----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Arsip Seri V.
11 Juli 1998
Kolom Perwira Alengka.
Melting Pot dan Win Win Solution.

( Prolog : Tulisan di minggu I Juli 1998 ini adalah jawaban untuk Arief
Budiman dan GSJ nya yang saat itu melakukan seminar untuk merumuskan
action plan dalam upayanya menjatuhkan citra TDA. Tiga bulan kemudian,
yaitu bulan Oktober 1998, memang secara sistematis keluarlah angket
hasil penelitian beberapa lembaga yang menyatakan 70%-80% masyarakat
Alengka tidak mendukung TDA lagi. Suatu penelitian yang mungkin saja
titipan/pesanan. Tetapi tidak apalah. Penelitian itu justru adalah
kontribusi gratis bagi Mahapatih Wir untuk melakukan internal
consolidation. Jika Neo TDA yang meneliti sendiri, jangan jangan ini
adalah penelitian rekayasa oleh Neo TDA yang tidak sama dengan TDA lama.
Juga tulisan ini untuk menjawab Pandita dengan Analisa Kultur 6 nya yang
muncul pada saat bersamaan ).

Thursday, May the Fourteenth, World Cup dan Munaslub telah berlalu.
Perwira Alengka hampir kehabisan issue. Terpikir untuk menulis soal
strategic plan kedepan, update action plan serta after riot-services
nya. Sampai kemudian Gabungan Pandita Astina ( GSJ ) mengadakan diskusi
yang " Menyoal Dwi Fungsi Militer di Alengka" yang dimuat di milis ini,
9-7- 98 dengan kesimpulan yang menarik ( baca posting tersebut ). Tidur,
istirahat, kemudian bangun dan kemudian muncul Analisa Kultur Pandita 6.
Sehingga harus bongkar lagi tulisan yang sudah jadi, agar sekalian saja.

Untuk Bpk Arief Budiman dulu.
Ingat Arief Budiman, Perwira Alengka ingat adiknya " Sang Demonstran".
Buku itu sempat menjadi kitab pusaka / buku kuning Perwira Alengka dalam
penentuan prinsip dan jati diri. ( 15 tahun lalu ). Penghormatan pada
beliou adalah satu hal. Prinsip organisasi TDA lain hal. Selaku pribadi
saya hormat beliou. Selaku Perwira Alengka, bagian dari TDA yang ingin
dipaksa barakkan, Perwira Alengka punya hak bicara.

Ketika sadar, mengubah opini beliou ( Arief Budiman ) tidak mungkin,
maka demi terciptanya titik temu, Perwira Alengka yang masuk dan main
dalam perspektif nya. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, izinkan
Perwira Alengka melepas dulu ini pantalon, tanda pangkat, tanda jasa
serta wing wing dan atribut lainya, dan selanjutnya kita,  ( Perwira
Alengka dan Arief Budiman ) bicara selaku pribadi. Hanya bedanya, Areif
guru besar, Perwira Alengka cecereme.

Manakala unsur perasaan harus disingkirkan jauh jauh dari telaahan ilmu
ilmu sosial, sepertinya bapak telah membuat satu kesalahan. Kalau di TDA
namanya salah prosedure. Ada rantai yang hilang. Begitu saja bapak ujuk
ujuk langsung datang dengan sederetan tuduhan. Ada sekuens yang hilang.
Kalau dulu mungkin bisa dimeja hijaukan. Sekarang tidak lagi. Ini zaman
reformasi. Banyak hal benar lainnya yang harus "kita" bicarakan.

Tetapi sebenarnya ada "Kebenaran Kebenaran" lain yang justru lebih
penting dari kebenaran tentang tuduhan itu sendiri, yaitu tentang
kebenaran apa yang sebenarnya membuat Arief jadi begitu berani menggugat
dwi fungsi itu, membuat action plan sistematis untuk menghancurkannya,
dan Mahapatih Wir jadi takut meredamnya. Kebenaran apa itu?.

Kebenaran itu adalah : Yang pertama Mahapatih Wir takut pada Tuhan.
Kebenaran kedua adalah Mahapatih Wir takut pada polisi dunia. Kebenaran
hanya dua itu saja. Jadi jika bapak tahu kebenaran yang hakiki ini, dan
sekarang mau tampil sebagai reformis dengan cara membarakkan kami ( GM
TDA ), tanpa itupun bapak sebenarnya sudah kami anggap reformis. Baiknya
TDA itu tidak perlu dimusuhi. Sebenarnya TDA juga tahu diri. TDA
mengerti maunya dunia. TDA mengerti trend dan update issue global.
Cantrik cantrik Uncle Billy juga sudah beri tanda agar "be smart" lah.
Zaman sudah berobah... This is the time for civilian. Makanya Patih Wir
dengan elegance sekali, bak negarawan kawakan... ,tanpa ambisi.., penuh
percaya diri... , mengatur semuanya. ( saat itu lhoo --- ! )

Ingat kronologisnya. Ini cuma point point agar tidak terjadi
pengulangan. Dalam tempo 2 jam gedung rakyat ( DPR ) bisa dibersihkan,
hanya 6 jam pasca konsolidasi internal. Atau balik  ke belakang, pada
tanggal 21 May 98, Sabda Pandita Ratu Mahapatih Wir...., selamatkan Capo
lama...., selamatlah Capo lama. Sabda Pandita Ratu Mahapatih Wir untuk
dukung Capo baru....., terdukunglah Capo baru. Kemudian Sabda Pandita
Ratu lagi Mahapatih Wir agar Sidang Istimewa minta dipercepat....,
dipercepatlah sidang itu. Dan terakhir kemarin, Sabda Pandita Ratulah
Patih Wir, bahwa kekuatan lama agar tidak hadir dalam partai baru (
Munaslub )..., maka hilanglah kekuatan lama itu. So.... apa artinya?.

Artinya..., kalau Patih Wir itu mau dadi ratu...., singgasanalah ia. Mau
manten...., mantenlah ia. Tetapi ternyata beliou itu masih takut Tuhan,
takut dunia. Beliou masih takut pada hukum hukum universal dan polisi
dunia. Beliou khawatir rakyat Alengka yang sudah sangat- sangat
menderita karena krismon ini, diperberat dengan embargo jagad raya,
karena manuver Mahapatih Wir dan junta. Kecuali rakyat memang betul
betul memaksa meminta.

Bila kemudian bapak muncul dengan paper kerja, action plan atau
segalanya, untuk membarakkan TDA, apa tidak salah. Apa gunanya. Toh para
Patih sudah menyiapkan. Kemudian lagi, kami sebagai objek pembarakan
perlu diajak bicara dong. Jangan langsung main barakkan saja. Mana HAM
nya. Jangan kesalahan yang pernah kami lakukan dalam mendukung Kedung
Ombo dan kasus kasus lainnya, justru dilakukan lagi oleh Arif cs. Sisi
lain, kami sendiri sadar cepat atau lambat akan kembali ke barak.

Malah sejak sepuluh tahun yang lalu semuanya sudah disiapkan. SMA
Nusantara disiapkan demi buffer stock dan kontinuitas penyediaan bibit
unggul Alengka. Program rekruitmen perwira militer wajib / sukarela
(Sepawilwa / Sepasuk ) dari kalangan pandita di padepokan padepokan
ngelmu juga sudah. Kemudian sekolahin para perwira ngelmu di padepokan
terbuka maupun tertutup ( S2 ) juga sudah.

Tujuannya untuk masa transisi. Agar selama masa transisi yang belum tahu
kapan, ada demarkasi periode dimana TDA dan civilian bekerja bahu
membahu. Jika Dwi Fungsi bertahan ( tepatnya dipertahankan ).... itu
adalah equilibrium idealis antara demand dan suplly masyarakat terhadap
SDM TDA. Apakah kami kualified atau tidak, tergantung kualitas diri kami
sendiri. Begitupun,walau kami sudah antisipasi menyiapkan nisan kami,
tetap saja tidak mungkin kami mengubur diri kami sendiri. Karena itu
bila rakyat Alengka akhirnya yang harus mengubur diri kami, kami mohon
berilah kami waktu agar nisan itu dapat di tulis dengan selayaknya. Bila
mungkin dengan tinta emas. (Kemudian Pandita marah dengan permintaan ini
).

Begitupun, sebelum menguburkan kami, mintalah dulu izin pada Paman Sam
dan para pimpinan TDA. Mereka okay, Para Patih Okay, maka GM TDA okay.
Dengan catatan nisan itu harus bertinta emas. Bukan dikubur dalam gelap,
jadi patung patung terracotta yang dikuburkan di makam raja raja. That
what`s Perwira Alengka strugling for.

Bila menyimak perintah perintah harian pimpinan TDA, tiada Maha Patih
yang tidak mencantumkan ilmu pengetahuan, teknologi dan perkembangan
dunia dalam perintah hariannya. Berarti withdrawal plan ini sudah
disiapkan lama sekali. TDA mundur setengah ..., civilian maju setengah..
bertemu di melting point. Pada saat TDA membuka diri mempelajari
management modern civilian ( segala bidang manajemen ), demikian juga
hendaknya agar Arief sebagai Guru Besar dapat menyarankan agar santri
santrinya juga ngelmu di padepokan Neo TDA  tentang disiplin organisasi,
loyalitas, persatuan dan kesatuan bangsa. Banyak eksekutif bisnis sudah
melakukannya dan mereka memperoleh sesuatu. Take and give, kita bertemu
di tengah di Melting Pot. Win win solution. Jika main dengan konsep
Arief Budiman... bingung juga Perwira Alengka. Soal partai militer
lupakanlah. Analis bapak akan bias nanti. Itu beringin ( GOLKAR ) saja
TDA tidak mau apalagi bikin baru. ( Neo IPKI ? )

Bukti lain dari perlunya take and give ini adalah, hanya di Alengka
inilah konsolidasi internal TDA diselesaikan 6 jam tanpa setetes darah
pun, dimana panglima unsur strategis dan pasukan khusus di tukar guling.
Suatu bukti tentang disiplin organisasi, loyalitas dan dedikasi. ( Tidak
ada Honasan de gringo, tidak ada the Brabados ). Jika para netters tetap
menuntut hutang hutang lama TDA, dan ingin kami buka baju semuanya,....
perhitungkanlah berapa banyak ibu ibu TDA yang tidak tahu apa apa akan
menjadi widows, dan berapa banyak teror yang akan rakyat Alengka alami,
sebelum semua buka bukaan itu selesai. ( Perang saudara intern TDA ).
Jangan paksakan Total Win or Total Lost dalam mencari solusi internal
TDA. Jika para netters tetap memaksakan, Perwira Alengka akan buka juga.
Biar kita semua mikir. ( Tapi kelemahan Mahapatih Wir adalah mau mikul
dhuwur mendem jero, dan siap cuci gudang. Dan kelemahan inilah yang
dimanfaatkan terus oleh kaum politisi anti TDA untuk menekan Neo TDA,
dimana Neo TDA harus mempertanggung jawabkan dosa lama. Harapannya TDA
pecah, dan mereka tertawa--- taktik kuno. )

Sekarang giliran Pandita Gohkarna.
Pandita memandang Alengka dari setting superlative, naik keatas langit,
dengan satelit memotret seluruh Alengka, lalu membuat batasan batasan,
analisis analisis dan mengelompokkan apa saja sesuai subjektifitas
Pandita yang sebenarnya batasan batasan ini di Alengka sendiripun belum
tentu ada. ( Saya belum pernah menentang anda. Tetapi untuk ini...
harus. Dalam kejujuran moral dan intelektual kita bicara).

Sayang sekali seorang cendekiawan seperti Pandita yang memiliki akses
satelit tetapi melihat Alengka hanya invitro, tanpa menganalisa
eksternal factornya pada tunnel waktu yang bersamaan, dan selanjutnya
dengan analisa high tech regional - international Pandita, kenapa tidak
coba melihat peran TDA dengan lebih netral lagi. Jika potret regional -
international saat itu digunakan untuk menjelaskan andil TDA atas
berintergrasinya tanah putra Maromak ini, ( Tim Tim ), rakyat Alengka
akan lebih mengerti siapa yang sebenarnya lebih berkepentingan dalam
proses intergrasi ini. Alengka atau negara tetangga plus Barat.

Pasca jatuhnya Pnomphenh, Cambodia, Laos dan lain lain serta teori
domino adalah frame of thinking wajib dalam menganalisa situasi saat
itu. Antisipasi untuk mencegah timbulnya pangkalan Blok Timur di ujung
timur Alengka itu, adalah kekonyolan paling besar yang akhirnya menjerat
TDA secara berkepanjangan, sementara pihak pihak allies yang dulu
berkepentingan,  meninggalkan TDA seperti Bimbi yang terpojok pucat
pasi, menanti di lorong sepi. Apalagi ketika mereka metamorfose menjadi
Front Rakyat Demokratik yang didukung jagad raya, TDA kehilangan
segalanya. Satu lepas...., semua akan lepas. Oh... Alengka, mozaik
mozaik itu kini berserakan. ( kita bahas lain kali )

Selanjutnya, kata siap, mohon izin  adalah kata sandi, untuk ganti kata
asked atau wish yang kadang kadang juga bisa berarti order. Prokem ini
tentu tidak dimengerti Pandita Gohkarna. Kata ini perwira gunakan
sebagai positioning diri, sebab ada yang mengatakan bahwa Perwira
Alengka adalah seorang purnawirawan Patih. Terima kasih. Amin. Dengan
basic intelligence screening system paling sederhanapun, siapa Perwira
Alengka ini sebenarnya , dalam sepuluh menit saja sudah akan
tereliminir. Jelas Perwira Alengka saat ini sedang di amati, karena apa
yang Perwira Alengka tulis disini sebenarnya sudah terlalu jauh melewati
wewenang seorang Perwira Muda / Perwira Pertama Alengka. Begitupun for
the sake of this nation, for the sake of TDA, Perwira Alengka akan
commit. Perwira Alengka tidak perlu memikirkan segala resikonya. Perwira
Alengka percaya para Patih di Alengka ini sangat bijaksana.

Karena itu, untuk jelasnya persoalan, kita buka saja apa adanya. TDA
adalah organisasi plural yang solid sesuai ajaran agama dan
pengejarannya masing masing. Ada yang kaum humanis ada yang religius,
ada yang sekuler, ada yang pragmatis dll. Tetapi dalam Sapta Silanya,
semua menganggap sonata sakral kejujuran, kebenaran, dan keadilan
sebagai pilar utama. Dalam doktrin doktrin Sapta Sila ini,  ada yang
menjunjung tinggi humanisme ( kaum humanis ) Ada yang melihat
ketimpangan di lapangan dalam kaca mata nyata ( militeris ) dan ada juga
kelompok lain yang main selamat. Kaum humanis disatu pihak selain takut
pada Tuhan, juga takut pada hukum universal dan polisi dunia. Sementara
itu pihak lain juga jelas takut pada Tuhan tetapi lebih militeris,
dengan assumsi polisi dunia bisa diatur kemudian. ( Ini kesalahan
fatal--- dan inilah dasar kekuatan Neo TDA )

Jika kaum humanis ingin tiga pilar yaitu kejujuran, kebenaran dan
keadilan berdiri sama tinggi, kelompok militeris ingin unsur keadilan
lebih dulu bagi rakyat Alengka, baru kemudian yang lain ditata
menyusul. Inilah awal anomali itu. Menurut kelompok ini sudah terlalu
lama rakyat Alengka diperlakukan tidak adil. Bila dalam menjalankan
keadilan ini, sementara kejujuran dan kebenaran sedikit agak diabaikan,
biarlah dahulu. Nanti bisa diperbaiki kemudian. Group ini mungkin juga
merasa bahwa juga merupakan bagian dari kebenaran, juga punya hati
nurani,  juga manusiawi sebab juga memperjuangkan keadilan versi mereka.

Dan jika kita baca Zun Tzu, inilah kelemahan utama kelompok ini. Karena
dalam kelompok ini masih ada yang tidak tega. ( si Bambang Kristiono cs
itu ). Ada yang masih berbaik hati dan masih punya rasa iba. Akhirnya,
dalam kaca mata revolusi, mainnya tanggung tanggung. Jika mereka bermain
total,( maaf--- Perwira Alengka mungkin salah... ) sekalian saja lupakan
semua kejujuran kebenaran dan keadilan, maka tidak ada orang hilang yang
bisa muncul kembali untuk bersaksi. Dan inilah sebenarnya inti kelemahan
itu. Kelemahan mereka adalah : anomali keyakinan, adanya  unsur baik,
dan jumlah mereka yang hanya 20 oknum. Jadi kecil sekali. ( Yaa Alloh,
masihkah Perwira Alengka seorang The jolly good fellow from Tidar, jika
hatzai artikelen/ berita palsu seperti ini masih saya tulis demi
sejuknya Alengka tercinta ini. Maafkanlah hamba Mu ini yaa Allloh jika
hamba Mu ini telah berbuat dosa.)

Karena itu, selaku GM TDA Perwira Muda Alengka ingin semua caci maki
pada TDA cukup sampai disini. Perwira Alengka dengan tegas mengatakan
tidak ada TDA nano nano, TDA Merah Putih, Hijau, Kuning atau abu abu.
TDA hanya satu. Mau asam pedas, manis asin, pahit atau hambar semua
adalah TDA. Hanya satu TDA yaitu Neo TDA.

Simplikasi analisis yang menggolongkan seseorang karena dia menyerang
atau tidak menyerang seseorang, memang streotype pemikir Alengka.
Pandita Gohkarna dikatakan Mohtar Pakpahan membuat Pandita jadi lucu.
Mohtar belum tentu membaca Aufklarung, renaisance, revolusi Bastile, Max
Weber sampai Keynesians. Sam kok juga mungkin dia nggak hafal. Mungkin
beliou cuma baca Lenin minus Marx yang jadi Maos. Jadi untuk di compare
dengan Pandita Gohkarna jauhlah. Karena itu para netters, sebenarnyalah
kita berbicara dengan seseorang Pandita yang lebih canggih dari sekedar
nekad.

( Tambahan saat ini- 30/1/1999 : Insting primitif Perwira Alengka
mendadak timbul. Jika target operasi/TO Tim Mawar saat itu adalah
Pandita Gohkarna ini, rasanya masih impaslah untuk resiko copot pangkat,
copot jabatan, bubar satuan. Tetapi melihat apa yang mereka lakukan ---,
dimana  sasaran utamanya adalah Andi Arief cs,  ahhh---- blunder  !!!!!.
Rugi besar-----!. Tidak imbang antara resiko dengan hasil. Ahhh....
mungkin memang nasibnya Andi Arief agar jadi terkenal dan Kopassus jadi
apes.... entahlah. Kemudian Perwira Alengka mendadak tersadar dari
insting primitifnya ----- dan Yaa Tuhan jauhkanlah hamba Mu ini dari
pikiran sesat. Kami tidak membenarkan segala culik dan bunuh itu!
Istigfar......)

Karena itu Perwira Alengka mohon, untuk selanjutnya jangan rancukan Neo
TDA dengan racun maut adanya TDA nano nano. Perwira Alengka dan GM TDA
umumnya sangat respect dengan Mahapatih Wir, selain sebagai pimpinan
kami beliou juga tenang, tidak gumunan, tidak kagetan, kharismatik dan
punya tulang baik. GM TDA juga sangat bangga dengan Patih Bambang yang
sangat luas-mendalam, berwibawa, ensiklopedi berjalan, bersih KKN,
pintar, penuh leadership. Perwira Alengka juga sangat terkesan dengan
Patih Pbw ( saat tulisan ini dilaunching masih Patih, sekarang sudah
mantan patih ), semangatnya,kecerdasannya, dedikasi, pengorbanan----
baik tenaga, waktu, pikiran dan uang tidak perlu di ragukan. Patih Agum,
yang reformis berani bilang yang benar. Patih Djamari Ch yang bersih,
lurus dan lempeng. Patih Djadja Spr yang jago politik praktis dan
manuver lapangan. Patih Safrie. S yang smart, the best, ganteng dan
simpati dimata ibu ibu. Juga Patih Ryamizard R, yang kharismatik,
bergerak lurus seperti buldozer menabrak yang salah.

Segala yang baik dari para Patih ini kami ambil, yang buruk kan kami
lupakan. Walau Kultur 6 Pandita, telah menempatkan TDA dalam kotak kotak
sempit bahwa di luar Kita, adalah DIA, KAMU, MEREKA atau Kelompoknya.
Atau segala yang bukan Teman berarti Lawan. Semua itu GM TDA katakan
tidak benar. Tidak benar bila yang marah marah pada patih Wir dan tidak
bela Patih lain adalah opportunist. Kan ... prematur sekali. Jadi dari
pada mikirin itu lebih baik kita berdoa saja for thr sake of this
nation. Kapan yaaa IMF kencingin duit.

NB:
Minggu depan Perwira Alengka bicara soal Han.

Perwira Alengka
di
Neo Alengka.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Feb 1999 jam 05:07:09 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke