----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

From: aztec indian

KRISIS KARAKTER "INDONESIA"

Mengapa karakter jadi issue vital? Simple, tanpa karakter suatu bangsa
yang mumpuni, semua usaha jadi mentah, useless, tanpa hasil.
Lihat Jepang, USA, Korea, Jerman, tanpa karakter yang selalu haus no 1,
ambisius, chaunivinistik, sedikit xenophobia, mana mungkin mereka ada di
posisi sekarang.

Indonesia ? Sebetulnya, yang namanya "Negara Republik Indonesia" ini
cuma khayalan, angan2 utopis segelintir orang yang udah capek nunduk2
terus di depan congor Belanda, udah bosan tiap kali musti angkat2
senjata di tanah sendiri.
Mungkin banyak yang nyumpah2 dengar komentar kayak begini, tapi coba
pikir2, pernah nggak sih ada di antara kita yang bangga nyebut "I'm
Indonesian", kayaknya sih nggak.Paling2 yang keluar" Saya orang Jawa,
Aceh, Bali, dst".
Nggak percaya ? Lihat aja pertandingan sepakbola antar daerah, pasti
pendukungnya pada semangat gila2an dibanding kalau PSSI yang main.
Simple aja, sebetulnya kita2 ini nggak pernah merasa memiliki "Negara
Republik Indonesia" tadi, kita semua lebih bangga pada keprimordialan
kita, Sunda, Jawa Tengah, Jatim, Madura, Aceh, Batak, dst, dst.
Kalau Cina sih sudah jelas, nah dari dulu mereka nggak pernah diterima
100%, masuk ABRI dilarang, PNS distop, Univeritas Negeri dijegal, trus
gimana mereka bisa merasa memiliki apapun.

Jadi apa sebetulnya karakter bangsa yang disebut bangsa Indonesia ini
sebetulnya ? Untuk membahas hal ini, nggak adil kalau kita nggak sedikit
touch on our "Bapak Pembangunan" kita itu yang telah turut "berjasa"
mengarahkan (atau lebih tepatnya; membawa kembali) karakter bangsa ini.

Soeharto memang gape.Si tua satu ini benar2 deserves julukan "Master of
Puppets", hasil racikan otak militer yang sedikit miring plus sedikit
tambahan karakter Cina pinggiran yang tak surut melibas musuh  mulai
dari ukuran kutu sampai gajah tanpa sungkan dan of course tanpa berkedip
for the sake of money.

Sayangnya 32 tahun ternyata cukup buat si Soe meracun karakter Bangsa
Indonesia sampai ke sumsum tulang dengan gaya2nya yang sedikit mesem
sambil menusuk (dari belakang kalau perlu) itu.
Dan ibarat dalam film2  judi, Soe ini ibarat Chow Yun Fat yang bisa
membaca semua kartu walaupun dalam posisi terbalik alias God of Gambler
(GOG).

Semua tau, slogan Bhinneka Tunggal Ika itu all rubbish, full of shit,
yang cuma pas kalau ditaruh di bawah kaki burung Garuda, tapi di tangan
si  GOG, this fact bisa jadi kartu as yang bisa mutar posisi kalah jadi
menang atau at least buat posisi bertahan.

Cuma, memang menarik melihat perubahan drastis karakter bangsa ini.Dalam
tempo satu tahun, semua hancur, di high level dengan mundurnya GOG ke
belakang layar yang ada cuma persaingan yang bikin miris, isu Cina,
Islam radikal,Islam vs Kristen, pihak ketiga yang jadi kambing hitam (
kasihan juga nih "pihak ketiga" yang untungnya nggak pernah ketauan
siapa) yang ujungnya cuma satu make use of people buat test the water
and menang, lihat kasus Banyuwangi, Karawang, Tegal, Luwuk, Ambon, etc.
etc. modus operandi pasti rata2 sama, isu angkot dipalak, dicegat
polisi, keributan antar warga, in short, impossible kalau itu natural
course.

Di level bawah, lebih parah, racun sang GOG ternyata mampu membuat
second (mungkin ini yang asli) personality/character dari bangsa ini
keluar when push comes to shoves (alias kejepit).
Ternyata yang disebut bangsa peramah, sopan santun, adat timur,beragama,
waktu kepepet berubah jadi satuan khusus anti-Semit Nazi,SS sang Hitler,
dengan easily memperkosa Cina2 di depan ratusan mata, dengan enaknya
keluarin justifikasi untuk menjarah, membakar; i.e. lapar.
Rusak, semua rusak, irreversible.

KARAKTER ASLI BANGSA

Tapi, unfair kalau ini semua diblaimed on si GOG.Nggak mungkin si GOG
sesakti itu.
Ternyata, nggak usah jauh2 nengok ke belakang mencari sebab musabab di
jaman jahiliyah dulu, semua simple, ini kultur warisan kolonial, Belanda
very much shaped Indonesian character.
Disamping ketiadaan sense of belonging terhadap yang namanya "Negara RI"
seperti dsb di atas, sebetulnya dari Sabang sampai Merauke kita semua
punya satu kesamaan karakter.

Karakter orang bawah yang penurut, nrimo, bawaannya takut dan hormat
kalau ngelihat bule ( sampai sekarang pun masih) karakter level atas
(raja2, bupati) yang ABS ke bule2 Belanda, karakter Cina yang
dipositioned sbg bumper, boleh berdagang apapun termasuk menyelundup
(dengan setoran ke bule2 itu tentu), tapi kalau ada apa2, no protection
given, middle man, kena pertama.

Si GOG ini cuma man in time, yang pintar meneruskan (sambil sedikit
dipoles) hal2 di atas tsb for his own advantage.
Tentu saja dia nggak bersalah 100%, Indonesia cuma bad luck dapat leader
kayak dia at the wrong time.Pure bad luck.

Kesimpulannya, karakter primitif dan semi-human bangsa ini ternyata
telah terbentuk sejak dulu.
No change at all, boleh dibilang nggak ada sedikitpun development of
character, semi primitif tepatnya, karena semua kesopan-santunan,
keramah-tamahan orang Indonesia cuma ada di luar, polesan, unreal.
Kenapa ? Karena when push comes to shoves tadi, semua karakter manis,
civilized tsb berubah 180 derajat, unimaginable and demonic.
Quite dissapointing actually.

In short, kita ini sebetulnya semua sami mawon, ya Cina, ya pribumi
(istilah primordial begini tetap harus dikedepankan, soalnya semua tau
yang diaku2 saudara, disebut2 "suku" Tionghoa, Acong, Joko, dst cuma
polesan bak kulit luar sifat orang Indonesia tadi) ya pejabat, ya
businessman, ya politikus, ya kere, ya Islam, ya Kristen, ya Hindu.Semua
sama dan sebangun, cuma levelnya aja yang beda.

Akui sajalah, kita semua ini very very self-centered (atau diperluas
sedikit, family-centered), motto kita satu: "biar negara/bangsa ambruk,
emang gue pikirin, yang penting gue & keluarga bisa kenyang dan aman"

OPINI DAN PENUTUP

Lalu apa solusi yang mungkin saat ini ? Tidak banyak sebetulnya. Situasi
kita sudah mendekati titik nadir, rock bottom, hampir2 helpless.
Nggak mungkin kalau dalam situasi kritis kayak begini kita baru mulai
kuliah kiri kanan coba ngebangun karakter yang betul.Impossible.
Yah, seandainya saja kita bisa lakukan satu hal: back to basic; dengan
pengertian, masing2 dari kita harus coba lakukan apa yang menurut
wejangan dasar orang2 tua kita dulu sewaktu kecil; e.g. jangan mencuri,
jangan membunuh, dst, dst.Intinya, decency, fitrah dasar manusia.Cobalah
kita semua lupakan dulu sementara kebencian kita, musuh2 kita, apapun
dendam kita.
Cuma itu satu2nya jalan.

Salam, Aztec

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 29 Jan 1999 jam 10:00:13 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke