---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- LION - Mencoba Memahami Gus Dur dan Peristiwa Sekitarnya (10) Dari melihat keadaan demikianlah, sebenarnya kita bisa memaklumi dalam batas-batas tertentu maksud Gus Dur melakukan pertemuan dengan Soeharto, setelah sebelumnya bertemu juga dengan Wiranto, Habibie, dan Benny Moerdani. Menyebut nama Benny Moerdani, menimbulkan pula tanda tanya. Ada apa pula Gus Dur sampai merasa perlu bertemu dengan Benny? Apakah ada hubungan khusus antara Gus Dur dengan Benny? Gus Dur mengakui bahwa antara dia dengan Benny adalah sahabat lama. Gus Dur bahkan memuji Benny, sebagai orang yang telah banyak memberi petunjuk kepadanya. Padahal oleh sebagian umat Islam, sosok Benny merupakan musuh bebuyutan yang divonis bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa "pembunuhan terhadap umat Islam" di Aceh, Tanjung Priok, dan beberapa tempat lain. Padahal pembantaian yang terjadi di Timor Timur dan Irian Jaya, tidak dicap sebagai "pembunuhan terhadap umat Kristen." Ketika wartawan TEMPO bertanya apakah ada faktor (maksud tertentu) Gus Dur berkunjung ke Benny. Gus Dur lebih-kurang menjawab: " Saya menghormati Benny. Masa setiap orang berkunjung harus ada faktor (maksud). Jangan mengira saya ini mesin, hanya kalau ada kepentingan baru berkunjung." Apakah benar hubungan Gus Dur-Benny Moerdani hanya sebatas sahabat lama? Mungkin bisa lebih dari itu. Dengan mengingat latar belakang Benny sebagai ahli spionase kawakan, bukan tidak mungkin berbagai informasi tentang kerusuhan. Termasuk beberapa dalangnya, yang sampai ke telinga Gus Dur memang berasal dari orang-orangnya Benny. Rasanya sulit walaupun dengan segala kemampuan yang ada padanya, pihak Gus Dur, bisa mengetahui segala macam rahasia dan intrik seperti itu. Kalau tidak dengan bantuan spionase yang canggih. Untuk mengatakan Benny bekerja untuk Soeharto, rasanya faktor pendukungnya lemah. Karena di samping pada masa-masa akhir masa jabatannya, hubungannya dengan Soeharto tidak harmonis. Juga tidak ada keuntungan apapun yang bisa didapatkan Benny dari kubu Soeharto yang sudah mendepaknya. Mengapa Benny memilih Gus Dur untuk menyampaikan laporan-laporan spionasenya? Karena selain dia memang sahabat dekat Gus Dur, juga karena Gus Dur memang mempunyai pandangan dan sikap politik yang moderat dan nasionalis. Sikap mana dinilai sangat penting dan bermanfaat bagi persatuan dan kesatuan bangsa ini. Suatu sikap politik yang bertentangan dan menjadi lawan dari kelompok lain yang berpikiran dan bersikap politik yang radikal, sektarian, fundamentalis, yang di antaranya bercita-cita mendirikan negara agama. Kelompok yang selama ini tak segan-segan menggunakan agama sebagai alat politiknya, memang merupakan kelompok yang sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Kita melihat saja dari "gerakan-gerakan awal" mereka, sudah berapa banyak jatuh korban jiwa, maupun materi? Kita lihat saja contoh yang paling nyata ketika mereka mengerahkan apa yang disebutkan Pam Swakarsa itu. Pam Swakarsa ini disponsori oleh antara lain Kisdi dan Furkon dengan berbasis utama di Masjid Istiqlal, Jakarta. Motivasi yang diberikan kepada para anggota Pam Swakarsa itu antara lain dengan memberi predikat kepada mereka sebagai kaum mujahidin dan syuhada (berperang membela agama) dengan tugas untuk berperang melawan musuh Islam, atas nama perjuangan Islam, jihad, dan sebagainya, dengan masing-masing berikat kepala tulisan Arab dari ayat Al Quran: "La Illah Ilallah" dan "Allahu Akbar." Faisal Biki, salah satu komandan Pam Swakrasa berkata kepada Tempo, "Kalau perjuangan ini harus berdarah-darah. Kenapa tidak?" (Tempo edisi 24-30 November 19998). Achmad Sumargono juga berkata, "Kalau status quo menguntungkan Islam. Kenapa tidak?" (Tempo edisi 17-23 November 1998). Siapa itu musuh Islam? Dalam konteks ini mereka diberi gambaran bahwa musuh Islam ialah mereka yang anti-Habibie, tidak menyetujui SI MPR, dan yang melakukan demonstrasi menentang Habibie. Dalam artian yang lebih luas yang disebut musuh Islam sering diberi makna adalah umat Kristen dan Yahudi, atau Cina. Ketika dalam kenyataan rakyat malah memusuhi mereka (Pam Swakarsa), bahkan ada yang sampai mati dibunuh. Kelompok ini dengan cepat bersilat lidah, menyatakan tak tahu-menahu, dan menuding telunjuknya kepada Wiranto sebagai penanggung jawab satu-satunya. Partai Bulan Bintang (PBB) juga belum lama ini mengeluarkan pernyataan bahwa siapa pun yang berada dalam partai politik yang tidak berasas Islam merupakan musuh Islam yang harus dilawan. Yang mengerikan makna "harus dilawan" dalam konteks ini sering diartikan oleh rakyat kebanyakan bila mana perlu "maju untuk berperang." Seperti yang diucapkan oleh Faisal Biki kepada majalah Tempo: kalau perjuangan melawan musuh Islam itu harus dengan pertumpahan darah, kenapa tidak? Spanduk-spanduk PBB yang banyak bertebaran pada intinya mengatakan menolak orang (pimpinan bangsa) yang berwatak sektarian, berjuang demi kejayaan Islam, dan sebagainya. Wakil Ketua PBNU, Said Aqiel Siradj pada waktu menghadiri Apel Siaga GP Ansor dan Banser di Yogyakarta, Minggu, 22 November 1998 lalu, dengan keras mengecam kelompok-kelompok seperti ini. Aqiel yang pada kesempatan itu juga mengecam Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai produk zaman Soeharto yang mempolitisir agama dengan sistem korporatif (MUI-lah yang melalui fatwanya antara lain melarang umat Islam mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristen, ikut perayaan agama Kristen, dan lain-lain -- pen.), dan Departemen Agama yang penuh dengan praktek KKN (terutama yang berkaitan dengan proyek naik haji), antara lain mengatakan, kelompok-kelompook ini hanya menyaru sebagai pejuang Islam. Padahal di belakangnya mereka sangat berbahaya. Mereka ini yang sangat berpotensi sebagai penyebab timbulnya konflik-konflik horisontal dan anarki dalam masyarakat (Media Indonesia, Senin, 23 November 1998). Maka syukur bangsa ini masih memiliki Gus Dur cs. Kebesaran nama dan kharisma Gus Dur dapat mengurangi, atau meng-counter gerakan-gerakan politik radikal yang sering membawa-bawa nama agama tersebut. Mungkin saja Tuhan sengaja memakai Gus Dur untuk melindungi bangsa ini dari berbagai gerakan radikal, yang juga tak segan-segan membunuhi rakyat sendiri itu. Orang-orang yang anti dan sekaligus menjadi lawan politik Gus Dur itu, sering melontarkan komentar-komentar yang sinis terhadap Gus Dur. Yang oleh Gus Dur dinilai sebagai "kata-kata tidak pantas." Seperti yang datang dari Adi Sasono dan Dawam Rahardjo, yang acap kali mengatai Gus Dur sebagai "politik orang sakit." Sepertinya mereka hendak berkata karena Gus Dur sedang menderita sakit, maka ucapan, maupun gerakan politiknya seperti orang sakit (tidak waras?). Oleh karena itu tidak perlu ditanggapi serius. Tuduhan "politik orang sakit" tersebut sangat bertentangan dengan fakta di lapangan. Kita bisa melihat bagaimana pada waktu Gus Dur menyelenggarakan open house di rumahnya, begitu banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat yang datang kepadanya. Bahkan tak kurang dari duta besar berbagai negara, termasuk Amerika Serikat pun datang ke sana. Bahkan mereka tak dikecualikan, rela untuk antri bersama rakyat biasa, sebelum menemui Gus Dur. Sampai berakhirnya openhouse (tahap pertama) pada hari Minggu, tanggal 3 Januari 1999 (lima belas hari), tercatat 1.050 orang yang datang. Belum termasuk yang melalui telepon/faksimili. Demikian pula bantuan kemanusian berupa obat-obatan dan beras sebanyak sekitar 1500 ton untuk masyarakat di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat dari pemerintah Singapore yang direncanakan mulai dipasok di bulan Januari ini juga. Pemerintah Singapore juga menanggung semua ongkos kirim (kapal) dari pengiriman bantuan kemanusiaan tersebut. Yang dipercayai penuh untuk melakukan pendistribusiannya adalah PBNU yang diketuai Gus Dur. Bantuan pertama secara simbolis, diserahkan di rumah Gus Dur di Giganjur, tanggal 6 Januari 1999. Selain itu terpetik kabar bahwa pemerintah AS, juga akan menyalur bantuan pangan dengan total kuantiti sebanyak 1,5 juta gandum yang dikonversi ke dalam bentuk beras. AS pada tahun 1998 mengalami oversupply gandum sebanyak 2,5 juta ton. Untuk menyelamatkan petaninya, pemerintah AS berjanji membeli jumlah gandum yang oversupply tersebut untuk kemudian disalurkan dalam bentuk bantuan kemanusiaan ke negara-negara yang membutuhkannya. Luar biasanya, Indonesia mendapat jatah sebanyak 1,5 juta ton. Dan lagi-lagi pemerintah AS memilih PBNU sebagai penyalurnya, agar bisa sampai ke tangan yang berhak. Apabila Gus Dur itu benar-benar "sakit," akankah begitu banyak orang, termasuk dari utusan negara-negara asing mau mendatangi dan berbicara dengannya? Atau bila Gus Dur benar-benar "sakit" akankah pemerintah Singapore, AS, maupun lainnya mempercayainya untuk memimpin pendistribusian bantuan kemanusiaannya tersebut? Kita tentu tak lantas mengambil kesimpulan bahwa semua orang yang mendatangi atau mempercayai Gus Dur itu juga "sakit." Belakangan Adi Sasono pun ikut-ikutan melakukan openhouse di kediamannya. Dia memang bilang bahwa ini bukan dimaksud sebagai tandingan dari openhouse-nya Gus Dur, tetapi full silaturahmi biasa, dan sama sekali berbeda dengan openhouse Gus Dur. Karena openhouse Gus Dur adalah bagian dari manuver politiknya. Padahal dia sendiri berkata akan berbicara tentang ekonomi kerakyatan segala, dalam openhouse tersebut. Apakah ini layak disebut full silatuhrami biasa? Apalagi saat ini ekonomi kerakyatan yang digembar-gembor Adi Sasono itu dituding sebagai alat politiknya untuk menaiki tahapan yang lebih tinggi di lingkaran kekuasaan. Yakni wakil presiden atau presiden. Kisdi pun mulai menyuarakan dukungannya untuk Adi Sasono sebagai calon presiden keempat. Nah, sekarang kita melihat apakah tokoh-tokoh penting seperti para duta besar negara asing akan juga berkunjung ke kediaman Adi Sasono? Kalau tidak, jangan-jangan justru para duta besar dan tokoh-tokoh penting lainnya tersebut yang mengira Adi Sasono itu sedang "sakit" sehingga tidak layak dikunjungi? Bersambung Salam Lion ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Jan 1999 jam 05:17:15 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
