---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: Joshua Latupatti TANGGAPAN UNTUK "Peristiwa SARA di Sambas" (Sabtu, 27 Mei 1999) Salam Sejahtera! Karena kasus Sambas "hampir" sama dengan kasus Ambon, beta coba ikut nibmrung, dengan mengomentari "Peristiwa SARA di Sambas", berdassarkan "KONFLIK WARISAN SOEHARTO" (Kamis, 25 Maret 1999) , "Analisa Sambas" (Jumat, 26 Maret 1999), dan pengalaman di Ambon. Kesamaan kasus Sambas dengan kasus Ambon terletak pada "sikap memusuhi pendatang", sedangkan perbedaannya ada pada "warga Melayu (Muslim) memihak warga Dayak, sedangkan warga Ambon (Muslim) memihak pendatang". Dari sini, jelas terlihat bahwa kasus Sambas lebih bersifat "etnis" , sedangkan kasus Ambon lebih bersifat "agama", walaupun keduanya menjurus pada sasaran yang sama, "pendatang" Di dalam menuangkan komentarnya, saudara Didik J. Rachbini rupanya telah mengabaikan banyak hal, terutama yang ada si dalam "KONFLIK WARISAN SOEHARTO" (Kamis, 25 Maret 1999). Kalau melihat kronologis yang ada, maka ungkapan "tindak pencurian .yang kebetulan orang Madura" itu tidak pas. Bagaimana kalau "kebetulan" ditukar menjadi "sering"? Beliau ini juga lupa bahwa sumbu itu selalu lebih kecil dari peledaknya. Bukankah kasus Ambon juga dimulai dengan tindak kriminal biasa, "pemerasan" se- orang warga Bugis terhadap seorang pengemudi asli Ambon yang Kristen"? "Peledak" yang beta maksudkan di atas adalah "pengalaman pahit" yang ditelan setiap hari selama bertahun-tahun. Dari kronologis peristiwa Sambas yang kita baca, terlihat bahwa peledaknya sudah padat terisi (masak), dan akan meledak jika sumbunya yang relatif cukup kecil, disulut. Sayang, komentar beta tentang "peledak di Ambon" belum dimuat juga walau sudah beberapa kali dikirim. Jika ada, akan ter- lihat hal yang sama benar (timbunan rasa tidak senang/ pengalaman pahit) dengan kasus Sambas. Saudara Didik mengambil bandingan warga etnis Cina di Madura dan warga etnis Madura di Simatera, Kalteng, dan Singapura. Baik, mari kita lihat satu-satu. Warga etnis Cina di Madura pasti memiliki tingkat ekonomi rata-rata yang lebih baik dari warga Madura kebanyakan. Jika di sana aman-aman saja, maka "jurang sosial/ekonomi" yang selama ini dijadikan alasan pemicu kerusuhan, ter- nyata tidak benar sama sekali. Pertanyaan beta, "Apa- kah warga etnis Cina pernah, misalnya, mencuri milik orang Madura setempat, mengganggu anak gadis Madura, atau membunuh camat asli Madura pada hari Jumat?" "Apakah warga Madura di Sumatera, Kal- teng dan Singapura pernah melakukan hal-hal yang di- lakukan warga Madura di Sambas?" Jika tidak, maka badingan saudara Didik memang keliru. Komentar saudara Didik kemudian menghujani aparat dan Pemda Kaltim (Sambas) dengan ungkapan-ungkap- an, "ketololan", "kebahlulan", "kebadutan", dll. Tingkah warga Melayu dan Dayak juga dikenai istilah, "kesetanan", "kebiadaban", "membabi-buta" , "Nazisme", dll. Apakah saudara kita ini sadar apa yang dikatakannya? Nazi itu mencoba menciptakan "ras Aria" sebagai ras terbaik di Dunia, sedangkan warga Sambas tidak. Nazi membu- nuh warga Yahudi (bukan mengusir), tetapi para wanita yang dianggap "berfisik sempurna" ditahan untuk per- cobaan inseminasi "bibit-bibit unggul ras Aria", warga Sambas tidak. Apa tindakan warga Madura sekian tahun terhadap warga Dayak, seperti di dalam kronolo- gi "KONFLIK WARISAN SOEHARTO" (Kamis, 25 Maret 1999) dapat dikatakan "beradab"? Nantinya, saudara malah dikatakan membabi-buta dengan komentar saudara. Beta tidak menyangkali kemungkinan keterlibatan "pe - main-pemain politik" di dalam kasus Sambas dan Ambon. Tetapi, apa yang dapat mereka mainkan jika tidak ada hal- hal seperti di dalam kronologi tersebut? Mengapa hubung- an Pela/Gandong yang begitu erat dan sudah ratusan tahun antara Muslim dan Kristen di Ambon bisa hancur dalam sekejap? "Karena sifat/sikap arogansi pendatang" karena merasa memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik, dan punya backing kuat di dalam struktur Pemda. Sikap arogansi ini dapat diistilahkan dengan "menggong- gong atau mengaum dan bukan mengembik, ketika masuk kandang kambing" (seperti nada komentar saudara Didik yang seakan-akan menyalahkan aturan "harus menyesuai- kan diri"). Komentar , "Analisa Sambas" (Jumat, 26 Maret 1999), mem- pertanyakan perubahan sikap warga Melayu di Sambas. Hemat beta, semua orang/suku di Indonesia pada dasarnya tidak menyukai kekerasan. Tetapi, ada pepatah yang me- ngatakan, "Semut yang diinjak akan menggigit". Kekerasan menjadi pilihan bila (1) orang merasa terinjak (warga Sambas, Melay dan Dayak), dan bila (2) orang merasa berkuasa (arogansi). Jika dibandingkan dengan kronologi kasus Sambas, komentar saudara Didik bahwa warga Madura di Sambas adalah "yang lemah dan tertin- das", hanyalah ungkapan sentimentil yang berlebihan. "Analisa Sambas" (Jumat, 26 Maret 1999), juga menyinggung soal HPH. Hal ini sebenarnya tidak terla- lu berhubungan langsung dengan kasus Sambas. Kalau merasa "dieksploitir", maka akan timbul kasus berbau separatisme seperti di Irja, dan bukan seperti di Sambas ataupun di Ambon. Hemat beta, jika penduduk asli suatu daerah (dimanapun) merasa seakan-akan daerah- nya bukan "rumah"-nya lagi, maka timbullah ledakan seperti di Sambas dan di Ambon. Bukan soal "makan" atau soal "kursi" yang menjadi sumber bencana, tetapi soal "kehormatan/harga diri" yang diganggu. Kalau kurang yakin, balik persoalan menjadi "warga Dayak tinggal di Madura, dan berbuat seperti yang dilakukan warga Madura di Sambas". Sebegitu dulu tanggapan beta. Mari kita bahu-mem- bahu menggali akar permasalahan dengan kepala dingin supaya kita bisa bahu-membahu pula menyelesaikannya. Hanya dengan kajujuran dan keterus-terangan, tanpa mencari-cari hal-hal yang bisa dikambing-hitamkan bagi suatu masalah/pertikaian, maka akan lebih besar harapan yangterbuka bagi kedamaian hidup bermasya- rakat dan bernegara di dalam nagara yang sama kita cintai ini (mudah-mudahan, komentar beta tentang kasus Ambon sudah bisa kita semua baca, ketika tang- gapan ini dibaca). Tuhan kiranya menolong kita semua. Salam sejahtera, JL. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 31 Mar 1999 jam 08:04:34 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
