----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Info-PEMBEBASAN
-----------------------

CATATAN DARI "AUSTRALIAN-INDONESIAN CHINESE MEETING"

Oleh: Hendry Kuok, Ketua Departemen Hubungan Internasional PRD

Pertemuan  yang pertama  berlangsung  di Sydney  disponsori oleh CARI
(Comitte  Agaisnt Racism  in  Indonesia ), pertemuan ini  sendiri  hanya
dihadiri oleh  sekitar  15 orang Tiong Hoa  dan  sisanya  orang  Australia
yang tergabung  dalam  ASIET (Action in Solidarity with Indonesia and East
Timor).

Diskusi yang  berlangsung  selama  pertemuan cukup menarik, banyak muncul
pertanyaan  seputar   prospek pemilu 1999  dan masalah politik  di
Indonesia secara  umum. Muncul pula pertanyaan tentang posisi Partai Rakyat
Demokratik (PRD) yang  dituduh sebagai  kekuatan  neo-komunis  dan  adanya
kemungkinan PKI  sendiri dilegalkan oleh pemerintah  Indonesia. Diskusi
hangat juga terjadi  tentang istilah  "Tiong Hoa" atau  "Cina", dimana
generasi  muda yang  hadir  kelihatan  tidak terlalu peduli tentang
penggunaan istilah ini.

Kesan yang  timbul dari  benak para peserta itu adalah pentingnya
ratifikasi Konvesi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tentang  "Anti
Diskriminasi Rasial", mereka menempatkan itu sebagai prioritas utama,
karena UU Anti Diskrimanasi Rasial lah yang akan menjamin dihapuskannya
rasisme  di
Indonesia.

Posisi partai-partai  oposisi  borjuis seperti  PKB, PAN, PDI Perjuangan
juga menjadi bahan pembicaraan. Statemen-statemen  politik yang  diberikan
oleh para pimpinan partai oposisi itu  ditangkap  oleh seorang peserta
sebagai  pertanda  "angin  segar "bagi  nasib orang Tiong  Hoa
di  Indonesia.

Pertemuan kedua  berlangsung  tiga hari setelah pertemuan pertama, dimana
yang menjadi  pembicara  adalah  Romo Sandyawan. Pertemuan ini  sendiri
disponsori oleh IWA ( Indonesian Welfare Association), organisasi yang
mayoritas  anggotanya  adalah orang Tiong Hoa Indonesia  dan organisasi ini
sudah  berdiri  lebih  dulu  sebelum CARI  di Sydney.

Lala  Noronha, seorang perempuan Indonesia keturunan Tiong Hoa, wartawan
SBS Radio, salah seorang  tokoh IWA, secara khusus mengundang PRD dan ASIET
bersama Romo Sandyawan.

Romo Sandy  sendiri  memberikan pidato yang cukup panjang, beberapa point
penting  yang  dibicarakan Romo Sandy  adalah  sikap politik Tim Relawan,
masalah  rekonsiliasi  nasional  dan  concern  Romo Sandyawan tentang
gerakan mahasiswa.

Romo Sandyawan mengatakan  bahwa  mereka  lebih memprioritaskan pengumpulan
data karena  dengan data lah segala kebohongan  dari rejim bisa di-counter.
Tim Relawan sendiri  mengambil sikap untuk membela para korban dari tindak
kekerasan untuk membangun  sebuah  sistem  yang lebih  adil ( bahasa dari
penulis -HK ),  berbeda  dengan para  badut "badut politik" ( menurut
istilah Romo Sandyawan) yang menggunakan  para korban tindak kekerasan
untuk mencapai kepentingan politik  mereka sendiri.

Tentang gerakan mahasiswa  Sandyawan sedikit mencemaskan  perubahan esensi
gerakan mahasiswa dari  "active non violence" menjadi  "active violence",
Sandyawan mengambil contoh  clash  mahasiswa  dengan militer dimana
mahasiswa sudah membawa  kayu  dan  besi, serta kasus  terakhir  di Atma
Jaya  dimana intel-intel yang ditangkap  disiksa, dengan digantung  dipohon
dsbnya. Dan  Sandyawan pun menegaskan bahwa  TRUK (Tim Relawan untuk
Kemanusiaan)  tidak  akan  membela  "active  violence  movement".

Tentang  rekonsiliasi nasional, Sandyawan menggulirkan tawaran  yang
menarik  bahwa  harus ada pertemuan antara kelompok  Ciganjur dengan  semua
unsur- unsur  rakyat  lainnya.  Jadi komposisi yang diusulkan Sandyawan
adalah  Ciganjur 50 %,  mahasiswa  5 %, buruh, tani, kaum miskin 40 % dan
LSM-LSM 5 %. Komposisi yang diusulkan ini agak  menarik karena  dalam
pidatonya Sandyawan  menenkan  tentang pentingya   porsi  besar bagi  kelas
buruh, tani  dan kaum miskin,  tapi disisi lain dia memberikan porsi yang
juga  besar pada  kelompok Ciganjur.

Dalam kesempatan itupun Sandyawan  menyebut nyebut nama PRD yang pernah dia
bela  dalam  kasus  27  Juli .

Sekarang Romo Sandy menghadapi  masalah: Habibie mengirim  surat kepada
Paus  untuk meminta  agar Vatikan memecat  dia  sebagai  pastor.

Tanggapan dari  peserta tidak banyak, hanya seorang wakil peserta saja yang
tampil dan  berbicara dalam konteks ketuhanan  tentang  Allah Bapa di Surga
yang punya kuasa besar  dan akan menghukum  orang orang zalim di muka bumi
ini.

Pertemuan  ketiga  berlangsung  di  Melbourne yang juga  disponsori oleh
CARI  cabang Melbourne.  Djin Siauw  yang merupakan  Co-Convenor  CARI
memberikan pengantar  diskusi  dimana  dia membela  garis Baperki bahwa
untuk menyelesaikan masalah   rarisme  ini hanya  ada  jalan
dimana orang orang Tiong Hoa harus  terjun dalam politik untuk
memperjuangkan hak-hak dan nasib mereka.

Diskusi yang  berjalan  cukup  menarik  dan jauh lebih marak dibandingkan
pertemuan di Sydney. Peserta yang hadir  sendiri sekitar  40 orang  yang
sebagian besar adalah generasi tua  dan sedikit  generasi muda yang hadir
pada malam itu. Ditambah  seorang  peserta yang merupakan orang non
Tionghoa, yang  memperkenalkan dirinya  sebagai  mantan  Karyawan BPPT yang
studi  lanjut  di Melbourne  dan  cukup kenal seluk-beluk imperium bisnis
Habibie.

Diskusi  berkembang  seputar masalah  solusi  bagi  masalah diskriminasi
rasial di  Indonesia  saat ini.  Para  peserta  yang  punya  hubungan
dekat  dengan  komunitas  Gereja, seperti beberapa
orang pendeta  maupun tokoh-tokoggereja, kurang  begitu  setuju  dengan
pendapat  bahwa penyelesaian  masalah ini  harus  dilakukan  dengan
keterlibatan  orang Tiong Hoa  dalam politik, mereka  mencoba melihat pada
prespektif lain  seperti  konsep  Federasi ataupun  "affirmative  action"
ala  Mahatir ( pendapat ini muncul dari  mantan pengusaha-HK).  Bapak
pendeta tersebut mengatakan, "You  berikan  saya  sebuah teritori khusus
bagi orang-orang Tiong Hoa dalam  konsep  Federasi", dan dia  yakin bisa
bangun  Singapura  kedua.

Sementara  sang pengusaha (namanya Trisno ) mengambil  contoh  pembangunan
ekonomi  ala  Mahatir  yang menurut dia  telah menciptakan  Malaysia yang
aman  dan tentram. Menurut  Trisno di Malaysia tidak ada  penjarahan dan
pembakaran, karena orang-orang  Melayu  disana mendapat  kesempatan yang
sama  dengan  orang-orang Chinese. Menurut dia pun "affirmative  action"
ala  Mahatir diciptakan untuk mencegah  terulangnya  aksi rasial di tahun
1969.  Menurut Trisno, jangan disalahkan kalau orang-orang Chinese  tidak
dapat bea siswa, karena  bea siswa  memang  ditujukan untuk  mendidik
orang-orang Melayu agar  sejajar  dengan orang  Chinese, dan dia pun
menuji-muji  MCA yang bersikap mendukung  "affirmative action" tersebut,
tanpa  dia menyebutkan bahwa MCA adalah  bagian dari kelas penguasa yang
jelas  tidak akan membela  kelas pekerja keturunan Cina  di Malaysia.

Pendapat menarik  muncul dari Rebeka  Harsono, [perempuan keturunan Tiong
Hoa, mantan wartawan DR, alumnus  Fisipol UGM. Rebeka  menilai  rasisme di
kalangan  gerakan mahasiswa pun  tidak  selesai  ataupun  di dalam  PRD
sendiri, jadi dia  menantang  PRD  untuk lebih mengkampanyekan itu  di
dalam tubuh PRD sendiri dan dalam organ-organ mahasiswa di  Jakarta  dan
kota kota lainnya.

Seorang pendukung Habibie menyerang  orang-orang Tiong Hoa dengan
mendasarkan pada pengalaman dia  bahwa orang-orang Cina  eksklusif, sebagai
ketua RT di  Roxy  dia  banyak  mendapat  perlakukan  semena-mena  dari
orang tiong  Hoa  yang malas  siskamling  dan  tidak mau
datang ke  rapat  RT dan sebagainya. Akibatnya  daerah  sana  bergolak
waktu  peristiwa Mei,  dia juga pernah jadi ketua RW di Depok, dimana
pembauran cukup berhasil sehingga di Depok  tidak terjadi bakar-bakaran dan
penjarahan.

Menurut pendukung Habibie ini, sebenarnya  rasisme  tidak hidup  dalam
masyarakat  Indonesia yang ada hanyalah  provokasi  dari pemerintah
Soeharto untuk membelokkan isu, dan  hal ini menjadi  lebih berpotensi
akibat sikap-sikap orang Cina yang eksklusif. Dia pun tidak setuju dengan
pendapat asay (Hendry Kuok) yang menyerang program Ekonomi Kerakyatan Adi
Sasono sebagai program anti-Cina. Karena menurut dia koperasi perlu
dikembangkan, masih menunurut dia modal tidak boleh
ditumpuk di tangan segelintir orang saja. Dia tidak setuju pula kalau
Habibie disebut sebagai  presiden yang anti-Cina, karena  di salah satu
perusahaan Habibie yang dibawah kendali  si Timmy Habibie, Finance
Managernya adalah orang Tiong Hoa.

Djin Siauw sendiri di akhir pertemua  mencoba  menegaskan kembali bahwa
CARI tidak berpolitik, statemen ini lebih ditujukan untuk  mengklarfisikasi
statemen pembukaan dia karena  dia agak khawatir  kalau  dianggap terlalu
membela garis Baperki. ***

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
SALAM HORMAT SETINGGI-TINGGINYA KEPADA PARA PAHLAWAN
REFORMASI YANG GUGUR DI PANGKUAN RAKYAT TERTINDAS:
Penjara tak membuat kau jera
Penculik tak membuat kau panik
Peluru tak membuat kau ragu
Perjuanganmu dengan militansi tanpa batas
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
PEMBEBASAN
Diterbitkan oleh Partai Rakyat Demokratik (PRD)
Jl. Utan Kayu No. 17A Jakarta Timur

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Jan 1999 jam 07:52:13 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke