---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Catatan : Kami posting milist dari reformasitotal ini. Sekaligus kami akan menjelaskan posisi dukungan PRD terhadap Megawati pada saat PRD dideklarasaikan 3 tahun lalu : 1. Dukungan itu adalah critical-support, bukan tanpa reserve. 2. Dukungan diberikan kepada PDI cq Megawati bukan karena sikap politiknya atau kualitasnya (yang memang sejak dahulu buruk), tapi karena Mega/PDI sedang dizalimi rejim. Jadi, dukungan tersebut lebih merupakan advokasi. Bagi PRD, siapapun yang dizalimi dan ditindas harus dibela apapun latar belakang dan garis politik mereka, ini seperti halnya PRD membela PKI, membela NII, membela Kasus Tj. Priuk, membela kasus Lampung, juga membela partai-partai yang digagalkan ikut pemilu. 3. Dukungan PRD terhadap pencalonan Mega sebagai presiden (dulu) adalah dukungan MORAL (bukan politik), karena waktu itu hanya Soeharto yang boleh menjadi calon presiden dan Megawati dijegal antara lain karena mencalonkan diri sebagai presiden. Sedang PRD sendiri berpandangan bahwa Megawati sendiri tak akan mampu memimpin republik ini dan tidak akan mampu membawa periubahan (ke arah demokrasi) karena ia sendiri feodal dan merupakan pemimpin dari sebuah partai yang tidak demokratis. Apalagi sekarang Megawati sudah menjadi musuh demokrasi dengan ditandai menolak Timor Timur merdeka. PRD sendiri sudah mempunyai calon pemimpin mendatang, yaitu Ditasari (ketua PPBI yang masih dipenjara) sebagai Perdana Menteri dan Budiman (ketua PRD yang masih dalam penjara Cipinang ) sebagai presiden. PRD akan memperjuangkan Trias Politika yang tegas dan kabinet parlementer, dimana kekuasaan presiden hanyalah kepala Negara sedang kepala pemerintahan dipegang PM yang bisa dijatuhkan oleh DPR sewaktu-waktu jika menyimpang dan tak mampu. --------------------------------------------- MEREKA BICARA TENTANG MEGA ========================== Dr. Arief Budiman (Aktivis Demokrasi): -------------------------------------- "Kita tidak bisa memahami kenapa saat mahasiswa membutuhkan kehadiran Mega di Semanggi, kok kita hanya mendapat pesan dari Satpamnya bahwa Mega tidak bisa diganggu karena sedang tidur". -Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999 Nursyahbani K. (Ketua LBH APIK): -------------------------------- 1. "Terus-terang saya sampai gemes sekali dengan sikap diamnya. Waktu mahasiswa ke DPR, Mega tidak menyatakan apapun". 2. "Untuk jadi presiden, kapasitas Mega masih kurang. Ini terutama (berkaitan) dengan kondisi Indonesia seperti sekarang ini. Kita sekarang memerlukan pemimpin yang kreatif dan penuh inovasi. Dan Mega belum mempunyai kedua-duanya. Mega itu feodal". -Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999 Rachmat Witoelar (Barnas): -------------------------- "Kita memang kecewa dengan sikap politik Mega yang terlalu banyak diam. Padahal banyak kejadian politik yang mestinya memerlukan tanggapan dia sebagai ketua partai" -Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999 Dr.J.Kristiadi (Direktur Eksekutif CSIS): ----------------------------------------- "Megawati jangan hanya diam saja. Pola silent is golden bisa menjadi bumerang. Kalau begitu terus pamor Megawati bisa runtuh. Apa yang selama ini dilakukan Megawati? Apa sikap politiknya? Semuanya kan belum ada. Contohnya, saya belum pernah dengar Megawati merespon secara gigih ancaman praktek money politics" -Republika, Edisi 24 Februari 1999 Kwik Kian Gie (Ketua Litbang PDI Perjuangan): --------------------------------------------- "Mbak Mega memang diragukan kemampuannya. Tapi yang terpen- ting kan apakah pemimpin bangsa itu bisa dipercaya rakyat, permintannya dituruti rakyat atau tidak" -Panji, Edisi 15 Juli 1999 Vedi R. Hadiz (Peneliti LIPI): ------------------------------ "Mega telah terlambat start untuk menarik simpati rakyat. Saat rakyat hendak terperangkap ke jurang krisis, Mega hanya diam. Giliran dia ngomong, justru melarang masyarakat menghujat Soeharto. Itu kan jauh dari substansi". -Panji, Edisi 15 Juli 1999 Syamsudin Haris (Peneliti LIPI): -------------------------------- "Megawati sebetulnya tidak punya banyak pilihan politik. Gagasannya mengenai masa depan bangsa dan pemulihan krisis ekonomi juga belum begitu jelas. Saya khawatir pilihan- pilihan politiknya kelak akan mengecewakan calon pendukung- nya. Contoh yang paling jelas, sejauh yang saya baca, PDI Perjuangan tidak punya sikap yang jelas dalam dua soal: dwifungsi ABRI dan pengusutan harta Soeharto" -Detak, Edisi 13-19 Oktober 1999 Dr. Jeffrey Winters (Pengamat Politik dari AS): ----------------------------------------------- "Saya kira Megawati punya beberapa kesalahan. Pertama, komunikasi politik dia memang kurang. Kedua, dia masih terlalu jauh dari rakyatnya". -Adil, Edisi 20-26 Januari 1999 Permadi (paranormal): --------------------- "Saya harus jujur, bahwa dia (red. Megawati) masih hanya menjadi pemimpinnya PDI, bukan Indonesia". -Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999 Ratna Sarumpaet (Ketua Badan Pekerja Koalisi Nasional): ------------------------------------------------------- 1. "Akhir-akhir ini banyak sekali kejadian penting. Tapi kita mendengar tidak suara beliau. Mega selalu mengata- kan ini saatnya merenung. Kalau kondisinya seperti ini, rakyat diajak merenung, ya repot dong. Peristiwa Ambon, kalau hanya diajak merenung, repot". 2. "Ada banyak sekali ukuran untuk menjadi calon pemimpin. Salah satunya, ya berbicara. Jadi jangan salahkan saya kalau saya butuh pembuktian bahwa calon Presiden itu (red. Megawati) memang layak" 3. "Ketika misalnya kita mempertanyakan ABRI di DPR, tim (yang di sekeliling Megawati) itu juga diam saja. Jadi, tim yang solid itu ternyata juga tidak pernah mengelu- arkan pernyataan berbobot yang mewakili PDI Perjuangan". 4. "Jangan nanti kita seperti membeli kucing dalam karung. Hanya dibilang, oh ini yang ada dalam karung anaknya pendiri republik. Masa hanya seperti itu" -Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999 Arbi Sanit (Pengamat Politik): ------------------------------ 1. "Dia (red. Megawati) bereaksi lamban terhadap persoalan krusial apa pun. Ia terlalu hati-hati, karena memang secara pribadi tidak menguasai masalah. Ini kelemahan utama sebagai calon presiden. Respon politiknya lamban. Padahal ini persyaratan minimal. Jadi Mega memang masih dibawah standar" 2. "Tidak cukup (dengan didampingi tim yang solid), ada persyaratan minimal (untuk menjadi presiden). Kalau persyaratan minimal itu saja Mega dibawah standar, bangsa ini mau dibawa kemana". -Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999 Eep Saefulloh Fatah (Pengajar & Peneliti di FISIP UI): ------------------------------------------------------ "Pekan lalu, Mbak Mega sudah memberikan penjelasan tentang sikap diamnya, bahwa ia tidak ingin membuat masyarakat lebih bingung lantaran terlalu banyaknya irang bicara. Saya terus-terang tidak bisa menerima logika penjelasan itu. Menurut saya, di tengah lalulintas isu yang sangat padat, ketika banyak sekali suara terdengar, justru dibutuhkan pandangan-pandangan yang jernih dan menyejukkan dari para (calon) pemimpin. Setiap orang sebetulnya berhak melarikan diri menjauh dari lalulintas isu yang bising ini. Tetapi, hak itu sebaiknya tidak diberlakukan leluasa bagi para (calon) pemimpin. Mereka seyogyanya ada di tengah laulintas yang bising itu dan melakukan langkah-langkah proaktif didalamnya untuk menghindari kemacetan total". -Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999 Manai Sophian (Mantan Tokoh PNI; Ayahanda Sophan Sophian): ---------------------------------------------------------- 1. "Saya pikir Mega memang lebih baik banyak diam. Daripada banyak omong, tapi membuat bingung orang. Kalau banyak omong, dia bisa salah". 2. "Tim (yang disekeliling Mega) ini bisa membantu Mega dalam menjalankan negara nati. Berbeda dengan Bung Karno, ia kuat karena kekuatan itu hampir semuanya datang dari pribadinya" -Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999 MARI SIMAK MEGA BICARA ====================== 1. "Saya tidak percaya kalau Pak Harto terus dihujat. Karena ini tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Hati saya merasa tertusuk dengan adanya hujatan kepada Pak Harto dan ini harus dihentikan" - (1 Juni 1998 di Jakarta) 2. "Tolong itu mahasiswa segera mengembalikan tenda yang dipakai untuk kemah di rumah saya. Karena itu sangat mengganggu kinerja PDI Perjuangan" - (November 1998 saat jumpa pers dengan wartawan seusai pertemuan Deklarasi Ciganjur) 3. "Saya keberatan Timtim dilepas dengan alasan terlalu membebani bangsa Indonesia. Apa pun Timtim adalah bagian dari Indonesia. Timtim harus dipertahankan sebagai bagian dari wilayah negara kesatuan" 4. "Masalah ini adalah persoalan Pak Theo pribadi. Sama sekali bukan urusan PDI Perjuangan. Untuk itu biar Pak Theo sendiri yang menyelesaikannya". - (10 Januari 1999 di Jakarta) 5. "Kita menolak adanya usulan negara federasi. Karena nanti akan merepotkan. Nanti untuk berjalan ke provinsi lain, kita harus mempunyai paspor". - (27 Februari 1999 di Jakarta) 6. "Terlalu banyak yang bicara. Saya ingin menunjukkan sikap konkret demi kecintaan saya kepada negeri ini dengan mengambil sikap diam. Tetapi, orang malah balik bertanya, kok aneh. Padahal, diam itu merupakan sikap politik juga". - (2 Maret 1999 di Medan) 7. "Saya dicemooh karena hanya bisa senyum-senyum. Dan methenteng (red. terpaku) diam, tidak ada suaranya. Saya dianggap planga-plongo (red. bodoh), dan sebagainya. Nah, kalau kalian mendengarkan cemoohan seperti itu, kalian jangan lantas panas hatinya. Saya anjurkan kalian menjawabnya cukup hanya dengan tersenyum saja". - (7 Maret 1999 di Surabaya) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 5 Apr 1999 jam 04:46:38 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
