----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Cengkam Erat  Dua-duanya .  .  .
Intensifkan Persiapan Pemilu dan
Tuntaskan Pemeriksaan  Suharto  .  . !

Oleh ; Ibrahim Isa
18 Maret 1999
1.)  Dengan alasan yang dicari-cari dan dibikin-bikin (a.l. agar ,perhatian
bisa dipusatkan pada persiapan pemilu), pemerintah/Jaksa Agung menunda,
menangguhkan ,menghentikan sementara pemeriksaan terhadap mantan presiden
Suharto atas praktek KKN- nya selama berkuasa.
Pers amat tertarik pada  reaksi Jaksa Agung Ghalib ketika  menanggapi
berita yang disiarkan s.k. Inggris, "The Independent", Selasa y.l.,
mengenai penjualan 3 rumah di London milik mantan presiden Suharto.
Kalangan pers menafsirkan bahwa dengan penjualan rumah-rumah tsb Suharto
berupaya menghapuskan jejak  kekayaannya yang ada di London. Mestinya
Ghalib sebagai kepala suatu instansi yang katanya sedang mengadakan
pemeriksaan terhadap Suharto dalam rangka KKN, merasa terbantu dan
bergembira. Tetapi, tidak! Ia apatis saja. Malah menyatakan bahwa ,"hal itu
baru berita". Ia mengatakan akan  berhubungan dengan Deparlu. Ia memberikan
kesan seakan-akan pemeriksan masalah penjualan rumah Suharto di London itu,
tidaklah sederhana.

Sebelum tersiarnya berita mengenai maksud Suharto menjual tiga rumahnya
yang berharga beberapa juta pound sterling itu, masyarakat menyaksikan
sementara kegiatan kubu Cendana, untuk 'membebaskan ' Suharto dari
pemeriksaan Kejaksaan Agung. Mulai dari tuntutan advokatnya yang kemudian
berkembang sampai adanya demonstrasi-demonstrasi di muka Kejaksaan Agung
yang meneriakkan tuntutan-tuntutan serupa..

Perkembangan lainnya: Baru saja koran-koran Jakarta menyiarkan bahwa mantan
Komandan Koppasuss Jendral Prabowo Subianto akan kembali bulan April ini.
Gus Dur pernah mengingatkan sang jendral agar jangan pulang dulu, karena,
katanya mungkin akan ada orang yang menantikan untuk menindaknya. Mungkin
akan dibunuh, begitu katanya.. Terhadap 'peringatan' Gus Dur itu sementara
analisis berpendapat lain. Gus Dur bukan khawatir Prabowo akan dibunuh
orang, yang benar ialah bahwa Gus Dur sudah mengantisipasi, bahwa begitu
datang Prabowo akan mengintensifir kegiatan gelapnya dengan "Mafia
Statusquo". Peringatan Gus Dur adalah cara dia mencegah kembalinya Prabowo
yang ia perhitungkan akan  menambah 'keonaran' saja di Indonesia.

Tanpa mengecilkan makna dari sas-sus yang beredar bahwa Prabowo dan Suharto
'tidak begitu rapat lagi', bahkan dikatakan 'ada pergesakan', dsb., orang
masih tetap berpendapat bahwa antara mereka berdua itu, yang pokok adalah
kesamaannya, bukan pertentangannya.
Mereka sama dalam hal mempertahankan 'Statusquo'.

II.) Perkembangan situasi selanjutnya menunjukkan bahwa semakin dekat waktu
dengan hari 7 Juni 1999, saat  dilangsungkannya  pemilihan umum, semakin
menonjol langkah-langkah yang diambil berbagai fihak sehubungan dengan itu
. Yang amat perlu dicermati di sini ialah langkah-langkah dan gerak-gerik
serta manuver-manuver yang diprakarsai dan diambil oleh fihak "Statusquo".
Tadi sudah dikemukakan mengenai move-move yang dilakukan oleh golongan
"Cendana" untuk melepaskan Suharto dari pemeriksaan dan tuntutan Kejaksaan
Agung. Percobaan tsb dilakukan, baik dari luar,  maupun dari dalam
birokrasi, c.q. Kejak-saan Agung. Pembocoran pembicaraan tilpun Habibie -
Ghalib bisa dilihat sebagai suatu usaha untuk mengalihkan perhatian dari
masalah KKN-nya Suharto, selain ada motif-motif  yang masih belum terbuka..

Keamanan dan kekerasan: Baik itu  dilakukan oleh aparat ( di Aceh,
Timor-Timur, terhadap demo perempuan, mahasiswa, dsb.) maupun yang terjadi
di kalangan masyarakat, seperti kekerasan yang mengambil  bentuk
pertentangan agama ataupun etnis seperti yang terjadi di Ambon, terkadang
seolah-olah mereda, terkadang bergejolak lagi. Masyarakat sendiri, pers dan
berbagai lembaga yang bersangkutan tidak sekali dua mengungkapkan bahwa
kekerasan-kekerasan tsb pada pokoknya adalah produk suatu rekayasa
apa-rat/penguasa.

Mencermati cara-cara penguasa selama ini yang menggunakan metode kekerasan

untuk mencapai tujuan politiknya, sementara analisis mengemuakakn bahwa
kekerasan tsb adalah untuk menimbulkan rasa tidak aman dan ketidak
stabilan. Tujuannya seperti pengalaman selama ini, pertama ialah untuk
melegitimasi keberadaan ABRI, yang  bisa lebih lanjut diarahkan ke
pernyataan  keadaan "darurat sipil" atau malah "darurat militer". "Keadaan
darurat perang" (SOB) memang sudah disebut-sebut oleh kalangan tentara,
a.l. oleh jendral Feisal Tanjung. Pas sekali pernyataan kehendak
men-SOB-kan Indonesia itu segera saja di tanggapi dan ditentang oleh pers
dan masjarakat. Kemungkinan lainnya ialah gejala tsb disebabkan oleh
menggejolaknya 'perang dalam' di kalangan golongan "Statusquo". Yang
tujuannya ialah  menggulingkan Pangab Jendral Wiranto dan menggantikannya
dengan calon kliknya sendiri, dengan alasan bahwa Wiranto tidak mampu
mengatasi situasi.

III.) Benarkah mengharapkan akan tercipta ketenangan dan kestabilan , demi
pemilihan umum, bila terhadap mantan presiden Suharto   untuk sementara
dihentikan pemeriksaan oleh Jaksa Agung? Atau lebih jauh lagi,  terhadap
Suharto samasekali dihentikan pemerik-saan dan tuntutan. Minta saja supaya
beliau bertobat, seperti kata sementara fihak. 'Kan beliau juga tidak kecil
"jasanya (sic!)" . Asal saja beliau mau tobat dan mengembalikan kekayaan
negara yang digelapkannya, sudahlah, kita bisa melupakan itu semua. Kita
kan suatu bangsa yang toleran . . . . dan macam-macam omong kosong lainnya
lagi. Terhadap seruan-seruan seperti itu orang harus betul-betul waspada.
Bagaimana bersikap secara politik terhdap Suharto adalah soal besar dalam
konstelasi perjuangan reformasi dan demokrasi dewasa ini.

Betul, Suharto itu manusia biasa seperti kita-kita ini, yang bisa berbuat
salah, dan juga bisa bertobat. Tetapi fikirannya, rencananya, motifnya itu
sepenuhnya rencana yang jahat dan retrogres, suatu fikiran yang ingin
membalikkan  jam sejarah. Fikiran Suharto ini masih belum berubah. Dengan
menggunakan dana, fasilitas, hubungan-hubungan serta akses ke pelbagai
kekuatan yang dibangunnya selama ini, Suharto berrencana  hendak menyetop
dan menggagalkan  gerakan reformasi dan demokrasi. Suharto sadar betul
bahwa gerakan reformasi  bertujuan  membebaskan rakyat dan bangsa kita dari
keadaan semi-feodalisme , berlangsungnya otoriterisme, militerisme,
birokratisme, korupsi, kolusi, nepotisme, dan kemerosotan serta kebejatan
moral dan hati nuran, yang telah berlangsung selama 32 tahun belakangan
ini.  Jika politik dan watak Suharto tidak seperti yang diuraikan diatas,
mengapa pula  gerakan reformasi perlu menggulingkannya?
Kebangkrutan Orba dan  Suhartoisme menyebabkan konco-konco terdekatnya
seperti Harmoko, Habibie, Ginanjar, Feisal Tanjung, Syarwan Hamid, dll itu
meninggalkannya, seperti tikus-tikus yang berebutan melompat dari kapal
Orba yang sedang tenggelam. Konco-konco Suharto yang tak berkarakter itu
membiarkan sang kapten (Suharto) terpojok dan tenggelam sendiri. Tetapi,
ketika melihat bahwa gerakan reformasi tujuannya bukan saja menggulingkan
Suharto, tetapi benar-benar hendak mereformasi sistim politik dan
kenegaraan Indonesia, hendak menegakkan demokrasi, mengembalikan kedaulatan
ke tangan rakyat, maka mereka tersentak, lalu mencari lagi konco-konco
lamanya . Sekarang a.n. reformasi mereka hendak memenangkan pemilu dengan
mempraktekkan "money politics". Tidak heran diungkapkannya  dalam pers
bahwa diantara 48 parpol yang sudah dibenarkan bisa  ambil bagian dalam
pemilu, paling tidak ada 20 parpol yang merupakan produk dari "money
politics". "Bapak" yang mereka tinggalkan itu, sudah dihubungi lagi dan
sudah beroperasi lagi.

IV.)   Maka politik yang sesuai dengan kepentingan gerakan reformasi
adalah:
Di satu segi, konsewken menuntut dituntaskannya pemeriksaan terhadap mantan
presiden Suharto dan mengajukannya ke pengadilan sebagai terdakwa yang
melakukan kesalahan KKN dan pelanggaran serius terhdap hak-azasi manusia.
Tuntutan dan perjuangan untuk tujuan ini, amat erat bekaitan dengan sukses
atau tidaknya pelaksanaan suatu pemilihan yang demokratis, jujur dan adil.
Sehubungan dengan perjuangan melawan kolusi, korupsi dan nepotisme kita
terinspirasi mendengar berita mundurnya dua puluh pejabat Komisaris Eropah
dari Uni Eropah. Mereka terpaksa mundur karena  penelitian sebuah Komisi
Orang-orang Bijaksana telah membeberkan praktek-praktek birokrasi, kolusi
dan korupsi serta nepotisme di birokrasi Uni Eropah. Sebagai kelanjutan
dari Laporan Komisi tsb Parlemen Eropah mengambil satu-satunya kesimpulan
yang cocok, yaitu tidak lagi menaruk kepercayaan pada para Komiaris Eropah.
Pengalaman menggunakan suatu panitia atau komisi yang independen untuk
memeriksa praktek KKN seperti yang dilakukan di Uni Eropah boleh ditarik
sebagai suatu inpout dalam melacak dan memerika praktek KKN Suharto.
Begitu juga pengalaman I.O.C.  ketika melacak dan memeriksa praktek KKN
dari sementara anggota IOC dan kemudian mengambil tindakan pemecdatan
terhadap 6 anggota IOC dan peringatan terhdap sementara anggota lainnya,
juga bisa dipertimbangkan dalam kita melakukan pelacakan dan pengusutan
terhadap praktek KKN Suharto.

Selanjutan dalam proses penuntutan terhadap Suharto diharapkan akan
mempermudah pengenalan masyarakat terhadap partai-partai dan tokoh-tokoh
yang akan ambil bagian dalam pemilu. Itu akan membantu kita semua untuk
lebih jelas melihat mana emas dan mana loyang. Semakin diintensifkan
pengeritikan dan pembelejetan terhdap keburukan-keburukan Orba dan
Suhartoisme, semakin terdidik massa rakyat yang luas dalam proses
demokratisasi negeri kita.
Segi lainnya, ialah bahwa segenap kekautan politik dan moral yang
memperjuangkan reformasi dan demokrasi, akan lebih serius dan lebih giat
lagi dalam persiapan pemilu. Memerlksa dan mengkonsolidasi serta memperluas
jaringan organisasi dan dukungan masyrakat dan rakyat kecil untuk
memenangkan  demokrasi. Itu  merupakan program aksi kongkrit yang mengacu
kerjasama dan aliansi obyektif dan wajar di antara sesama gerakan
refromasi.
Bisa diantisipasi bahwa puluhan ribu mahasiswa dan aktivis yang secara
sukarela dan sadar memantau pemilu untuk menjamin kejurdilannya, bukan
semata-mata akan melakukan pekerjaan biro dan administrasi, tetapi terutama
melakukan kegiatan politik yang tujuannya adalah penerangan untuk rakyat
dan mengawasi/membelejeti setiap politik dan tindakan yang bertentangan
dengan pelaksanaan pemilu yang jurdil.
Cengkam erat dua-duanya . .
Intensifkan Persiapan Pemilu dan
Tuntaskan pemeriksaan terhadap Suharto!.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Mar 1999 jam 10:32:44 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke