----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

From: Bilman P. Butarbutar

Membaca tulisan sdr. Mr. Prihatin sekali di Indonews ini, saya kepingin
urun rembuk sehingga dapat saling mengerti tjuan pembicaraan. Saya bukan
pendukung Bapak Adisasono karena saya belum pernah ketemu beliau
walaupun sudah terkenal dikalangan politikus. Namun saya mendukung ide
beliau mengenai ekonomi kerakyatan. Kalau Mr. Prihatin sekali bisa lihat
dana rakyat yang dikucurkan kepada para konglomerat yang jelas-jelas
membuat rakyat melarat mungkin anda akan meralat tulisan anda. Atau
jangan-jangan anda adalah sebagian dari konglomerat tersebut saya tidak
tau. Ekonomi kerakyatan tidaklah sesederhana yang diduga, karena
disamping pengetahuan bisnis rakyat kecil sangat minim juga viability
dari bisnis yang dikelolapun sangat mengenaskan. Namun bukan berarti
kita harus melupakan mereka karena mereka adalah bagian dari kita.
Sekalipun sebagian dari mereka gagal dan macet namun jumlahnya tidak
sehebat para konglomerat tersebut dan lihat mereka tidak akan lari
keluar negeri dan membuat rumah kesekian disana. Singapore, Australia,
Hongkong, Beijing, Taiwan bahkan Amerika Serikat. Rakyat kecil manakah
saudaraku yang melakukan demikian kalau usahanya macet? Tapi
konglomerat? Hari pertama kredit ngucur 20% dananya sudah diterbangkan
dulu keluar negeri untuk berjaga-jaga katanya. Maka muncullah istilah
mark-up. Cari jalan keluarlah mereka agar mark-up tersebut tst. Kemudian
muncullah KKN. Jadi jelas kan siapa yang memulai KKN? Bukan KIK/KMKP
bukan pula KUT an bukan pula kredit Koperasi. Karena susah me-mark-up
kredit untuk warteg, bakso dan lain sebagainya. Oleh karena itu,
janganlah kita kutuk ide itu tapi mari kita dukung dengan menyumbang
ide-ide yang bersifat membangun. Amerika Serikat sekalipun kalau tidak
salah masih menggalakkan bisnis kerakyatan sampai hari ini. Cuma ide
seperti ini tidak pernah tumbuh subur di Indonesia baik dari sejak Bapak
Moh. Hatta mengusulkan ekonomi Koperasi, maupun Bapak orde baru
mengusulkan ekonomi pengusaha lemah selalu saja kurang pendukungnya.
Lihat saja Bank-bank pemrintah yang selalu mempunyai banyak alasan untuk
tidak memproses kebanyakan permohonan kredit kepada pengusaha lemah ini
karena dokunya kecil, bahkan meskipun Pemerintah mendenda Bank-bank yang
tidak memenuhi 20% dari portfolio kreditnya tetap saja tidak
mengindahkannya. Anda tahu bagaimana caranya bankir-bankir yang mulia
tersebut agar tidak kena denda? Mereka bukukanlah kredit kredit
konglomerat tersebut diluar negeri di Cayman Islands, Vanuatu, Virgin
Island dlsb. Jadi sebetulnya rencana semula mendirikan cabang-cabang
offshore tersebut adalah untuk solicit dana-dana murah dari
konglomerat-konglomerat asing karena ingin menghindari pajak atas
deposito adalah omong kosong. Coba periksa Bank mana yang membukukan
dana seperti itu? Jadi sebetulnya cabang offshore tersebut adalah untuk
melindungi para bankir dan konglomerat Indonesia yang banyak mendapat
kucuran dana. Lihatlah juga tidak ada dukungan dari Pemerintah atas
idenya itu. Jadi kayak konsumsi politik saja. Saya setuju dikritik, tapi
jangan disembelih karena ide itu sendiri adalah bagus. Tolong berikan
sumbangan pemikiran buat beliau jangan mengkritik saja tanpa memberikan
saran.

Iya kan? Please

Billy

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Jan 1999 jam 03:36:54 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke