----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

KOLOM SUPANGKAT

        DWIFUNGSI ABRI: PAMONG, GUBERNUR, MENTERI, DPR/MPR

Sebagai taktik bom asap diversion (mengecoh) ABRI, masalah keanggotaan dan
jumlahnya di DPR/MPR di besar besarkan sehingga orang tidak sempat mengka-
ji dwifungsi secara mendalam.

Dwifungsi ABRI tidak hanya memberikan hak prerogatif, eksklusif kepada ABRI
untuk menduduki kursi DPR/MPR yang dialokasi oleh UUD45, 100 orang (kemu-
dian dikurangi menjadi 75 dan akhirnya 50 orang) TANPA mengikuti pemilu pada-
hal untuk merebut satu kursi saja melalui pemilu itu bagi rakyat biasa
payahnya
sudah setengah mati.
Lihat saja PPP, PDI yang mempunyai pengaruh nyata dan luas di masyarakat,
Katolik, Protestan, Murba yang punya pengikut pasti, "menggah menggeh" un-
tuk mendapat kursi, namun ABRI dengan goyang goyang kaki saja ibarat dapat
rejeki dari langit 100 kursi, sekarang 50 kursi. Untuk apa? Bukankah mereka
buta politik, buta ekonomi, buta sosiologi/psikologi (kecuali beberapa
gelintir
yang tak ada artinya pula).

Demikianlah "keadilan" UUD 45 dan dwifungsi ABRI!

Bukan hanya sekedar keanggotaan DPR/MPR saja yang diborong ABRI dengan
"gratis", tapi juga Pamong (dulu disebut Pamong Praja) mulai dari Gubernur
sam-
pai Camat, bahkan sampai sampai Lurah diborong oleh ABRI YANG BUTA PE-
MERINTAHAN (PAMONG PRAJA) DI SELURUH INDONESIA, KECUALI BA-
RANGKALI DI YOGYA DAN SOLO, KARENA MALU OLEH SULTAN?

Lurah saja yang oleh Blanda dan fasis militer Jepang tidak diobok obok secara
menyolok mata, oleh ABRI dipaksakan calon Golkar, atau kalau sudah terpilih
jadi Lurah dipaksa jadi Golkar.

Camat dan Bupati tidak pernah dipilih dalam sejarah, selalu ditunjuk oleh
peme-
rintah, Camat oleh Gubernur, Gubernur oleh Presiden.

Kasus Bupati Bantul adalah yang paling menyolok dengan pembunuhan seorang
wartawan yang investigasinya masuk keranjang sampah, demikian pula kasus
Cecep yang dibunuh oleh pejabat dwifungsi hasil konspirasi Polisi-Kodim.

Dalam kurun waktu 32 tahun kekuasaan rejim fasis militerisme a la Jepang Su-
harto dengan dwifungsi ABRI dan Golkar, tidak pernah ada Gubernur atau Men-
teri dari ABRI yang "qualified" (geschikt) seumur hidupnya. Kalau DPR/MPR
memang sudah "kartu mati" semua tidak perlu dinilai lagi.

Ditambah lagi dengan kekuasaan "extra constitutional" DWIFUNGSI ABRI:
KODAM, KODIM, KORAMIL DI ATAS POLISI DAN PAMONG yang merupa-
kan warisan langsung sistem fasis militerisme a la Jepang, yang ternyata
hanya berhasil menandingi PKI "tok" sesudah tiadanya PKI mereka men-
jadi "freak", menjadi species punah seperti "dinosaurus" dari jutaan tahun
yang silam.

Toh masih kita pertahankan juga, Abdurrachman Wahid masih mau membe-
rikan waktu 6 tahun lagi.

Semuanya kaput, semuanya tidak cakap, gagal total menjalankan tugas yang
dipaksakannya karena memang sejak semula dwifungsi ABRI sudah merupakan
konsep yang gagal total dalam dunia modern ini.

Maka dari itu janganlah kaget, heran, kalau Indonesia seumur hidupnya akan
gagal terus selama dwifungsi ABRI dipertahankan karena konsepnya yang su-
dah gagal total tidak akan menghasilkan kebaikan yang kita dambakan.

Para MENTERI DAN PAMONG DARI ABRI, KODAM, KODIM, KORAMIL, PO-
LISI-ABRI, SEMUNYA TIDAK MAMPU MENGATASI ANARKI TAHAP PERMU-
LAAN SEKARANG INI, SEBAGAI BUKTI NYATA BAHWA DWIFUNGSI ABRI
SUDAH MENGALAMI KEGAGALAN TOTAL JUSTRU DI BIDANGNYA SENDI-
RI SEBAGAI PENJAGA KEAMANAN RAKYAT, APALAGI DI LUAR BIDANG-
NYA, BIDANG POLITIK, EKONOMI, SOSIAL YANG DIKANGKANGINYA SE-
LAMA 32 TAHUN INI SEHINGGA MENAMBAH KESENGSARAAN RAKYAT.

H.S. Hidayat Supangkat
New York.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Jan 1999 jam 15:36:07 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke