----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Gus Dur Siap Bentuk Pemerintahan di Pengasingan
* Ingatkan Militer dan Tak Setuju Amien Rais Jadi Presiden

Singapura, JP.-

Ketua Umum PB NU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kemarin membeber statemen
superberani di Singapura. Menurut dia, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) siap
berkoalisi dengan partai lain yang   demokratis  , asalkan tidak berkoalisi
dengan Golkar.

Selain itu, Gus Dur menegaskan keyakinannya bahwa berbagai kerusuhan di
tanah air akan beres dalam waktu sebulan ini. Tepatnya, sebelum masa
kampanye Pemilu 7 Juni 1999 dimulai.

Tidak kalah keras, Gus Dur juga menyatakan tidak sependapat bila Ketua
Partai Amanat Nasional (PAN) Prof Dr H M. Amien Rais menjadi presiden
mendatang meski PKB siap menyatukan kekuatan dengan partai Amien itu. Gus
Dur justru lebih setuju bila Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan
Hamengkubuwono X yang menjadi presiden nanti.

Tentang Megawati Soekarnoputri, cucu salah seorang pendiri NU ini secara
pribadi mengatakan tidak keberatan dengan sosok presiden wanita. Tetapi, Gus
Dur meragukan kans ketua PDI Perjuangan itu karena persepsi mayoritas rakyat
Indonesia yang beragama Islam.

  Bila Golkar menang, mereka bisa memerintah sendiri. Bila mereka berkuasa,
pasti kami terdepak dari kekuasaan,   katanya.

Gus Dur, tampaknya, tidak bisa melupakan perlakuan keji yang dilakukan
pemerintahan Golkar sebelum Soeharto tumbang.   Setelah sekian tahun
ditekan, haruskah saya hidup hanya sebagai seorang menteri (dalam
pemerintahan Golkar)?   tanyanya dalam forum yang diselenggarakan Institute
of Defense and Strategic Studies (lembaga think tank pemerintah).

Gus Dur optimistis Pemilu Juni nanti akan berlangsung fair. Sebab, baik
militer maupun pihak sipil yang mengamankan dan menjaga pemungutan suara itu
sadar bahwa pemilu yang fair itulah yang dituntut masyarakat internasional.

Masyarakat internasional itulah, lanjut Gus Dur, yang mengirimkan bantuan ke
Indonesia. Dengan bantuan itu pula, pemerintah Indonesia bisa membayar gaji
mereka (militer dan sipil) tadi.   Jadi, dalam hal ini, hidup mereka juga
dipertaruhkan,   tandasnya.

Ditanya soal dampak berbagai kerusuhan berdarah yang merenggut banyak nyawa
di Indonesia akhir-akhir ini, Gus Dur yakin semua itu bisa berakhir dalam
satu bulan ini. Dengan demikian, proses pelaksanaan pemilu tidak akan
terganggu.

  Semua itu tidak menyentuh sistem paling rawan dalam negara, sistem dasar
negara. Sebelum kampanye bergulir, kami bakal mampu mengatasinya,   tandas
ketua umum PB NU berusia 58 tahun itu.

Pemimpin lebih dari 40 juta massa NU ini kemudian menambahkan, masyarakat
dan berbagai institusi yang ada  seperti NU  mampu menelorkan kompromi
antara pihak yang bertikai di berbagai tempat di tanah air.

Karena itu, dalam bulan ini, misalnya, bersama para tokoh lainnya, Gus Dur
akan bertolak menuju Ambon untuk memantapkan situasi di sana, yang saat ini
sudah mulai agak reda dari kerusuhan berdarah yang telah merenggut hampir
400 nyawa itu.

Bila kekerasan itu harus meletus sampai menelan banyak korban nyawa, kata
Gus Dur, itu semua tidak lepas dari kurangnya perhatian dan keterlambatan
aparat dalam menanganinya.

  Indonesia tidak suka kekerasan. Jadi, dalam sebulan, semuanya bakal
aman-aman sehingga kami bisa melaksanakan pemilu itu,   papar Gus Dur.

Namun, mengapa kerusuhan berdarah itu hingga kini tidak kunjung reda? Gus
Dur hanya memberi jawaban singkat.   Realistisnya, mustahil bagi kami
(menghentikannya). Saya paham bagaimana operasi militer dan operasi
masyarakat itu,   tandas Gus Dur.

Terhadap berbagai kerusuhan itu, Gus Dur tetap pada keyakinan sebelumnya.
Bahwa berdasarkan informasi   orang-orangnya  , itu semua dipicu para
pengikut mantan Presiden Soeharto.

  Masalah itu bisa dipicu oleh orang-orang yang sama, tapi memakai beberapa
kelompok yang berbeda-beda,   tegasnya.

Seperti diberitakan kemarin, Gus Dur tidak menampik bila dirinya dicalonkan
PKB sebagai presiden mendatang. Dia juga sangat yakin PKB bakal memperoleh
hampir separo suara pada pemilu nanti.

Meski demikian, PKB masih membuka tangan bergabung dengan partai pimpinan
Amien Rais dan Megawati. Tetapi, Gus Dur tidak setuju bila ketua PAN itu
menjadi presiden. Sayang, Gus Dur tidak membeberkan alasannya.

Demikian pula ketika Gus Dur memungut nama Hamengkubuwono X yang dinilainya
pas untuk presiden mendatang. Tetapi, untuk Mega, Gus Dur menilai peluang
putri proklamator Bung Karno itu sangat kecil karena   perasaan   mayoritas
rakyat Indonesia yang beragama Islam.

Gus Dur menyadari bahwa suasana di Indonesia saat ini memang rentan
diberlakukannya keadaan darurat.   Tetapi, bila ABRI berusaha merebut
kekuasaan, seperti yang dilakukannya di masa lalu, rakyat akan melawan.

  Bila nanti memang ada keadaan darurat itu, saya akan mendirikan sebuah
pemerintahan di pengasingan,   tegasnya, yang langsung disambut aplaus
hadirin.

Meski demikian, Gus Dur tidak yakin bahwa ABRI memanfaatkan berbagai
kerusuhan saat ini sebagai alasan memberlakukan sebuah keadaan darurat.
Juga, pemberlakuan keadaan darurat itu sebagai alasan demi suksesnya pemilu
dan taat hukum.

Selanjutnya, Gus Dur masuk ke inti persoalan seandainya dirinya kelak
terpilih sebagai presiden. Salah satunya, Gus Dur berjanji tidak akan
memberikan dukungan kepada para   pembangkang   di negara tetangga seperti
yang dilakukan Presiden Habibie dan Presiden Filipina Joseph Estrada.

Yakni, ketika mereka bertemu di Batam guna memberikan dukungan moral kepada
mantan Deputi PM Malaysia Anwar Ibrahim, yang didepak PM Malaysia Mahathir
Mohamad karena tuduhan korupsi dan pelanggaran seksual. Bahkan, pada
pertemuan itu, Habibie-Estrada juga bertemu dengan anak Anwar, Nurul Izzah.

  Jika saya menjadi presiden, saya tidak bisa melakukannya.
Antarpermerintahan itu bekerja dengan cara yang berbeda-beda. Kita harus
saling menghormati dan tidak melakukan sesuatu di belakang mereka.

  Di Indonesia, saya juga ingin melihat para aktivis hak asasi itu
benar-benar dilindungi. Bukan di luar dan itu bukan pekerjaan saya,   jelas
tokoh asal Jombang ini.

Masuk ke urusan Timor Timur, Gus Dur meragukan bekas koloni Portugal itu
bisa menjadi sebuah negara merdeka. Sebab, kata Gus Dur, secara wilayah,
Timtim sebenarnya tidak layak. Wilayah itu dikelilingi lautan dan tidak
punya modal buat mengeksploitasi sumber minyaknya.

Soal pemerataan ekonomi, Gus Dur menegaskan bahwa provinsi akan diberi hak
memilih sendiri gubernurnya dan menikmati 70 persen dari sumber kekayaannya.
Inilah yang disebut Gus Dur sebagai pola ekonomi baru dengan sentra
pemberdayaan di pedesaan. Juga, perlu adanya pemisahan antara lembaga
peradilan dan legislatif.

Dengan orientasi seperti itu, konsentrasi bisa terjadi pada pihak mayoritas
yang memang berhak menentukan. Petani bisa menetapkan sendiri harga
produknya sehingga subsidi bisa ditiadakan lagi.

Karena itu, Gus Dur menilai sangat penting adanya tim ekonomi yang kuat pada
pemerintahan mendatang. Untuk ke sana, memang tidak harus ada hukum
kemutlakan dari partai yang menang pemilu. Penasihat Megawati, Kwik Kian
Gie, misalnya, bisa dijadikan menteri ekonomi serta menempatkan Bambang
Subianto tetap pada kapasitasnya sebagai menteri keuangan. (rtr/ap/sol)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Mar 1999 jam 03:59:04 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke