----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

    MUNGKINKAH DINAS INTELEJEN TIDAK TAHU ?
    oleh: Tengku Ahmad Nasio

Korban dalam kerusuhan SARA di Ambon dan sekitarnya telah mencapai 45
orang tewas dan 100 lebih luka-luka berat dan korban meninggal dunia
akan bertambah terus. Sebagaimana biasa, Pangab menyatakan akan
bertindak tegas dan memerintahkan untuk mengungkap "provokatornya".
Dalam 3 hari saja telah terjadi kerusuhan di 15 kota, dimulai dari kota
Ambon yang biasanya damai dan sepi, kemudian Bolaang Mangondow, Porsea
yang selalu ricuh dengan proyek Indorayon, Cirebon, Tegal, Pemalang,
Bogor dan kota-kota lainnya. Seperti juga kerusuhan 13 - 15 Mei tahun
lalu yang menewaskan lebih dari 2200 warga Jakarta, kerusuhan-kerusuhan
yang terjadi akhir-akhir ini sulit kalau disebutkan sebagai peristiwa
kriminil biasa. Dalam peristiwa  Banyuwangi , Gus Dur mengucapkan
inisial dari "DALANG"  dan lagi-lagi pada peristiwa Ambon, "WALI" tadi
menggelindingkan kata bahwasanya tetangga dekatnya menjadi "BIANG" .
Apakah Dinas Intelejen kita tidak tahu dalangnya, padahal warga biasa
seperti Gus Dur berani menyebut bahwa "TETANGGA" dekatnya di Ciganjur
daerah Pasar Minggu sebagai sang "DALANG" ? Pergerakan nilai mata uang
Dolar akan terjadi  dan rakyat akan makin terhimpit kesulitan ekonomi
dan hal ini tentunya menambah keresahan. Ada rakyat kecil yang
menyatakan "bubarkan" saja tentara, polisi , Dinas Intelejen yang tidak
mampu memantau gejala-gejala anarki. Mahasiswa yang berdemo selalu
dipantau , dikejar-kejar, bahkan ditangkap dan ditembak mati, masak
kerusuhan yang memakan korban jiwa dibiarkan dan terjadi terus menerus
bertahun-tahun ? Coba saja periksa bagaimana peristiwa Situbondo,
Tasikmalaya, 13-15 Mei, Trisakti, Atma Jaya, Banyuwangi, Kupang
dibiarkan tak terusik , tak tuntas dan tak ada "DALANG" atau "Pelaku
Utama" yang tertangkap. Yang diadili adalah "Prajurit" kecil-kecilan,
yang cuma dipakai sebagai "TUMBAL", mana Jenderalnya ? Mana "DALANG" dan
"AKTOR INTELEKTUIL"-NYA ? Disinilah diperlukan ABRI yang kuat dan
berwibawa untuk mengamankan negara terhadap anarki dan kehancuran total.

Dalam berbagai kerusuhan disinyalir keterlibatan mantan Presiden sebagai
penyandang dana dan ada sinyalemen yang menyatakan bahwa kabinet Habibie
yang menghendaki kondisi "STATUS QUO" terlibat dalam penyaluran dana
melalui berbagai kegiatan beberapa menteri yang menonjol untuk
meluncurkan ekonomi kerakyatan yang sangat memusingkan menteri Keuangan
serta Menko Ekuin. Sudah dapat dipastikan dana Trilyunan Rupiah yang
dibagikan ke badan-badan koperasi yang tak berpengalaman mengolah dana
milyaran akan "HANGUS" dan tak kembali. Semua pihak setuju memajukan
perekonomian rakyat, tetapi cara yang ditempuh ini akan mengakibatkan
kehancuran . Ada pihak-pihak yang mensinyalir bahwa keterlibatan menteri
bermuka "DUA" :"Simbol membela rakyat?" dan "Tokoh paling berbahaya"
dalam peristiwa 13-15 Mei 1998. Melihat sejarah hidupnya yang sangat
"rasialis" dan "arogan" bukannya tidak mungkin "Tokoh berbahaya" dan
"ambisius" yang ingin bereksprimentil menciptakan ekonomi sosialis
religius ini memang merupakan "TOKOH" sangat berbahaya. Berbahaya bagi
"KEMANUSIAAN" dan berbahaya bagi perekonomian rakyat Indonesia.
Keterlibatannya dalam peristiwa 13 - 15 mei dengan mengerahkan
organisasi sektarian berkedok agama patut diselidiki dan diperiksa.
Aktivitasnya bersama Letjen Prabowo, menantu mantan presiden, mantan
Komandan Jenderal Kopasus  dan mantan Panglima Kostrad yang sangat
intens menjelang meletusnya peristiwa "BESAR" dan "LAKNAT" 13-15 Mei
yang berakibat sangat buruk bagi perekonomian negara. Keterlibatan
sementara organisasi ICMI dengan sayap organisasinya dalam membantah
mati-matian keterlibatan Prabowo dan dalam ungkapan-ungkapan "melempar
batu sembunyi tangan" , seolah-olah peristiwa tersebut adalah
"SPONTANITAS" rakyat, jelas menunjukan bahwa " Something Behind The
Scene". Majalah " TAJUK" telah berkali-kali mengungkapkan
keganjilan-keganjilan sekitar aktivitas mereka. Ketergantungan Habibie
pada menteri tersebut sangat besar bisa dimengerti : hal ini disebabkan
Habibie yang sebelumnya orang nomor 2, sebagai murid "Guru Besar "
Suharto, sebagai koruptor nomor 2 menurut George Aditjondro dalam buku "
Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari" , memang akan mati-matian
membutuhkan pembelaan organisasi yang menggunakan dalih "kerakyatan"
dengan dana yang dikuasainya. Habibie mengangkat menteri-menteri yang
sangat "rasialis", mengangkat kerabatnya Jenderal Z.A,Maulani sebagai
kepala Intelejen tentunya dengan tujuan melestarikan jabatan orang nomor
1 di Republik ini dan untuk melindungi kepentingan pribadi . Seandainya
Habibie tidak terpilih kembali sebagai Presiden, konsekwensi yang akan
terjadi adalah "TERBONGKARNYA"  skandal "KEJAHATAN" dari komplotan yang
mendalangi peristiwa-peristiwa mulai dari kasus Trisakti, 13-15 Mei,
Kupang sampai peristiwa Ambon. Dengan demikian ICMI sebagai organisasi
yang dicurigai keterlibatannya, kabinet Habibie dengan beberapa menteri
yang terlibat dalam banyak peristiwa dengan mengerahkan dana dan juga
"DINAS INTELEJEN" yang berusaha menutupi " KEJAHATAN POLITIK"  akan
sulit sekali mengelak dari tanggung jawab hukum. Jadi pertanyaan
masyarakat bahwa Dinas Intelejen negara besar seperti Indonesia dengan
pengalaman bertahun-tahun dalam dinas spionase, kontra spionase,
intrik,penyulikan dan pemusnahan lawan politik : mana mungkin tidak tahu
rahasia peristiwa "KEJAHATAN" tersebut ?

Jakarta, 24 Januari 1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 1999 jam 05:23:04 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke