----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

-----------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

-----------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Thursday 28 January 1999 16:10 UTC



** TOPIK GEMA WARTA : "APAKAH PELEPASAN TIMOR TIMUR AWAL BAHAYA
DESINTEGRASI NASIONAL ?"




* APAKAH PELEPASAN TIMOR TIMUR AWAL BAHAYA DESINTEGRASI NASIONAL.
Rencana pemerintah Indonesia untuk melepaskan Timor Timur menunjukkan
bahwa pemerintah presiden Habibie sudah putus asa dan bahaya des-
integrasi nasional, semakin berada diambang pintu. Lebih jauh rekan
Syahrir melaporkan dari Jakarta.
"Indonesia menguak perspektif baru tentang Timor Timur", tulis harian
Media Indonesia kemarin. Propinsi paling bungsu itu kini memiliki
peluang untuk memisahkan diri dari negara kesatuan Republik Indonesia.
Timor Timur adalah realitas yang menyakitkan dalam politik luar negeri
Indonesia. Dalam konteks internal Timtim adalah tragedi. Nyawa, darah
dan air mata merupakan warna yang kentara dari eksistensinya.
Pengorbanan biaya pun tidak sedikit. Bertahun-tahun rejim Soeharto
mempertahankan argumen bahwa Timtim memilih berintegrasi dengan
Indonesia atas kehendak sendiri. Kini tiba-tiba Jakarta mengatakan ingin
mendepak Timtim dengan mengatakan Indonesia juga punya hak untuk menolak
integrasi.

Ada yang mengatakan lebih baik terlambat daripada terjebak berlarut-
larut. Orang kini ingin melihat reaksi tentara. Meski banyak perwira
ABRI yang memperoleh bintang-bintangnya di Timor Timur, seperti jendral
Soebagio - KSAD sekarang ini, namun tidak dapat dipungkiri bahwa banyak
janda prajurit TNI yang suaminya tewas di Timor Timur sekarang
menderita. Demikian pula para prajurit yang cacat yang tergabung dalam
Yayasan Seroja. Mereka semua adalah korban politik Soeharto, Ali Murtopo
dan Benny Murdany, ujar seorang pengamat.

Sementara itu reaksi mabes ABRI hingga kini masih tenang-tenang saja.
Kapuspen ABRI Mayjen Syamsul Ma'arif mengatakan pernyataan menlu Ali
Alatas tentang kemungkinan pelepasan propinsi Timtim harus ditanggapi
secara positip. Sedangkan Kaster Letjen Yudoyono mengemukakan akan
menindak lanjuti hasil rakor Polkam. Para perwira ABRI lainnya pada
umumnya yakin bahwa kekuatan pro integrasi di Timtim masih cukup kuat.
Pokoknya pro dan anti integrasi sama kuat di Timor Timur, kata mereka.
Bahkan ada yang mengatakan kita akan mendukung rakyat yang pro Indonesia
yang kini sudah mulai dipersenjatai mengantisipasi kemerdekaan Timtim.

Di Jakarta sendiri reaksi golongan sipil pun bermacam-macam. Mantan
tokoh-tokoh pemerintahan Soeharto dan anggota DPR ketiga partai
pendukung rejim Orde Baru menganggap kebijakan Habibie itu terlalu
cepat. Tapi dari kalangan gerakan Islam ada yang mendukung kebijakan
Habibie-Alatas ini karena menganggap Timor Timur sebagai propinsi
Kristen yang hanya menyulitkan Indonesia saja.

Tapi kalangan penentang Habibie melihat langkah pemerintah ini lagi-lagi
menunjukkan rasa putus asa dan hilang percaya diri para pemegang
kekuasaan. Habibie dan ABRI nampak tidak mampu melaksanakan tanggung-
jawabnya karena memuncaknya keresahan rakyat. Sejumlah pemimpin
mahasiswa melihat hanya ada satu jalan untuk menyelamatkan Indonesia
dari kehancuran. Membuang seluruh pemikiran dan kebijakan Orde Baru.
Bukan hanya yang menyangkut penjajahan Timor Timur tetapi semuanya, baik
sistim maupun struktur Orde Baru.

Dalam hubungan itu posisi ABRI seharusnya berada bersama dengan rakyat,
kata seorang perwira pensiunan. Dibelakang rakyat dan bukannya
berhadapan dengan rakyat sebagaimana nampak di Aceh dan Irian Jaya.
Posisi ABRI yang benar ialah menunjukkan jiwa dan sikap mental menolak
Orba dan solider dengan rakyat banyak. Karena itu ABRI harus mendukung
peralihan kekuasaan dari Orba ke kekuatan-kekuatan yang selama ini
senasib sependeritaan dengan rakyat kecil. Bukan hanya di Timor Timur
tetapi juga di daerah-daerah lain terutama di ibu kota. Inilah kewajiban
dan tanggung-jawab ABRI terhadap rakyat yang sebenarnya sebagaimana
ditunjukkan oleh panglima besar Sudirman, kata seorang perwira
pensiunan.


-----------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
-----------------------------------

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Jan 1999 jam 17:19:24 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke