----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

<Omar Khayam> "THE  RELATIVITY OF  SAHRAWIANISM"  (Part I)

MENUJU ZAMAN EMAS PERADABAN BANGSA INDONESIA ABAD KE 21.

P E N D A H U L U A N :

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengembangan sebuah teori oleh Omar,
yang bersifat universil dan yang ber-judul "THE RELATIVITY OF
SAHRAWIANISM" (buku aslinya dalam bahasa Inggris sedang tahap
penyelesaian). Mengingat situasi dan kondisi di Indonesia serta
kekerasan2 yang terus memburuk,disertai trick2 separatisme maka
inti-makna buku tsb. dipakai untuk menyusun tulisan ini, dengan maksud
memberi wawasan yang lebih luas, juga sebagai upaya mencari jawaban
bentuk peradaban Indonesia dimasa yad.

TEORI "RELATIVITY OF SAHRAWIANISM":

Dalam bukunya "A Study of History", Prof. Arnold J.Toynbee (lahir
1899) memaparkan hasil risetnya disepanjang S.Nil,Mesir yang
dilakukannya selama 15 tahun.Ternyata yang membuat timbulnya peradaban
manusia adalah "air" (water). Singkatnya dimana ada air maka disitu
ada kehidupan. Dengan air manusia tsb. berkultivasi (bercocok tanam)
dan bila panen maka terdapat cukup makanan,lalu berpesta-ria,juga
pesta perkawinan dll. Timbul peradaban damai yang ada disepanjang
S.Nil tsb. Akan tetapi beda dengan manusia yang ada di gurun Sahara.
Mereka hanya bisa hidup bila berburu binatang, mulai dari kelinci yang
diburu dengan tombak batu, hingga berburu lain2 binatang terutama
setelah mereka menaklukkan kuda. Yang terjadi disini adalah peradaban
yang sepenuhnya didasarkan pada kekerasan atau "budaya kekerasan"
Riset Toynbee rupanya hanya sampai pada study timbulnya dan runtuhnya
peradaban2 seperti tsb.diatas.

Melanjutkan apa yang Toynbee sudah paparkan, maka Omar melakukan
"riset lanjutan di Indonesia" yang sudah memakan waktu 30 tahunan
(tidak terus menerus tentunya).Hasilnya adalah satu teori universal
yang diperoleh dari kenyataan yang "bersifat relatif dan juga berlaku
empiris" terhadap semua peradaban2 modern didunia.Teori inilah yang
Omar namakan "The Relativity of Sahrawianism". Gurun Sahara (artinya
pasir) sebagaimana para netters ketahui sangat keras, panas dan
ber-ubah2. Orang2 yang berdiam digurun Sahara itu dinamakan "Sahrawi".
Dalam bahasa Inggris manusia Sahara dinamakan Sahrawian,pola berpikir
yang mendasari kehidupan Sahrawi ini Omar namakan "Sahrawianism".
Secara luas arti Relativitet Sahrawianism adalah pemaparan yang
relative dari peradaban manusia dibumi, termasuk di Indonesia, RRC,
Jepang, Amerika dll. Selanjutnya ringkasan teori "The Relativity of
Sahrawianism" adalah sbb:

Setelah para Sahrawian tsb.menaklukkan 'kuda', maka yang terjadi
adalah peningkatan "mobilitas" mereka dan yang kemudian dilanjutkan
dengan "daya expansinya" yang meluas kearah S.Nil. Karena Sahrawian
ini memang secara alamiah bersifat aggressive maka diserbulah semua
peradaban yang ada disepanjang S.Nil. Peradaban S.Nil yang damai dan
kultivative tsb.punah, kaum lelaki dibunuh,wanita serta anak2
diperbudak Dalam tulisan selanjutnya maka peradaban manusia yang
didasarkan pada S.Nil akan disebut "Sei-Nil", dan peradaban manusia
yang didasarkan pada Gurun Sahara, akan disebut "Sahrawian". Akan
tetapi ada satu hal yang mengusik Omar dengan temuan Toynbee,yang
kemudian berubah menjadi obsesi, yaitu kalau di Indonesia bagaimana?
Soalnya Indonesia negara tropis dan tidak ada kondisi extreme,S.Nil
atau Sahara? Ternyata jawaban yang diperoleh jauh lebih meyakinkan
ketimbang penemuan Prof.Toynbee tsb.diatas dan juga menjawab
pertanyaan yang paling universil yaitu apakah memang Sahrawian itu ada
diseluruh dunia.

"Pada jaman penjajahan,maka ada peristiwa yang juga dijadikan bahan
pelajaran ekonomi beberapa dekade yang lalu. Dalam cerita
tsb.disebutkan bahwa karena adanya kenaikan harga karet didunia maka
perusahaan perkebunan karet (yang dikuasai Belanda) mendapat order
yang lebih besar dan dengan harga lebih tinggi. Untuk itu
diperintahkan para mandor serta collector (sinyo2 Belanda)
memberitahukan penyadap2 karet yang kebanyakkan adalah "inlander" agar
meningkatkan produksi latex atau getah karet. Alkisah salah satu sinyo
Belanda beritahu seorang inlander bahwa besok agar sadap getah dua
ember penuh dan  harga dobel.
Biasanya penyadap kita itu mengumpulkan getah dua ember penuh dengan
upah satu talen (dua setengah sen) dan kalau dengan harga dobel maka
berarti 2 ember penuh dia akan mendapat 5 sen. Satu pikulan terdiri
dari 2 ember.Keesokkan siang hari sinyo Belanda datang seperti biasa
untuk collection,ternyata kecewa dan marah2 "Kenapa kowe sadap masing2
cuma setengah ember, kemarin sudah diberitahu supaya sadap 2x satu
ember dan uang akan dibayar 5 sen. Dasar kowe inlander malas, goblok.
Besok harus sadap 2 ember penuh, kalau tidak kowe nanti dipanggil".
Lalu Inlander ini mengeluarkan argumentasinya "Kemarin saya nyadap
sampai jam 10, karena saya harus betulkan atap rumah. Kalau saya sadap
sampai jam 2 maka hujan keburu turun dan atap tetap bocor". Artinya
penyadap karet kita tidak terangsang dapat 5 sen, tetapi karena dia
perlu membetulkan atap rumahnya yang bocor, maka dia cukup puas dengan
setalen. Jadi dalam cerita ini, tanpa terpengaruh dengan kata2
emosionil kedua pihak, maka kita bisa lihat dengan jelas bahwa sinyo
Belanda tsb.mewakili VOC sebagai "Sahrawian",sedang penyadap inlander
tsb.adalah "Sei-Nil"nya."

Contoh lainnya,tentang hubungan alam dan kehidupan manusia disuatu
pulau didaerah Maluku (kelestarian alam yang harus dijaga menyebabkan
Omar terpaksa tidak bisa sebut nama pulau tsb.). Secara alamiah pulau
ini memiliki topografi yang unik yaitu datar, sangat datar, meskipun
cukup luas. Karena datar sekali bila pasang maka air lautnya masuk
kedalam 5 km dan kalau surut juga 5 km.Akibat pasang surut 5 km tsb.
maka jarak tempuh dengan waktu surut tidak seperti di-pulau2 lain di
Indonesia (5 km benar2 jauh) dengan akibat ikan, udang, kepiting
dll.tidak bisa ikut surutnya air laut dan terperangkap dalam kobangan2
cetek di sepanjang pantai pulau tsb. Ini baru namanya surga didunia
dan adanya di Indonesia kita yang tercinta ini.

Orang lokal pulau tsb. ataupun anda tiap pagi tidak perlu repot2 cari
makanan, semua sudah tersedia ditepi pantai dan anda kalau mau,
tinggal pilih mana yang anda suka, ikan gerapu (luar biasa banyak),
ikan cumi2, udang2 besar kecil ataupun kepiting (macam2 type) dll.Juga
tidak usah bayar, karena Tuhan yang sediakan.Yang perlu anda lakukan
adalah jalan kaki, bawa plastic box, lalu pilih sendiri mana yang anda
suka dan mau makan. Bila tidak,lempar saja kembali kedalam kobangan.
Hebat bukan?. Allah Maha Besar. Nah, kehidupan "surgawi" yang
disediakan oleh alam di Indonesia seperti itu memang "betul2 ada"
sehingga untuk hidup orang dilingkungan tsb.tidak perlu kerja,tidak
perlu sekolah,tidak perlu technology, tidak perlu apa2. Cukup makan
dan tidur, beranak, sehingga, bahkan pada waktu Omar tinggalkan pulau
itu mereka berpesan agar tidak beritahu orang2 lain,karena pasti
diserbu "Sahrawian" lokal. Bisa berantakan.

Tetapi yang paling penting,adanya keadaan seperti itu membuktikan
teori Relativitas Sahrawianism, bahwa memang alam-lah yang membuat
manusia2 itu menjadi Sahrawian atau Sei-Nil. Keadaan pulau tsb. bahkan
jauh lebih indah dan jelas (beda Sahrawianistik dan Sei-Nil nya)
daripada temuan Prof.Toynbee di Mesir. Peradaban di S. Nil masih
memerlukan "kultivasi", sedangkan dipulau tsb."absolutely free",
karena pohon sagu sebagai sumber karbohidrat tersedia dalam jumlah
lebih dari cukup untuk bergenerasi, meskipun kita mengerti, bahwa satu
waktu "fasilitas hidup gratis" tsb.akan punah karena over populasi
(tidak ada KB).

Adalah kehendak Tuhan Allah YMK., dan bukan hal yang bersifat
kebetulan bila semasa jajahan Belanda daerah Oost Indie termasuk juga
Pulau2 diseluruh Nusantara ini berada dalam satu kesatuan kekuasaan.
Bila tidak maka yang akan terjadi adalah penyerbuan2 Sahrawian Jawa
keluar pulau dan menjadi "penjajah tulen". Sekarang ini bukan
"penjajah" tetapi "saudara lain propinsi".Jadi bagi daerah2 tertentu
yang kuat primordialisme nya lalu berupaya "separate", ada baiknya
pikir ulang, karena jadi "saudara lain propinsi" masih lebih baik
ketimbang jadi "tanah jajahan". Teori Relativitet Sahrawianism ini
memastikan hal tsb. Hasan Tiro atau siapapun boleh berkata bahwa
primordialism anda lebih unggul, kalau perlu anda masih bisa minta
bantuan dari "luar-negeri". Memang betul, semua itu bisa, tetapi
seperti "Teori Imyang" ilmu dari Cina, lebih lama anda pertahankan
pendirian, lebih lama pula kesengsaraan tsb. berlangsung, bagaimana?

Hal ini juga membuktikan bahwa selama ini secara relative semua insan
di P.Jawa sebelum over populasi, cukup diberi kehidupan oleh alam
sekitarnya (seperti manusia2 S-Nil). Ternyata dalam sejarah kita
ketahui bahwa "nikmat" itu dirampas oleh "penjajahan Belanda" untuk
masa 350 tahun. Dan sialnya baru merdeka untuk masa dua-tiga dekade
(1960-70) saja, maka sudah terjadi over populasi, sehingga tanah tidak
mampu mendukung lagi "kecukupan hidup" tsb. Seharusnya manusia2 Jawa
tsb. sudah harus berubah jadi "Sahrawian" dan secara relative
"Sahrawian Jawa" ini akan mencari solusinya keluar pulau. Tetapi
ternyata untuk berubah dari Sei-Nil menjadi Sahrawian, memerlukan
waktu yang relative cukup lama. Dan hal ini sebenarnya merupakan
"kelalaian"yang terbesar pemerintahan regime Suharto dibanding
krismon-KKN. Bila saja proyek transmigrasi dilakukan secara benar dan
teratur sejak dahulu, situasinya mungkin berbeda.

Hal ini persis sama dengan hukum alam dimana yang negative akan
menyerang yang positif. Dijaman lebih modern maka hal yang sama
terjadi secara relative akan tetapi dengan pola yang berbeda. Sebagai
contoh maka diketahui Pearl Harbour diserang oleh Jepang karena jalur
minyak ke Jepang akan dikontrol bahkan dikurangi oleh pihak Sekutu
(berkaitan masalah energi).Cara pikir seperti ini namanya
"Sahrawianistik" dan kasus2 peradaban modern yang secara relative bisa
disebut "Sahrawianistik" adalah sebagai berikut:

1. Antara Cina dan Jepang maka yang bersifat Sahrawian (menyerang
se-waktu2 sesuai keadaan), terhadap Indonesia, adalah Jepang (perlu
energi minyak dan gas bumi, kayu dll). maka jangan heran kalau Jepang
soal bantuan untuk bangun pelabuhan laut atau udara,sarana jalan,
jembatan pasti mudah. Coba saja minta Jepang bikin pusat pengembangan
technology mesin mobil dan sepeda motor (?).

2. Antara  Cina dan Jepang terhadap Siberia (kayu, minyak,dan gas
bumi) maka Cina yang Sahrawian. Jepang pernah menyerang Cina (pada
waktu PD.II). Akan tetapi tentara Jepang tsb.diejek oleh partisan Cina
karena jumlahnya "kecil" dibanding luas wilayah yang mau dikuasai.
Karena malu maka Jepang secara biadab melakukan pembantaian yang
terkenal dengan "peristiwa Nanking". Untuk bisa menjadi Sahrawian maka
perlu kekuatan massa yang cukup untuk penguasaan territorial. Kalau
tidak, jadi loyo. Dimasa yad.malah antara kedua negara tsb.Cina adalah
Sahrawian terhadap Jepang. Sehebat2nya jadi orang Jepang, memang ada
baiknya kalau hubungan baik dengan "saudara tua" dijaga betul agar
lestari.

3. Antara Jepang dengan Indonesia terhadap Australia, maka yang
Sahrawian adalah Jepang (mining,dll). Hal ini karena Indonesia
(pulau2 lain) masih luas bagi orang Jawa yang pasti sudah
over-populated tsb. Pemukim2 di Australia dulunya berasal dari orang2
kriminil di Inggris (bukan Sahrawian) maka analisanya selalu
mengkuatirkan Indonesia akan menyerang mereka. Mereka juga yang bikin
analisa-kompor, WNI-KC menguasai 70% ekonomi. Mereka juga yang
tampung2 separatist Timtim dan aktif dalam upaya pemisahan tsb.
Terakhir berita TV, bahwa Pemerintah bermaksud melepas Timtim bila
usulan otonomi tidak diterima. Secara Sahrawian bisa dianggap sebagai
preseden disintegrasi yang bila diikuti separatis2 Propinsi lain, bisa
merusak "wilayah Indonesia". Maksud tsb. sebaiknya ditunda dulu.

4. Contoh yang lebih komplex adalah kasus penyerbuan Irak terhadap
Kuwait ber-tahun2 yang lalu. Irak yang kurang minyak menjadi Sahrawian
tulen terhadap Kuwait yang kaya minyak (begitu juga Arab Saudi
dll).Hanya dalam kasus ini Irak kurang teori Sahrawianism,karena
secara relative maka terhadap Amerika beserta sekutu2nya maka Irak
adalah Sei-Nil, sedangkan Amerika adalah Sahrawiannya. Yang terjadi
kemudian adalah kehancuran Irak, Saddam Husein masih berkuasa karena
Sahrawian ini masih setengah hati dalam serbuan2nya. Bila terus
situasinya memburuk bukan tidak mungkin serbuan baru akan lebih
menghancurkan Irak dari sebelumnya. Saddam perlu belajar juga Teori
Sahrawian ini.

5. Dalam bidang Moneter International, maka Soros dengan dana 12
milyard USD. adalah "Sahrawian" yang mengakibatkan kekacauan regional
Asean. Indonesia dengan pesta KKN-nya adalah Sei-Nil.Baca tulisan Omar
di Indo-news beberapa waktu lalu (Crony Capitalism vs Global
Capitalism). Sekarang dengan kembalinya uang dollar menumpuk di
Amerika, maka Amerika akan menjadi Sei-Nil dan yang jadi Sahrawian
selain negara2 exportir, juga rakyat Amerika sendiri sebagai konsumen
yang berlebihan uang dan bernafsu belanja barang konsumsi. Akibatnya
tentu anda bisa tebak sendiri.

Perlu ditambahkan bahwa "nilai tukar" uang (bukan kertas atau mata
uangnya), secara subjective dianggap satu2nya produk manusia "an-sich"
yang bukan berasal dari Tuhan Allah YMK. Karena itu sistem nilai-tukar
mata uang selalu jadi masalah dan sangat labil.

HUBUNGANNYA DENGAN PROBLEM BANGSA INDONESIA SEKARANG:

Dulu, pada permulaan regime Suharto berkuasa, kita pernah mempunyai
seorang Menteri yang brilyant kalau tidak dapat dikatakan genius,
yaitu alm. Ir.Sutami, Menteri PU. (selanjutnya disebut sebagai
Sutami). Dalam debat dengan "bapak konstruksi" Ir.Roosseno, mengenai
"civil engineering" daripada konstruksi jembatan Semanggi,maka Sutami
mempertahankan konstruksi penyanggah berbentuk "V"sebagaimana kita
lihat saat sekarang ini. Sedang Roosseno mempertahankan konsepnya
bentuk conventional seperti jembatan penyeberang antara gedung Sarinah
dengan Skyline Building, annex belakang (sekarang supermarket). Dus
karena yang berdebat Menteri PU,dan satunya ahli konstruksi,maka orang
awam diam saja tidak tahu mana yang benar mana yang salah.Tahu2 pada
satu malam, jembatan penyeberang Sarinah itu ambruk berantakan tetapi
untung tidak ada korban manusia. Keesokkan harinya ramai koran
mewartakan masalah ini. Ternyata penyebab ambruknya bangunan itu
adalah konsep konstruksi Rosseno yang menyebabkan terjadi "fatique"
pada besi2 penyanggahnya. Sedangkan konstruksi V jembatan Semanggi
hingga hari ini tidak ada masalah.

Dalam masalah2 nasional yang relevant dengan bidang PU, maka Sutami
pada orasinya saat pembukaaan Universitas 11 Maret di Solo,
mengemukakan 2 (dua) masalah utama yang harus diperhatikan (waktu itu)
yaitu "cara orang Indonesia membuat kesimpulan" (yang salah tentunya)
dan "Pulau Jawa akan tenggelam" yang menganjurkan transmigrasi orang
Jawa karena "over-populasi"  (bedol deso, transmigrasi Sitiung dll).
Ternyata Sutami memang benar dalam membuat kesimpulan2. Rahasianya ada
pada seekor "Walangkeke".

"Alkisah disuatu Laboratorium (di Indonesia) sedang dilakukan suatu
test terhadap seekor "Walangkeke" yang didahului dengan mengajar
walangkeke tsb.agar melompat satu kali kalau terdengar tepuk tangan
satu kali, lompat dua kali kalau tepuk tangannya dua kali, lompat tiga
kali kalau tepuknya tiga kali dst. Setelah puas suruh walangkeke
me-lompat2, maka para ahli Indonesia itu melanjut dengan searching
"dimana letak kupingnya walangkeke tsb". Setelah lelah men-cari2
tetapi tidak ketemu juga dimana kuping walangkeke tsb.,maka kemudian
mereka memutuskan kedua kakinya walangkeke yang malang itu. Setelah
tepuk tangan ber-kali2 ternyata walangkeke tsb.tidak lompat2
juga.Akhirnya mereka tarik kesimpulan bahwa "kuping walangkeke
terletak dikakinya". Begitulah ceritanya seorang Menteri PU Indonesia
Ir.Sutami, mengenai bagaimana umumnya orang Indonesia bikin
kesimpulan. Memang aneh tapi mengandung kebenaran yang hakiki"

Sutami, dalam kasus jembatan Semanggi, over-populasi P.Jawa, dan cara
bikin kesimpulan yang salah itu tentu tidak meng-ada2, dan ternyata
cerita Walangkeke tsb.hingga sekarang ini masih sangat relevan sekali.
Bagi mereka yang percaya maka anugerah "wong Solo, alm.Ir.Sutami"
tsb.dapat anda nikmati pada waktu menggunakan jembatan Semanggi yang
hingga kini masih baik,malah sudah diperlebar dengan jalur tol dsb
Bagi mereka yang tidak percaya maka ambruknya jembatan Rooseno dapat
dijadikan semacam peringatan. Kuncinya, menurut Sutami adalah
"penguasaan science & mathematics" (ilmu pengetahuan dan berhitung).

Kalau menurut Omar untuk jaman sekarang yang lebih relevant adalah
"penguasaan science & technology" dus, dalam hal ini, science-nya
masih relevant sedangkan mathematics-nya diganti dengan "technology".
Akan tetapi "penguasaan science & technology" saja akan membuat
manusia menjadi "arogan" jadi perlu ditambah sehingga menjadi
"Penguasaan Science & Technology disertai Iman". Untuk orang awam
mampu menguasai ketiga hal tsb.,bukan hal yang mudah, terutama
technology, tetapi juga bukan hal yang mustahil. Orang yang menguasai
Science & Technology, umumnya disebut Cendekiawan. Peribahasa kuno
mengenai Cendekiawan ada mengatakan   "Kita bisa mendidik warga yang
baik dan berbakat menjadi Cendekiawan, tetapi bukan Pemimpin Bangsa.
Pemimpin Bangsa yang adil, arif dan ber-Iman itu 'dikirim' oleh Tuhan".

Pada prinsipnya sejarah peradaban Indonesia modern selama ini dapat
dibagi dalam 3 bagian yaitu pertama, masa permulaan Kebangkitan
Nasional semasa penjajahan Belanda, yang kemudian dilanjutkan dengan
masa pendudukkan Jepang. Kedua,masa Kemerdekaan dengan berbagai
"perlawanan2 dan pemberontakan" semasa Pemerintahan Orde Lama Sukarno,
dan ketiga,masa masa Orde Baru Suharto yang penuh KKN dan pinjaman
atau hutang luar negeri yang saat ini mencapai kurang lebih USD.137
milyard (semua pinjaman). Mensesneg.Akbar T. pernah berkata bahwa
hutang tsb.tidak akan membebani "anak cucu kita" (mungkin maksudnya
adalah anak cucunya sendiri).Akibat krismon yang lalu, membayar
kembali hutang tsb.akan memerlukan upaya kerja keras semua komponen
bangsa dengan "cara yang tidak alang kepalang". Hal ini tentu tidak
adil bagi "rakyat yang harus bayar hutang tsb." padahal pejabat2 Orde
Lama terus berpesta pora.

Sebenarnya kesengsaraan menjadi "Rakyat Indonesia" ini sudah luar
biasa dan atas kehendak Allah YMK. maka  kesengsaraan tsb.harus
dihentikan dan diganti dengan jaman kemakmuran dan keadilan yang
tulen. Rasa tidak adil akibat dijajah Belanda 350 tahun, kerja rodi,
dijajah Jepang, perang Kemerdekaan, perang saudara akibat
pemberontakan2,serta kemiskinan jaman Sukarno, pembantaian massal
akibat issu Dewan Jenderal, penggusuran dan penindasan selama regime
Suharto dengan KKN-nya, belum lagi jepitan2 hidup akibat inflasi,over
populasi,belum kenyang masih ditambah lagi kekerasan2, kerusuhan2
bulan Mei 98, yang terakhir di Ambon, provokasi2 agar sesama warga
tarung dan bunuh2an,bakar2,jarah dll. Semua ini sudah tentu membawa
dampak negative pada "rakyat Indonesia". Di Australia, baru2 ini ada
spanduk "If you are Indonesian, damn you" artinya: Kalau anda orang
Indonesia, terkutuklah kamu. Apakah anda masih punya kebanggaan
sebagai warga negara Indonesia?. Cara balas Sahrawian sbb:"If you are
Australian,damn you"

Banyak sekali terjadi kekerasan2, dan yang paling biadab adalah
kekerasan pada bulan Mei 13,14 '98 lalu yang sudah umum ketahui dan
tidak perlu diuraikan disini. Akan tetapi kesan terjadinya kekerasan
tsb.dari kelompok Islam yang anti WNI-KC, Kristen dan jelas
di-organisir,telah menjadi obsesi yang Pemerintah masih belum buktikan
dan akui,sehingga orang mengaitkan dengan peranan "think-tank"
dibelakang aksi2 teror tsb. Yang dipertanyakan adalah bagaimana
think-tank tsb. menarik kesimpulan bahwa tindakan2 keji tsb.meskipun
sudah melalui 'analisa tehnis yang baik', akan tetapi bukan atas
kesimpulan "walangkeke" tsb.diatas. Dengan kata lain terbukti bahwa
"think-tank" dibelakang teror tsb. telah membuat analisa atas dasar
kesimpulan walangkeke yang salah (dan fatal).Bila "think tank" baik
yang sama atau berlainan manusianya,dan tetap membuat kesimpulan
serupa untuk teror2 dilain tempat atau propinsi (Menado, Kupang
Ambon),maka kekerasan2 yang akan dilakukan atau sedang direncanakan
(umpama Pemilu yad.), dapat dipastikan analisanya didasarkan pada cara
walangkeke yang salah. Untuk itu sebaiknya dihentikan dan dibatalkan
dengan segera, karena kalau tidak akan menambah kesengsaraan rakyat
dan itu berarti menambah nilai balas dendam Sahrawian yang harus
dibayar nantinya. Sebagai contoh, adanya kesalahan dalam membuat
kesimpulan bahwa WNI-KC akan menjadi manusia perahu "ngacir keluar
Indonesia" bila diteror,diperkosa wanita2nya dan dijarah toko2nya dll.
Tentu saja tidak jalan karena memang tidak dikehendaki oleh semua
rakyat Indonesia baik yang Islam maupun Kristen ,Budha. Terbukti
banyak kasus  Haji2 yang tolong si Amoy agar selamat dari binatang2
yang ngaku Islam. Nah,walangkeke masih ada kan?

Dalam hal penggunaan nama "rakyat" dan yang kemudian di-iming2 dengan
"kredit" untuk Koperasi dalam rangka Ekonomi Kerakyatan 10 trilyun
tsb.ada baiknya Omar simak mengapa koperasi selalu gagal total
Koperasi selama ini gagal, hanya beberapa saja yang sukses, itupun
namanya saja disebut koperasi, sedang cara pengelolaannya mirip2
seperti toko swasta (dus ada perubahan nilai). Ini terjadi disuatu
daerah dimana waktu itu Koperasi daerah mengadakan peninjauan atau
survey dalam upaya meningkatkan peminat agar masuk koperasi daerah.
Jadi ditanya oleh pejabat koperasi kepada salah seorang rakyat petani
setempat :"Kenapa kamu tidak masuk koperasi saja?" Jawabannya petani
:" Saya sudah masuk anggota pak, tetapi saya kalau panen kirim
hasilnya ketoko Lim itu. Soalnya tahun lalu waktu saya sudah stor
kekoperasi, lalu muncul saudara saya dari lain daerah, minta pinjam
panenan saya karena dia gagal panennya. Jadi waktu saya minta sebagian
panen saya kekoperasi ternyata ditolak dengan alasan administrasi dll.
Saya terpaksa ketoko si Lim minta pinjam untuk penuhi kebutuhan
saudara saya tsb.. Lim yang memang sudah kenal sejak kecil tidak
banyak komentar langsung beri secukupnya. Jadi saya tidak mau stor
kekoperasi lagi. Saya stor ke Lim atas kemauan saya sendiri, bukan Lim
yang minta, begitu."  Ini namanya logis, harus begitu.

Dalam kasus tsb.diatas yang membedakan koperasi dengan toko "Lim"
adalah unsur "manusiawi".Koperasi ternyata tidak manusiawi dan kalau
ditambah manusiawi maka koperasinya bisa kacau,dan gagal.Meskipun
diberi kemudahan2 dalam hal dana2 kredit maka koperasi tetap harus
mengutamakan hubungan manusiawi serta tetap harus mampu mempertanggung
jawabkan usahanya. Yang jadi pertanyaan, apakah hal ini bisa? Koperasi
yang manusiawi, yang bisa memberi pinjaman tanpa agunan, kalau tidak
terbayar lunas tetap senyum? Sebenarnya semua bisa dan tidak perlu Lim
atau Tan dianggap penghalang (cara walangkeke). Untuk menjadi
manusiawi meskipun bentuknya koperasi yang diperlukan adalah konsep
bernilai luhur, menolong rakyat. Selama ini koperasi cuma mau hisap
rakyat,bukan menolong rakyat, dan kalau mendadak ada program baru maka
jangan heran kalau terus langsung dicurigai. Kalau dicurigai,
sebaiknya jangan "terus-cuwek" saja.

Kontra Reformis bagaimanapun adalah "Sei-Nil" ketimbang kaum Reformasi
Total.Dengan jawaban dalam bentuk kekerasan tidak berarti kaum Kontra
Reformasi itu menjadi Sahrawian karena jumlahnya kecil dan tidak
mempunyai massa "yang lapar". Dengan melakukan kekerasan maka kaum
Kontra Reformasi, paling tidak sudah membuktikan bahwa mereka adalah
"kaum kriminil" yang jahat serta kejam. Secara alamiah maka massa
rakyat yang lapar itu akan berubah menjadi "Reformis Revolusioner"
yang akan melakukan tindak balasan terhadap kaum kriminil tsb. Bila
ini terjadi maka kaum kontra reformasi akan mengalami kekalahan yang
menyakitkan mereka, dan secara transcendental dapat disebut sebagai
"hukuman karma". Bila tindak kriminil tsb.tidak segera dihentikan maka
hal itu akan menambah rasa sakit "hukuman karma". Yang benar kata
pepatah "Crime is not worth". Jaman baru akan lahir,ojo neko2,mengko
iso kualat kowe.

Menjadi anggota khususnya Sahrawian Jawa itu perlu falsafah dan massa
suatu bangsa, punya kondisi2 yang menyebabkannya menjadi Sahrawian,
perlu motivasi "survival alamiah"yang menyebabkannya harus melakukan
serangan2 Sahrawian. Sahrawian mempunyai Undang2 yang mengatur tata
tertib berbangsa. Mengakui hak2 perorangan dan juga menghormati
larangan2 agama baik Islam, Kristen, Budha dll. Kriminil adalah unsur
jahat yang melanggar nilai2 dan larangan tsb.

Jadi "agressivitas Sahrawian" jangan dikacaukan dengan agresivitas
kaum kriminil. Secara tradisionil malah orang Jawa itu prinsipnya
"manut" seperti orang Jepang. Katanya sudah 9 ABAD mereka dambakan
"kiriman" seorang Pemimpin Sahrawian Jawa sejati.

Pertarungan antar warga-antar agama yang disulut oleh provokator2
"kaum sesat" disamping menyebabkan jatuhnya korban juga secara tidak
langsung membawa hikmah "membangkitkan rakyat"menyiapkan diri untuk
secara bersama melakukan tindak balasan dalam mensukseskan perubahan
Reformasi damai jadi Reformasi Revolusioner. Kesalahan fatal dalam
membuat "kesimpulan walangkeke" oleh kaum Kontra Reformasi akan
membangkitkan kemarahan Sahrawian Revolusioner dengan akibat
kehancuran mereka.

Sekarang kita sudah belajar betapa pahitnya hidup dibawah pimpinannya
Suharto. Kalau seluruh tatanan bernegara dan berbangsa tidak mengalami
perubahan yang berarti, maka akan datang Suharto yang lain, dan yang
lebih canggih serta lebih jahat.Ada berita koran bahwa separuh Partai2
baru disponsori Cendana. Jadi bagaimana kita tahu pejabat2 yang baru
hasil Pemilu nanti tidak berbuat yang sama?. Dulu sewaktu Suharto
tinggal di Jl.Mandala Raya,Tomang, dia juga tidak melakukan KKN
sehebat setelah jadi Presiden. Daftar KKN ini akan lebih panjang lagi
bila kita melihat karya Dr.G.J.Aditjondro,atau koran2. Siapa yang
berani jamin hal2 tsb.diatas tidak akan terulang lagi dimasa pasca
Pemilu yad.? Siapa yang berani bilang bahwa pejabat2 hasil Reformasi
Total tidak akan melakukan kesalahan walangkeke seperti diatas? Dan
kalau tidak Pemilu maka Reformasi akan buntu jalannya, dan semua pihak
akan kecewa, frustrasi, dll. Millenium III atau abad 21, tahun 2000
tinggal 11 bulan lagi, dan bangsa Indonesia masih terlihat belum
mempersiapkan diri dengan baik, malahan terlihat akan "raya'an"
rebutan kekuasaan melalui Pemilu. Bagaimanapun perlu perombakan total.

APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENGATASI KEMELUT DI INDONESIA:

Ibaratnya sakit flu berat, kalau diberi obat dosis normal maka
sakitnya tidak sembuh, demikian juga halnya dengan situasi dan kondisi
Indonesia, perlu perubahan2 dan perombakan mendasar. Akan tetapi hal
seperti itu memerlukan sikon yang cocok, tidak bisa dilakukan pada
saat seperti sekarang ini. Dengan demikian maka rencana Pemilu Juni'99
supaya diteruskan dengan baik, sementara bersamaan dengan itu juga
perlu persiapan dan pengamanan kehadirannya "Sahrawian kiriman" yang
bisa mencegah orang Jawa menjadi penjajah, tetapi menjadi saudara bagi
suku lain,yang cegah Sahrawian "Islam" tidak menyerang kubu orang
Kristen,Budha,dll.yang cegah Sahrawian Revolusioner jangan sampai
meminta korban banyak kaum kontra reformasi dari amukan balas dendam
atas kekerasan2 yang sudah dilakukannya, yang membawa bangsa Indonesia
dengan selamat masuk kedalam jaman baru Millenium III yad.,yang
menghimpun kekuatan dan Technology untuk kemakmuran dan kesejahteraan
bangsa dan negara, yang menjaga bangsa Indonesia tidak jadi budak
konsumen produk2 luar negeri yang membanjiri pasar. Satu hal perlu
diingat, hendaknya Sahrawian2 Jawa jangan dibiarkan terlalu lama
menunggu Pemimpinnya. Tekanan untuk secara aggressive "menyerang
Sei-Nil" segera bertambah kuat,sehingga perlu "kendali" yang cocok.
Juga bila Timor-timur sampai dilepas maka otomatis menjadi "Sei-Nil"
dan semua Sahrawian Indonesia sangat concern soal ini.

Untuk itu diperlukan kesediaan para Wali, Alim-Ulama, Pendeta, Biksu,
agar  tingkatkan komunikasi dan sembahyang bersama bila memungkinkan,
dengan doa permintaan mengusir semua wahyu eblislaknat agar diganti
dengan wahyu Ilahi, agar kerusuhan2 segera mereda, dan juga jaman baru
bisa lahir dengan baik dan selamat. Juga perlu doa permintaan agar
Pemimpin jaman baru bisa segera hadir diantara bangsa Indonesia. Doa2
tsb.penting untuk menghilangkan "block mental"
yang mungkin ada. Lebih lama block mental "ada" lebih lama pula
"hadirnya". Yang dimaksud disini terutama adalah block mental
masyarakat non-Sahrawian Jawa.

Jauhilah mereka2 yang merasa calon Pemimpin yang baik tetapi nada
suaranya keras dan pedas. Semua orang yang mabuk kekuasaan dan
berambisi memperoleh kekuasaan akan mengeluarkan produk terburuk dari
dalam dirinya. Perlu anda kenal istilah "POHOMA" yaitu acronym "Power
by Honesty and Majority", Kekuasaaan Yang Berdasarkan Kejujuran dan
Mayoritas, sebagai pola dasar panutan Pemilu yad. disertai persiapan2
termasuk sarana2 pengamanan yang memadai agar tidak terjadi halangan2
apapun terutama yang berkaitan dengan "kenyamanan" dalam melakukan hak
memilih dan hak dipilih.
Hormatilah demokrasi.

Karena keterbatasan "internet-space" maka Part I akan disambung dengan
Part II. Untuk anda yang Pakar Javanologi maka peradaban bangsa
Indonesia yad. tetap berfalsafah Pancasila, bukan negara agama, dan
diperlambangkan dengan "bunga tunjung putih" dengan kedua media
kehidupan, darat dan air (bahari). Agama mayoritas Sahrawian
diperlambangkan pandan hijau (Islam sejuk) wangi semerbak, disukai
oleh agama2 lainnya.
Dan "Cakra" sebagai Symbol sang Pemimpin Sahrawian di-identifikasikan
sebagai Master of Science dan Penguasaan Technology canggih didunia,
Password Code: 21 atau kebalikkannya: 7 x 3.

"BERSATULAH SEMUA KAUM SAHRAWIAN INDONESIA"
Salam Sahrawian.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Jan 1999 jam 07:52:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke