----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

From: yusuf

REFERENDUM AKAN MERUGIKAN ACEH?

Pengamatan Prof Dr Dayan Dawood, Rektor Universitas Syiah Kuala, yang
dipetik REPUBLIKA dalam edisi 22 Januari 1999, perlu komentar dan kajian
lebih lanjut supaya tidak menyesatkan para pembaca Republika.

Pertama, Dr Dayan Dawood mengatakan bahwa "tuntutan referendum itu justru
merugikan Aceh, karena sulit untuk berdiri sendiri, mengingat kekayaan
sumber daya alam masih dikelola secara terpusat." Dari pengamatan Dr Dawood
ini saya dapat mengambil kesimpulan, kalau saya tidak salah mengerti,
seolah-seolah bangsa Aceh itu tidak sanggup berdiri sendiri dan mengurusi
kekayaan alamnya tanpa bantuan dari Jakarta. Ucapan seorang Rektor yang
'inferiority complex' nya terhadap pusat begitu parah, bukan saja telah
merendahkan martabat rakyat Aceh dan dirinya sendiri sebagai seorang
Rektor, tetapi juga telah melecehkan kesanggupan bangsa Aceh untuk mengatur
dirinya sendiri sebagaimana yang telah dibuktikan dalam sejarah ketika Aceh
berperan sebagai kuasa besar di Asia Tenggara di abat2 yang silam. Tuntutan
diadakan referendum yang diprakarsai oleh kumpulan2 mahasiswa Aceh dan
Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang disokong oleh majority rakyat Aceh itu,
tidak boleh dilihat dari sudut ekonomi semata-mata, tetapi perlu juga
ditelaah dari berbagai faktor seperti sejarah, agama, budaya dls. Memang
tidak mengherankan kalau sebagian journalist atau pengamat Barat dan
Amerika selalu cenderung menitik-beratkan kepada faktor ekonomi dan
perimbangan keuangan pusat-daerah setiap terjadi kerusuhan di Aceh, sebab,
manusia2 Barat dan Amerika memang telah dididik untuk menempatkan
kepentingan ekonomi diatas kepentingan2 lainnya. Kalau mulut2 mereka
berbicara tentang hak2 asasi manusia, maka hati2 mereka selalu
memperhitungkan berapa banyak keuntungan yang mereka peroleh dari
multunasionalnya yang beroperasi di Aceh, dan hasil penjualan senjata
kepada Indonesia. Sedangkan pemikiran atawa mentality orang Aceh itu
sungguh jauh berbeda; mereka lebih suka mati mempertahankan agama, budaya,
dan tanah airnya daripada mempertahankan hartanya. Seorang Rektor, seperti
Dr Dawood, seharusnya memiliki prinsip dan analisa sendiri dalam mencari
penyelesaian terhadap konflik di Aceh, dan tidak perlu ikut-ikutan dengan
cara pemikiran barat itu!

Kedua, Dr Dawood menjelaskan bahwa ianya takut "kalau mahasiswa masih minta
referendum secara paksa", jangan2 pusat tidak mahu melepaskan kontrak
jual-beli hasil Aceh dengan kompeni2 asing. Kelihatannya, Dr dawood salah
faham dengan esensi referendum yang dituntut mahasiswa2 Aceh itu, dimana
rakyat Aceh akan dihadapkan dengan dua pilihan: integrasi atau
disintegrasi? Kalau Aceh memang  sudah keluar dari republik Indonesia
melalui hasil sebuah referendum yang diawasi PBB, maka peralihan kekuasaan
tentu saja merupakan satu perkara administrasi saja - bukan lagi perkara
legal antara Aceh dan Indonesia. Oleh karena itu, sekarang Dr Dawood tidak
perlu pusing2 memikirkan hal2 yang sepele seperti 'kontrak pusat dengan
perusahaan asing', 'tranfer uang dari bank2 konsumen dengan Bank Indonesia'
dan lain2 sebagainya. Jadi, persoalan pokok yang perlu diperbincangkan
sekarang adalah keinginan dan hak legal rakyat Aceh dibawah hukum
internasional untuk menentukan nasib diri sendiri - bukan perkara ekonomi.
Sedangkan masalah ekonomi yang sering dibesar-besarkan itu merupakan satu
faktor pencetus saja (precipitating factor) dalam sebagian drama sejarah
perlawanan rakyat Aceh terhadap kekuasan luar - bukan faktor utamanya
(predisposing factor).

Ketiga, Dr Dawood juga berpendapat supaya pusat dapat kiranya memberikan
kepada Aceh 'otonomy dan 'hak istimewa' yang mencakup pendidikan, agama,
dan adat istiadat. Terus terang saja, kebanyakan rakyat Aceh, termasuk saya
sendiri, sudah bosan untuk mendengar saja slogan2 'otonomi' dan 'hak
istimewa'. Sebab, usaha2 ke arah itu tidak akan menyelesaikan perkara Aceh;
itu hanya untuk mengalihkan persoalan yang sebenar dan memperpanjang
penderitaan rakyat Aceh.

Stockholm, 24 Januari 1999

Salam Merdeka

Yusda

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 1999 jam 05:18:44 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke