---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- KOLOM SUPANGKAT: PENDIDIDKAN NASIONAL "RUBBISH", KALAH OLEH INDIA, FILIPINA, DLL "Maverick Boy" dari [EMAIL PROTECTED] menulis bahwa pendidikan nasional kita adalah sampah (rubbish) karena hasilnya yang rubbish. Saya setuju sekali dan sebenarnya sejak lama saya tulis dalam harian Berita Buana tentang keter- belakangan pendidikan kita katimbang bangsa bangsa lain seperti: India, Filipina, dll yang saya melihat dengan matakepala sendiri hasilnya di Amerika. Orang orang Filipina rata rata pandai bahasa Inggeris walaupun "bengkok beng- kok" dan mereka ternyata bisa bekerja di lapangan apa saja, baik bidangnya mau- pun bukan bidangnya di Amerika ini. Mulai dari jururawat sampai dokter mereka memenuhi klinik klinik dan hospital hospital, menjadi sekertares dikantor kantor. PTRI (Indonesian Mission to the UN) penuh dengan sekertares Filipina, bahkan semua sekertaris Duta Besar adalah orang Filipina sejak puluhan tahun y.l. Kon- sulat Jendralpun banyak menghire orang Filipina. Mereka semua bisa bekerja, bisa dipercaya bukan sekedar lancar berbahasa Inggeris saja. Sebelum Krismon, PTRI sudah menjadi penampungan orang Indonesia, baik yang "titipan" maupun bukan titipan yang kerjanya luntang lantung main kartu domino. Tapi orang Filipina kerja serius dan cakap. Yang lebih mencolok mata adalah orang India yang memborong posisi posisi pen- ting, mulai dari dokter dokter di RSU, klinik, Guru Besar di Universitas besar, Pe- neliti di Laboratorium besar, di NASA, insinyur insinyur, computer programmer yang di Amerika sendiri setengah mati bisa diraih, "diborong" oleh orang India karena mereka mau digaji minimum daripada orang Amerika lainnya yang "sok" jual mahal. Dari fenomena itu saja saya sudah bisa menarik kesimpulan. Dan memang sejak lama saya tahu sistem pendidikan nasional kita mulai dari SD sampai PT belum mencapai taraf internasional seperti Filipina, India. Mungkin bahasa Inggeris memegang peranan utama. Namun yang menjadi berha- la utama dalam sistem pendidikan kita adalah biaya. Di India merdeka sekolah gratis mulai dari SD sampai PT. Di Indonesia cuma SD yang gratis, dari SMP ke PT harus bayar, dan bayar mahal pula dengan berbagai macam peraturan sedangkan penghasilan per kapita kita masih rendah sekali sehingga memicu korupsi bagi orang tua yang ingin menye- kolahkan anaknya. Namun hasilnya seperti kata Maverick adalah "rubbish". Ma'af saya tidak mau menghina para lulusan sekolah kita, hanya ingin membuat "statement of the facts", menyatakan fakta yang saya anggap benar dan demi perbaikan. Sistem pendidikan "mata duitan" tidak akan menghasilkan taraf internasional seperti di Filipina dan India. Sistem pendidikan kita rubbish karena selalu ditunggangi politik, mulai dari SD dan lebih lebih kalau sudah sampai di Perguruan Tinggi, politik adalah panglima. Ada beberapa Guru Besar yang bermutu tinggi yang tidak mematuhi politik peme- rintah yang menerapkan "Pavlovisme" untuk mendominasi jiwa para mahasiswa seperti a.l. Sarbini, Dorojatun yang malah memberontak, dll. Namun hal itu tidak memadai kebutuhan nasional. Pendidikan kita harus dibebaskan sebagai kuda tunggangan pemerintah umum- nya dan sisa sisa fasis militerisme seperti upacara upacaraan, dsb. dan last but not least: bebas dari sistem paksaan, sistem kekangan, sistem hukuman, sis- tem otoriterianisme guru! Kemudian harus dibebaskan dari biaya. Kemerdekaan kita harus diisi dengan pendidikan gratis sampai ke PT seperti di India, dll. Barulah kita bisa bicara tentang peningkatan mutunya yang membutuhkan biaya mahabesar dari AB pemerintah. H.S. Hidayat Supangkat New York. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 1 Feb 1999 jam 14:49:46 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
