---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 10/II/18-24 Maret 99 ------------------------------ RAHASIA SELAMATNYA BANK BAKRIE (PERISTIWA): Untuk menyelamatkan banknya dari likuidasi, Aburizal Bakrie harus bertengkar dengan Ginandjar Kartasasmita, sahabatnya. Beberapa pihak menyarankan orang macam Ical sebaiknya out dari dunia bisnis. Pemerintah mengumumkan ada 700 orang bankir dan pemilik bank yang masuk dalam daftar orang tercela (DOT). Jumlah ini sangat banyak, mungkin termasuk KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur yang baru saja membeli sebagian saham Bank Papan Sejahtera (BPS). Gus Dur secara hukum memang harus masuk dalam DOT, karena syarat masuk dalam daftar ini adalah mereka yang tak becus mengurus banknya. Nah, siapa yang akan tertawa terbahak-bahak, kendati juga harus merelakan banknya diambil alih pemerintah? Orang itu adalah Aburizal Bakrie, pemilik Bank Nusa Nasional (BNN). Aburizal Bakrie, Komisaris Utama BNN dan saudara lelakinya, Nirwan Bakrie salah satu komisaris bank milik keluarga Bakrie itu, benar-benar diselamatkan pemerintah dalam likuidasi 38 bank swasta Sabtu (13/3) lalu. Sumber Xpos di Bank Indonesia menyebutkan, penundaan likuidasi selama dua minggu oleh Menko Ekuin, Ginandjar Kartasasmita, itu memang untuk menyelamatkan Bank Nusa Nasional (BNN) milik Aburizal Bakrie dari likuidasi. BNN tidak bisa sepenuhnya menyelamatkan diri dan ikut program rekapitalisasi seperti sembilan bank lainnya. Bakrie sebenarnya masih bisa tertawa sekali lagi, soalnya menurut sumber Xpos bahwa tujuh bank itu masuk dalam bank take over plus. Artinya, kendati kepemilikan saham bank-bank itu dikuasai seratus persen oleh pemerintah namun pengelolaannya tetap berada di tangan manajemen lama. Kalangan bankir mengatakan keputusan rekapitalisasi perbankan swasta masih ada yang didasarkan pada unsur kepentingan. Karena sejak awal pemerintah tidak membuat sistem yang baku, sehingga prakteknya lebih didasarkan oleh kepentingan-kepentingan. Kalangan bankir menilai praktek koncoisme masih terlihat jelas dan pemerintah tampak kerepotan, sulit menyembunyikannya. Ini terutama ditujukan kepada BNN. Bagaimanapun Ical memang gigih menyelamatkan banknya. Sejak awal BNN menyatakan tidak pernah masuk dalam kategori C namun berada di peringkat B. Padahal hasil due diligence per September 1998, bank masuk dalam karegori C dengan capital adequacy ratio atau batas minimal kepemilikan modalnya minus 210 persen. Nah, kegigihan Bakrie melobi Presiden B.J. Habibie ini merupakan salah satu penyebab tertundannya pengumuman likuidasi pebankan swasta, yang semestinya dilakukan pada 27 Maret lalu. Soal BNN ini, menurut sejumlah bankir sempat membuat persahabatan Ical-Ginandjar terganggu. Sejumlah bankir mengatakan Menko Ekuin, Ginandjar Kartasasmita, terpaksa memasukkan BNN dalam daftar bank yang akan ditutup, karena bank itu tak mungkin lagi ditolong. Buntutnya, Ical marah. Ditemani Thomas Suyatno, anggota DPR yang juga Komisaris Utama Bank Aspac, ia menghadap Habibie. Menurut cerita Ical, ujar para bankir tadi, Habibie meluluskan permintaan Ical agar banknya tak dilikuidasi. Ribut-ribu antara sahabat ini menyebabkan hubungan Ical-Ginandjar merenggang. Ical yang juga Sekretaris Jendral Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan (DPKEK) bahkan menolak ketika Ginandjar mengundangnya untuk rapat pada 13 Maret 1999 pagi, sebelum likuidasi diumumkan sore harinya. Ical tetap tak mau datang bahkan ketika Tanri Abeng, Menteri Negara Pendayagunaan Badan Usaha Milik Negara, yang juga bekas manajer di Bakrie Group itu membujuknya agar mau hadir dalam rapat itu. Ical memang kuat posisinya karena ia memperoleh dukungan Habibie yang bersama Adi Sasono tengah melancarkan program pribumisasi perbankan swasta nasional. Apalagi, konglomerat asal Padang, Sumatra Barat ini adalah pendukung setia Golkar dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri. Dan, harap diingat, Bakrie masih punya hubungan primordial dengan Habibie. Lho? Ya, istri Habibie Ny. Ainun Habibie adalah wanita asal Padang, satu daerah dengan Ical. Ginandjar sendiri tidak membantah ia bersitegang dengan Ical. Ginandjar ketika ditanya apakah ia sudah berbaik-baik kembali dengan Ical, dia tak membantah pokok pertanyaan itu. Ia mengatakan: "Soal ini tidak ada urusan dengan itu, semua diawasi IMF," ujarnya. Jadi, memang ada ketegangan antara dia dengan Ical, namun bisa diselesaikan Hubert Neiss, Direktur Pelaksana IMF Urusan Asia Pasific. Lolosnya BNN, ini memang menimbulkan rasa iri di kalangan bankir yang banknya dilikuidasi. Sejumlah pemilik bank yang merasa kinerjanya sama jeleknya dengan BNN merasa pemerintah menerapkan diskriminasi. Pemerintah memang dituduh telah dengan sengaja menyelamatkan BNN atau paling tidak meyelamatkan nama baik Ical. Memang Ical harus merelakan banknya dimiliki pemerintah. Namun pilihan itu cukup menguntungkan baginya karena BNN seharusnya masuk dalam daftar bank yang dilikuidasi. Kalangan perbankan mengatakan, sebenarnya dibandingkan dengan Bank Papan Sejahtera (BPS) yang sebagian sahamnya dimilik Gus Dur, BNN sebenarnya tak memiliki manfaat ekonomi dan sosial. "Seharusnya yang lebih pantas diselamatkan bukan BNN namun BPS karena bank ini memiliki retail, terutama di bidang kredit perumahan yang luas. Nah, apa jasa BNN di dunia perbankan?" ujar seorang mantan bankir. Kalangan bankir yang tak puas dengan keputusan pemerintah melikuidasi 38 bank juga heran dengan lolosnya BNN dari likuidasi dan malah diambilalih pemerintah. Mereka juga berpendapat, BNN tak pantas diselamatkan karena masih ada beberapa bank yang lebih pantas diselamatkan. Seorang mantan bankir mengatakan hanya untuk meyelamatkan sebuah bank yang pemiliknya dekat dengan kekuasaan, pemerintah harus menunda likuidasi dua minggu yang mengakibatkan makin turunnya kepercayaan, kerugian triliunan rupiah karena negative spread selama dua minggu itu dan jatuhnya nilai rupiah terhadap dolar. "Ini jelas tak benar. Hanya untuk kepentingan Bakrie, negara harus mengeluarkan uang triliunan rupiah untuk nomboki negative spread dan intervensi untuk mengangkat kembali nilai rupiah," ujarnya. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Mar 1999 jam 15:29:07 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
