---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Di kantorku ada 2 orang asli Ambon. Mereka memantau terus kerusuhan yang tengah terjadi. Bahkan keluarga salah satu teman tadi (Kristen) harus mengungsi ke hutan karena ancaman yang masih berlangsung. Pagi ini (21/1) keluarganya baru berani turun ke kota setelah dijemput para tentara dan mengatakan arus pembantaian sudah mereda. Kalau Anda melihat TV Australia pagi ini (21/1), di sana ditunjukkan bagaimana seseorang dikeroyok dengan senjata tajam. Ngeri. Ada dua point lagi yang dikemukakan temen saya: *** Kerusuhan yg terjadi amat hebat. Perang antar penduduk Islam-Kristen ini terjadi besar-besaran. Jumlah kurban sebenarnya jauh melampaui yg ada diberitakan. *** Sebelumnya tidak pernah terjadi kerusuhan antara Kristen dan Islam yang begitu hebat. Kalau perang antar kampung, memang terjadi. Jelas ada pihak-pihak yg berkepentingan dalam kerusuhan ini. Selain berdoa dan berdoa, mungkin ada gunanya kita mengetahui bingkai dari kerusuhan-kerusuhan yg terjadi, agar kita semakin waspada. Salah satu analisisnya dikemukakan oleh Radio Netherland, sbb: * MENGAPA JAKARTA MASIH AMBIVALEN MENANGGAPI KERUSUHAN YANG PECAH DI MANA-MANA? INTRO: Begitu bulan puasa berakhir, maka di daerah-daerah, kerusuhan- kerusuhanpun marak lagi. Sementara elit politik di ibukota saling bermaaf-maafan, di Ambon orangpun bunuh-bunuhan menanggapi isyu SARA yang disulut elit politik Jakarta, jauh sebelum bulan puasa. Berikut laporan Syahrir dari Jakarta: Bagi pentolan-pentolan politik ibukota, bukan rahasia lagi bahwa orang- orangnya Soeharto dan kelompok-kelompok politik tertentu giat mendorong terjadinya kerusuhan di mana-mana, khususnya yang menyangkut isyu pertikaian antar agama. Gus Dur yang pertama-tama mensinyalir kekuatan pro Soeharto yang getol melakukan kerusuhan, dua hari lalu kembali mengimbau mahasiswa agar tidak berdemonstrasi lagi. Iapun lagi-lagi mengatakan sudah mengetahui siapa-siapa yang berada di belakang gerakan mahasiswa selama ini. "Pada pokoknya mereka tidak mau pemilu dilaksanakan," katanya. Ada diplomat yang melihat bahwa yang paling getol melaksanakan pemilu secepatnya hanyalah Gus Dur, Megawati dan Amien Rais. Ketiganya yakin dapat meraih cukup banyak suara pada pemilu mendatang. Karena itu pula mereka meremehkan kekuatan-kekuatan politik lain yang dianggap tidak punya dukungan massa. Padahal sudah terbukti bahwa kwantitas saja tidak cukup untuk meraih kekuasaan, kata diplomat tersebut. Di masa lampau para pemimpin massa tidak mampu menjatuhkan ataupun menggoyang Soeharto. Pemimpin-pemimpin massa yang tidak punya nyali atau kurang mampu memanfaatkan momentum-momentum yang menentukan tidak akan sukses menggapai kekuasaan. Pada awal Orde Baru saja, ketika fraksi PKI dan PNI sudah musnah, sedangkan Golkar dan Parmusi belum lagi ada, NU yang merupakan fraksi terbesar tidak mampu mengambil peranan menentukan. Padahal hampir semua lembaga penting negara sudah berada di tangan NU. Mulai ketua DPR/MPR, departemen-departemen penting bahkan juga PWI. Sama dengan sekarang, kata seorang pengamat, NU malah minta pengarahan dari tentara yang belum punya dukungan massa. Kalangan lain juga tidak yakin Gus Dur, Megawati dan Amien Rais dapat mengungguli Habibie. Sebagai presiden, Habibie sendiri sudah mendapat kesempatan menunjukkan kegagalan maupun kebolehannya. Sedangkan ketiga tokoh tadi belum membuktikan apa-apa. Pers Asean melihat bagaimana Habibie sudah merasa cocok bekerjasama dengan Wiranto. Mendekati pemilu mendatang, kerjasama keduanya akan terus meningkat karena keduanya memang saling membutuhkan. Wiranto takut dipecat, sedangkan Habibie perlu dukungan ABRI. Dengan latar belakang ini mungkin dapat dimengerti mengapa pemerintah bersikap ambivalen terhadap kerusuhan-kerusuhan yang bersifat sara akhir-akhir ini, meskipun mungkin pemerintah sudah mengetahui siapa yang mengerahkan orang-orang ke daerah-daerah, untuk memancing kerusuhan. Meningkatnya kerusuhan-kerusuhan tersebut mungkin saja dapat memaksa masyarakat untuk menerima bahwa pemilu ditunda lagi untuk beberapa bulan. Partai-partai kecil saja sudah meminta supaya pemilu diadakan pada bulan Agustus 1999. Baik Habibie maupun Wiranto saat ini membutuhkan waktu lebih lama untuk memperkuat posisi masing-masing, demikian seorang pengamat. Wiranto perlu konsolidasi ke dalam sambil menjajaki mitra koalisi baru. Sedangkan Habibie perlu membangun partai pendukungnya sendiri, sebab kini ia hanya mendapat dukungan PPP dan PDI Budi yang bersedia mencalonkannya sebagai presiden. Akbar Tanjung nampaknya masih ragu-ragu mencalonkan Habibie. Maka untuk sementara ini Indonesia masih tetap akan melihat bagaimana para pendukung Soeharto mengadu domba rakyat di provinsi-provinsi. Di Manado misalnya, selama beberapa pekan belakangan para provokator dari pulau Jawa terus menerus menghasut massa agar membakar gereja- gereja. Tetapi tokoh-tokoh Islam Manado sudah melaporkan hasutan ini kepada tokoh-tokoh Kristen setempat sehingga peristiwa semacam di Maluku masih bisa dihindari. Tetapi sampai kapan, tanya seorang pengamat. Ia pesimis melihat banyaknya uang yang beredar di daerah-daerah. Praktis siapa saja yang punya proposal bagi kerusuhan dan mengetahui jalur dananya, akan mendapat dana yang dibutuhkannya itu, katanya. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Jan 1999 jam 03:31:59 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
