---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- PANDITA: MENGAPA KITA HARUS TERUS MENGECAM PEMERINTAHAN INI KONDISI KINI Kehidupan kini telah menjadi sangat berat bagi rakyat jelata. Satu tahun terakhir, bagi rakyat yang tidak mempunyai tabungan deposito atau dollar (yaitu seluruh RKI Rakyat Kecil Indonesia) kehidupan telah menjadi sangat berat. Tidak seluruh dari mereka menyadarinya, karena pukulan2 ekonomis yang menghajar mereka adalah pukulan2 makro ekonomi : inflasi, depressi ekonomi dan pengangguran. Inflasi membuat seluruh biaya hidup , beras dan ikan asin , menjadi sangat mahal. Depresi membuat celah2 ekonomi yang biasanya masih bisa dikais, menjadi pengojog, menjadi buruh bangunan, buruh gali pasir, hilang semua. Pengangguran unemployment jelas2 menjerat leher. Pandita sering kali sangat emosional melihat kejahatan2 ekonomi terhadap jutaan manusia ini. Manusia2 yang tidak mempunyai pelindung, tidak mempunyai pembawa suara. Manusia2 yang tidak sempat memikirkan harga diri. Generasi muda mereka ini, yang seharusnya menghadapi tantangan hidup yang wajar, menjadi sama sekali tidak mempunyai kesempatan. Jika mereka mau menjaga dignity, jadilah mereka preman dan rampog. Jika tidak, hidup saleh memaksakan kekejaman ekonomis yang sangat memalukan, dalam bentuk tidak mampu memberi makan anak secara wajar. Disinilah semua pemikiran luhur mengalami breakdown. Ada batas fisik yang tidak boleh dilanggar. Bagi orang2 dinegara maju, hal ini suatu keniscayaan. Itu sebabnya mereka nggembor hak2 yang tinggi2, seperti hak homosexual atau orang AIDS. Semuanya tidak relevan didepan sebuah keluarga yang harus menjaga dignity tetapi tidak mampu memberi makan anak2nya. Bahkan tidak juga agama. Yang memaksa manusia menunduk2 didepan manusia2 lain yang berbaju bersih, dan mendengarkan omongan2 tinggi tentang sesuatu yang tidak jelas, demi sebungkus sembako. Para mental budak bersedia melakoni apa saja, termasuk pura2 beragama, demi memperoleh makan bagi anak. Tidak bagi mereka yang punya dignity. Pandita bisa saja berujar2 semalaman tentang the plight of the poor. Bagaimana membangun dignity dikalangan yang lewat batas fisik. Tetapi itu bukan inti dari artikel ini. Dalam lingkup yang demikian, kondisi melarat yang awalnya pas2an tetapi masih bisa lucu, menjadi melarat super, kategori tidak bisa memberi makan anak. Dan para penguasa bukan hanya tidak menyadari, atau mau berbuat sesuatu bagi hal ini, malahan berebut kekuasaan pribadi. Malahan menggunakan berbagai strategi catur untuk menguasai lapangan politik. Malah menggunakan kerusuhan sebagai senjata mengalahkan pihak elit lain. Malah menggunakan mereka2 yang sedang sangat emosional untuk menjaga harga diri sebagai ganjel neroko. Menjebak kaum miskin menjadi pam-swakarsa demi uang cebanan. Menjebak para pemuda menjadi pembunuh sesamanya. Atau bahkan menyalahkan manusia2 yang sedang berjuang ketat untuk tidak menjadi penjahat ditaengah tekanan kemiskinan dengan tuduhan kurang taqwa atau kurang moral atau kurang apapun. Padahal, apa yang dapat dilakukan oleh pemuda2 pengangguran miskin ? Sebagian mereka yang beruntung dapat menjadi cantrik pesantren, yang memberikan payung fisik minimum, dan ayoman seorang pemimpin mengenai banyak hal. Mereka ini bisa saja disalah gunakan oleh kiai-nya , tetapi masih mendingan. Bagaimana dengan yang diluar pesantren ? Bagaimana menghadapi tekanan2 untuk merusak ditengah kemiskinan yang sangat menghina harga diri ? Ini semua bukan masalah ringan , itu jelas. Kemiskinan berasal dari kesalahan makro-ekonomi jelas bukanlah masalah sederhana. Problem2 makro-ekonomi jelas2 bukan problem sederhana. Dengan sepenuh hati pun, belum tentu kita mampu mengatasinya dengan baik. Pandita mengerahkan cantrik ekonomi uintuk memahami hal2 yang sulit ini. Tetapi apa yang kini terjadi ? KEGAGALAN NIAT Beberapa netters menulis dengan sangat baik mengenai hal ini, mengenai kegagalan setelah lengsernya soeharto, dari Finnegan terakhir, dan dari SuaraNurani sebelumnya. Hanya saja mereka tidak meneruskannya dengan langkah berikut, penyebabnya. Dorongan2 untuk memperoleh nama besar, memperoleh uang besar atau menjadi penguasa, adalah dorongan2 normal manusiawi. Dorongan untuk mengambil jalan pintas, mengambil jalan termudah, juga normal. Dorongan untuk memusuhi manusia yang berbeda, beda ras, beda status, beda suku dan beda apa saja, juga normal. Juga dorongan tamak, kejam, rakus, iri, fitnah. Masalahnya adalah diijinkan atau tidak. Pandita berulang kali menulis mengenai dosa asal ini. Kekejian habibi terbesar adalah ketertutupan matanya dari kekejaman yang melanda rakyat Indonesia saat ini. Kekejaman ekonomi. Dan menganggap kelanggengan kekuasaannya lebih penting. Tentu saja kekejian ini tidak timbul sekejap, dia telah keji sejak 30 tahun yang lalu. Kekejian yang sama pada ginanjar, wiranto, sasono. Yang tetap saja berusaha membela diri, membesar2kan diri, berebut kekuasaan dan harta. Ini yang paling mendasar. Lepas dari semua retorika politik, tidak ada yang pernah dilakukan untuk benar2 menolong rakyat miskin. Program2 memang ada, pencapaiannya luar biasa terbatas. Sedangkan kekejian korupsi kolusi antar pejabat birokrasi menutup semuanya, membuat hasil sedikit itu dibayar sangat tinggi oleh rakyat. Jarang lagi kita berbicara mengenai kondisi korupsi dimasyarakat kita, kecuali seri jurnalistik yang sangat bagus CePe, dan tulisan netter mengenai korupsi belum lama ini. Saat ini, birokrat, polisi dan praktikali semuanya, masih tetap merampok secara leluasa. Mereka tetap berebut maling, kalau tidak malah lebih nekad. Mengapa ini semua tetap terjadi ? Berbagai aspeknya telah Pandita tulis, Kultur Kahyangan. Para pengambil keputusan di semua bidang di Indonesia saat ini semua adalah kaum elit yang kaya raya. Semua jendral abri aktif adalah kaya raya. Semua menteri, dirjen dan pejabat2 adalah manusia2 deposito. Satu milyard rupiah ditahun 1998 akan menghasilkan bunga 500 juta an, yang boleh di hambur2kan karena sekitar 400 juta akan diperoleh lagi tahun ini. Padahal satu milyard adalah angka kecil, bahkan bagi abri anggota DPR pun. Apalagi gubernur atau bupati. Ini semuanya luarbiasa kontras dengan apa yang dimiliki rakyat biasa. Kaum dewa ini tidak akan pernah bisa melihat kesengsaraan orang lain dalam prespektif yang benar, seperti sindrom Marie Antoinette. Selalu dimata mereka lebih penting adalah urusan negara , yang notabene adalah urusan politik pribadi atau golongan mereka. Apakah habibi (dan menteri2nya yang sering mengucap sama) bekerja keras untuk rakyat ? Tidak mungkin. Mereka bekerja keras untuk agenda2 masing2. Sasono berkutat 10 jam di kantor nya adalah untuk melestarikan programnya yang bukan program golkar, tetapi republik Islam yang bukan negara Islam itu. Wiranto memutar otak ber-jam2 untuk mengatur Abri agar posisinya pivotal , agar tidak menyinggung orang penting kiri kanan. Apakah dia memikirkan rakyat ? Jelas tidak, karena semua kerusuhan yang beresiko merugikan korps-nya diredam, yang tidak merguikan diexpose besar2an (mahasiswa). Apakah Ginanjar berjuang bagi rakyat Indonesia dengan kerja keras cari utangan ? Dengan rekapitalisasi bank guna menyembunyikan milyaradan uang pribadi konco2 ? Gerakan ini berguna bagi keselamatan Kahyangan, habibi feisal wiranto dan semuanya agar kekayaan cukup untuk turunan. Tentu saja, even paragraf diatas bukan barang baru. Kahyangan Edan. Apa yang sesungguhnya bisa menunjukkan bahwa mereka tidak main2 ? Ini sudah jelas sejak dulu dalam seri Pandita, mengenai pembaiatan reformis. Militer. Dengan secara terbuka tanpa aling2 menyatakan fungsi keamanan, dan kegagalan2nya. Siapapun yang bertanggung jawab dibeberkan secara terbuka. Baik itu prabowo, hartono maupun feisal try edi. Kejahatan adalah kejahatan adalah kejahatan. Biarpun jika wiranto, sby maupun chaniago yang terlibat, harus diganti. Kejahatan2 sejak dari aceh timtim irja sampai ambon terakhir harus tuntas. Untuk permulaan cukup satu atau kasus dulu. Yang paling dibenci , misalnya kasus Tanjung Priok. Baru pelan2 kasus lain. Tak mungkin ? Ya karena abri tetap saja preman, sekarang preman politik. Keuangan. Kasus korupsi negara. Yang besar2. Soeharto maupun bukan. Skandal BLBI, skandal rekapitalisasi (yang sedang terjadi). Bahkan secara amat mudah, skandal bank2 milik konglomerat yang cina2. Danamon misalnya. Sangat mudah menegakkan keadilan, dengan mengumumkan secara terbuka siapa saja peminjam dan penabung bank tertentu. Terus penyelesaian bertingkat, dengan tanggungan pemilik terakhir. Tidak nutup, maka pemilik beserta semua peminjam terbesar dicekal untuk melunasi. Tidak mampu, penjara. Memang pasti tidak mampu semua, ya mulai saja satu. Sama seperti diatas, untuk permulaan cukup satu kasus dulu. BUN misalnya, bunuh semua. Baru ke kasus yang lain, Alfa. Tidak bisa ? Ya karena ginanjar juga maling. Politik. Semua pemain politik kita dagelan konstitusional . MPR DPR semuanya tembre maling kere. Semua orang tahu, tetapi mereka anggota Kahyangan. Kita lihat harmoko misalnya, maling kere ini sembunyi terus. Padahal, dosa2nya tidak ada kurang2nya. Bunuh satu monyet kalau berani. Sama seperti diatas, satu kasus saja, yang paling enteng. Yaitu suryadi PDI asu. Pecat tangkap tanpa konstitusional2an lagi. Tidak bisa ? Ya karena semua terlibat. Kasus Korupsi. Sikat secara sembarangan satu qurban. Gorok di alun2 tanpa konstitusional2an lagi, sama seperti waktu nembaki mahasiswa dulu. Lalu pelan2 seret2 lagi yang lain. Tidak bisa ? Ya karena semua terlibat. Dan seterusnya, ad nauseam. Semuanya tidak pernah dilakukan oleh pemerintahan ini. Yang ada justru gemboran2 membela diri, smokescreen, yang sudah kebangetan goblognya, namun memang secara politis bisa menguntungkan. Dari teriakan2 konstitusional (= tidak boleh ada tindakan pada Dewa) sampai jangan memaksakan kehendak (=hanya bedil boleh maksa) sampai insinuasi2 banyak pihak tidak nasionalis bermain (=yang diluar dewa). Banyak provokator, yang sesungguhnya jelas2 adalah dari kaum abri sendiri. Mengipas rakyat kere untuk jadi ganjel neroko. PENUTUP Ini akan menjadi apologia yang berkepanjangan, mengenai mengapa kita sangat marah. Baik kepada abri yang tidak berfungsi sama sekali atau pemerintah yang selalu saja menipu, memberi jawaban2 idiotik yang hanya dipermukaan. Pandita sangat berusaha memahami ke-idiot-an manusia2 ini ( sing waras ngalah sing waras ngalah ). Mengenai mengapa mereka menjadi begitu idiotik. Mengapa tenaga baru yang muncul setelah reformasi justru Islam pseudo ala fundamentalis teoritis atau segala teori mambu, kenyataannya adalah kere-munggah-bale, petruk-dadi-ratu. Yaitu manusia2 rakus miskin pengen kaya segala cara. Di kalangan manusia2 kaya korup, dan militer kaya keji. . Sambil Pandita terus berujar bahwa kita harus menjaga dignity kemanusiaan kita. Bahwa kita adalah bangsa yang besar, negara yang besar, yang memiliki segala alasan untuk menjadi negara besar milenium ketiga. Dan pada dasarnya kita adalah manusia2 berderajad. Tetapi perjalanan ini menjadi sangat melelahkan. Karena sampai detik ini di Indonesia, tidak ada perubahan yang berarti. Bahkan tindakan2 awal yang disebutkan diatas, notabene resiko kecil (bahkan dulu Pandita mengatakan akan menguntungkan sebagai public relation ). Tidak ada satu tetespun tindakan dari abri yang bisa dikategorikan bukan persiapan SLORC Indonesia. Me-muji2 diri, melindungi (dan menutup kasus) para provokator abri. Dan tidak satu tetespun tindakan habibi ginanjar maupun para pseudo-Islam yang benar2 menyatakan keberpihakan yang tanpa pamrih. Menghadapi krismon, seluruh kabinet serius pun belum tentu mampu, apalagi agenda2 maling. Bahkan dari kaum reformis (gus-amien-mega) pun sangat langka. Pada saat krisis ini. Indonesia tidak mempunyai pemimpin yang memadai. Mandela. Gandhi. Apa yang dapat kita lakukan ? Membiarkan saja para asu ajag dan celeng2 ini terus berpesta ? Mendukung wiranto habibi yang sedang berpolitik pura2 baik karena adaanya hanya mereka ? Mendukung sasono biarpun jelas2 dia adalah calon tiran sipil masa depan kita ? Memang tidak banyak yang dapat dilakukan oleh seorang rakyat kecil, selalu dipermainkan oleh penguasa tiran. Tetapi kita bisa mulai dari pelajari / pahami agar pelan2 kita tahu jenis manusia apa yang kita perlukan sebagai pemimpin. Dan pelan2 setidaknya memberikan passive resistance pada penguasa munafik. Agar mereka berubah, atau agar mereka diganti. Sambil kita sendiri menjaga diri agar tidak menjadi alat negara murahan, ganjel neroko. Dengan tindakan pemerintah yang tetap saja seperti sekarang (wiranto cari2 sumber provokator ambon dikalangan kere korban ambon misalnya, tanpa mau mikir siapa dibalik preman2 ambon dari jakarta, misalnya), maka hanya berarti satu hal : Papan Catur Nusantara yang mengerikan. Rakyat yang menganggur dan miskin menjadi jerami kering yang sangat murah disulut. Semuanya demi semangat babi celeng berkuasa. Yang harus terjadi terjadilah. Terakhir, harap agar para pemimpin spiritual yang benar (ulama - pendeta) jangan menggosok luka dengan cuka, dengan menuduh rakyat kurang taqwa atau kurang moral titipan jendral. Yang jelas kurang itu adalah klien kalian, para penguasa dan jenderal abri !! Walaupun openhouse mereka seger2, tetapi mereka semua adalah asu alas duit rampogan !!. Jangan picek-budeg menganggap para dewa itu demikian berkuasa, karena mereka linuwih putra Indonesia terbaik . nDasmu sempal. Jangan jadi kaya televangelis agama kristen di teve2 yang gila2an bacot sembarangan (mereka sih jelas cari duit) Itulah sebabnya kita marah !! Dengan ber-pura2 priyayi alusan sebagian dari kita boleh2 saja tidak mengumpat dengan expletives, tetapi menghilangkan kemarahan selama semuanya masih sama adalah tindakan pengecut !! Jancok kakekane biyangane asu !! Kumbokarno. Sang Pandita. 24 Jan 1999 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Jan 1999 jam 05:17:24 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
