----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

    Carter Tanyakan 'Pertikaian' KPU-Presiden
    Reporter: Sigit Widodo
    detikcom, Jakarta-Dalam pertemuan dengan KPU, mantan Presiden USA, Jimmy
Carter, menanyakan 'pertikaian' yang terjadi antara KPU dan Presiden
sehubungan dengan kontroversi boleh tidaknya pejabat negara berkampanye.

    Menurut Carter, di USA sendiri, menteri juga dilarang berkampanye. Bila
menteri itu ikut kampanye, maka dia wajib mengundurkan diri. Carter juga
menanyakan mengapa perbedaan pendapat antara KPU-Presiden tidak dibahas
segera dengan Presiden, mengingat KPU mempunyai akses ke Presiden.

    Demikian hal-hal yang ditanyakan oleh Jimmy Carter dalam pertemuannya
dengan KPU. Bertindak sebagai wakil KPU yang menemui Jimmy adalah Ketua KPU
Rudini, Wakil Ketua Prof Dr Harus Alrasyid, Ketua PPI Jacob Tobing, dan
Sekum KPU, Amur Muchasyim.

    Menjawab pertanyaan Carter, Rudini menjelaskan, KPU mempunyai rencana
untuk bertemu dengan presiden untuk membahas masalah tersebut. "Hanya saja
waktunya belum ditentukan," kata Rudini dalam jumpa pers, sesuai pertemuan
dia dengan Carter.

    Pada kesempatan itu, Carter juga menanyakan kontroversi fatwa MA yang
diminta oleh pemerintah. Harus Alrasyid yang bertugas menjawab pertanyaan
itu. "Fatwa itu tidak mengikat, itu hanya sebuah saran," jawab Harun yang
pakar ilmu hukum tata negara itu. Rudini menambahkan," Jika fatwa MA itu
dimaksudkan sebagai penyelesaian peredaan pendapat antara KPU dan Presiden,
mengapa dari pihak KPU tidak didengar terlebih dahulu?"

    Banyak hal lainnya yang ditanyakan oleh Carter. Misalnya, apakah KPU
telah menyiapkan peraturan pelaksanaan Pemilu, bagaimana keanggotaan di KPU,
bagaimana operasional pemilu, dsb. Pertanyaan teknis pemilu ini dijawab
Ketua PPI, Jacob Tobing.

    Tentang perhitungan suara, Rudini menyatakan pada Carter, KPU akan
melihat berita acara dari masing-masing TPS (Tempat Pemungutan Suara).
Sedang penggunaan komputer, hanya untuk mempercepat proses perhitungan
suara. Hasil komputer itu akan dianggap sebagai hasil sementara. Hasil
tetapnya menunggu berita acara yang datang.

    Untuk jaringan pemilu, Carter menyatakan, sangat sulit untuk membuat
jaringan yang sedemikian cepat. Rudini menjawab, untuk mengantisipasi hal
itu, KPU akan meminjam jaringan komputer BRI (Bank Rakyat Indonesia).
"Karena jaringan komputer BRI sudah sampai ke kecamatan se-RI. Tapi hal ini
belum dikonfirmasikan pada BRI," kata Rudini mengutip hasil pembicaraannya
dengan Carter.

    Rudini juga mengatakan, KPU dengan bantuan UNDP, akan membentuk media
centre. Tujuannya agar hasil pemungutan suara dapat diakses oleh pemantau
pemilu dan media pers dalam dan luar negeri.

    Soal pemantau asing, Carter juga menanyakannya. Rudini menjawab, tidak
ada pembatasan mengenai pemantau asing. "Namun pemantau asing harus
mendaftar pada KPU. Dan taat pada aturan yang diterapkan," tambah mantan
mendagri ini. Sedang pers dalam dan luar negeri, lanjut Rudini, bebas
meliput tanpa ada batasan.

    Rudini juga mengakui ada banyak kesulitan yang dihadapi dalam pemilu
ini. Salah satunya adalah sulitnya penyelenggaraan pemilu di tempat
terpencil, misalnya pulau-pulau di Riau. "Untuk itu KPU akan mengusahakan
menyewa perahu-perahu swasta untuk menjangkau kepulauan tersebut," kata
Rudini.

    Menurut Jacob Tobing pada detikcom, dalam pertemuan itu, Carter
menanyakan banyak hal tentang pemilu secara mendetail. "Dia sangat teliti,"
komentar Jacob.

    Setelah bertamu ke KPU, Carter segera meluncur di Hotel Borobudur, Jl
Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Di hotel itu Carter dijadwalkan akan
memberikan keterangan pers. Sebuah sumber menyebutkan, Carter juga akan
bertemu dengan Megawati pada kesempatan itu.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Apr 1999 jam 04:28:47 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke