---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- LION - Mencoba Memahami Gus Dur dan Peristiwa Sekitarnya (9) Kalau kita harus menerima dan mendukung gerakan politik Gus Dur bertemu Soeharto itu, dengan konsekuensi rela menerima dan melibatkan Soeharto dalam sebuah dialog nasional, apakah, kalau begitu kita harus mengalah. Atau kalah (lagi) dari Soeharto yang sudah merusak bangsa ini selama lebih-kurang 32 tahun? Kadang-kadang dalam kehidupan ini, kita harus memilih terbaik di antara yang terburuk. Mungkin pilihan tak mengenakkan tersebut yang harus kita lakukan dalam mengatasi problem bangsa ini. Di mana apabila kita menggunakan cara-cara "kekerasan", menghujat, memojokkan terus-menerus kubu Soeharto. Maka apabila kubu Soeharto yang memang masih sangat kuat secara fisik itu menjadi murka dan memilih perang frontal, maka yang terjadi adalah malapetaka besar yang belum pernah terjadi dalam sejarah bangsa ini; perang saudara dan banjir darah yang berkepanjangan. Yang apabila dibandingkan dengan keadaan krisis sekarang yang sudah membuat banyak orang (rakyat) menderita ini, keadaan sekarang ini ibarat sorga! Ini mungkin yang dipikirkan oleh Gus Dur. Jadi taktiknya mungkin seperti "mengalah untuk menang," atau "mundur untuk menyusun taktik." Apakah Soeharto memang sedemikian kuat sehingga kita tidak bisa melawannya secara fisik pula? Saya tidak mengatakan kita tidak bisa melawannya, tetapi tentu saja kita memang tidak ingin ada perang saudara di negara ini. Yang jelas kita pun melihat bahwa secara de facto militer masih terkesan melindungi Soeharto. Seperti yang tergambar dari sikap Jenderal Wiranto selama ini. Demikian juga yang tergambar dalam mutasi besar-besaran di tubuh ABRI, yang menampilkan petinggi-petinggi ABRI yang dekat dengan Soeharto. Sekalipun ternyata kekuatan Soeharto terlalu dibesar-besarkan, apabila kita mau mengadilinya secara hukum pun akan menghadapi berbagai hambatan, seperti yang akan saya uraikan di bagian lain posting ini. Terciptanya keadaan seperti sekarang (seolah-olah tidak bisa menjangkau Soeharto), yang "salah" juga adalah para mahasiswa dan pejuang refirmasi lainnya. Yakni ketika pada tanggal 21 Mei 1998, Soeharto menyatakan mengundurkan diri sebagai presiden dan melalui proses yang kontroversial menjadikan Habibie sebagai penggantinya, mereka seolah-olah merasa sudah selesai perjuangannya. Mereka sudah menang! Banyak dari mereka pun merayakannya dengan berbagai cara. Sehingga perjuangan pun dihentikan. Padahal yang mengganti Soeharto adalah orangnya sendiri. Bagaimana bisa kita mengharapkan dia bisa mengatasi Soeharto? Barngkali Soeharto yang menonton pesta kemenangan mahasiswa itu tertawa di depan televisinya. Mungkin kalau dulu terjadi revolusi semacam di Rumania, keadaan negara ini akan menjadi lebih baik. Yakni ketika diktator-bengis, Ceaucescu bersama istrinya, begitu digulingkan langsung ditangkap, diadili, dijatuhi hukuman mati, dan dieksekusi hanya dalam tempo beberapa hari. Sedangkan keluarganya yang lain bersama antek-anteknya langsung ditangkap, diproses dan dipenjarakan. Tidak berlarut-larut seperti di sini. Tetapi ini tentu saja hanya mungkin terjadi kalau yang mengganti Soeharto sama sekali bukan orangnya. Oleh karena itu juga Gus Dur pun menghimbau kepada mahasiswa yang melakukan demonstrasi menghujat Soeharto, agar bisa mengubah cara-cara mereka dalam melakukan aksi itu, agar bisa lebih sopan. Khusus komentar Gus Dur yang menuduh mahasiswa mendapat bayaran 300.000 ribu dollar AS melalui perusahaan Unilever, memang menimbulkan tanda tanya. Apa dan bagaimana sampai Gus Dur bisa melontarkan tuduhan seperti itu? Apakah tuduhan tersebut benar? Christanto Wibisono dalam tulisannya di Bisnis Indonesia (Minggu, 3 Januari 1999) yang berbentuk dialog imajiner dengan Bung Karno (BK), mengecam tuduhan Gus Dur kepada para mahasiswa itu. Tetapi rupanya Gus Dur tetap bersikukuh dengan pernyataannnya itu. Dia mengatakan dia mempunyai dasar untuk melontarkan tuduhan tersebut, tetapi tidak semua mahasiswa yang melakukan demo menerima bayaran tersebut. Pada sisi ini Gus Dur memang seharusnya menjelaskan secara lebih rinci. Boleh jadi tuduhan Gus Dur mempunyai kadar kebenarannya juga. Tetapi, itu tadi, Gus Dur harus menjelaskannya kepada masyarakat. Apabila tidak, akan semakin membuat orang bingung, dan menyangka yang tidak-tidak kepada Ketua Umum PBNU itu. Di kalangan mahasiswa sendiri akan menimbulkan saling curiga (perpecahan). Pada waktu menerima sejumlah mahasiswa di kediamannya di Ciganjur (5/1-1999), Gus Dur yang selama ini dikenal kalem, menghamburkan emosinya dengan memarahi mereka dengan kata-kata keras. Gus Dur menilai para mahasiswa itu selama ini melakukan aksinya terlalu kasar, serta tidak memahami tujuannya menemui Soeharto (detik.com, 5/1-1999). Yang menarik dalam pertemuan ini adalah terasa adanya suasana demokrasi. Di mana walaupun dimarahi Gus Dur, para mahasiswa itu tetap dengan pendiriannya. Dan Gus Dur mengatakan, kalau begitu ya kita jalan dengan cara kira sendiri-sendiri (walaupun tujuannya sama). Berarti Gus Dur menghormati pula pendirian mahasiswa dengan caranya sendiri, walaupun dia tidak setuju. Demikian juga dengan pihak mahasiswa. *** Seperti saya katakan di atas untuk menyelesaikan masalah bangsa ini dengan mengadili Soeharto melalui jalur hukum, rasanya hampir mustahil. Mengingat kubu pemerintah sekarang (Habibie cs) tak berbeda dengan Soeharto. Bahkan sebagian besar dari mereka, termasuk Habibie, merupakan bagian dan penikmat berbagai praktek KKN di masa Soeharto masih berkuasa. Agaknya itulah sebabnya Gus Dur mengharapkan penyelesaian mantan presiden Soeharto seperti yang dilakukan presiden Kim Dae Jung yang memberi amnesti kepada dua mantan presiden Chun Doo Hwan dan Roh Tae Woo yang di masa pemerintahan mereka juga dikenal sebagai pemerintahan yang korup dan pembunuh rakyat. Amien Rais yang paling rajin menghujat Soeharto (saya kok meragukan calon presiden yang rajin menghujat), belakangan ini mulai mengubah tuntutannya. Sebelumnya dia ngotot mati-matian supaya Soeharto harus diproses melalui jalur hukum, seperti pesakitan biasa. Seolah-olah tanpa ada kemungkinan lain. Tetapi ketika merasa tuntutannya itu tidak mempan-mempan juga dan adanya manuver Gus Dur (yang semula dikecam juga), akhirnya dia berubah menjadi agak lunak. Antara lain dengan mengusulkan agar Soeharto minta ampun/maaf saja kepada rakyat Indonesia dan mengembalikan harta jarahannya. Katanya, kalau Soeharto mau minta ampun kepada rakyat, itu merupakan salah satu jalan keluar masalah tentang Soeharto, selain jalur hukum. Kenapa dibilang kalau melalui jalur hukum akan gagal? Karena jalur ini memang lemah untuk dipakai menghukum Soeharto dan keluarganya -- lepas dari serius-tidaknya pemerintah Habibie bersikap untuk itu. Soeharto dapat membela diri dengan misalnya, mengatakan, bahwa semua yang dilakukan tersebut telah diterima mutlak oleh MPR. Dalam setiap pidato pertanggungjawabannya 1000 anggota MPR telah menerimanya. Berarti secara hukum semua yang dilakukan itu sah. Akan menjadi lebih rumit lagi, jika kemudian kita memasalahkan legalitas dari MPR tersebut. Kalau memang tidak sah, apakah semua anggota MPR dalam masa pemerintahan Soeharto (32 tahun) yang selama ini selalu menerima pidato pertanggungjawaban Soeharto selama 6 periode itu harus diadili karena turut memberi jalan/dukungan terhadap praktek-praktek kotor pemerintahan Soeharto? Jika ini yang akan dilakukan maka yang harus diadili bukan hanya 1000 orang, tetapi lebih dari itu. Yakni setiap orang yang pernah menjadi anggota MPR dari periode awal pemerintahan Soeharto (1966) sampai dengan yang terakhir (1993-1998). Dan masih banyak lagi problem hukum yang berbelit. Yang pada intinya akan membuat keadaan semakin berlarut-larut. Sementara krisis ekonomi dan politik bangsa ini semakin memprihatinkan. Sedangkan fokus, energi dan waktu kita terkuras kepada sosok seorang Soeharto. Sebagai contoh bisa kita lihat pengalaman pemerintah Philipina pasca diktator Ferdinand Marcos. Setelah hampir 13 tahun berlalu -- bahkan setelah Ferdinand Marcos meninggal dunia -- komisi yang dibentuk presiden Cory Aquino, yakni Predential Commision on Good Governance -- PCGG (Komisi Kepresidenan untuk Pemerintah yang Bersih, belum dapat merampungkan tugasnya dengan baik untuk mengusut dan mengembalikan harta jarahan Marcos dan kroni-kroninya secara hukum (termasuk hukuman penjara). Bahkan sebaliknya komisi yang beranggotakan 5 komisioner dan 100 pengacara sampai sekarang baru berhasil mengembalikan sekitar sepuluh persen harta jarahan Marcos dan kroninya. Walaupun harus diakui PCGG cukup berhasil mengungkap ratusan kasus, dalam hubungannya dengan properti, saham, kontrak-kontrak yang dilakukan secara melawan hukum semasa Marcos berkuasa. Sampai dengan tahun 1998, PCGG tercatat sudah mengajukan 21 gugatan menyangkut pemilikan saham para kroni yang diduga melakukan KKN. Dari 21 kasus tersebut, baru tujuh yang diproses lewat pengadilan, tetapi tak ada satupun yang dimenangkan pemerintah. Kelemahannya, karena kurang bukti yang mendukung dan trik-trik hukum yang melemahkan gugatan. Padahal pemerintah Philipina sudah mengeluarkan biaya jutaan dollar AS untuk menuntas kasus tersebut. Kabar terakhir dari sana, mengatakan bahwa pemerintah Philipina sudah mulai memikir jalan keluar lain untuk mengembalikan harta jarahan Marcos dan kroninya itu, yakni melalui suatu kompromi. Usulan pertama yang sempat tercetus adalah keluarga Marcos, yang kini diwakili oleh Imelda Marcos, harus mengembalikan 75 persen hartanya, sementara pemerintah akan membekukan seluruh tuduhan perdata ataupun kriminal terhadap keluarga Marcos. Pada bulan November 1998 lalu, presiden Joseph Estrada sempat menyatakan kepada publik bahwa pemerintahnya siap melakukan negosiasi dengan Imelda Marcos. Demikianlah kita melihat sedemikian ruwetnya masalah seperti ini. Padahal dibandingkan dengan Soeharto (Keluarga Cendana), keluarga Marcos bukan apa-apa. Baik dari segi kekayaan (yang bisa membeli siapa pun yang bisa dibeli), kekejaman, maupun dari segi kekuatan fisik (senjata). Sewaktu Marcos jatuh, praktis tidak ada kekuatan apa pun yang mendukungnya. Sedangkan Soeharto masih menyisakan banyak kekuatan, baik yang tersembunyi, maupun yang tampak. Termasuk di bidang militer. Hal yang mirip juga terjadi di Afrika Selatan. Ketika pemerintah kulit putih yang menerapkan politik apartheid-nya yang sangat rasialis terhadap penduduk pribumi berkulit hitam selama puluhan tahun, kalah dalam Pemilu. Terjadi semacam kesepakatan antara pemerintah baru (berkulit hitam) yang diwakili oleh Presiden Nelson Mandela, bahwa penguasa baru tidak akan melakukan balas dendam terhadap kaum kulit putih yang selama puluhan tahun menindas dan melecehkan harga diri kaum kulit hitam. Melainkan memusatkan pikiran pada pemulihan keadaan pilitik, di mana hukum-hukum yang rasialis semuanya dihapus. Dengan menerapkan sistem hukum dan politik yang baru, yang benar-benar menjunjung tinggi demokrasi, persamaan hak, dan penghormatan kepada Hak Asasi Manusia tanpa kecuali. Mereka menyadari, kalau yang dipikirkan hanya balas dendam, negaranya bukannya akan bertambah baik, tetapi sebaliknya dapat terpuruk ke dalam suasana chaos yang berkepanjangan, yang sama sekali tidak menguntungkan. Baik dari segi ekonomi, sosial, maupun politik. Di lihat dari kacamata Kristiani, inilah salah satu wujud penerapan ajaran cinta kasih Yesus Kristus. Di mana kaum kulit hitam di bawah pimpinan Presiden Nelson Mandela yang selama puluhan tahun diinjak-injak harga dirinya sehingga tidak lebih baik dari binatang oleh penguasa kulit putih, tidak melakukan balas dendam. Baik secara diskriminasi hukum, maupun -- apalagi -- dengan cara-cara brutal dan sadistis. Seperti penjarahan, pembunuhan dan sejenisnya. Sikap Gus Dur pun memperlihat sikap seperti itu. Ketika pada masa lalu perlakuan-perlakuan Soeharto kepadanya sedemikian buruk. Dia ternyata tidak mempergunakan kesempatan seperti sekarang untuk ikut-ikutan menghujat Soeharto. Malah dia memarahi orang-orang yang rajin menghujat Soeharto, dan mendatangi Soeharto dengan agenda dialog nasionalnya yang gagal itu. Menurut saya ini sikap seperti inilah yang seharusnya disandang oleh tokoh panutan masyarakat, atau negarawan sejati. Daripada orang yang rajin menghujat, sampai-sampai seolah-olah dirinya yang paling benar, paling baik, paling bersih menyerupai malaikat. Bersambung Salam Lion ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Jan 1999 jam 05:16:59 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
