----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

RISIKO APABILA PEMILU TIDAK DIJALANKAN
SECARA BERSIH (3)

Oleh : Ki Ageng Mangir

Pemilu Juni '99 - Pemilu berisiko tinggi ?

Dengan apa yang telah penulis kemukakan terdahulu,
ada sikap 'pesimis' dalam masyarakat terhadap Pemilu
Juni '99, apakah akan bisa terlaksana dengan baik,
dengan hasil yang seperti diharapkan oleh mayoritas
rakyat agar menjadi suatu titik tolak menuju Indonesia
Baru yang lebih demokratis, yang lebih menghargai
KESETARAAN manusia maupun harkat kemanusiaan.
Hal-hal yang menyebabkan sikap 'pesimis' yang telah
penulis kemukakan adalah: lemahnya partai oposisi,
kelas menengah yang acuh, massa mengambang yang
mudah diintimidasi, sikap ABRI yang masih anti
demokrasi, hukum yang memihak ke penguasa,
praktek KKN yang membudaya yang kemungkinan
kearah praktek 'money politic' adalah sangat besar.

Jelas ada dua harapan yang bertentangan yang hidup
dalam masyarakat saat ini yang masing-masing kubu
punya pendukung mereka masing-masing, yang bisa
menterjemahkan sukses Pemilu Juni '99 pada sumbu
yang saling bertolak belakang:

- kubu pemerintah yang saat ini berkuasa yang sangat
berambisi untuk melanggengkan kekuasaannya akan
mengartikan suksesnya Pemilu Juni '99 kalau hasil akhir
adalah kemenangan pihaknya sehingga 'orde baru'
yang korup dengan aman bisa merubah nama menjadi
'orde reformasi' dan banyak pejabat yang telah kenyang
ber-KKN ria terselematkan dari tuntutan hukum.
- kubu partai politik oposisi yang berkeinginan untuk
melakukan perubahan membentuk masyarakat
Indonesia Baru yang lebih demokratis, menindak tegas
setiap pejabat yang merugikan rakyat dengan praktek
KKN, membentuk pemerintahan yang bersih dan
berwibawa dan lebih demokratis. Sukses Pemilu Juni
'99 bagi mereka adalah apabila mampu menumbangkan
supremasi 'order baru' atau pemerintahan yang sedang
berkuasa saat ini.

Jelas sukses dari satu pihak, menjadi kegagalan
dipihak yang lain dan apakah setiap pihak yang kalah
berani dengan 'ksatria' bisa menerima kekalahan ?
Penulis sangat yakin tidak ada satu partai politikpun
saat ini yang membayangkan kekalahan, atau bisa
menerima kekalahan dengan lapang dada - dan ini
adalah suatu indikator utama: siapkah bangsa
Indonesia dengan sistim demokrasi ?

Risiko ini yang tak terbayangkan, apabila apapun
hasilnya, salah satu pihak tidak mau mengalah yang
akan mempertahankan argumentasi masing2 yang
mungkin bisa menyulut suatu bentrokan fisik yang luas
yang bisa berakibat mementahkan arti Pemilu itu
sendiri (kenapa kita tidak langsung perang saja
sekarang saling ber-hadap2-an, sehingga ketahuan
siapa kalah siapa menang, kenapa harus tunggu
Pemilu Juni '99?).

Disamping suara-suara yang 'pesimis' yang menurut
pengamatan penulis 'mayoritas' masyarakat Indonesia
(indikasi adanya antisipasi beberapa pihak seperti
kedutaan2 besar, perusahaan2 asing yang
mengedarkan 'travel warning', 'program evakuasi',
'reserve flight yang meningkat', pada saat kampanye
dimulai pertengahan Mei s/d Juni 1999) tentu saja ada
juga yang 'optimis' bahwa Pemilu Juni '99 akan menjadi
titik tolak dari tumbuhnya sistim demokrasi di Indonesia
menuju masyarakat Indonesia Baru yang lebih
demokratis.

Optimisme ini menurut pengamatan penulis
mendasarkan diri dari logika dan harapan2 yang
mungkin saja bisa terjadi dan harus diperjuangkan
supaya terjadi dengan Pemilu Juni '99:

- menuju kearah ke-tata-negara-an dengan prinsip
demokrasi harus dengan cara demokrasi, dan Pemilu
adalah titik tolaknya (tidak dengan sistim dekrit, tidak
dengan model 'supersemar', tidak dengan model kup,
tidak dengan model revolusi sosial).
- diusahakan terselenggalaranya Pemilu yang jujur dan
adil, bersih dari segala macam cara2 yang tidak terpuji
untuk memperoleh suara terbanyak seperti yang telah
terjadi di Pemilu2 selama ini pada masa pemerintahan
'orde baru'.
- diusahakan adanya penyelenggara Pemilu yang netral.
- diusahakan adanya pengamat 'international' yang netral.
- dicegah usaha2 'vested interest' untuk menggunakan
fasilitas negara untuk keperluan memenangkan kembali
pemerintah yang sedang berkuasa.
- diusahakan beberapa pihak yang sekiranya lebih
menguntungkan suatu partai politik/golongan harus
bersikap netral atau tidak memihak (seperti ABRI,
pegawai negeri, pegawai BUMN, media elektronik milik
pemerintah, dsb.). Semua yang dibeayai oleh rakyat
harus boleh dipergunakan oleh siapapun tanpa pandang
bulu.
- diusahakan adanya hukum yang tidak pandang bulu
terhadap pihak2 yang melakukan pelanggaran tata tertib
Pemilu yang sudah disetujui bersama (termasuk
didalamnya tindakan tegas terhadap pelaku intimidasi
dan 'money politic').
- adanya transparansi dalam penghitungan suara.

Kalau harapan2 tersebut diatas bisa dilaksanakan oleh
semua pihak (48 partai yang berkompetisi untuk
mewakili rakyat). Apapun hasilnya, dengan lapang dada
semua pihak harus bisa menerima dan saling membantu
agar pemerintahan baru yang terbentuk hasil Pemilu
betul2 representasi keinginan mayoritas rakyat yang
harus dihargai dan didukung ber-sama2.

Dengan adanya 48 partai politik yang ikut Pemilu Juni
'99, kalau Pemilu dijalankan secara bersih, sangat kecil
kemungkinannya ada partai yang mampu menang
secara mutlak dalam arti bisa menguasai mayoritas
kursi wakil rakyat di DPR/MPR, oleh karena itu mau
tidak mau partai pemenang harus membentuk 'koalisi'
agar calon presiden mereka bisa dipilih oleh mayoritas
anggota DPR/MPR.

Mohon diingat apabila ada partai politik yang tidak
memenangkan Pemilu Juni '99, menjadi partai oposisi
juga tugas mulia agar pemerintah yang berkuasa ada
yang melakukan pengawasan agar tidak melaksanakan
kebijaksanaan semau-maunya sendiri yang mungkin
akan merugikan rakyat banyak. Masih ada kesempatan
untuk menang lima tahun mendatang.

Optimisme bahwa Pemilu Juni '99 akan bisa menjadi
titik tolak perubahan yang positif bagi bangsa Indonesia
menuju era Indonesia Baru harus terus menerus
dihembuskan dan tugas partai-partai oposisi untuk
memperjuangkan penyelenggraan Pemilu Juni '99 yang
bersih, sehingga memperkecil terjadinya kecurangan2
yang mungkin bisa menimbulkan keributan ataupun
bentrokan phisik yang cenderung merusak bisa
dihindari.

Mohon diingat mata dunia terfokus pada Pemilu Juni
'99 di Indonesia. Sekali lagi kita diuji kwalitas sebagai
bangsa yang beradab, yang duduk sama rendah dan
berdiri sama tinggi dengan bangsa2 dan negara2 lain
di seluruh dunia, apakah secara terhormat dan pantas
bangsa Indonsia bisa berada dalam pentas tata
pergaulan antar bangsa dan negara.

Viva Indonesia Baru yang demokratis.

(Tamat)

Maret 1999.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Apr 1999 jam 03:57:48 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke