----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Koalisi, . . jadi!
Aliansi, . . . juga boleh!
Yang Penting, Kalahkan "Pro Statusquo".

Oleh : Ibrahim Isa
24 Maret 1999

1.> Kekuatan politik "Pro Statusquo" yang akan bertarung melawan kekuatan
politik dan moral dari reformasi dan demokrasi dalam pemilu yang akan
diadakan dalam waktu lebih sedikit dari dua bulan mendatang ini, yang utama
adalah "Golkar".
"Golkar" adalah suatu partai politik yang menggunakan jubah 'golongan
karya'. Ia  dilahirkan, diasuh, dibesarkan dan dikonsolidasi oleh kekuasaan
Orde Baru. Orba  yang otoriter, fasistis dan anti-demokratis tidak bisa
dibayangkan tanpa adanya suatu partai politik yang menjadi salah satu tiang
penyangganya seperti Golkar. Sebaliknya, Golkar, suatu partai politik yang
tumbuh berkat  kekuasaan militer, tidak bisa dibayangkan tanpa ABRI, tidak
bisa dibayangkan tanpa kekuasaan politik Orde Baru. Yang satu tidak bisa
dipisahkan dari yang lainnya.
Fakta dan kenyataan ini, pengalaman pahit ini sekali-kali tidak boleh
dilupakan. Jika perjuangan untuk reformasi dan demokrasi dimaksudkan untuk
mencapai tujuan akhirnya, yaitu masyarakat Indonesia yang demokratis, adil
dan makmur, maka penderitaan  dibawah kekuasan rezim yang paling represif
dalam sejarah Indonesia, yaitu rezim Orde Baru, betul-betul harus dicamkan
dalam memori nasion ini.

Dalam mengkarakterisasi perkembangan struktur kekuasaan Orba (1974-1983)
sementara pakar internasional mengenai Indonesia (Jamie Mackie dan Andrew
MacIntyre, dalam "Indonesia's New Order". 'The dynamics of socio-economic
transformation'. 1994), menunjukkan bahwa bertambahnya kekuatan Golkar
adalah atas kerugian partai-partai lainnya dalam DPR/MPR.. Artinya,
membesarnya Golkar itu sejalan dengan penggembosan partai-partai politik
lainnya. Dewasa ini nama dan pengaruh Golkar sudah amat merosot, tetapi
kemungkinan Golkar bangkit lagi tidak bisa diremehkan. Dan 'logika' lama
bisa terulang lagi, yaitu bahwa membesarnya Golkar itu terjadi berbarengan
dengan penggembosan parpol-parpol lainnya. Di sinilah perlunya
mengingatkan kembali, menasihati mereka-mereka yang, bertolak dari
perhitungan mementingkan golongan sendiri yang pragmatis ataupun
oportunistis, punya fikiran untuk  'tokh' mengadakan semacam
'understanding' ataupun 'semi-koalisi' dengan Golkar, sebelum, selama
maupun sesudah pemilu nanti.
Fikiran seperti itu akan amat merugikan perkembangan dan terkonsolidasinya
kekuatan pro reformasi dan demokrasi secara moral dan politik.

Untuk memberikan semangat pada kader-kader dan pengikut- pengikutnya, dalam
rangka 'warming up' untuk pemilu,  sementara tokoh dan pimpinan Golkar,
seperti Akbar Tanjung, Baramuli, Abdul Gafur dan satu-dua tokoh lainnya
sesumbar bahwa Golkar tokh tetap akan meraih kemenangan dalam pemilu yad.
Penngemukaan cetusan itu  tidak sesuai dengan jalannya arus reformasi serta
peniliaian dan perasaan masyrakat serta rakyat kecil terhadap Golkar .
Ulah tokoh-tokoh pimpinan Golkar ini membikin orang ingat pada
tingkah-laku  orang yang karena takut pada bayangannya sendiri, lalu . . .
bersiul ketika sedang jalan pada suatu malam , di tempat yang sunyi.
Kemungkinan besar sekali,  tokoh-tokoh itu  tidak percaya pada omongan
mereka sendiri.

II.) Nafsu keras Golkar untuk kembali ke kedudukan berkuasa mutlak seperti
di zaman Orbanya Suharto, itulah yang menimbulkan harapan pada mereka bahwa
Golkar akan dapat suara cukup banyak sehingga akan tetap merupakan  parpol
yang berkuasa, sedikitya pasti diperhitungkan dalam menyusun pemerintah
yad. Dasar pertimbangan dan perhitungan itu kemungkinan besar disebabkan
oleh faktor-faktor sbb::

- - Golkar sudah puluhan tahun berkuasa dan 'berpengalaman' dalam
memanipulasi berkali-kali pemilu dan selalu tampil sebagai pemenang. Selain
itu ada ABRI sebagai  saudara-tuanya  Golkar dalam mencengkam kekuasaan
negara.

- - Golkar  punya pengaruh besar, yang diperolehnya melalui penyalahgunaan
jalur birokrasi dan ekonomi. Jabatan kekuasaan negara yang  diduduki Golkar
di mulai dari presiden, menteri, gubernur, bupati, camat, sampai pada
lurah dan satpam. Hal ini diperkokoh lagi dengan  memberdayakan  berbagai
organisasi massa, seperti organisasi ulama, cendekiawan, lembaga ilmiah,
Korpri, Dharma Wanita, Pemuda Pancasila,  buruh, tani, mahasiswa dll.

- - Golkar punya pengaruh mendalam di kalangan bisnis, melalui kedudukan
kekuasaan  yang dipegangnya di pelbagai perusahaan BUMN, seperti Bulog,
Pertamina, dll, dan sejumlah besar yayasan, yang resminya merupakan lembaga
non-profit, tapi hakikatnya merupakan pembangkit, pengumpul dan pengatur
sejumlah besar kekayaan hasil bisnis dan rekayasa KKN.  Pengaruh ini juga
diperolehnya karena hubungan KKN-nya dengan sejumlah pengusaha menengah dan
konglomerat. Maka di bidang dana Golkar tidak usah mikir lagi.

- - Golkar juga punya pengaruh khusus disebabkan hubungan-hubungan
misterius dan gelap yang dibina dan dipeliharanya melalui organiasi preman
yang berkedok perkumpulan silat dan bela diri lainnya.

Selain percaya pada keampuhan  'warisan ' tsb.diatas yang dimilikinya dari
Orba dulu, Golkar juga 'dapat angin' baru dari sementara pendapat yang
nyaman didengar oleh   telinga Golkar, seperti ungkapan  Prof.
Dr.Nurcholis Madjid, mantan ketua HMI yang saat ini menjadi pemimpin  Tim
Sebelas. Senin lalu Cak Nur menyatakan di muka mahasiswa-mahasiswa
Indonesia di Kairo, bahwa 'kesalahan masa lalu  itu tidak diperbuat Partai
Golkar sekarang ini". Cak Nur juga mengemukakan bahwa ia "tidak sependapat
dengan anggapan bahwa Partai Golkar saat ini adalah kelompok
pro-statusquo". Pernyataan semacam ini amatlah merugikan usaha untuk
memberikan penerangan dan pendidikan politik kepada rakyat. Karena sudah
menjadi rahasia umum, bahwa bencana/krisis politik, ekonomi, sosial dan
moral dari bangsa kita, bersumber dalam skala besar pada Golkar sebagai
parpol penunjangnya. Golkar tsb sekarang ini, ya masih eksis  di hadapan
mata kita. . Maka ucapan-ucapan yang memulas imago buruk Golkar oleh
tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap orang punya  kredibilitas tertentu,
seperti Cak Nur,misalnya, bisa membingungkan sejumlah besar orang.

Bahwa Golkar sekarang ini bukan lagi Golkar dulu itu memang ada  benarnya.
Dalam hal apa? Dalam hal bahwa Golkar sekarang sudah banyak ditinggalkan
oleh gembong-gembong dan pendukungnya  sendiri, seperti Sarwono
Kusumaatmaja, mantan jendral Edy Sudrajad, Hayono Isman dari  Kosgoro, Emil
Salim,  dll. Orang-orang pentingnya sendiri yang menggembosinya. Golkar
sekarang,  juga lain dengan Golkar dulu, karena Golkar sekarang resminya
tidak lagi dapat dukungan dari ABRI. Golkar dulu praktis tidak menghadapi
saingan yang berarti dalam setiap kali 'pemilu'. Golkar dulu tanpa tedeng
aling-aling memaksa, mengintimidasi dan menyuap orang untuk memberikan
suara mereka kepada Golkar. Golkar dulu, melalui jalur birokrasi
pemerintahan dan aparat melakukan rekayasa dalam penghitungan suara, dll.
Syukur alhamdulillah,  sekarang paling tidak ada saingan tangguh dari PDI
Perjuangan, PKB dan PAN. Selain itu masih ada Partai Keadilan dan Persatuan
pimpinan Edy Sudrajat. Memang, tidak sama keadaan Golkar dulu dan sekarang.

III.) Tapi Golkar sekarang, politik dan tujuannya  masih tetap seperti
Golkar yang dulu. Jiwa dan DNA-nya Golkar yang sekarang ini masih tetap
seperti Golkar yang dulu.  Golkar sekarang masih tetap partai yang
berkuasa. Masih tetap menggunakan birokrasi dan jalur kekuasaan lainnya di
bidang politik maupun finans untuk tujuan politiknya, yang sudah terbukti
kebangkrutannya.
Ambil saja contoh Akbar Tanjung. Beliau  tidak mau melepaskan jabatan
menterinya meskipun sudah dipilih menjadi ketua Golkar. Ia mau dua-dua. Mau
jabatan menteri dan juga mau sebagai pemimpin partaipolitik. Ia bertahan..
Tujuannya hanya satu, menyalahgunakan jabatan kekuasaannya itu untuk
kepentingan Golkar yang dalam  waktu dekat ini akan  digunakannya dalam
kampanye pemilu. Siapa tidak ingat bahwa Akbar Tanjung mati-matian menolak
untuk "minta maaf" kepada masyarakat dan rakyat atas kesalahan-kesalahan
Golkar di masa yang lalu.  Ketika ada rencana bahwa sementara menteri tidak
boleh ikut kampanye untuk pemilu yad, cepat saja Akbar Tanjung tarik suara
memprotesnya. Jelas, ia mau menggunakan jabatan menterinya untuk
kepentingan Golkar. Sesungguhnya ada yang lebih terus terang dan vokal dari
gembong Golkar yang sudah berkali-kali menyalahgunakan jabatan
kenegaraannya  untuk kepentingan Golkar:  Baramuli, Ketua Dewan
Pertimbangan Agung, siapa tidak kenal dia..

IV. Dari kalangan yang tempohari ambil bagian dalam "Deklarasi Ciganjur"
ada terdengar suara bahwa  untuk melakukan koalisi ,sebaiknya  sesudah
pemilihan umum. Secara umum, dengan turut sertanya sebanyak 48 partai
politik dalam pemilu yad,  fikiran ini seperti masuk akal dan realis.
Memang sekarang ini belum bisa diketahui dengan pasti, parpaol-parpol mana
saja yang benar-benar punya akar di kalangan masyarakat.

Namun, kalau kita menoleh sedikit kebelakang, khususnya ketika dimulai
kampanye untuk 'pemilu 1997' dimana PDI di bawah pimpinan Megawati tidak
boleh ikut serta, melalui masa gelombang reformasi sampai pada jatuhnya
Suharto sehingga sekarang ini, sesungguhnya tidak sulit untuk melihat
secara pokok partai-partai mana saja yang betul-betul menghendaki dan
berjuang untuk reformaasi dan demokrasi.  Kekuatan-kekuatan yang
pro-reformasi pernah dengan vokal menyatakan pendirian politiknya dalam
"Deklarasi Ciganjur". Berbagai partai pun belakangan ini menyatakan
pendirian, prinsip dan program politik partainya. Yang terakhir adalah PRD
yang menjelaskan lagi program politiknya. Jadi sesungguhnya cukup jelas
juga, 'siapa berdiri dimana'

Pada suatu saat , tampak tidak sedikit yang merasa bingung atau kurang
jelas berhubung dengan pendekatan dan jurus-jurus politik Gus Dur,
khususnya terhadap mantan presiden Suharto. Paling tidak tujuh kali Gus Dur
bertemu dan bicara dengan Suharto.
Akhirnya ketidak mengertian banyak orang berakhirlah. Gus Dur menyatakan
bahwa ia sudah tidak mau lagi bicara dengan Suharto. 'Suharto mau menang
sendiri', katanya. Suharto tidak mau menghentikan kekacuan, kekerasan,
kerusuhan dan ketidak stabilan yang berlangsung dalam masyrakat. Menurut
Gus Dur dan juga kita berpendapat begitu, kesemuanya itu Suhartolah biang
keladinya.

Suharto adalah embah dan bapak pelindung dari Golkar. Dan itu belum
berakhir sampai detik ini. Suharto berkepentingan untuk menangnya Golkar.
Dan orang tidak  heran, Habibiepun berkepentingan untuk menangnya Golkar.
Dan sebagian besar penguasa yang bergelimang KKN juga amat berkepentingan
untuk menangnya Golkar. Kesemuanya itu berkepentingan untuk mempertahankan
"Statusquo".

Oleh karena itu, adalah wajar bila segenap kekuatan pro -reformasi dan pro-
demokrasi mempererat kerjasama mereka, mengadakan aksi-aksi bersama, baik
dalam membela kepentingan sehari-hari rakyat, maupun dalam mensukseskan
pemilu yang jurdil.Adalah wajar bila parpol-parpol yang memperjuangkan
reformasi dan demokrasi, menjalin suatu koalisi ataupun aliansi, dimulai
dari suatu program jangka dekat yang terbatas, sampai pada program kegiatan
bersama yang lebih luas, bukan untuk nanti sesudah pemilu berlangsung,
tetapi dimulai sejak saat ini. Waktunya sudah tidak banyak  lagi.
Kegiatan politik yang tujuannya untuk memberikan pendidikan tentang
reformasi dan demokrasi kepada rakyat, tidak bisa tidak,  wajar dilakukan
sejalan dengan pengkritikan yang mendalam terhadap segala sesuatu yang
hendak mencegah dan menyetop arus gerakan reformasi dewasa ini. Tanpa
pengkritikan, tidak ada pembangunan. Proses ini diperlukan sekali agar
masyrakat yang luas tahu apa yang telah merusak bangsa dan negara ini, dan
reformasi politik dan demokratis yang bagaimana yang hendak dituju. Jangan
khawatir kritik-kritik yang wajar dan masuk akal itu dituduh sebagai
'penghujatan'. Tuduhan-tuduhan penghujatan itu sebenarnya adalah cara untuk
memberangus suara masyarakat yang kritis.

Persatuan dan kemajuan itu bukanlah berarti  meniadakan kritik. Persatuan
hanya akan bertambah kuat bila kritik itu terus dilakukan dengan wajar,
rasional dan masuk akal.
Itu adalah dalam rangka membikin jelas tentang tujuan reformasi dan
demokrasi. Disinlah arti  pentingnya  menyoroti Golkar sebagai parpol yang
merupakan penjelmaan dari politik otoriter dan anti demokratis, yang
bertanggung jawab mengenai politik dan ekonomi Orde Baru. Agar pemilih
tidak salah pilih, maka adalah perlu dengan waspada mencermati
tindak-tanduk dan manuver Golkar , khususnya dalam masalah "money politics"
dalam merakayasa pemilu.

Koalisi, . . . jadi!
Aliansi, . . . . . juga boleh!
Yang penting kalahkan  pro-"Statusquo"!

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Mar 1999 jam 04:04:55 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke