---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- Salam... Terima kasih atas tanggapan dan dorongan mentalnya. Mengenai kriminal murni dapat kami tanggapi di sini bahwa memang pemicunya adalah kriminal murni. kejadian sekitar pukul 15.30 WIT Seorang sopir angkutan (orang Ambon suku Aboru) yang dimintai uang oleh orang bugis yang sedang mabuk. Namun kemudian orang bugis muslim ini mendapat perlawanan dan dibacok /luka berat. Dari sini kelompok bugis, makasar, buton mencari sopir tersebut ke kampungnya (kampung kristen) dan karena tidak ketemu mereka membakar kios yang karena berdekatan dengan gereja maka diisukan pembakaran rumah ibadah. Dari sinilah berkembang isu saling bakar rumah ibadah meskipun pada awalnya tidak terjadi pembakaran rumah ibadah sama sekali. Sampai pada akhirnya sore sekitar pukul 18.00 WIT diisukan gereja Silo (yang tertua di Kota Ambon) dibakar padahal hanya becak-becak orang buton & bugis yang di sekitarnya yang di bakar. Serta Gereja Maranatha (gereja Protestan terbesar di Ambon) yang diserang padahal hanya sebuah mobil yang terbakar di depan gereja. Mungkin memang ini sudah diatur oleh "kelompok besar tertentu" karena mendengar dua gereja paling dihormati itu terbakar maka umat kristiani yang di gunung-gunung & kampung-kampung turun dengan parang & tombak melakukan pembalasan. Kemudian berlanjut dengan pembakaran rumah beberapa tokoh kristen & muslim yang berakhir dengan aksi saling balas dendam. DEMIKIANLAH ISU ITU TERUS BERKEMBANG SAMPAI MELUAS KE SELURUH AMBON. Penghancuran kampung bugis makasar & pasar -pasar yang memang mayoritas pemiliknya orang bugis makasar. Sampai pembantaian di jalan jalan jika ada kelompok yang tidak seimanb baik oleh umat kristiani maupun muslim. Demikianlah yang bisa kami sampaikan mengapa Kapolri menyatakan itu sebagai kriminal murni karena memang kejadian "kompas mengompas" sudah terbiasa antara desa Batu merah bawah, Batu merah atas dan sekitar pasar Mardika dan tidak pernah meluas sampai ke seluruh ambon. Kami menyatakan ada "kelompok besar tertentu" yang menjadi dalang, karena seakan-akan mereka tahu bahwa di Ambon memang sedang kekurangan aparat (beberapa kompi satuan 733 dikirim ke DOBO & sekitar 7 kompi Brimob dikirim ke Tual) kedua-duanya di Maluku tenggara yang mengalami kerusuhan dengan isu persis sama dengan di Ambon. Berita kekosongan aparat ini kami dapat dari keluarga aparat yang kebetulan berlebaran di rumah kami. Isu provokator yang menyatakan ada tempat ibadah yang dibakar pada awalnya sama sekali bohong. karena kedua gereja yang sangat dihormati di Ambon sampai saat ini masih utuh tanpa dilempar maupun dibakar sama sekali. Dan satu mesjid terbesar di Ambon (Al-Fatah) pada saat akan diserang ,malah dilindungi oleh para pendeta termasuk oleh Pendeta Semmy Titaley Ketua persekutuan GPM (Gereja Protestan maluku). Kita hanya bisa berdo'a semoga keadaan ini segera berakhir dan rekan rekan di daerah lain lebih waspada tidak mudah terpancing isu-isu yang menyesatkan yang pada akhirnya akan merugikan masyarakat kecil. regards, nanang rizal achyar ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Jan 1999 jam 06:55:56 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
