----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


DI MALIUBUN 4 WARGA TERTEMBAK, 5 WARGA LUKA PARAH

        BOBONARO (MateBEAN, 23/3/99), Peristiwa berdarah terjadi di Kampung
Maliubun, Desa Ritabou, Kabupaten Bobonaro telah menewaskan 4 orang dan 5
orang lainnya mengalami luka parah. Korban warga sipil itu ditembak anggota
Halilintar yang didukung ABRI.

        Korban yang tewas tertembak, masing-masing Ruben Baros (11), seorang petani
bernama Pedro Dos Santos (27), seorang siswa kelas III SDN Ritabou bernama
Fonseca Assamali (12) dan seorang siswa kelas I SMPN II Maliana bernama
Domingos Dos Santos (18).

        Sedangkan korban luka parah adalah seorang siswa kelas IV SDN Ritabou
bernama Ismenia Maculada (13), siswa kelas I SMPN I Maliana bernama Narcigio
Damiano (18) dan Belandina de Jesus (15) dan seorang petani bernama Carlito
da Cunha (30). Semua korban meninggal dunia dan luka-luka adalah warga RT
II, RK I, Desa Ritabou, Bobonaro, Kecamatan Maliana.

        Ismenia berhasil dievakuasi ke Dili guna mendapat pengobatan secara
intensip di klinik St Antonio Motael, Dili Barat. Sedangkan Narcigio,
Belandina dan Carlino kini sedang mendapat pengobatan secara intensip di
salah satu Klinik milik Paroki Maliana.

        Wakil Koordinator Umum Kontras Dili, Rui Lorenso da Costa didampingi
Koordinator Umum Kontras Dili Isabel da Costa Pereirra SH di kantornya di
Dili Minggu (21/3)mengatakan, "Sesuai hasil investigasi kita di tenpat
kejadian maka disimpulkan bahwa pelaku penembakan itu dilakukan kelompok
Halilintar yang didukung ABRI (Koppasus)."

        Dia menambahkan, "Ketika kami bertemu dengan salah seorang penanggungjawab
Clandestine Falintil di TKP, dia mengatakan bukan Falintil yang melakukan
penembakan tapi dilakukan Halilintar dan anggota ABRI guna mengelabui
Falintil bahwa Falintil yang membunuh rakyat sipil pertanda membunuh dirinya
sendiri.

        Hasil investigasi Kontras di TKP mengatakan para pelaku menggunakan senjata
jenis FNC dan SKS untuk membantai para korban secara membabi buta. Bahkan
Pastor Paroki Maliana, Fransisco Tavares juga mengakui bahwa bukan Falintil
yang menembak warga sipil."

        Peristiwa penembakan itu terjadi pada Sabtu (20/3). Pembantaian itu
dilakukan oleh kelompok Halilintar di bawah pimpinan Paul Gonsalves, dimana
dibantu para prajurit ABRI.

        Menurut Rui, "Peristiwa berdarah Maliubun adalah bagian dari rekayasa dan
pembantaian terhadap masyarakat oleh para elit politik militer dan sipil
untuk mempertahankan ambisi dan status quonya dalam penyelesaian masalah
Timtim."

        Lebih lanjut, menurutnya, peristiwa itu  juga merupakan
ketidaksediaan dan ketidakseriusan pimpinan ABRI di Timtim untuk memeberikan
jaminan keamanan bagi masyarakat sipil di Maliana, dimana sebelumnya Danrem
Tono Suratman telah bersedia memberikan jaminan kepda warga sipil Maliana
yang pernah mengungsi ke Dili akibat diteror dan diintimidasi Halilintar dan
para prajurit ABRI. Namun hingga terulangnya peristiwa berdarah Maliubun
belum ada realisasi dari janji pimpinan ABRI.

        Karena itu, Rui meminta Halilintar dan ABRI segera hentikan aksi teror dan
intimidasi terhadap warga sipil, terutama pembantaian terhadap masyarakat
pro-referendum dan tidak melakukan operasi balas dendam terhadap warga
sipil. Pasukan ABRI juga harus segera ditarik dari Timtim. Sebaliknya
mendesak agar PBB segera menerjunkan pasukan perdamaian PBB di Timtim.

        "Pimpinan ABRI (polisi dan tentara)," kata Isabel, "Tidak mampu mengusut
dan mengatasi berbagai pelanggaran hukum dan HAM yang terjadi belakangan di
Bumi Timor Lorosae." Dalam waktu dekat Kontras akan berdialog langsung
dengan Jenderal Wiranto di Jakarta. Jaminan keamanan dan kedamaian di Timtim
tercipta bila Jenderal Wiranto dan Xanana Gusmao harus bertemu, lalu
menyepakati segera melakukan pelucutan senjata yang saat ini dipegang oleh
Halilintar dan organisasi paramiliter lainnya.

        Sementara selebaran surat rahasia dari kelompok pro-integrasi bernomor;
024/Ops/III/1999 tertanggal 11 Maret 1999, dimana dikeluarkan oleh Komandan
Darah Merah, Lafaek Saburai  yang ditemukan FNN di Dili, Sabtu (20/3)
menyeruhkan kepada Panglima Perang Integrasi, Joao Tavares bersama semua
organisasi paramiliter bersenjata pendukung integrasi (Mahidi, Aitarak,
Alfa, Sera, Saka, Makikit, Sakunar, Besih Merah Putih) bahwa pada 30 Maret
mendatang, Komando Darah Merah akan melakukan operasi "SAPU JAGAD" alias
membunuh semua leader politik dan masa pro-kemerdekaan Timor Leste yang
tergabung di CNRT, Falintil, GRPRTT, Ojetil. Sasaran utama operasi
pembunuhan tuntas itu adalah di kota Dili, di mana semua rakyat pendukung
kemerdekaan Timor Leste akan dibunuh secara tuntas.

        Sebelum tenggat operasi "Sapu Jagad" terlaksana pada 30 Maret 99, pukul
00.00 wita, pasukan militer pro-integrasi akan melakukan pengevakuasian
terhadap semua massa pro-integrasi, di kota Dili dan daerah lain di bagian
timur Timtim ke wilayah Bobonaro (basis pertahanannya) di bagian barat Timtim.

        Sejumlah kalangan di Dili mensinyalir operasi  pembunuhan massal
kelompok "Darah Merah" terhadap  rakyat pro-kemerdekaan itu akan dilakukan
berbarengan dengan aksi sekitar 2 ribu provokator Soeharto-Habibie-ABRI yang
kini telah berada di kota Dili dan seluruh wilayah Timtim. Para provokator
bayaran Soeharto-Habibie-ABRI itu kini berpura-pura membeli rumah-rumah
milik warga non-pribumi yang telah meninggalkan Timtim di kota Dili.

        Anehnya, setelah peristiwa itu terjadi, Dandim 1636/Bobonaro, Letkol (Kav)
Burhanuddin Siagan mengeluarkan statement yang sangat tidak masuk akal.
Justru terjadi tuduh-menuduh antara ABRI dan Falintil. Kepada wartawan di
Maliana dia mengatakan bahwa yang menjadi dalang dalam kasus itu adalah
Falintil. "Seratus persen yang menembak adalah Falintil. Dan itu bukan ABRI
atau paramiliter yang melakukan itu. Karena selama ini ABRI bertugas untuk
melindungi rakyat dan bukan membunuh rakyat. Apalagi terhadap anak dibawah
umur 12 tahun," katanya.

        Menurutnya, setelah kejadian itu, tempat tersebut justru diblokir oleh
anak-anak muda yang selama ini bekerja sama dengan Falintil. Sehingga,
katanya, kasus itu memang sengaja diciptakan oleh kelompok Falintil, dengan
mengkambinghitamkan ABRI sebagai dalangnya. "Tidak benar ABRI sampai tega
melakukan itu," katanya.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Mar 1999 jam 18:07:48 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke