----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------
KOLOM SUPANGKAT:
BUNTUT AMBON PANJANG LEBAR, POJOKKAN HABIBIE?
Sudah jelas peristiwa Ambon merupakan buntut, buntut Ketapang, buntut Kupang,
dan last but not least: buntut penindasan 32 tahun orde baru.
Dan akan berbuntut panjang dan lebar karena:
1. Orang Bugis seperti orang Indonesia umumnya terkenal sebagai pendendam.
2. Orang Bugis terkenal suka menusuk dengan badik dan dari belakang pula.
3. Habibie sebagai orang Bugis dicurigai telah menjadi sasaran oleh orang
orang
yang mungkin saja bisa "pinjam tangan" orang orang atau pihak pihak yang
dendam, yang mau menjatuhkannya baik dengan tujuan politik maupun tujuan
tujuan lainnya.
4. Orang Ambon terkenal pula kegarangannya dan cepat tersinggung.
5. Seperti umumnya orang Indonesia, orang Bugis dan orang Ambon emosional.
Sungguh aja'ib mereka bisa koeksitensi secara damai selama puluhan mungkin
ratusan tahun belakangan ini.
Habibie pribadi mungkin tidak akan mendendam, tapi Habibie tidak sendirian,
ia didukung sejumlah tokoh tokoh Bugis yang berkuasa di dalam dan di luar
kabinet atau pemerintahan yang karena sudah menjadi watak kolektifnya tidak
akan tinggal diam. Kita tidak tahu apa yang akan direncanakannya.
Orang Bugis tentu tidak akan melupakan pembantaian sejumlah orangnya
yang disaksikan oleh matakepala pasukan ABRI/polisi sendiri yang menurut pe-
ngamatan harian Sydney Morning Herald tidak berdaya menghadapi massa yang
ngamuk dalam jumlah yang lebih banyak.
Penyelesaian peristiwa ini cukup berat kalau tidak mustahil karena perkelahian
antar-suku/antar pemeluk agama Kristen-Islam telah menimbulkan korban nya-
wa lk 50 orang di kedua pihak walaupun lebih banyak di pihak Bugis sebagai
pihak perantau katimbang pihak Ambon sebagai penduduk asli.
Perdamaian antara pemimpin kedua kelompok dan antara pemimpin kedua aga-
ma bisa dilaksanakan, namun apakah akan dipatuhi kedua pihak untuk jangka
waktu lama masih merupakan pertanyaan serius.
Proses disintegrasi dan anarki Indonesia bukan dimulai dari Ambon karena
Ambon adalah buntut bukan hulunya. Bersama sama kita bisa mencari dan
menemukan hulu atau biang keroknya dan mengatasinya secara tuntas.
Sayangnya fenomena disintegrasi dan anarki ini tidak bisa dipisahkan dari
proses Reformasi Total yang ditentang dan disabot oleh banyak pihak di
antara kita sendiri.
Apakah tindakan Presiden Habibie yang semakin dipojokkan oleh serangkaian
anarki, demonstrasi, disamping masalah ekonomi yang memburuk terus?
Seruan, himbauan saja jauh dari tangan kelangit. Perang saudara tingkat "mini"
ini meminta pemikiran yang mendalam, canggih dan berhatinurani baik tingkat
lokal maupun nasional.
H.S. Hidayat Supangkat
New York
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 1999 jam 10:17:00 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++