----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

From: Silent Majority

Dari yang tidak pernah bersuara....

Sebagai bagian dari masyarakat biasa yang tidak pernah bersuara rasanya
sudah babis kesabaran saya untuk tidak ikut bersuara menangapi
gonjang-ganjing mulut orang banyak (baca: Potitisi) tertutama berkenaan
dengan permintaan maaf Golkar baru-baru ini, walaupun hanya dari Internet:

Pertama, Kami merasa bahwa permintaaan maaf Golkar tidak perlu
diucapkan. Sekali lagi, TIDAK PERLU ! Bagi kami kata maaf secara verbal
lebih berarti politis ketimbang aktual. Yang membutuhkan kata "Maaf"
itukan Politisi (baca: Amin Rais, Bintang Sri, MAS Hikam, Arbi Sanit,
Muneer SH, dll), sedangkan yang diperlukan Rakyat kan soal perbaikan
nasip, lapangan kerja, sembako, dll. Selama itu sudah mulai dilakukan
Golkar, bagi kami ITU SUDAH CUKUP, itu lebih dari sekedar verbalisasi KATA
MAAF.

Kedua, komentar dari setiap sikap dan kebijakan selalu dilontarkan
SETELAH TERJADI ! Dan yang paling menggelikan semuanya didasarkan
"intuisi politik", bahkan soal sembakopun ditanggapi dengan intuisi
politik. Relawan wanita mati ditangan pencuripun ditanggapi dengan
intuisi politik !(?) Semua politisi berprinsip: ABS atau "Asal Beda
Saja". Coba saja waktu Golkar belum minta maaf, orang-orang (baca:
Politisi) ramai-ramai mengatakan: Golkar kepala batu, tidak merasa
bersalah, dll. Tetapi begitu kata maaf dikeluarkan: dikatakan terlambat,
tidak rela, dll.

Ketiga, iklim politik pasca orde baru jelas-jelas mengarah pada "Politik
Layang-Layang", iklim politik yang sangat berbahaya kalau tidak mau
dikatakan POLITIK JAHAT / POLITIK DESTRUKTIF. Anak kecil (baca:
politisi) yang berebut layangan (baca: kekuasaan) lebih suka layangan
itu (baca: pemerintahan) hancur dari pada jatuh ketangan anak (baca:
politisi) yang lain. Dengan iklim politik semacam ini bisa dipastikan,
200 juta rakyat minus segelintir politisi, PASTI AKAN MENJADI KORBAN DAN
DIKORBANKAN, sadar atau tidak sadar. Iklim politik semacam ini
bercirikan kecenderungan politisi untuk MENCARI KESALAHAN DAN KEBURUKAN
lawan politiknya ketimbang kebaikan-kebaikannya, sekalipun itu baik
untuk kepentingan rakyat. Coba apa kata mereka tentang program JPS
(jaring penyelamat sosial) ? JARGON POLITIK ! POLITIK PASAR ! (dan
sejumlah cacian lainnya) Padahal jelas, rakyat lapar, butuh nasi dan tidak
butuh Partai.

Keempat, kami dapat melihat bahwa penguasa saat ini pasti akan menjadi
sasaran "Intimidasi Politik", praktek orde baru yang justru diterapkan
politisi saat ini (padahal demokrasilah yang diperjuangkan). Kekuasaan !
Ya, itulah sasaran setiap politisi, sehingga siapapun yang duduk disana
pasti akan menjadi sasaran "Intimidasi Politik" !

Kelima, ambilah sikap dan penilaian terhadap politisi berdasarkan
pepatah kuno ini: "WHEN WE LOOK FOR THE GOOD IN OTHERS, WE DISCOVER THE
BEST IN OURSELVES". "THE WEAK CAN NEVER FORGIVE. FORGIVENESS IS THE
ATTRIBUTE OF THE STRONG".

Sebagai mayoritas suara yang tidak pernah bersuara, saya dibesarkan di
sebuah kampus PTN (1986-1992), kampus dimana mimbar bebas dan aksi
mahasiswa sudah digelar, jauh sebelum era reformasi. Akan tetapi tidak
pernah meng-klaim diri sebagai kampus reformasi (apalagi sampai pasang
spanduk segala) hanya karena ada mahasiswanya tertembak (baca: bukan
ditembak). Lulus, masuk ikatan dinas di BUMN, tiga kali ikut pemilu,
tiga kali Golput ! Lalu keluar, pindah ke salah satu perusahaan minyak
asing sampai saat ini. Darah mahasiswa masih mengalir deras !

Inilah sikap saya:

Suka atau tidak suka, sikap realistis dengan melihat segala kondisi yang
ada di masyarakat adalah hal terpenting. Gunakan akal sehat, tidak ada
manusia super didunia ini yang dapat membalikkan kenyataan begitu saja.
Seorangpun tidak ! Saya tidak perduli siapapun yang memimpin negara ini.
Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, pemerintahlah yang saat ini
memimpin negara ini, bangsa ini. Tidak ada seorangpun berhak berkata:
"Kamu tidak legitimate".  Seorang pun tidak. Apa dasarnya ? Ketokohannya
? Wauu !(?) Paling tidak legitimasi formal ada pada pemerintah !

Hanya pooling/angket pendapat nasional-lah yang berhak memutuskan. Ya,
Pemilu ! Mendatangkan pengamat independen dari Luar Negeri adalah mutlak
! LSM sudah dipolitisir. Sejumlah partai sudah terlanjur mengganggap
dirinya besar, pilihan rakyat. Rakyat yang mana ? Bahkan berani
mengklaim porsi 40%. Angka dari mana ? Siapkah menerima kekalahan ? Atau
paling paling menuding kambing hitam yang paling logis: Pemilu Curang,
intimidasi, money politics, boikot hasil pemilu, dll. Tidak ada yang
adil didunia. Ambil contoh: PUDI, sebuah partai yang sangat tidak
populer, bahkan dikalangan mahasiswa sekalipun. Akan tetapi justru
pemimpinnya yang paling lebar mulutnya.

Jangan jadi politisi takabur, sekaligus mengklaim yang terbesar. Gunakan
pepatah padi: "Semakin berisi semakin merunduk". Gunakan juga pematah
kuno: "WHEN WE LOOK FOR THE GOOD IN OTHERS, WE DISCOVER THE BEST IN
OURSELVES". "THE WEAK CAN NEVER FORGIVE. FORGIVENESS IS THE ATTRIBUTE OF
THE STRONG". Disinilah kunci untuk mendapatkan popularitas dan dukungan,
bukan ABS "Asal Beda Saja", "Asal Bicara Saja", "Asal Bunyi Saja", "Asal
mBokong Saja" !

Sadarlah, bahwa kekuatan suara yang terbesar adalah yang tidak pernah
bersuara (Silent Majority). Sebanyak apapun orang yang teriak dan turun
kejalan, percayalah, LEBIH BANYAK YANG TINGGAL DI RUMAH ! Bukan begitu
Saudaraku ?

The Silent Majority

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Jan 1999 jam 03:31:33 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke