----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 10/II/18-24 Maret 99
------------------------------

Bernadetta Reni, korban likuidasi:
"KAMI AKAN LAWAN BI"

(PERISTIWA): Likuidasi 38 bank yang dilakukan  pemerintah pada tanggal 13
Maret  1999 telah membawa korban para profesional perbankan yang tiba-tiba
kehilangan pekerjaan. Reaksi mereka campur aduk, ada yang kaget, marah,
khawatir, tapi juga ada yang senang karena akhirnya ada keputusan final
setelah lama menunggu dengan perasaan tak pasti.

Para profesional perbankan yang menjadi korban likuidasi patut merasa jengah
lantaran mereka sebetulnya tidak turut secara langsung dalam penentuan
kebijakan yang merugikan mereka. Beberapa di antara mereka melihat bahwa
sesungguhnya persoalan bank di Indonesia ini mempunyai akar struktural yang
berpangkal dari rapuhnya sistem perbankan Indonesia.

Berikut adalah hasil wawancara, Xpos dengan Bernadetta Reni, ketua
perwakilan karyawan Bank Indotrade yang juga aktivis Masyarakat Profesional
untuk Demokrasi (MPD) setelah jumpa pers yang digelar MPD di Pissa Caf�
beberapa hari yang lalu.

T: Bisa dikisahkan hari-hari terakhir sebelum likuidasi?
J: Transaksi dengan nasabah masih berjalan seperti biasa. Hari Selasa (9/3)
petugas dari Bank Indonesia datang seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin
mingguan karena Bank Indotrade tempat kami bekerja masuk kategori C. Tetapi
rekan-rekan karyawan kemudian mulai merasa gusar ketika petugas dari BI itu
mulai menanyakan struktur kepemimpinan dan gaji para karyawan. Padahal
sebelumnya kami para karyawan dan juga direksi Bank Indotrade merasa yakin
bahwa bank kami tidak termasuk rombongan yang akan dilikuidasi. Bahkan
sampai Jumat malam (semalam sebelum pengumuman likuidasi, red), komisaris
dan direksi masih yakin bank akan lolos. Sampai jam-jam mau pulang hari
Jumat itu juga transaksi masih normal, bahkan kami masih menerima nasabah
yang mau deposito dalam jumlah yang besar.

T: Pada hari H tanggal 13 Maret saat pengumuman likuidasi, apa yang
dilakukan bank?
J: Ada beberapa karyawan yang bekerja sampai malam karena diminta oleh BPPN,
rekan-rekan kami itu mengurus hal-hal tehnis apa yang harus dilakukan bank.
Manajemen sendiri tidak memberitahu karyawan bahwa bank akan dilikuidasi.
Ini yang kami sesalkan karena bank-bank lain sudah siap jauh-jauh hari
mempersiapkan karyawannya, seperti di Bank Budi International, Sahid Gajah
Perkasa, para profesionalnya sudah siap untuk negosiasi dengan manajemen
secara transparan. Paling tidak seperti Bank Arya Pandu Artha memberitahu
karyawannya pada hari Jumat sehari sebelum likuidasi.

T: Anda sendiri pertama kali tahu darimana?
J: Saya tahu dari Radio Sonora dan Pro 2 FM, kemudian baru kontak-kontak
dengan teman-teman yang lain.

T: Bagaimana perasaan anda waktu itu?
J: Campur aduk, kaget, khawatir, tapi juga terselip rasa senang karena
membayangkan akan menerima pesangon yang banyak. Tapi di antara kami memang
sudah pasrah karena kami juga melihat bahwa likuidasi ini merupakan jalan
terbaik untuk memperbaiki dunia perbankan Indonesia, walaupun sebenarnya
kami masih ingin bekerja di bank kami. Persoalannya sekarang belum ada deal
dengan owner, para komisaris dan pemegang saham bank.

T: Anda bilang terselip rasa senang?
J: Ya, karena selama ini tidak ada kepastian mencapai hasil dalam karier
maupun target masa depan. Kita bekerja sudah tanpa harapan sejak krisis
ekonomi membuat bank kami bangkrut. Jadi istilahnya, kami bekerja seperti
hanya sekedar mendapatkan nafkah saja, padahal bagi kami profesional
perbankan ini kan menariknya pada tantangan target yang harus dicapai.
Sementara target yang diharuskan dari BI itu bukannya tidak bisa kami capai,
tapi tidak jelas apa maunya BI, berubah-ubah terus. Kami pun rata-rata
bertahan saja bekerja di bank menunggu akhir, nah sekarang sudah ada likuidasi.

T: BI berubah-ubah terus, apa maksudnya?
J: Jadi, keputusan BI itu tidak jelas garis besarnya, petugas BI yang datang
ke sini pun tidak tahu untuk apa informasi-informasi yang harus kami berikan
ke BI. Lho, ini kan kami merasa ditelanjangi tanpa kami tahu untuk apa
ditelanjangi? (tertawa).

Usut punya usut BI tidak independen dalam ambil keputusan karena intervensi
kekuasaan ekskutif. Waktu akan likuidasi 28 Februari, kami yakin bank kami
bakal lolos, kita sudah setor 20 milyar, kami juga sudah mengajukan business
plan, juga memenuhi kriteria kelayakan manajemen yang baik. Adanya penundaan
membuat seluruh pemilik bank ini merasa ada unsur politik, misalnya
kongkalikong BNN dengan pemerintah itu sudah jadi rahasia umum di kalangan
perbankan. Kami di Indotrade kecewa karena BI plintat-plintut.

T: Ada rencana menuntut?
J: Kami akan lawan BI yang plintat-plintut itu. Rencananya kami akan ke BPPN
untuk negosiasi pesangon.

T: Hanya sampai dapat pesangon saja?
J: Tidak. Saya ini kan di PHK karena ngaco-nya pemerintah. Karena mereka
ngaco, akibatnya semuanya hancur termasuk sektor perbankan. Menjelang pemilu
ini kami akan ikut bergerak. Kami merasa ada persoalan mendasar di negara
ini yang harus diselesaikan, dan sekarang bagi kami profesional yang di PHK
adalah saat yang tepat untuk terjun terlibat lebih jauh dalam gerakan
reformasi. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Mar 1999 jam 15:56:30 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke