---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- From: Gerakan Pemuda Ansor GERAKAN PEMUDA ANSHOR FRONT REFORMASI DIALOG NASIONAL : SEBUAH GAGASAN YANG ABSURD Dialog nasional menjadi isu besar setelah dilontarkan oleh Ketua Umum PBNU KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Apalagi Gus Dur mengimbuhkan ancaman revolusi sosial, jika dialog tak dilaksanakan. Bukan Gus Dur kalau tidak bisa menjual kontroversi, karena memang cucu pendiri NU ini sangat dikenal sebagai tokoh yang kontroversial. Langkah-langkah kontroversialnya sudah sedemikan panjang, sehingga sempat menjengkelkan almarhum KH As'ad Syamsul Arifin. Ketika Gus Dur melempar ide "gila" untuk mengganti assalamu'alaikum menjadi selamat pagi, selamat siang atau selamat malam, KH. As'ad yang saat itu menjabat Rais Mustasyar NU mengolok-olok NU dipimpin oleh raja ketoprak. Kini tokoh Forum Demokrasi yang hampir picek itu kembali melempar ide "gila" lagi. Memang, dialog itu perlu. Tapi jika dialog nasional hanya diformat untuk empat orang, Gus Dur-Habibie-Soeharto- Wiranto, apakah ini mewakili 200 juta lebih rakyat Indonesia ? Tidak dipungkiri, Gus Dur memimpin 30-an juta ummat, Habibie sebagai pimpinan nasional, Wiranto memimpin komunitas bersenjata yang jumlahnya hampir 500 ribu, dan Soeharto--katakanlah-masih mempunyai pengaruh. Tapi, itu saja tidak cukup untuk mengklaim mewakili seluruh golongan/kelompok yang ada dalam masyarakat. Dalam kaitan ini harus berlaku "siapa mewakili apa" karena konteks- nya sudah nasional. Jika tidak, itu pasti tidak representatif. Bobot dialog nasional tidak terletak sekedar pada ketokohan orang perorang, tetapi hakekatnya lebih didasarkan pada kualitas keterwakilan para peserta, substansi agenda yang dibicarakan, dan keterbukaan dalam membicarakannya. Jadi, jika dialog nasional hanya didesaign sebagaimana format yang ditentukan Gus Dur, maka forum itu menjadi sulit diterima oleh logika umum. Kalau gagasan dialog nasional itu sendiri menjadi sedemikian absurd-nya, salahkah kalau mayoritas rakyat tidak mendukungnya? Atau adakah kewajiban moral bagi pemilik akal sehat untuk mendukungnya? Namanya saja gagasan "gila" dan kalau kita ikut mendukungnya, bisa jadi kita ikut menjadi gila. Barangkali, jalan konstitusi masih lebih baik. Selain itu forum silaturrahmi tampak juga dapat menjadi jalan keluar dari kebekuan politik yang ada.. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Jan 1999 jam 06:44:00 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
