----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Apakah Pemilu Bisa Mengatasi Krisis?
Mustaqim Ali

Pemilu 1999 kali ini disambut dengan sikap berbeda-beda. Gerakan mahasiswa
yang bersama-sama memaksa Soeharto turun dari jabatannya (dan membiarkan
Habibie duduk tenang di kursi kepresidenan) terbelah sikapnya. Ada yang
secara tegas mendukung, menganggap pemilihan umum sebagai penyelesaian dari
krisis ekonomi dan politik yang melanda negeri ini sejak dua tahun terakhir.
Dengan pemilu, demikian argumentasinya, rakyat bisa secara demokratis
memilih para pemimpinnya, bisa lebih bebas menentukan masa depannya sendiri.
Sebaliknya ada yang beranggapan bahwa pemilu hanya akan memberi legitimasi
bagi rezim Habibie. Perdebatan ini bertambah kompleks dengan masuknya
kemungkinan adanya pihak yang curang dalam pemilu. Kali ini bukan hanya
Golkar dan ABRI seperti biasanya, tapi partai-partai lain yang ingin menang
pun punya potensi untuk bermain curang. Diskusi pun bergeser dari soal perlu
tidaknya pemilu kepada bagaimana menjamin agar berlangsung pemilu yang
sungguh langsung, umum, bebas dan rahasia. Tidak ada intervensi dari pihak
manapun, tidak ada intimidasi, tidak kecurangan dalam menghitung suara.

Mahasiswa, kalangan intelektual dan beberapa LSM kerja keras membentuk
lembaga pemantau pemilu. Seberapa jauh efektivitasnya masih diperdebatkan
apalagi seberapa jauh kekuatannya untuk berbuat sesuatu jika memang ada
pemilu. Maka diskusi pun berlanjut lagi pada masalah bagaimana memperkuat
lembaga-lembaga tersebut, bukan hanya dengan merekrut anggota dan tenaga
sukarela, tapi mencari dukungan ke luar negeri.

Ikut dalam pemilu, dan memantau pemilu agar berjalan luber, memang sah-sah
saja. Tapi pertanyaan awal kita belum terjawab, apakah pemilu dapat
mengatasi krisis ini? Menurut pandanganku, pemilu sama sekali tidak dapat
menjawab masalah. Dan benar seperti dikatakan sebagian kawan mahasiswa dan
aktivis pro-demokrasi, pemilu hanya akan menjadi alat untuk memuluskan jalan
bagi penguasa baru. Tentu ada pertanyaan dari kalangan pro-pemilu: "kalau
Megawati atau Amien Rais yang jadi presiden, kan bagus juga?" Ini adalah
argumentasi khas dari orang yang berspekulasi dalam politik. Kita tidak
perlu terjebak dalam spekulasi semacam itu, tapi cukup dikatakan bahwa
masalahnya bukan siapa yang menjadi presiden, tapi apa artinya menjadi
presiden sekarang ini.

Menjadi presiden di negeri yang tengah dilanda krisis hebat bukanlah perkara
mudah. Tanpa meragukan kualitas individual para pemimpin seperti Megawati,
Amien Rais, Abdurrachman Wahid, Edi Sudrajat dan lainnya, kita harus ingat
selalu bahwa politik itu terutama masalah sistem dan struktur, bukan
individu. Soeharto berkuasa selama 32 tahun bukan karena kepandaian dan
kehebatannya, tapi karena dinamika dalam struktur masyarakat tidak mampu
menghadirkan alternatif kepemimpinan yang lain. Memang ada beberapa tokoh
kritis dan vokal, tapi lagi-lagi: politik bukanlah masalah kualitas
individu! Sistem politik yang dibangun dengan ketat menjaga segala
kemungkinan perubahan yang mendasar, dan sistem itu dijaga dengan peralatan
represif, mulai dari tentara, hukum, pengadilan dan seterusnya. Itulah
realitas Orde Baru yang kita 'nikmati' bersama selama 32 tahun.

Menjadi presiden di dalam sistem yang represif dan struktur masyarakat yang
menindas bukanlah perkara mudah. Pengalaman Filipina adalah contoh yang
kongkret dan mungkin cukup dekat dengan kita. Ingat saja, tahun 1986 Cory
Aquino naik menjadi presiden mengganti Ferdinand Marcos, seorang diktator
karib Soeharto, yang terkenal karena kekejamannya, pelanggaran hak asasi
manusia selama ia berkuasa, korupsi yang gila-gilaan (dan dipertontonkan
pula di hadapan rakyat), dan segala kejelekan lain yang ada pada seorang
diktator. Naiknya Cory Aquino, melalui pemilihan umum yang relatif luber,
disambut gembira oleh rakyat. Tapi, apa yang terjadi?

Filipina pada saat itu ada dalam situasi krisis ekonomi yang cukup serius.
Korupsi Marcos dan strategi pembangunan kapitalis yang berorientasi pada
pasar telah membawa rakyat dalam kesengsaraan luar biasa. Perampasan tanah
dan pencekikan upah buruh adalah cara para pengusaha di negeri itu
memperkaya diri dan melakukan akumulasi modal. Pengiriman buruh ke berbagai
negeri -- yang kemudian bernasib antara lain seperti Flor Contemplacion --
adalah cara pemerintah mendapatkan devisa untuk membayar hutang-hutang luar
negerinya dan menjaga keseimbangan neraca perdagangan. Pemaksaan kerja
terhadap buruh anak adalah jalan keluar yang dipilih pemilik modal daripada
berhadapan dengan buruh-buruh yang tergabung dalam serikat buruh yang
militan. Dan masih segudang masalah lainnya. Apakah situasi ini berubah
ketika Cory Aquino menjadi presiden? Jawabnya, tidak!

Bukti yang paling gamblang terjadi tidak sampai setahun setelah dia disumpah
menjadi presiden. Pada tahun 1987 belasan ribu petani yang tergabung dalam
berbagai organisasi petani melancarkan aksi menuju Istana Malacanang,
Manila. Tuntutannya sederhana, reformasi agraria, artinya pembagian tanah
kepada yang tidak bertanah, menghapus praktek lintah darat di pedesaan dan
juga melindungi petani dari serbuan produk perusahaan multinasional. Sebagai
seorang demokrat yang baru saja menggulingkan seorang diktator, tindakan
Cory Aquino benar-benar tidak dapat diterima akal sehat. Ia, seperti yang
biasa dilakukan Marcos, Soeharto, Mobutu Sese-Seko, Bokassa, Papa Doc
Duvalier, dan sederet diktator keji lainnya, mengirim tentara untuk memaksa
petani membubarkan diri. Alhasil puluhan orang tewas, ratusan luka-luka.
Tidak ada penyelidikan terhadap kasus tersebut, dan Cory Aquino
menganggapnya sebagai sebuah 'tragedi'. Itulah wajah demokrat pujaan rakyat
setahun sebelumnya.

Masih banyak contoh lain yang dapat diajukan di sini, dari negara-negara
Amerika Latin yang akhir tahun 1980-an mengalami re-demokratisasi. Di
negara-negara itu pemerintahan otoriter berhasil digusur oleh pemerintahan
baru yang demokratis hasil pemilu. Di Brasil, Cardoso, seorang ekonom yang
radikal dan dikenal dengan tesis ketergantungannya -- diperkenalkan di
Indonesia oleh Adi Sasono -- naik menjadi presiden. Tapi pelanggaran hak
asasi manusia, segala jenis kekerasan, penindasan terhadap rakyat miskin,
tetap merajalela. Tidak ada perubahan yang berarti, dan dengan ekonomi yang
berada di bawah komando IMF dan lembaga-lembaga keuangan imperialis lainnya,
situasi makin memburuk. Kelaparan menyulut protes, dan seperti para diktator
lainnya Cardoso pun mengirim tentara untuk menindas mereka. Itulah kerja
dari rezim hasil pemilu yang naik menggantikan para diktator.

Lalu sekarang, bagaimana dengan Indonesia? Seorang pragmatis dalam politik
(boleh juga kita sebut oportunis) akan menjawab: "Kalau bukan pemilu, lantas
apa lagi? Pemilu adalah satu-satunya pilihan!" Sebuah pernyataan yang tidak
menghargai perjalana sejarah negeri ini. Apakah republik ini terbentuk
melalui pemilu? Apakah keputusan penting untuk melancarkan proklamasi adalah
hasil pemilu? Tentu tidak! Jawaban itu mungkin terkesan kekanak-kanakan,
tapi sungguh tepat untuk pertanyaan yang kekanak-kanakan juga. Maksudku
lebih jauh ingin mengatakan bahwa pemilu bukanlah satu-satunya cara, tapi
hanya salah satu cara. Dan pembacaan terhadap situasi sekarang ini membuatku
yakin bahwa pemilu memang tidak akan dapat menjawab krisis ekonomi dan
politik di Indonesia sekarang ini. Sedikitpun tidak, malah sebaliknya ada
kemungkinan bahwa krisis makin hebat dan segala bentuk perlawanan ditindas,
tapi sekali ini atas nama 'pemerintahan demokratik hasil pemilihan umum!'
Silakan dipertimbangkan!

Surabaya, 22 Januari 1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 1999 jam 05:19:13 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke