----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

SETELAH GERAKAN REFORMASI MAHASISWA
APA LAGI YANG KITA PERBUAT?
Rudy Bera

Apakah artinya Reformasi itu sebenarnya? Saya mencoba mencari tahu di
kamus bahasa Indonesia, ternyata tidak tertulis disitu. Akhirnya
didalam
kamus bahasa Inggris The American Heritage Dictionary, saya menemukan
dua pengertian yaitu: "ref7or7ma7tion (r5f  r- m3 sh n) n. 1. Abbr.
ref.
The act of reforming or the state of being reformed. 2. Reformation.
A
16th-century movement in Western Europe that aimed at reforming some
doctrines and practices of the Roman Catholic Church and resulted in
the
establishment of the Protestant churches" Tetap tidak dapat
dimengerti
suatu perbuatan reformasi atau suatu keadaan di reformasi.
Pengertian
kedua adalah mengenai keagamaan yang tidaklah cocok dengan keadaan
dewasa ini yang sedang kita alami.  Kamus World Book Dictionary
menerangkan: "Reformation, the act or process of reforming or
condition
of being reformed; change for the better; improvement", ini
pengertian
pertama, sedangkan pengertian kedua adalah: "the great religious
movement in Europe in the 1500's that aimed at reform within the
Roman
Catholic Church but led to the estabalishment of Protestant churches"
dan pengertian ketiga adalah: the act or process of  formation over
again".  Dari ketiga pengertian ini, pengertian yang pertama yang
cocok
dengan keadaan dewasa ini yaitu merubah menuju kepada yang lebih baik
atau perbaikan. Dalam praktek dan kenyataannya, dari Sabang - Merauke
-
Timor Timur telah mengetahui arti reformasi yang sedang berjalan ini,
maka tidak lagi diperlukan penjelasan atau terjemahannya.
Gerakan reformasi dimulai dari adik-adik mahasiswa kita yang
tercinta
karena mereka tahu dan mengerti rakyat Indonesia sudah tidak tahan
lagi
untuk terus menerus menderita selama 32 tahun.  Mereka tidak
mempunyai
pamrih untuk menjadi sesuatu untuk diri sendiri secara pribadi atau
mencapai kedudukan, malah mereka sudi berkorban waktu, uang dan
bahkan
nyawa 4 adik-adik mahasiswa Trisakti telah dipersembahkan disamping
yang
luka-luka, untuk seluruh rakyat Indonesia yang menderita selama
puluhan
tahun (bukan tahunan). Mereka patut kita hargai sebagai pahlawan
reformasi, mereka gugur untuk dan demi rakyat Indonesia yang
menderita
secara ekonomi.
Yang mengherankan saya adalah akibat dari reformasi bermunculanlah
ahli
hukum, ahli ekonomi dan ahli politik tanpa menjalani pendidikan
formal 5
tahun di fakultas hukum, fakultas ekonomi dan politik dengan
masing-masing mengemukakan pendapatnya, sehingga rakyat bertambah
bingung, perut mereka tetap lapar, pekerjaan, praktis susah atau
tidak
ada, penghasilan minim sekali dan kurang bahkan cukup banyak rakyat
tidak berpenghasilan, mereka putus asa, inikah yang diberikan dan
disajikan oleh Golkar dan Pemerintahan Orde Baru selama 32 tahun ?
Setiap orang yang bersekolah dapat menghitung kalau seorang kepala
keluarga memerlukan umpama minimum Rp.300.000,- sebulan untuk
keperluan
hidup, sekolah anak- anak, transportasi sedangkan penghasilan mereka
hanyalah Rp.150.000,- maka setiap bulan mereka berkekurangan
Rp.150.000,- yang harus mereka penuhi agar keluarganya dapat bertahan
hidup dan melanjutkan kehidupannya.  Untuk itu mereka dipaksa harus
mencari tambahan, syukur kalau halal, tetapi sering dilakukan dengan
cara tidak halal dengan memeras rakyat yang memerlukan bantuan dan
jasa
mereka.  Pemerintah tahu bahwa para pegawai negerinya berkekurangan
tetapi tahun demi tahun hingga 32 tahun lamanya mereka tidak berupaya
dengan sungguh-sungguh untuk menanggulanginya dengan mensejahterakan
pegawai negeri dan rakyat.
Yang dilakukan adalah terlalu sibuk dengan mensejahterakan diri
dengan
cara ber KKN, mengerjakan proyek-proyek besar maupun menengah yang
membawa keuntungan yang besar bagi perorangan ataupun golongan kecil.
Sungguh kasihan rakyat Indonesia yang berkekurangan dan menderita ini
selama 32 tahun.
Rakyat Indonesia selama setahun "nrimo"dengan ikhlas karena suatu
pemerintahan baru tentu membutuhkan waktu untuk bekerja dan
membuktikan
diri mensejahterakan rakyatnya, sepuluh tahun masih "nrimo"namun
dengan
tanda tanya, mau dibawa kemana kita ini, duapuluh tahun sudah tidak
"nrimo" tetapi tak berdaya, siapa berani untuk mengungkapkan perasaan
dengan tegas ,sekarang 30 tahun dari semula "nrimo" sekarang dengan
tegas menyatakan "tidak nrimo" lagi dan dinyatakan dengan tegas oleh
adik-adik kita Mahasiswa Indonesia, sungguh suatu karunia TUHAN
memiliki
adik-adik Mahasiswa yang gagah berani mengungkan penderitaan rakyat
tanpa mementingkan diri baik dalam kedudukan maupun keuangan.
Para pemimpin rakyat Orde Baru telah terbuai dengan pendapat bahwa
rakyatnya akan  "nrimo terus".  Mereka terbuai oleh kebenaran yang
semu
itu, akhirnya lupa daratan untuk  kemudian diterpa oleh gelombang
yang
maha dahsyat, gelombang reformasi yang dimulai oleh para mahasiswa
berbagai Universitas  yang mewakili kesusahan dan penderitaan rakyat
Indonesia.  Yang merasa paling gembira adalah rakyat Indonesia yang
menderita, yang merasa tidak ikut bergembira bahkan merasa akan
terjadi
sesuatu yang tidak baik sekarang maupun dikemudian hari apabila hukum
sudah diletakkan pada tempat yang sebenarnya.
Mereka yang telah menikmati kenikmatan duniawi dibidang kekayaan
yang
diperolehnya secara KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme).  Tunggu tanggal
mainnya, pasti akan mendapat giliran diadili oleh rakyat melalui
badan
peradilan yang mutlak sudah harus bersih dari unsur- unsur KKN.
Jangan menunggu sampai dibidang peradilan pun rakyat tidak "nrimo"
sehingga peradilan akan diambil alih oleh rakyat sendiri, itu berarti
revolusi peradilan akan terjadi, yang pasti disusul oleh revolusi
ekonomi, kebudayaan, sosial dan politik, yang sama-sama kita tidak
menghendakinya karena suatu revolusi selalu berakibat pahit dan
tambah
sengsaranya rakyat yang sekarang sudah sangat menderita, karena suatu
revolusi apabila tercetus tidak dapat dikendalikan oleh pemimpinnya
sekalipun. Karena dikala itu setan dendam dan pembalasan dendam telah
merasuk di ribuan bahkan jutaan manusia dari rakyat itu, akal sehat,
ajaran agama yang luhur pupus dari hati sanubari dan akal sehat.
Saya berseru kepada rakyat, janganlah mengambil langkah-langkah ini,
ingatlah pada ajaran agama masing-masing dan mulai belajar kembali
untuk
mempercayai suatu pemerintahan yang baru yang sesuai atau mendekati
kesesuaian dengan keinginan kita,  dengan memberi kesempatan untuk
mereka bekerja sesuai janji-janji mereka, tentu dengan syarat yang
mutlak bahwa kita jangan lagi terpedaya dengan janji-janji
muluk-muluk
selama 32 tahun, bahkan 20 tahun, 10 tahun, 5 tahun adalah tidak
patut
lagi untuk rakyat Indonesia menunggu.
Para pemimpin kita selama 32 tahun karena keasyikan berkuasa sampai
lupa membaca sejarah dunia bahwa Pemimpin Dunia dengan gelar Kaisar,
Raja, Dictator, Presiden semua tumbang kalau rakyatnya ditelantarkan
dan
disengsarakan, kalau para pemimpinnya sudah korup dan para pejabat
pemerintahan juga telah korup (tidak semua, karena ada juga yang
jujur
yang karena kejujurannya tersingkir dengan sendirinya), kolusi dan
Nepotis (Negatif)  Contohnya adalah pada zaman dulu a.l. Perancis,
Cina,
Philipina zamannya Marcos, Kerajaan-kerajaan kita sendiri pada zaman
kerajaan.
Mau tidak mau, kita harus memberi kesempatan kepada Pemerintah
Reformasi yang sekarang ini untuk bekerja tanpa lagi diganggu oleh
letupan-letupan protes atau aksi atas nama reformasi, karena kalau
dilakukan terus oleh kelompok-kelompok orang dengan mengatas namakan
rakyat adalah sudah tidak benar.  Simak saja siapa yang memimpin
kelompok- kelompok demikian kalau tidak mempunyai interest pribadi.
Contohlah para mahasiswa yang tanpa pamrih berjuang, setelah berhasil
terbentuknya Pemerintah Reformasi (meskipun belum memuaskan semua
pihak)
sudah harus kita memberi kesempatan untuk bekerja menanggulangi
kemiskinan dan perekonomian Indonesia yang tidaklah mudah seperti
mengerakkan suatu demonstrasi. Para Pemimpin kita harus berjuang
dengan
segala daya mereka untuk menaruh kepercayaan dari luar negeri.
Apabila
demonstrasi terus saja diletupkan oleh segolongan orang dengan aji
"mumpung", maka kalau terjadi kegagalan dalam perbaikan ekonomi maka
bukan salah para pemimpin yang sekarang berkuasa lagi tetapi adalah
kesalahan para demonstran yang tidak kunjung padam.  Tidak dapat kah
belajar dari kenyataan bahwa dalam masa reformasi segala hasrat dan
keinginan haruslah mutlak disalurkan melalui jalur-jalur yang telah
ada,
kepada para pimpinan mereka tanpa membawa kekuatan masa.
Yang kita harus lakukan adalah membantu menciptakan suatu suasana
tentram ,  dan damai didalam negeri agar supaya yang ingin membantu
atau
ingin investasi di Indonesia akan merasa aman, dengan demikian
ekonomi
akan menjadi lebih baik, pekerja akan mendapat pekerjaan, sembako
akan
diperoleh dengan mudah dan dengan harga lebih murah, anak-anak akan
dapat kesekolah lagi.  Pemerintah reformasi sekalipun kalau digoyang
terus menerus juga tidak akan dapat berbuat banyak untuk menolong
rakyat
dalam memperoleh sembako dengan mudah dan murah.  Sama saja.  Yang
penting yang memerintah sekarang harus diberi kesempatan yang wajar
untuk menjalankan peranannya dan kewajibannya untuk memperhatikan
nasib
rakyat.  Sementara kita mempersoalkan politik, terlalu banyak rakyat
yang menjadi melarat, kelaparan.  Setiap kali para pemimpin, para
ahli
pikir ekonomi, politik, hukum bicara di TV atau di Koran, hati saya
tergugah semua itu tidaklah menolong secara langsung penderitaan
rakyat
kecil yang miskin dan perpuruk itu.
Janganlah terlalu bicara-bicara banyak lagi, tanggulangilah
kelaparan
rakyat itu secara nyata-nyata sehingga mereka dapat merasakan untuk
sementara waktu tidak lapar lagi sambil menunggu wakil-wakil rakyat
bangun dari keadaan manggut-manggut saja, sekarang bukalah mata dan
mulutmu untuk dan demi kesejahteraan rakyat dan bukan untuk
kesejahteraan diri dan kelompok.
Kemana sumbangan para pegawai negeri berupa emas dan perhiasan yang
dapat mereka sumbangkan, tidak dipaparkan secara transparant apakah
betul-betul untuk mengatasi penderitaan rakyat?
Persiapan untuk pemilihan umum berjalan terus, tetapi lebih gagah
harus
berjalan secara langkah tegap adalah bantuan terhadap rakyat yang
menderita kelaparan , anak-anak putus sekolah, rakyat mendapat
pekerjaan
lagi.
Kita tidak pernah secara sadar melakukan pertobatan secara nasional
,
mengaku kesalahan kepada TUHAN YANG MAHA ESA, lalu berjanji untuk
memperbaiki diri dan memperhatikan rakyat Indonesia yang menderita
ini.
Kita sudah melupakan itu lalu kita mengharapkan dari TUHAN bahwa
BELIAU
sudi memperbaiki keadaan Indonesia yang terpuruk ini.
Saya serukan kepada semua pemuka agama adakan suatu pertemuan dan
tentukan SATU HARI PERTOBATAN DAN DOA BERSAMA secara serempak dan
menyeluruh dan meliburkan rakyat untuk tidak bekerja tetapi khusus
secara khusuk ikut berdoa menurut agama masing-masing, jadikanlah itu
menjadi HARI PERTOBATAN DAN DOA BERSAMA
Sadar atau tidak, kita telah menempatkan TUHAN pada nomor dua dan
bukan
nomor satu lagi, karena kita telah bergulat pada kesulitan dan
pemikiran
untuk menanggulanginya tetapi tidak terlalu mendasarkan diri pada
IMAN
kita, inilah kesalahan besar kita.  Sekarang lakukanlah yang benar,
bersatulah dalam doa bersama diseluruh negeri tercinta ini, barulah
lakukanlah upaya untuk menanggulangi kesulitan yang kita hadapi
dewasa
ini , niscaya TUHAN berkenan memberikan jalan keluar dengan memberkan
kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 1999 jam 05:22:42 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke