---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Ada pepatah mengatakan: "Orang bijak tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dua kali". Tampaknya hal ini tidak mencerminkan karakter bangsa Indonesia. Apakah bangsa Indonesia adalah bangsa paling dungu di dunia? Tampaknya YA. Bukti, menjelang Pemilu tahun ini. Kita sudah sadar dan belajar bahwa setiap kali menjelang Pemilu, selalu ditandai acara kampanye dalam bentuk arak-arakan dengan mengerahkan ribuan massa ke jalan-jalan umum. Dan setiap kali itu pula kampanye arak-arakan selalu menimbulkan keresahan umum dan jatuh korban. Masih untung jika hanya dipalak atau dimintai duit. Sering yang terjadi adalah luka-luka fisik atau kematian; karena bentrok antar pendukung, atau hanya karena menolak memberikan duit rokok dan lantas ditusuk. Dan yang sering menjadi korban justru adalah orang-orang umum yang hanya sekedar menonton. Contoh baru-baru ini adalah tewasnya seorang pemuda di Yogyakarta setelah kampanye sebuah Parpol. Pemuda tak berdosa ini tidak berbuat apa-apa, hanya sekedar menonton berdiri di pinggir jalan, dan tiba-tiba ditusuk dan dibacok tanpa alasan je! la! ! s. Para pelaku/massa kampanye bukanlah orang-orang yang mengerti politik. Kalau diperhatikan, mereka kebanyakan adalah para pengangguran dan preman. Mereka tidak mengerti apa itu pemilihan umum atau dunia politik. Yang mereka mengerti adalah, saat kampanye adalah saat pesta bagi mereka: karena mereka bisa bebas berbuat sesuka hati mereka, memalak, merampas, atau mengambil barang dagangan orang kecil tanpa bayar. Jika yang menjadi korban tidak suka dan komplen, gampang kok, tinggal ditusuk atau dibacok saja. Beres! Hati terhibur! Toh polisi juga tidak akan menangkap. Anehnya lagi, pemerintah tidak pernah merevisi masalah kampanye Pemilu ini. Di negara-negara maju, kampanye Pemilu kampungan bergaya purba seperti di Indonesia tidak ada. Kepentingan umum sangat dijunjung tinggi. Mereka melaksanakan kampanye dialogis melalui media massa radio, televisi, koran, atau membagi-bagikan selebaran. Dan para pendengar atau pembaca dipersilahkan memanfaatkan otak mereka untuk mengerti sendiri program dari partai yang bersangkutan. Sedangkan di Indonesia, ribuan massa dikumpulkan di lapangan, hanya mendengarkan bacotan para jurkam, setelah itu konvoi berhura-hura bikin keributan. Di sinilah tampak perbedaan intelejensia bangsa lain yang beradab dengan bangsa Indonesia. Sungguh dungu, mengapa pemerintah tidak pernah memikirkan cara-cara kampanye yang lebih aman, mendidik, dan manusiawi? Mengapa pemerintah tidak melarang kampanye gaya purba ini? Setelah melihat di tahun-tahun lalu bahwa kampanye jalanan selalu membawa keributan, mengapa pemerintah masih tetap menjalankan cara kampanye yang sama? Sekarang tampak lebih jelas. Wong pemerintahnya saja dungu, bagaimana bisa mengharapkan rakyatnya lebih pintar? Pantas bangsa Indonesia tetap terus menjadi bangsa paling dungu di dunia. Mat Puyeng Cowok baru Lewinsky ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Mar 1999 jam 03:59:32 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
