----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

KOLOM Perwira Alengka.

Rokade Blokir Maha Patih Wir.
22 January 1999. Jam 22.00 WIBB.

Perwira Alengka dan seluruh GM-TDA mengucapkan selamat Hari Raya Idul
Fitri 1419 H kepada seluruh netters. Minal Aidin Wal Faizin. Mohon maaf
lahir dan batin. Sedikit terlambat memang. Semoga para netters maklum,
bahwa berbagai acara halal bil halal yang ada, Perwira Alengka gunakan
untuk jajag pendapat tentang suasana terkini TDA pasca mutasi besar
besaran.

Sebelumnya, untuk Kangmas Gigih Nusantara dan para netters lainnya yang
masuk ke e'mail Perwira Alengka, Perwira Alengka ucapkan terima kasih
atas sentuhannya. Semua yang kalian tulis memang adalah kebenaran yang
tidak terbantah dan semua fakta itu Perwira Alengka terima dengan lapang
dada. Terima kasih untuk tidak membuka semua aib TDA itu di jalur umum.
Terima kasih atas bahasa yang begitu halus dan penuh persaudaraan yang
justru membuat Perwira Alengka, terdiam, termenung, termangu dan
akhirnya serba salah.  Karena itu, sekali lagi terima kasih atas kerja
sama, perhatian dan himbauan yang diberikan kepada kami. Sekali lagi
terima kasih untuk tidak mempermalukan kami di depan umum.  Jawaban ini
mungkin cukup untuk menjawab tulisan Kangmas Gigih Nusantara yang begitu
rapi, teratur, mengalir halus dan menyentuh yang Perwira Alengka yakini
dikerjakan dengan penuh perasaan dan jiwa persaudaraan.

Sebaliknya, tulisan Kangmas itu juga membuat Perwira Alengka merasa
berdosa pada Patih Besar Susilo Bambang Yudhoyono, sebab sebagian besar
milis yang masuk memang menduga bahwa Perwira Alengka adalah Patih Besar
Suboyou tersebut. Untuk itu, sekali lagi---, dengan sejujurnya, Perwira
Alengka katakan Perwira Alengka bukanlah Patih Besar Suboyou tersebut.
Perwira  Alengka adalah Perwira Pertama / Perwira Muda dalam jajaran
TDA. Sangat jauh rentang usia maupun jenjang kepangkatan.

Jika beliou adalah idola kami----, bila beliou adalah panutan
kami------, bila beliou adalah sumber keteladanan kami------.itu benar.
Tetapi untuk menyamakan bahwa Perwira Alengka sama dengan beliou-----,
dengan seluruh kerendahan hati Perwira Alengka mengatakan bahwa Perwira
Alengka belum pantas. Penilaian manusia adalah penilaian sebuah entitas.
Entitas intergral dari leaderships, managerialships, mental-attitude,
capability, acceptability, sikap kenegarawanan, kematangan emosi dan
sikap rela berkorban.

Belum satupun dari aspek  yang beliou miliki itu mampu Perwira Alengka
imbangi.  Jadi menyamakan Patih Besar Suboyou dengan Perwira Alengka
sesungguhnyalah sangat merugikan citra kualitas sumber daya manusia TDA
sendiri--- sebab Patih Suboyou adalah prototype contoh terbaik.
Sementara Perwira Alengka cuma produk rusak. ( waste product / BS ).
Jadi tidak bisa disetarakan.

Perwira Alengka tidak suka kultus individu. Tetapi kebenaran haruslah
diungkapkan sebagai kebenaran. Karena itu, dengan sejujurnya,
sebenarnyalah Perwira Alengka mengatakan bahwa Perwira Alengka khususnya
dan GM TDA kini umumnya adalah produk asuh dari para Patih seperti
Tyasno Sudarto, Djamari Chaniago, Sugiono, Rizal Nurdin, Willem da
Costa, Agus Wijoyo, Susilo Bambang Yudhoyono dan banyak patih lainnya,
yang sangat mengutamakan kujujuran kebenaran dan keadilan. Kami paling
anti rekayasa, anti aroganisme, anti militer salon yang penuh kemanjaan
materi dalam pembentukannya. Dan warna ini kami serap dari para pimpinan
pimpinan diatas.

Sampai kemudian, kalamana Mahapatih Wir melakukan rokade blokir, dengan
menempatkan Patih Giono dan Patih Tyasno Sudarto sebagai stopper halang,
Perwira Alengka dan GM TDA jadi salah tingkah. Mereka guru kami, mereka
komandan kami. Mereka tauladan kami. Apalagi kemudian muncul terminologi
"TDA Suhartois" untuk para Patih ini, adalah sangat menyulitkan posisi
mereka dan juga posisi kami.

Padahal tidak ada itu terminologi sesat begitu. TDA tidak mengenal
Suhartois atau non Suhartois. Sejujurnya saja, apakah memang ada----
perwira prominent TDA sampai lighting tahun 1978 yang tidak dipantau /
tidak di monitor oleh Eyang Suharto?. Tidak ada. Semua dipantau dan
diperhatikan Eyang Suharto dengan sungguh sungguh. Semua perwira
terbaik, yang cerdas dan menonjol, di tarik, dipromosikan dan di "wong"
ke oleh Eyang Suharto.  Jadi jangan heran bila kemudian muncul banyak
sekali Perwira Tinggi dengan kharakteristik dan back ground yang berbeda
beda, tetapi muncul dengan satu kesetiaan.  ( Gus Dur sangat menguasai
komposisi kekuatan ini ---- mungkin dari input si Bintang Sakti )

Hal ini  sempat Perwira Alengka tanyakan pada Empu Supo, apa rokade
blokir ini tidak akan menempatkan Patih Suboyou dan Patih Djamari
sebagai pemain lepas yang bisa main di luar skenario---?. Dengan sangat
bijaksana Empu Supo menjawab : permainan di luar skenario itu justru
adalah inti dari skenario itu sendiri.  Mahapatih Wir saat ini lagi
mainkan jurus pamungkas Yang Khun Thai Lo Ie, untuk beres beres dan cuci
gudang. Dengan jurus ini, bila cuci gudang ini gagal, minimal dia telah
menyiapkan satu perangkat supir cadangan, yang saat ini bermain di luar
system yang tetap bisa menjaga kesinambungan sejarah TDA. Perangkat
cadangan yang tanpa embel embel Suhartois.

Orang orang besar sekaliber Patih Suboyou, Patih Djamari Chaniago, Patih
Agus Wijoyo, Patih Agus Wirkus---- tidak perlu diragukan nasionalisme
dan tingkat bela negaranya. Orang orang dalam tataran demikian sama
sekali tidak larut dalam ambisi ambisi pribadi. Orang boleh mereka reka
dan menduga duga-----, tetapi Mahapatih Wir mengetahui psikologi dan
professionalisme para Patih ini.

Tinggallah kini kami GM - TDA yang harap harap bingung. Kami tidak
mengenal TDA Merah Putih, TDA Hijau ataupun TDA nano nano. Tetapi karena
opini publick sudah mengatakan bahwa yang berkuasa kini adalah TDA nya
Merah Putih, semogalah TDA Merah Putih ini  jangan di rekayasa dan
dipecah lagi, jadi TDA Merah yang bekas darah orde baru, dan TDA Putih
yang bebas dari dosa apapun. Jika model begini yang dimainkan-----
devide et impera ini jahat sekali.

Ini model adu domba keluaran terbaru. Suhartois versus non Suhartois.
Terus terang jika wawasan kami GM TDA tidak luas-----, kami  bisa
bingung mau ikut siapa. Sebab semua baik, semua teladan, semua panutan.
Tetapi untung Empu Supo membacanya dengan jernih. Percaya saja pada
Mahapatih Wir. Jika beliou siap mainkan jurus Yang Khun Thai Lo Ie,
berarti siap mengakomodir semua kekuatan di luar inti tenaga. Jika
beliou tidak kuat dan berarti permainan akan bubar----, otomatis tenaga
akan dipindahkan ke jasad antara tadi, yaitu  pemain lepas. Pemain lepas
itu  adalah para Patih yang oleh kaum analis pengadu domba disebut kaum
Putih.

Jadi jurus Yang Khun Thai Lo Ie yang dimainkan Mahapatih Wir ini adalah
jurus yang sangat bijaksana, tanpa perlu mengorbankan warna seseorang
atau memecah GM TDA ke polar polar kekuatan. Jika semua mulus, Neo
Alengka akan tertata rapi. Namun jika beliou gagal----- tinggal ganti supir.

Yang perlu disadari adalah jurus Yang Khun Thai Lo Ie ini sifatnya
keras, bermain tanpa perasaan sama sekali. Jika kekuatan lepas tidak
sadar, tidak sabar, dan turut bermain dengan kisaran tenaganya masing
masing--- sehingga terjadi dua benturan tenaga, hanya ada dua
kemungkinan tragis. Mahapatih Wir yang Cau Hwee Jib Mo------, atau
kekuatan lepas itu sendiri yang akan tercerabut dari akarnya.  Hanya ada
dua pilihan itu.

Sebaliknya jika kekuatan lepas ini sabar---- seksama---- stand by
menanti sebagai second pilot----,  perobahan politik apapun yang terjadi
di Alengka ini, sudah terantisipasi dengan jurus yang dimainkan ini,
yang berarti  kesinambungan harkat hidup TDA dan Neo Alengka. Disinilah
jiwa kenegarawanan para Patih di uji. Orang sematang Patih Suboyou dan
perwira militer seprofesional Patih Djamari sudah tahu semua ini. Mereka
adalah pelari marathon jarak jauh yang tahu atur nafas kapan untuk
menggunakan second wind demi keselamatan negara dan bangsa ini.

Kondisi ini perlu dibuka oleh Perwira Alengka, sebab Perwira Alengka
tidak ingin ada analisis analisis sesat lainnya yang akhirnya cuma akan
merugikan kinerja Mahapatih Wir dan stopper halangnya, sedangkan mereka
harus melakukan operasi cuci gudang. Mereka harus full konsentrasi.
Tidak boleh ada konsentrasi pecah. Justru dengan dibuka begini---- biar
semua orang sadar akan pentingnya kesatuan dan persatuan Alengka---,
terutama persatuan intern TDA. Semua Patih punya peran mulia masing
masing sesuai kepentingan tertinggi. Kepentinmgan tertinggi itu adalah
keselamatan Alengka. Lihatlah Alengka ini yang hampir terpecah belah.
Jika tidak alert, sebentar lagi kita tinggal mozaik mozaik berserakan.
Karena itu jangan lagi keluarkan analisis analisis yang cuma counter
productif yang cuma menimbulkan perpecahan anak bangsa semata.

Karena itu, siapapun pimpinan TDA saat ini---- mereka adalah pimpinan
kami yang sama baiknya.  Mereka yang mengajari kami tentang arti
kejujuran, kebenaran dan keadilan. Mereka yang mengajari kami untuk anti
rekayasa. Tidak arogan dan tidak salon. Mereka yang menanamkan benih
benih humanisme dihati kami. Jika masih ada GM TDA yang seperti Bayu
Nuji, memang implementasi paradigma baru belum sampai di perifer. Karena
itu kami tidak akan tetap melakukan sosialisasi nilai nilai ini
keseluruh Alengka.

Ini adalah perang opini. Ini adalah perang pendapat. Sayang sekali Patih
Samsul Maarif yang membiarkan seorang Perwira Alengka bertarung
sendirian di media alternatif ini. Padahal beliou mampu membentuk think
tank - think tank disetiap Kodam dengan satu juru bicara dalam
menghadapi perang opini ini. Sementara Perwira Alengka, jangankan
berpikir yang muluk muluk----,  tidak ditangkap saja sudah syukur,
karena berani menyuarakan suara reformasi begini.

Dan untuk Kangmas Gigih Nusantara dan teman teman lainnya, terus terang
Perwira Alengka sampaikan bahwa Perwira Alengka sudah tidak sanggup lagi
bayar phone billy dan net provy lagi. Kalung dan gelang Nyai Perwiro
yang cuma segitu gitunya semua sudah habis untuk kegiatan pemulihan
citra Neo TDA ini. Apalagi dengan sikap Perwira Alengka yang tidak bisa
dibeli atau terbeli----, tidak bisa di ijon atau terijon--- membuat
tidak ada orang yang berani mendekat. Biarlah.

Yaah---- dimana mana memang selalu ada orang aneh. Karena itu tidak
perlu heran dengan tokoh seperti Eyang Jusfiq Hajar . Perwira Alengka
kagum dengan jati diri begitu. Beliou konsisten. Sejak milis ini berdiri
beliou sudah ada disini. Karena itu, hormati saja beliou sebagai sesepuh
yang memang sepuh. Tanya sama Pandita atau LION. Sejak LION itu mulai
belajar menulis alif bata bersama sama si Sun Shine, Pedang Daud,
Bagaspati dlll, sampai akhirnya bisa nulis yang bener, Eyang Jusfiq itu
sudah ada disini. Soal aneh---, kita yang menulis disini memang semua
aneh kok. Dan khusus untuk Eyang Jusfiq, Perwira Alengka akan minta pada
Mahapatih Wir agar Eyang Jusfiq  tidak dicekal untuk kembali ke Alengka.
Kasihan orang tua. Atau Perwira Alengka akan hubungi Patih Tyasno
Sudarto, belioukan pernah jadi Athan di Perancis. Hitung hitung tebus
dosa memulihkan citra TDA. Soal besok Eyang Jusfiq tetap maki maki TDA
sebagai tukang bunuh dan tukang suruh bunuh---, tidak apa apa. Tak ada
pamrih kok.

Hidup Eyang Jusfiq Hajar gelar Datuk Sutan Marajolelo..
Hidup Neo Alengka yang mulai pecah berantakan.
Hidup Neo TDA yang punya cadangan pilot ( bukan rumput berduri lhooo).

Perwira Alengka
Di
Neo Alengka.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Jan 1999 jam 04:34:15 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke