---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: yusuf Eropa Union, model yang sesuai untuk bangsa-bangsa di Indonesia Oleh: Dr Husaini Hasan Menelaah situasi di Indonesia, yang sudah "merdeka" sejak 54 tahun, tetapi sampai saat ini tidak ada kestabilan dan ketenangan di kawasan ini. Reaksi pemberontakan dan demokrasi rakyat diseluruh pelosok negeri ini dari berbagai lapisan masyarakat dan mengakibatkan pembunuhan massal dan penangkapan berjuta rakyat dari Sabang sampai ke Merauke, menunjukkan manifestasi rasa ketidak puasan atas ketidak adilan daripada system administrasi Republik ini. Indonesia adalah kelanjutan daripada system penjajahan Hindia Belanda, the Dutch East Indies. Hindia Belanda masih berdiri sampai kini, hanya namanya dan penjajahnya yang bertukar. Territorial integrity penjajahan Hindia Belanda masih tetap intact dari Sabang sampai ke Merauke. Nama Hindia Belanda bertukar menjadi Indonesia. Dan penjajah Belanda ditukar oleh penjajah Indonesia. Sebetulnya Indonesia bukan lah nama bangsa atau satu negara tetapi ia adalah satu nama geographi. 'Indon' bermakna Hindi, dan 'Nesia' bermakna kepulauan. Jadi Indonesia bermakna Kepulauan Hindi. Ibu kotanya pun masih ditempat penjajahan Belanda dulu, hanya namanya bertukar. Kalau dulu namanya Batavia, kini namanya Jakarta. Undang-undangnya pun masih mengikuti undang2 penjajahan Belanda, mengikuti stadblad nr...dst. System pemerintahan masih dipusatkan dan tunduk ke Batavia atau Jakarta sekarang dan semua hasil dari luar Jawa (tanah jajahan) dikumpulkan ke Jakarta. Bedanya kalau dulu dimasa penjajahan Belanda hasil hasil yang ditumpuk di Jakarta lalu dibawa ke negeri Belanda, maka kini hasil-hasil tersebut di tinggal di Jawa untuk membangun Jakarta dan Pulau Jawa. Negeri-negeri diluar Jawa masih diperlakukan sebagai tanah jajahan, di-exploiter dan hasil-hasil tambangnya seperti minyak, LNG, intan, emas, tembaga dilarikan ke Jawa. Tidaklah heran kalau kita melihat kepincangan pembangunan di Jawa yang telah mengikuti perkembangan dunia modern penuh dengan gedung bertingkat, jalan raya asfalt sampai ke pedalaman dan listerik dan telefon sampai ke pelosok desa; sedangkan dluar Jawa rakyatnya masih banyak yang buta huruf dan masih ada yang seperti di Zaman Batu, seperti di Papua Barat (Irian Jaya), memakai lampu teplok; dan kematian akibat malaria, cholera eltor, dycentri, dan malnutrition masih merajalela. System Centralization yang berpusat di Jakarta ini memungkinkan corruption bermiljard dollar oleh pemimpin-pemimpin Indonesia mulai dari Presidennya, Jenderal-jenderalnya, sampai ketingkat penghulu dan kerani-keraninya. Tidak ada rasa tanggung-jawab kepada negeri-negeri dan bangsa-bangsa karena mereka tidak mempunyai sentemen kebangsaan dan memang Indonesia bukan satu bangsa wakil-wakil rakyat, yang dipilih bukanlah representativ dari bangsa-bangsa sehingga mereka tidak mempunyai sentemen serta tanggung-jawab terhadap bangsa yang diwakilinya. Seorang bangsa Jawa yang bertugas di Irian Jaya (Papua Barat) tidak akan merasa bahwa rakyat Papua adalah sebangsa dengan dia, yang harus dibela dan diperjuangkan haknya. Ia dengan mudah akan melakukan korupsi dan mengumpulkan harta untuk dibawa pulang ke Jawa. Indonesia tidak mempunyai sejarah sebelum 1945. Yang dikatakan sejarah Indonesia itu sebenarnya adalah sejarah bangsa Aceh di Sumatra, sejarah bangsa Sunda di Jawa Barat, sejarah bangsa Jawa di pulau Jawa, sejarah bangsa Bugis di Sulawesi, sejarah bangsa Bali di pulau Bali, sejarah bangsa Timor, sejarah bangsa Maluku di Ternate, Tidore dan Ambon, dst. Demikian pula dengan pahlawan-pahlawan Indonesia itu sebenarnya adalah pahlawan-pahlawan bangsa di negara-negara dimana mereka berasal. Cut Nya' Dhien, Cut Mutia, Pocut Baren, Teungku Thjik di Tiro Mohd. Saman dan banyak lagi pahlawan Aceh; mereka semua bukanlah pahlawan Indonesia, karena mereka semua tidak berjuang untuk mepertahankan Indonesia, tetapi mereka mengalirkan darah dan menyabung nyawa mereka untuk mempertahankan kedaulatan Negara Aceh dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Aceh dari pendudukan dan penjajahan bangsa luar, apakah dia Belanda, Inggris ataupun Jepang. Mereka tentu menangis didalam kubur mereka melihat anak cucu mereka telah mensia-siakan pengorbanan mereka dengan cuma-cuma menyerahkan kedaulatan dan kemerdekaan Negara Aceh kepada Indonesia begitu saja. Sentemen yang dirasakan oleh bangsa Aceh akan pahlawan2nya tidaklah dapat dirasakan oleh bangsa-bangsa lainnya di Indonesia seperti bangsa Jawa, bangsa Bugis, bangsa Maluku dan lain-lain, sebab pahlawan-pahlawan Aceh bukanlah pahlawan Indonesia, tetapi adalah pahlawan Aceh untuk bangsa Aceh. demikian pula sebaliknya pahlawan Maluku, Pattimura untuk bangsa Maluku, tidak ada sangkut paut dengan bangsa Indonesia. Demikian selanjutnya dengan Diponegoro adalah pahlawan bangsa Jawa, tidak ada sangkut pautnya dengan pahlawan Indonesia apa lagi dengan bangsa Aceh ataupun bangsa Maluku. Yang ada persamaannya hanya satu yaitu kita bangsa-bangsa di Nusa Tenggara ini yang kini disebut sebagai Indonesia adalah sama-sama diperangi dan dijajah oleh Belanda. Lalu kalau sekarang Belanda tidak ada lagi, kenapa yang merdeka sekarang hanyalah Jawa? Sedangkan kita bangsa-bangsa diluar Jawa tidak mempunyai hak untuk bersuara dan menentukan nasib kita sendiri. Mengapa kita harus menerima perintah dari Jakarta dan mengapa hasil bumi kita harus diatur dari Jakarta dan dibawa ke Jawa. Apa kelebihan bangsa Jawa dari kita. Apa hak Suharto dan anak-anaknya mengklaim tanah-tanah di Aceh, di Kalimantan, di Sulawesi dan di Papua sebagai tanah-tanah milik mereka. Sejak kapan ada nenek moyang mereka disana? Kita yang seharusnya menjadi tuan di rumah kita sendiri. Kini kita menjadi warga negara kelas dua dan yang lebih hina lagi kita menjadi hamba-sahaya di negeri kita sendiri. Saya bukan rasist terhadap bangsa Jawa, tidak, tetapi saya menghormati bangsa Jawa dan menempatkannya setaraf dengan bangsa-bangsa kita bangsa Aceh, bangsa Bugis, bangsa Maluku, bangsa Timor, bangsa Banjar, bangsa Papua seperti bangsa-bangsa lain di dunia ini. Salahnya adalah karena kita mau ditipu dan dipanggil dengan sebutan "bangsa Indonesia." Dengan kita mengaku bangsa Indonesia maka hilanglah hak kebangsaan kita masing-masing. Dan otomatis bangsa Jawa dapat datang ke Aceh, ke Maluku, ke Papua dst. mengambil harta kekayaan negeri kita dan membawanya pulang ke Jawa dengan mengatakan harta-harta kekayaan negeri Aceh, Maluku, Papua dst bukan lagi milik dan hak rakyat Aceh, rakyat Maluku atau Papua tetapi hak dan milik Indonesia. Ketidak puasan dari bangsa-bangsa diluar Jawa yang dijajah oleh Indonesia ini dicetuskan dengan berbagai reaksi sebagai berikut: 1951: Dr Soumokil dari Maluku memproklamirkan Republik Maluku Selatan (RMS). Sebagai ganjarannya ia disalib dan dihukum tembak. Kini 50.000 rakyat Maluku hidup dalam pengasingan di negeri Belanda menanti kemerdekaan negeri Maluku. 1953: Pemberontakan Teungku Daud Beureu-eh di Aceh. 1953: Pemberontakan Karto Suwiryo di Jawa Barat. 1953: Pemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi. Ketiga-tiga pemberontakan ini juga telah melibatkan pembunuhan massal di Cot Jeumpa, Aceh, dan pembakaran kampung sehingga beratus ribu orang telah terkorban termasuk ayah dan keluarga dari penulis sendiri dibunuh dengan kejam dan dirampas hartanya. 1960: Pemberontakan Ibnu Hajar di Kalimantan. 1965: Pemberontakn Partai Komunis di Indonesia. Demonstrasi rakyat, pemuda dan mahasiswa di Jakarta, Medan dst. Coup d4etat Suharto. Beratus ribu orang telah terkorban dan ditahan dengan sewenang-wenang, sesuka hati mereka. 1971: Pernyataan Kemerdekaan Papua Barat. 1975: Reaksi Komando Jihad di Sumatra dan Jawa dan Sulawesi. Ratusan orang dibunuh dan ribuan ditahan dan dianiaya. 1975: Reaksi rakyat Timor-Timur yang menuntut kemerdekaannya. Mereka jelas bukan bangsa Indonesia. Mereka telah diberi kebebasan untuk menentukan nasib diri mereka sendiri oleh Portugis yang telah menjajah mereka. Tetapi Indonesia dengan rakus menyerbu dan membunuhi rakyat Timor-Timur untuk menklukkan dibawah penjajahan Indonesia. 1976: Pernyataan Kemerdekaan rakyat Aceh, yang berlanjut sampai saat ini. Ribuan rakyat Aceh dibunuh, dipenjarakan, disiksa dan diperkosa. 1984: Pembunuhan massal di Tanjung Priok. 1987: Kerusuhan di lampung. Ratusan orang dibunuh dan dikubur hidup-hidup. 1989-1998: Pembunuhan massal, perampokan dan pemerkosaan dan perlakuan sewenang-wenang terhadap rakyat Aceh, sehingga Aceh diklaim dengan DOM (Daerah Operasi Militer) dengan itu bermakna serdadu Indonesia boleh melakukan apa saja yang mereka suka kepada rakyat Aceh, apakah merampok harta rakyat, ataukah melampiaskan nafsu kebinatangannya dengan memperkosa gadis-gadis atau isteri orang yang mereka senangi, ataukah memukuli rakyat lemah yang tidak berdaya dan membunuh siapa saja yang mereka kehendaki dengan tidak ada tuntutan atau pengadilan apapun. Kini beribu rakyat Aceh hidup dalam pembuangan diseluruh dunia, menanti kemerdekaan Negara Aceh. 1998: Kembali demonstrasi rakyat, pemuda dan mahasiswa, di seluruh Indonesia, terutama di Universiti di Jakarta, di Surabaya, Jogyakarta, Semarang, Makassar, Medan, Padang, pelembang dan Bandar Aceh, dst. Jutaan orang telah terkorban dan teraniaya. Kemiskinan dan pengangguran akan terus berkepanjangan, melibatkan berjuta-juta rakyat di negeri yang disebut Indonesia ini. Jelas bagi kita bahwa reaksi-reaksi diatas menunjukkan bahwa system Republik Indonesia ini tidaklah dikehendaki oleh rakyat "Indonesia". System pengaturan ini bukanlah merupakan aspirasi dan kemauan dan kerelaan bangsa-bangsa di Indonesia. Indonesia dapat dipertahankan sampai saat ini bukanlah dengan keadilan dan demokrasi atau musyawwarah, tetapi dengan kekuatan militer dan paksaan senjata, membunuh dan "mengamankan" bangsa-bangsa yang menuntut keadilan dan haknya sebagai bangsa-bangsa yang merdeka. Malah dengan jelas Indonesia telah mengikrarkan genocide kepada tiga bangsa di Indonesia yaitu bangsa Aceh, bangsa Timor-Timur dan bangsa Papua. Serdadu Indonesia mengeluarkan perintah TUNTAS - Tumpas, tandas sampai ke akar-akarnya, bermakna bunuh sampai ke anak cucunya. Mereka tidak ada belas kasihan atau peri-kemanusiaan karena mereka tidak merasa bahwa mereka itu adalah satu bangsa. Kekejaman sedemikian telah dikutuk oleh seluruh dunia seperti yang terjadi di Bosnia dan Kosovo oleh bangsa Serbia. Tetapi kekejaman dan pelanggaran hak2 asasi manusia di Indonesia yang telah berlaku selama 54 tahun ini dalam jumlah yang lebih besar dan lebih dahsyat telah ditutup-tutupi oleh Indonesia dari mata dunia dengan menyogok dan menyuap perusahaan-perusahaan raksasa dari Barat seperti Mobil Oil, Stanvac, British Petroleum, Asamera, Bofors, Mitsubishi, dll. Kapitalist-kapitalist yang hanya mementingkan kepentingan keuntungan mereka, mempengaruhi negara-negara mereka untuk menyokong keutuhan Republik Indonesia. Karena dengan system Centralization/Kesatuan Indonesia memudahkan bagi mereka memegang satu orang yang memegang kunci lumbung-lumbung harta di Indonesia, apakah dia Sukarno, Suharto, BJ. Habibie, atau siapa saja yang memegang tampuk pemerintahan di Republik ini. Kapitalist-kapitalist ini tentu saja tidak senang kalau banyak kepala negara di Indonesia sehingga harus berurusan banyak orang. Mereka tidak akan perduli dengan keadilan dan hak serta nasib rakyat setempat. Karena prinsip mereka adalah membeli dengan harga yang semurah-murahnya dan mengaut keuntungan yang sebesar-besarnya. Sebetulnya kita menderita bukan karena negeri kita miskin. Sebaliknya kita menderita karena negeri kita kaya, dan orang luar datang merampok kekayaan alam dan bumi kita dan menyingkirkan kita dan kalau perlu membunuh kita pemiliknya. Alhamdulillah, masih ada rakyat yang berhati mulia dan ichlas di negeri-negeri Eropa dan Amerika, yang masih ingin turun tangan membela bangsa yang tertindas dan memperjuangkan hak2 asasi manusia dan berusaha menegakkan keadilan di muka bumi. Tugas ini bukan lah mudah. Mereka tidak akan berhasil kalau kita sendiri tidak berusaha melepaskan diri kita dari cengkeraman penjajahan Indonesia. Penderitaan dan pergolakan di Indonesia akan berterusan selama Indonesia itu masih tegak. Demonstrasi dan reformasi tidak akan menghasilkan apa-apa selagi system Republik Indonesia tidak berubah. System DPR, MPR, Panca Sila, Sumpah pemuda, Pemilihan Umum itu semuanya omong kosong dan tidak ada manfaatnya untuk kita bangsa-bangsa diluar Jawa. Hanya Jawa dan pemimpin-pemimpin Indonesia yang mengaut keuntungan dan manfaat dari system tersebut diatas. Saudara-saudara senasib yang dijajah oleh Indonesia! Berpikirlah dengan bebas sebagai satu bangsa yang merdeka. Republik Indonesia bukanlah satu negara yang paling kuat di dunia. USSR (the United Soviet Socialist Republic) yang jauh lebih kuat dari RI yang merupakan satu super power pada masanya toh hancur juga, pada masa bangsa-bangsa tersebut telah sadar akan dirinya dan tahu menentukan nasib dirinya sendiri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat didunia dan menempatkan dan mewakili dirinya sendiri di Majlis Perserikatan Bangsa-Bangsa. Marilah kita mempelajari sejarah bangsa-bangsa yang telah lebih dahulu merdeka dari kita yang telah mengalami banyak pergolakan dan revolusi seperti bangsa-bangsa Eropa. Kalau kita bandingkan dengan luas Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke adalah sama jauhnya seperti dari Lisbon ke Moskow. dan dari Utara ke Selatan seperti dari Stockholm ke Rom. Luas Indonesia adalah seumpama gabungan Eropa Barat dengan Eropa Timur. Dan mereka terdiri dari berpuluh negara, berpuluh bangsa dan bahasa. Negeri mereka tidaklah sekaya hasil alam negeri kita. Tetapi mereka dapat membangun negeri mereka disebabkan kestabilan politik mereka dan system demokrasi administrasi pemerintahan mereka. Ini tercipta akibat rasa respek terhadap sejarah, bahasa dan kebudayaan dari bangsa-bangsa tersebut. Kini setelah sekian lama mereka merdeka dan hidup dengan kebudayaan tinggi, kini mereka bergabung kembali dalam dalam satu Pergabungan Eropa (Eropa Union) - satu gabungan yang unik untuk abad ini. Mereka bukan bergabung seperti Republik Kesatuan Indonesia, dimana satu bangsa menjajah bangsa lain, dimana semua bahasa, sejarah dan budaya dihancurkan dan dipaksa menjadi satu bahasa, satu bendera, satu sejarah, satu budaya Indonesia. Hal ini tidak mungkin terjadi, buktinya berjuta manusia telah terkorban dan masih akan terus berlangsung. Eropa Union bukan gabungan Federasi, negara-negara yang bergabung tersebut adalah negara-negara yang berdaulat dan merdeka dan masing-masing mempunyai kursi di perwakilan Majlis PBB. Makin banyak kursi mereka di PBB maka makin banyak suara mereka. Gabungan mata uang mereka EURO kini telah mulai mengimbangi US Dollar. Eropa Union ini menurut hemat saya adalah model yang sangat up to date dan sangat sesuai bagi kita bangsa-bangsa di Indonesia ini. Indonesia nantinya akan menjadi paling kurang 10 negara, berdasarkan kepada sejarah bangsa-bangsa tersebut sebelum dijajah oleh Belanda. Dan ini tergantung kepada kesadaran dan keaktivan bangsa-bangsa itu dalam menentukan nasib dirnya sendiri (self determination). Kita bersama-sama harus saling bantu mambantu berdirinya bangsa-bangsa tersebut. Sepuluh Negara tersebut adalah sbb: 1. United Republic of Aceh Sumatra (Republik persatuan Aceh Sumatra) 2. Negara Pasundan 3. Negara Jawa 4. Negara Bali 5. Negara Sumbawa-Flores 6.Republik Persatuan Timor 7. Republik Federasi Maluku 8. Republik Persatuan Sulawesi 9.United Republic of Borneo 10. The Republic of West Papua Nama dan bentuk dari negara-negara ini hanyalah sebagai usulan, tergantung kepada kemauan dan aspirasi rakyat masing-masing, dan akan ditentukan kemnudian dengan musyawwarah dari bangsa-bangsa tersebut diatas. Setelah negara-negara ini terbentuk dan memperoleh kedudukannya masing-masing di United Nations, maka akan dibentuk pula satu Confederation diantara bangsa-bangsa tersebut, dalam bentuk pertahanan, ekonomi, dan apa yang dianggap perlu. Pada waktu itu kita akan mengajak kerja sama yang lebih luas dalam segi pertahanan dan ekonomi dengan bangsa-bangsa lain di Asia Tenggara. Stockholm, 31 Januari 1999 Dr Husaini Hasan ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 1 Feb 1999 jam 04:22:01 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
