babak jadi lebih panjang. Soal dia curi semua konsep Eyang Soeharto--- itu kesalahan Eyang Soeharto terlalu terbuka. Dengan masa lalu yang bersih----, dan konsep curian tadi, maka Adi Sasono memang bisa main lebih canggih dan lebih lama. Apalagi dananya sudah cukup. Perlu apa hubungan lagi dengan Golkar yang banyak dosanya. Bikin Partai Daulat Rakyat saja, --- star way to heaven. Good bye ICMI. Good Bye Golkar. Kesempatan di tangan. Tapi---, untung awal startnya sudah cacat. Main bakar dan main jarah. ( Ini kata Eyang Suharto lho ). Kalau tidak--- RI one pasti ditangannya. Dan --- kami Neo TDA pasti akan masuk barak dibuatnya. Tapi tidak apalah. Dalam kejujuran moral dan intelektual, tulisan Pandu Nusantara itu sangat baik. Nilainya 9,8. Empat rahasia lagi sebentar lagi pasti mampu di uraikannya. Begitulah LION--- kalau bikin tulisan. Terencana dan kata kata ilmiahnya terpilih rapi. Orang Cina kan cepat belajar. Selamat berjuang unmtuk LION. Oh yaaa--- Pandita kemana yaaa---? Milis ini kurang seru tanpa Pandita Alengka. Tidak lupa --- salam juga untuk Caraka Gendenk. Anda waras sekali kok. Tulisan anda juga sangat baik. Baik substansi maupun gayanya. Mari kita ber Neo Alengka Ria. Tetapi maafkan Arwah Perwira Alengka yang cuma bisa seminggu sekali buka milis ini demi penghematan. Salam juga untuk Eyang Jusfik Hajar yang sesepuh di milis ini. Arwah Perwira Alengka senang dengan orang yang konsisten begini. Soal beda posisi itu lain hal. Untuk Proletar----, sebagai orang Padang yang cerdas---, jangan jadikan diri anda menjadi common enemy di milis ini. Arwah Perwira Alengka senang dengan gaya tulisan anda. Kadang serius kadang santai. Tapi tulisan si Piggy dan si Porky itu memang gila. Ha ha ha---lihat besok Ahmad Soedirman yang di Swedia akan sewot lagi. Untuk Wong Cin Na, Arwah Perwira Alengka cuma mengingatkan ---, nama dan gelar anda aneh. Apa tidak malah menimbulkan sentimen anti Cina. Jangankan anda---, kami saja tidak berani petantang petenteng--- dan Neo TDA mesti mengakui semua kesalahan masa lalu nya, dan untuk itu mesti minta maaf. Untuk apa arogan begitu. Hidup Neo Alengka. Hidup Neo TDA Arwah Perwira Alengka. Di Mayapada. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Mar 1999 jam 10:33:04 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
