----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

KOLOM Perwira Alengka.

Jurus Jurus Indah.
31 January 1999.
Jam 14.00 WBBI.

*****Kita baru saja menyaksikan beberapa jurus- jurus indah yang sangat
spectakuler.  Perwira Alengka teringat pada sebuah film saat Perwira
Alengka masih kecil dimana Zatoichi sedang berhadap-hadapan dengan Fuma
ninja dalam sebuah duel terakhir.  Keduanya  telah menghunus samurainya.
Pandangan mata lurus kedepan. Wajah keduanya dingin, tanpa ekspressi.
Semua hening. Para penonton dunia kang ouw pada  tekun menanti----.
Menunggu apa yang akan terjadi. Sampai mendadak tiba tiba----, wusss
wuss wusss, ewesss  ewessss  ewesssss----, Zatoichi membalik badan----,
berjalan tiga langkah kedepan memunggungi Fuma ninja dan kemudian dengan
patah patah---, menyarungkan samurainya.  Penonton kaget dan
menggrundel.  Apakah Zatoichi takut---, apakah Zatoichi pengecut----,
apakah Zatoichi penghianat yang berbalik pikiran mau menerima tawaran
uang damai dari Fuma ninja---., dan yang paling ekstrem adalah : apakah
Zatoichi itu sudah jadi opportunist----- tidak mau membela kebenaran
lagi ???!!!.

Namun sebelum analisa tersebut usai selesai, mendadak tubuh Fuma ninja
yang masih berdiri tegak----- terjatuh dan terpenggal---- dengan samurai
yang masih tergenggam erat di tangan.  Dan tiba tiba penonton terkesima.
Wah------, ternyata dahsyat benar. Nyaris kasad mata. Nyaris tak
terdengar.  Itulah Zatoichi---. Tokoh film laga yang sangat Perwira
Alengka kagumi sejak kecil.  ( hallo apa kabar Empu Supo )

Perwira Alengka tidak akan menyamakan Gus Dur dengan Zatoichi ----,
sampai tiba tiba kemarin Pak De Probo dan Mas Tommy mencak mencak dan
bilang tidak usah lagi ada kunjungan ke Cendana  dan Eyang Soeharto
bukan dalang semua peristiwa kerusuhan  , membuat Perwira Alengka
teringat dengan Zatoichi ini. Belum sempat rakyat Alengka ini selesai
menilai nilai atau mengira ngira apa yang Gus Dur lakukan-----, belum
lupa bagaimana itu Patih Sepuh Ahmad Tirto Sudiro keki dan bilang
killing ground segala---, belum lagi selesai semua hujadan pada Si Buta
dari Ciganjur ini----,  beliou sudah menyelesaikan sebuah jurusnya
dengan sangat indah. Jurus maut yang meninggalkan banyak korban , tanpa
disadari oleh mitra tanding dan penonton itu sendiri. Mereka baru sadar
beberapa hari kemudian setelah opini langsung berbalik sedemikian rupa,
sampai sampai Pak De Probo dan Mas Tommy pada blingsatan.  Mereka baru
tersadar ketika semua sudah terlambat. Indah sekali memang jurus ini.

Sampai--- kemudian mendadak Perwira Alengka juga teringat---,  bahwa
dalam silahturahmi di Cendana kemarin, Gus Dur juga memeluk Gogon dan
Egi.  Dan ini kembali membuat pikiran jadi menari nari.  Ini pelukan
maaf yang murni atau pelukan maut.  Ah ., semoga pelukan ini bukan
pelukan apa apa. Yang jelas---, Yorries yang nggak di peluk saja
langsung kena Aids, apalagi Egi Sujana dan Soemargono ini. Yang jelas
kalau Perwira Alengka jadi Gogon atau Egi, lebih baik tidak tidur tiga
hari tiga malam, memikirkan apa arti pelukan itu, dari pada tiba tiba
koit nanti---, kan repot. Dan indahnya, belum selesai Perwira Alengka
menganalisa arti pelukan tersebut, mendadak saja terdengar berita bahwa
beliou ini  akan  berangkat operasi mata ke Jerman dalam minggu ini.
Opo gak hebat rek.  Shedule back work planning nya sangat tepat waktu.
Saat semua korbannya sedang kelabakan disini untuk bikin klarifikasi
segala----- dan menangkis semua tuduhan, beliou sudah anteng tidur di
Deutchland.  Benar benar sebuah jurus yang indah.

Jurus lain yang tak kalah indahnya adalah jurus  lembut Timor Leste.
Ini jurus namanya jurus Tai Chi Chien----, jurus alap alap burung
kuntul.  Bila Timor Timur itu  dianeksasi, salah----, di lepas
salah----. Atau diberi otonomi seluas luasnya juga salah---, maka jurus
Tai Chi Chien  ini memang benar benar jurus yang sangat indah.  Jurus
ini bermain lemah lembut tanpa ambisi, tanpa emosi. Salah jika disebut
merajuk atau mutung. Orang sematang Ali Alatas, diplomat ulung----,
dibilang mutung yaa jelas salah dong. Kita semua kan bukan anak kecil.
Yang menilai mutung mungkin yang menulisnya sendiri. Habis dia bingung
juga menghadapi jurus ini.  Intergrasi Timor Timur itu dahulupun berkali
kali adalah seperti yang Perwira Alengka katakan---, lebih menguntungkan
negara tetangga, pihak allies dan polisi dunia dari pada Alengka
sendiri. Tetapi tak ada yang percaya--. Yaa sudah----, buka dan lepas
saja sekalian biar orang pada percaya.  Apaan mutung mutungan. Emangnya
gua pikirin.

Perwira Alengka senang dengan jurus tanpa ambisi dan tanpa wujud ini.
Inilah inti sari kehidupan. Kalamana selama  24 tahun TDA berambisi
menyatukan Timor Leste ini kepangkuan Ibu Pertiwi---, selama itu pulalah
tenaga tolak baliknya memukul. Sebaliknya kala mana  Alengka justru
ingin melepasnya  dengan pikiran  kosong,  justru sebaliknya yang
terjadi---, yaitu terjadi  daya lekat. Aneh memang jurus ini. Yang isi
itu kosong----, yang kosong itu isi. Apakah kemudian  Neo TDA akan marah
jika Timor Loro Sae lepas---- ?  Sama sekali tidak.  Apa untungnya
marah. Soal kerugian ribuan nyawa warga TDA yang terbuang cuma cuma
hanya untuk membela kepentingan negara tetangga dan pihak allies polisi
dunia adalah satu hal. Maromak hirus--- lain hal.  Yang kaum provokator
pro referendum salah hitung adalah----, Neo TDA saat ini hanya takut
pada polisi dunia----, tetapi ada satu hal lain yang mereka lupa
perhitungkan yaitu Mahapatih Wir lebih takut pada Maromak. Makanya---
dalam ke Takwaan nya kepada Maromak----, maka silahkanlah merdeka. Bagi
Neo TDA----, jelas satu beban telah terlepas. Dan ternyata masalah yang
sedemikian sulit untuk dipecahkan--- mendadak menjadi begitu mudah
ketika kita semua tidak memiliki ambisi apapun.  Sebuah jurus  indah
kebetulan yang spektakuler. Jika jurus ini merupakan sebuah mainan atas
permainan---, kita lihat saja siapa yang berhitung lima langkah--- siapa
yang berhitung sepuluh langkah dalam permainan ini.

Masih dalam konteks permainan atas permainan----, Perwira Alengka jadi
geli sendiri. Kalamana semua orang begitu worry untill the worry
worried us, ternyata hanya dengan bilang dalangnya ada di Ciganjur,
semua pemain jadi takut turun ke jalan dan Jakarta serta kota-kota besar
di Alengka ini relatif jadi  aman. Khususnya Jakarta sampai saat ini
masih damai damai  saja. Ha ha ha.  Patih Djadja Suparman harus bayar
mahal pada Si Buta dari Ciganjur itu. Cukup bilang tak usah diseret
seret, lalu bikin sensasi dialog empat, lalu kunjungan lebaran,
silaturahmi sekali lagi, langsung redalah situasi. Sayang sekali operasi
ludah yang sudah terlepas tak bisa ditarik kembali  sehingga tragedi
Ambon mesti tetap terjadi. Ini pelajaran pahit untuk petinggi Alengka
semua---, bahwa teknologi chaos yang sistemnya stelsel kebawah, setelah
diluncurkan---, tidak bisa ditarik kembali. Memang kadar safety dan
secret tinggi---, apalagi jika rantai komando beberapa lapis diatas di
hilangkan. Lenyaplah bukti----, lenyaplah saksi. Suatu metode hilang
jejak yang sangat baik--- dan sangat terahasiakan---, tetapi metode
stelsel begini sangat lemah dalam fungsi kontrol. Akibatnya----,
kebablasan. Untung Neo TDA tidak terlibat. Kalau nggak---- wah wah wah.
Lebih parah dosanya dari pada 14 May.

Dan---, si Buta dari Ciganjur mungkin versi  Pandita Gohkarna cuma
sekelompok pengamen  Topeng Monyet yang ketika giliran maen okay----,
giliran bagi bagi duit orang lain yang rebut. Memang kasihan juga.
Yaaah---- habis mau gimana lagi. Kalau mereka juga ngotot minta
jatah----, apa bedanya mereka dengan KDI. Bahkan sampai saat ini di KDI
sendiripun---- mereka juga nggak kebagian apa apa.  Aaah sudahlah
Pandita. Yang paling  menarik memang dalam permainan Topeng Monyet ini,
----- siapa ya jadi monyetnya . Ha ha ha ha.  Kasihan Eyang Soeharto,
masih tetap saja belum sadar akan peran antagonist nya dalam permainan
jurus jurus indah tersebut. Yang penting aman selamatlah Eyang. Neo TDA
pasti akan melindungi mu.

Begitu juga jurus indah rokade blokir Mahapatih Wir.  ( Perwira Alengka
tidak mau bicara soal Ambon dan Timor lagi, BOSAN !!!!!! Sebab semua itu
sudah pernah Perwira Alengka prediksikan dibeberapa tulisan yang lalu.
Perwira Alengka tidak ingin adanya pengulangan). Jurus indah rokade
model begini, akan membuat Supangkat cs  kesel,  keki dan bisa muntah
darah di New York. Perwira Alengka sudah hitung waktu dan hitung langkah
berulang ulang  , jurus ini memang indah. Kalaupun semua gemboran model
Pandita, Supangkat atau Proletar serta cantrik cantriknya main
generalisata di milis ini dengan menyudutkan citra Neo TDA, paling
pertahanan rokade blokir ini baru akan bobol setelah dua tahun.
Sementara Mahapatih Wir sudah menyiapkan mekanisme  fly by wire nya
yaitu sistem supir cadangan.

Jikapun kemudian supir cadangan ini juga terpuruk lagi, dan gagal----,
berarti itu adalah 5 tahun sejak saat ini ( sampai Pemilu Berikutnya
2003 ). Dan saat itu, generasi GM TDA lighting tahun 80 an yang lebih
moderat akan muncul.  Selanjutnya jika generasi tahun 80 an ini juga
gagal, maka generasi Perwira Alengka lah yang akan mengambil tongkat
estafet kelanjutan sejarah Neo TDA dan Neo Alengka ini.  Jadi ada empat
lapis cadangan safety system Neo TDA.  Tinggal kuat kuatan mental---kuat
kuatan stamina.  Kuat kuatan uang dan kuat kuatan prinsip.  Waktu dan
tempat akan menyelesaikan masalah Alengka ini dengan sendirinya.

Kemudian yang juga  menarik adalah jurus Ratih kemarin. Orang yang tidak
tahu dan tidak mengerti apa itu Ratih, justru  mainkan gemboran panas
sehingga atmosfer jadi hangat. Orang yang tidak tahu plus orang yang sok
tahu----, membuat kita semua tertawa geli.  Akhirnya semua toh sesuai
rencana dan berjalan mulus. Sebab undang undangnya Ratih memang ada dan
sejak dulu sudah kerap kali dilaksanakan. Hanya ketika disebut istilah
Ratih---, semua orang jadi bingung, mahluk baru macam apa Ratih itu----
dan semua lalu ikut ikutan komentar--- tanpa mengerti persoalannya.

Sebenarnya--- sebagai disinformasi---, yang paling penting bagi Neo TDA
dalam program Ratih ini  bukan jumlah Ratih yang akan di rekruit. Yang
paling ingin dilihat adalah bagaimana sebenarnya pendapat masyarakat
tentang citra Neo TDA.  Pendaftaran calon Kamra ini dijadikan sebuah
objek penelitian sekaligus sarana jajag pendapat langsung terhadap
masyarakat, untuk mengetahui opini masyarakat sebenarnya terhadap citra
Neo TDA.  Dari data primer para pelamar ini, Neo TDA akan melakukan
analisa univariat para calon Kamra berdasarkan kharakteristik nya,  dan
kemudian melihat bagaimana hubungan antara karakteristik pelamar ini
dengan citra Neo TDA ( bivariat ). Kami akan melakukan uji ulang kembali
apakah benar data dari banyak penelitian terdahulu yang menyatakan Neo
TDA sudah betul betul di tinggalkan oleh rakyat .?,  Dari data
pendaftaran calon Kamra inilah Neo TDA akan melakukan banyak penelitian
yang akan mengungkapkan kenyataan dilapangan yang sebenarnya.

Dan sampai  hari ini,  dari pendaftaran calon Kamra yang Perwira Alengka
pantau di seluruh kawasan Alengka---,  animo para pemuda untuk mendaftar
sangat tinggi. Bahkan ada yang berpendidikan S 1.  Ini benar benar di
luar dugaan.  Apa motivasi utama mereka. Bela negara ---, atau gaji yang
200 ribu rupiah plus pakaian. Atau motivasi pseudo lainnya.  Jadi indah
sekali jurus Ratih ini  bukan?. Jurus ini dinamakan Ratih agar menarik
perhatian  umum dan sesungguhnyalah sebutan Ratih itu dibuat untuk
mengalihkan perhatian.  Ini informasi yang sebenarnya terjadi---- hanya
para netters di milis ini saja yang bodo.  Sementara apa sasaran utama,
sasaran antara dan sasaran terkandungnya proyek ini, tidak ada yang tahu
kan.?  . Ah .. kasihan sekali.

Sementara kata kunci dari proyek ini adalah  :  bila dengan 200 ribu
rupiah sebulan----, seorang sarjana yang berpikiran taktis/ pragmatis
bisa di gaet jadi Kamra, maka bagaimana itu strategy money politics
dalam Pemilu,   provokator bayaran dalam kerusuhan , atau ninja sewaan
untuk pembunuhan. Berapa nilai nominal seorang manusia sarjana---, nilai
jual seorang tamatan SMA, atau SMP yang pengangguran untuk direkruit.
Neo TDA ingin mengetahui nilai jual orang perorang. Sementara semua
harga barang makin tinggi, disinyalir cuma harga oranglah yang semakin
turun. Berapa nilai jual orang perorang ini. Berapa akumulasi total dana
yang dibutuhkan untuk gerakan gerakan provokator yang terjadi selama
ini. Dari akumulasi data jumlah dana tersebut, maka dapat ditelusuri---
siapa saja figur figur ekstreem yang memiliki potensi broker jual beli
orang begini. Ini baru garis besarnya saja. Belum sub hypotesa lain yang
sangat banyak detailnya. Begitulah sekilas info yang dapat Perwira
sampaikan untuk Pandita, Supangkat, Proletar dan para netters lainnya
yang merasa diri pintar sendiri tetapi ---- ? (memang pintar sih pintar,
cuma----- kurang makan garam saja. Terlalu pede dengan boastingnya.
Sangat berbeda dengan Omar Khayam dll, yang membawakan pemikiran
pemikiran brilyan namun teduh---, seperti Empu Supo. Salam Sahrawian
untuk Omar.  Baca posting si Omar Khayam ini----, cukup menarik dan
bermutu )

Jurus yang indah dan menarik lainnya lagi adalah,  Siar sampai begitu
gampangnya kena disinformasi sehingga  sedemikian lama bisa terkecoh
terus menerus.  Sebagai bocoran, Perwira Alengka perlu menyampaikan
bahwa telah terjadi pembicaraan tingkat tinggi antara atasan si Mayor
Marinir ( namanya persis sama dengan nama jalan di depan sebrang sungai
Sekneg ) dengan atasan Perwira Alengka yang isinya adalah-----,
"Mahapatih Wir sepakat untuk meningkatkan  jumlah Marinir sampai 2000
orang pertahun selama 5 tahun berturut turut".  Sehingga kekuatan
Marinir nantinya diharapkan mampu memenuhi tuntutan tugas yaitu tuntutan
tugas satu divisi Marinir lengkap.

Sementara saat inikan baru dua brigade minus.  Dan corps Marinir ini
akan di jadikan warga kelas satu dalam unsur laut. Selama inikan cuma
mentok di bintang dua. Nanti bisa saja sampai bintang empat. Jadi kalau
ada yang bilang  Kostrad dan Kodam versus laut dan udara, ----- ha ha ha
ha.  Memang maunya kalian team provokator yaaa begitu--- adu domba.
Sementara semuanya telah kami selesaikan secara hukum adat  .., tidak
ada yang tahu bukan?.  Oh yaa, sebagai informasi lain----, untuk anggota
pasukan khusus, yang senior akan di rokir ke Kodam dan Kostrad, sesuai
prosedure yang biasa berlaku. Jumlahnya masih tetap, hanya kualitas
sikap mental yang ditingkatkan. Dan para prajurit yang kemarin masuk
ombyokan tanpa melalui prosedure tahun kemarin, akan ditatar ulang
dengan menanamkan doktrin baru Neo TDA dan sekaligus mereka  mendapatkan
hak sama seperti yang lainnya. Hebatkan informasi ini ?

Nah---- yang paling sulit ditebak justru adalah  akan dibawa kemana
akhir krisis Alengka ini.  Konflik selama ini barulah seputar masalah
SARA. Sementara potensi konflik yang ada bukan hanya SARA, tetapi sudah
berkembang menjadi konflik antar kelas/ class-society conflict, dan
konflik antara pendukung unitarian vs pendukung federalis.

Sejujurnya Perwira Alengka katakan, mau bentuk apapun Alengka ini---
bagi Neo TDA,  hal ini sama sekali tidak masalah. Jikapun Alengka jadi
negara federalis, juga tidak merubah sesuatu apapun bagi Neo TDA, sebab
kekuasaan pertahanan dan keamanan adalah lintas negara bagian.  Yang
kami khawatirkan adalah jika sistem federalis ini sampai kebalasan dan
lalu masing masing negara bagian akan merdeka sendiri sendiri. Kan
repot. Apalagi jika mereka mengundang  campur tangan kekuatan militer
asing. Kan runyam. Dan kemungkinan ini sangat besar.
Jika hal ini yang terjadi----- tanpa action plan yang terantisipasi----,
maka Neo TDA jelas pusing.  Tidak ada orang atau lembaga penelitian yang
mengantisipasi sampai sejauh ini.  Semua orang terlibat euphoria dengan
peran kecilnya masing masing yang merasa sudah sangat berjasa dalam
reformasi ini.  Padahal reformasi apa---- wong kaum provokator saat ini
lebih ngetop dari kaum reformist blantik itu sendiri. Dan
sesungguhnyalah nasib 200 juta rakyat Alengka ini tidak bisa ditentukan
oleh siapa yang paling sering mengirim posting di milis ini. Kualitas
bung---, bukan kuantitas.

Saat ini Perwira Alengka bicara tentang visi dan misi. Seyogyanya kita
satukan dulu visinya. Mau kemana kita. Baru kemudian kita dialog---,
bagaimana action plan untuk mensukseskan missi ini . Dan bagaimana
selanjutnya dengan Gizi nya. Visi dan missi boleh sama, tetapi kalau
gizinya berbeda----, yaa kasihan itu Timor dan NTT atau daerah miskin
lainnya. Dan masih soal gizi-----, dengan kekayaan alam yang
dimilikinya, apakah bisa di jamin Aceh,  Riaw, Bali, Kalimantan
Barat-Tengah, Sulawesi Tengah dan Utara, Irian Jaya  dll-----  tidak
akan merdeka sendiri ? Batak dan Sumatera Barat mungkin tidak, mengingat
kelompok ini adalah suku urban yang banyak tersebar di kota kota besar.
Tetapi bagaimana dengan  Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Atau
Dayak, Bugis , Madura dll. Belum ada penelitian sosial etnologinya----
bukan ?.  Dan kelemahan kaum intelektual di Alengka ini adalah sedikit
sekali yang mendalami bidang socio etnology ini. Sehingga untuk
mengetahui ciri kharakteristik dan pola pandang masing masing suku---,
kita semua harus berpandang balik pada artikel artikel asing yang sudah
kuno.  Siapa itu Clifford Geertz, Snouck Hurgronye, atau Raffles. Kenapa
kita harus merujuk mereka ?

Dan menurut pengamatan Perwira Alengka, tidak salah bila sebagian
netters mengatakan bahwa Muhammadiyah lebih intelek dari NU dan memang
kenyataan praktis dilapangan Muhammadiyah  begitu. Muhammadiyah  lebih
menguasai bidang praktisi  (S2 menejemen ). Tetapi tidak untuk  bidang
bidang pencarian dan analisa bentuk yang  filosofis social etnology
begini. ( Setara dengan S3 sosiologi dan psikologi / filsafat ). Justru
bidang yang sangat urgent dalam situasi Alengka ini, di kuasai oleh
orang NU. Jadi tidak heran dalam urusan cari mencari bentuk Neo Alengka
saat ini, orang NU yang lebih memegang kendali. Soal menjalankan praktek
ekonomi dan kenegaraan, mungkin bisa di negosiasikan nanti.

Orang NU sangat menguasai analisa bentuk model begini.  Bila bicara
dengan kaum sorban ini jangan kaget kalau tiba tiba mereka bisa bicara
soal Magna Charta sampai International Tribune bagi penjahat perang yang
baru akan dibentuk.  Jangan terkejut bila mereka mengerti Adam Smith
sampai matinya konsep ekonomi orthodoks.  Jangan bingung jika mereka
juga  menguasai konsep konsep tradisional jalan sutra & jalan rempah
rempah---, sampai saat ini ditengarai---, adanya jalan CIA, jalan State
Department maupun jalur Pentagon.  Mereka mengerti mithologi Yunani Kuno
mulai dari Kronos / kaum Titan, Zeus---, Apollo, plus dewa dewa
Olympus---, sampai saat ini mengetahui apa itu yang namanya  Matakin
atau Nichiren Soshu. Mereka tahu itu Europian Catholiks yang inkulturasi
sampai American Chirtians yang relatif radikal. Atau mereka mengerti Im
Yang Sinkang, Tai Chie Chien, Yang Khun Thai Lo Ie sampai  Thi Khi Ie
Beng yang sedot tenaga tambah kekuatan.  Atau tepatnya mengapa mereka
cendrung mempertahankan unitaris versus yang federalis. Dan jangan
salah---, mereka tahu betul siapa itu Zu Rong Qi dan Jiang Ze Min dan
bagaimana konsep Zu Rong Qi membabat korupsi di kalangan militer
Cina---, tanpa gebyah uyah  bakar rumah, bakar Chung Kuo. Ini yang perlu
di tiru dari kaum Nahdliyin ini.

Jadi jika otak cuma sepenggal---, maka janganlah si Buta ini hendak di
duga. Perwira Alengka sama sekali bukan orang NU. Bahkan----, secara
intelektual----, Perwira Alengka adalah figure perwira muda yang dulunya
sangat sombong dan pernah memandang sebelah mata pada kaum tradisional
begini----. Dalam arti luas--- bila Perwira Alengka berbicara dengan
orang yang tidak terpelajar---, yang  bicara selama lima menit tidak
nyambung----, maka ada saja cara dan alasan Perwira Alengka untuk
mengundurkan diri. Yang mau pipislah---, yang ke rumah teman lah---,
yang mau jemput Nyai lah----,  dan segala macam alasan lainnya.
Kesombongan intelektual yang pernah Perwira Alengka alami ini---,
membuat diri ini jadi merasa begitu tinggi dan rugi untuk bicara dengan
kaum mediocre---, yang cuma bisa boasting dan kombur semata. ( Untung
Tuhan telah menyelamatkan Perwira Alengka dari sifat sesat ini) Sampai
beberapa tahun yang lalu---, ketika Perwira Alengka bertemu dan
berdialog dengan itu  Tiangloo dari Tat Mo Tong yang bicara lintas
wacana, lintas ilmu, lintas religi, lintas taktik-lintas strategy juga
nan lintas waktu dan peradaban----, yang bukan hanya sekedar lintas
etnis atau lintas gender semata-----, barulah Perwira Alengka sadar ---,
bahwa dibalik gunung, masih ada gunung yang lebih tinggi. Di antara
dalamnya laut--- masih ada relung relung dalam yang tidak Perwira
Alengka ketahui.

Setelah itu barulah Perwira Alengka tahu arti  " Yang kosong itu isi---,
yang isi itu kosong".  Filosophie tertinggi dari sebuah pencarian.  Enam
buah wing dan lima buah pita jasa di dada ini, yang harus ditebus dengan
taruhan nyawa---, tetesan darah---, keringat dan air mata---, seolah
kini cuma menjadi sebuah simbol kebiadaban kosong semata. Tidak ada yang
bisa dibanggakan lagi---. Kini saatnya untuk bekerja dengan otak---,
hati dan nurani. Periode bekerja dengan otot dan insting primitif sudah
lewat. Mekanisme perkalahan Id dan super Ego.

Dan kini--- dalam usia yang relatif muda ini, Perwira Alengka mendadak
merasa tua---, males---, dan cendrung mawas diri.  Jadi tidak arogan---,
tidak ambisius---, dan tidak punya pengejaran lagi. Yang ada kini hanya
pencarian. Pencarian akan bentuk / jati diri yang semakin hari semakin
luas mendalam.  Paragraf ini dipersembahkan khusus untuk Proletar---
orang Padang yang rata rata cerdas dan punya massa depan yang cerah.
Selamat berjuang. Jangan buang waktu lama lama seperti yang Perwira
Alengka alami. Buka hati dan kosongkan diri.

Untuk LION---, coba belajar pada Pandita----, teknik analisis
masalah---, dan bagaimana teknik penyusunan visi yang benar. Sebagai
seorang penyunting---, tulisan anda sudah cukup baik. Tetapi kan cuma
sebuah pengulangan tulisan orang. Baca buku The Liang Gie tentang dasar
dasar disiplin ilmu terbitan September 1998. Penyuntingan dan
pengulangan itu yang bikin Proletar sewot pada anda. Perwira Alengka
percaya---, orang Cina itu cepat belajar. Dari mulai Alif Bata, kemudian
bisa menulis yang rapi--- walau cuma menyunting tulisan orang--- sudah
cukup baik. Tetapi orang Cina biasanyakan tidak akan puas sampai disitu.
Jangan malu maluin Cina. Kayak si Alun dan si Lius itu. Kalau Poernomo
agak lumayanlah---, ada juga bobotnya. Soal Lion akan tersinggung---?.
Orang Cina itu memang harus di singgung---, dipecut dan didera--- biar
sadar akan hak dan kewajibannya. Jangan nrimo saja lalu malah main NILA
di belakang. Bikin malu kaum Cina se Alengka. Yaa kan Lion ? ( Lion
pasti bilang yaaa---- habis takut di jarah sama Perwira Alengka--- ha ha
ha).

Hidup Neo Alengka.
Hidup Neo TDA.

Perwira Alengka.
Di
Neo Alengka.

NB : Untuk Empu Supo---, dengan segala kerendahan hati--- Perwira
Alengka ingin bertanya--- apakah Omar Khayam yang Sahrawian di milis ini
sama dengan Omar Kayam yang dulu dulu ?.  Beliou ini punya potensi luar
biasa untuk diajak dialog. Perwira Alengka suka dengan tutur katanya
yang halus, menyentuh jauh ke dalam.  Dan Sei Neil nya dia ini,  samakah
dengan dialog Homo Soloensis, Wajakensis dan peradaban hulu sungai
Citarum dan Brantas yang kita bicarakan itu ?.  Tak lupa salam juga
untuk Mayor Marinir dari Perwira Alengka. Alamat Perwira Alengka :
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Feb 1999 jam 05:07:34 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke