----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

TENTANG KERUSUHAN NASIONAL 1998-1999

APAKAH KERUSUHAN ITU?
Kerusuhan bukan revolusi. Kerusuhan sosial bukan revolusi sosial (ttg
revolusi sosial akan diuraikan kemudian).
Kerusuhan adalah kekacauan (chaos) fisik yang menimpa masyarakat sipil
dengan gejala kasat mata berupa bentrokan antar manusia, dari perkelahian
massal sampai pembunuhan, penjarahan, dan perusakan berbagai sarana dan pra
sarana, baik fasilitas pribadi (perumahan, mobil pribadi) maupun fasilitas
umum (tempat perbelanjaan, gedung pemerintah, kendaraan umum).
Singkatnya, kerusuhan adalah anarki. Jadi, kerusuhan tidak menghasilkan
suatu perubahan positif dalam level tatanan ke arah yang lebih baik. Karena
kerusuhan tidak menyebabkan perubahan sistemik apapun kecuali kerusakan
fisik dan trauma sosial (ketakutan yang mencekam masyarakat). Kalaupun
setelah kerusuhan ada dorongan pada birokrasi untuk melakukan perbaikan
kebijakan, hal ini bukanlah perubahan sistemik produk kerusuhan. Hikmah yang
bisa diambil setelah terjadi kerusuhan adalah kerusuhan sebaiknya tidak
terjadi.

MENGAPA KERUSUHAN TERJADI?
Kerusuhan bisa terjadi karena adanya 2 faktor, yaitu faktor potensial dan
faktor kesengajaan secara bersamaan. Faktor potensial tidak akan efektif
tanpa rekayasa dan rekayasa juga tidak akan berjalan tanpa adanya faktor
potensial.

1. Faktor Potensial
   Faktor potensial kerusuhan adalah psikologi masyarakat yang didorong
oleh:
   - kondisi perekonomian masyarakat yang mengalami tekanan terburuk
   - kondisi sosio kultur masyarakat yang membuat satu kelompok masyarakat
     merasa ada perbedaan dgn kelompok lainnya (beda suku, agama, nasib).

2. Faktor Kesengajaan (Rekayasa)
   Faktor rekayasa merupakan kesengajaan yang dibuat pihak tertentu
   untuk meletupkan kerusuhan dengan alasan kepentingan tertentu.

BAGAIMANA KERUSUHAN TERJADI?
Pada dasarnya, dalam pola pikir masyarakat tradisional Indonesia tertanam
rasa adanya perbedaan satu sama lain. Rasa berbeda ini khususnya meliputi
kecemburuan sosial antar strata ekonomi serta perasaan berbeda dengan orang
dari suku dan agama lain. Hal tersebut dalam kondisi normal wajar-wajar
saja. Faktor potensial ini selamanya akan tetap potensial jika tidak
dirangsang oleh satu stimulan yang mengubah energi potensial tersebut
menjadi energi emosional. Bukankah kita hidup dalam perbedaan dan perbedaan
membentuk kehidupan?
Namun "mind set" yang di dalamnya tertanam "rasa berbeda" itu potensial
diubah menjadi emosi kolektif yang dibangkitkan oleh suatu rekayasa pemicu
pada saat yang tepat. "Saat yang tepat" itu khususnya sikon di mana suatu
masyarakat mengalami tekanan ekonomi yang sangat buruk sehingga komunitas
masyarakat tersebut merasa lebih berat menjalani kehidupan sehari-hari.
Pada "saat yang tepat" itu dalam masyarakat terbentuk satu psikologi sosial
yang rata-rata sama, yaitu keluhan yang sama, ketidakpuasan yang sama, dan
kemarahan yang sama. Psikologi sosial seperti ini bagaikan bensin yang
menggenangi otak masyarakat sehingga mudah terbakar. Pada sikon seperti ini,
pihak yang rawan kerusuhan adalah anggota masyarakat yang pemberang.
Karakteristik pemberang (emosional) ini selalu ada dalam masyarakat dan
kelompok orang inilah yang pertama disulut agar kerusuhan menjalar.

Menjalarnya kerusuhan pun bisa bertahap. Gambarannya seperti api yang
disulutkan pada sumbu dinamit, perlu waktu sampai sumbunya terbakar semua
dan mencapai dinamit hingga meledak. Dalam gambaran ini, sumbu tersebut
adalah anggota masyarakat yang pemberang. Tingkat emosi anggota masyarakat
pun berbeda-beda. Dari yang paling pemberang, sangat pemberang, pemberang,
sampai yang mampu menahan diri. Karena itu Sang Korek Api, yaitu
perekayasa/provokator lapangan menyulut sumbu dari ujungnya, yaitu dari
kelompok yang paling pemberang. Meskipun kadang-kadang korek api menyulut di
tengah-tengah sumbu karena berharap lebih cepat mencapai dinamit, yang
paling cepat terbakar tetaplah kelompok masyarakat yang paling emosional.
Inilah "sumbu" dinamit, posisi awal menjalarnya kerusuhan. Dinamit kerusuhan
meledak ketika masyarakat yang paling menahan diripun menjadi kalap ketika
anggota keluarganya menjadi korban, rumahnya dihancurkan, dan kepentingannya
terkena langsung. Jadi untuk mencegah dinamit meledak, potonglah "sumbu"
yang pertama menyala.

Berbagai kasus kerusuhan menunjukkan pola "bakar sumbu dinamit" tersebut.
Kerusuhan 27 Juli disulut pembantaian markas PDI. Kerusuhan Mei disulut oleh
penembakan mahasiswa Trisakti. Kerusuhan November disulut penembakan
Semanggi. Kerusuhan Ketapang disulut perselisihan preman judi. Kerusuhan
Kupang menyambung Ketapang tadi. Kerusuhan Ambon disulut pertengkaran preman
dan juru mudi.

Hal yang sangat sulit dilakukan adalah "damage control" untuk mencegah
besarnya kerusakan akibat kerusuhan. Hal ini disebabkan oleh adanya
elemen-elemen provokator dan operator kerusuhan yang menyusup ke dalam
masyarakat sehingga seolah-olah pelaku kebrutalan, pembunuhan, penjarahan,
dan pengrusakan adalah masyarakat sendiri.

SIAPA PELAKU KERUSUHAN SELAMA INI?
1. Perekayasa
   Umum: Pendukung Status Quo
   Spesifik:
   - Tentara oknum ABRI
   - Politisi pro status quo
   - Organisasi preman formal
   - Organisasi pemuda berkedok keagamaan underbow status quo

2. Operator Lapangan
   - Preman-preman dan orang-orang bayaran, terorganisir maupun operasi solo

3. Elemen Masyarakat
   - Ikut-ikutan
   - Pelaku aktif karena dendam
   - Korban

4. Gerakan Separatis
   - Khususnya di Timor Timur, Aceh, dan Irian Jaya

APA TUJUAN REKAYASA KERUSUHAN?
1. Menimbulkan kebutuhan (demand) akan perlunya tentara dalam kehidupan
sipil
   - Mempertahankan Dwifungsi ABRI
   - ABRI di DPR tetap berkekuatan seperti sebelumnya
   - Pejabat-pejabat pemerintahan sipil tetap didominasi ABRI
2. Pemilu diundur dengan alasan situasi nasional tidak memungkinkan
   - Golkar konsolidasi lagi
   - Partai-partai mulai kehilangan gigi
3. Mencegah pengadilan Soeharto dan kroninya
   - Status quo tetap jaya (mempertahankan kekuasaan)
   - Uang negara tetap melanglang buana
4. Memancing dan melumpuhkan gerakan separatis (paradigma ABRI)

BAGAIMANA MENCEGAH KERUSUHAN?
1. Amankan "Korek Api" baik-baik untuk mencegahnya membakar sumbu dinamit.
   - Identifikasi "Korek Api"
   - Potong "pentol koreknya"
2. Jika "sumbu" sudah menyala, potong "sumbu" yang terbakar sebelum menjalar
   lebih panjang mendekati dinamit.

BAGAIMANA MASYARAKAT BERPERAN MENCEGAH KERUSUHAN?
Kuncinya adalah: JANGAN MAU MENJADI "SUMBU DINAMIT". Masyarakat yang mudah
marah adalah sasaran yang rawan kerusuhan karena sangat mudah disulut
"korek", dijadikan sumbu untuk meledakkan dinamit.
Karena itu, tetaplah menahan diri. Hindari tiap pertengkaran sekecil apapun
yang disebabkan oleh apapun karena tiap perselisihan kecil adalah gesekan
yang menimbulkan percikan api. Padahal api sekecil apapun berbahaya jika
memercik di tengah genangan bensin yang mudah terbakar.

Jakarta, 28 Januari 1999
GERAKAN SARJANA JAKARTA

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 29 Jan 1999 jam 09:57:43 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke