---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- From: Dicky Watimena SiaR dalam beberapa kesempatan melakukan disinformasi mengenai kasus Ambon, khususnya dengan hanya memfokuskan kasus Ambon dengan keterlibatan orang-orang pro-Suharto. Entah bagaimana logika berfikirnya sehingga SiaR menyimpulkan bahwa dalang kasus Ambon adalah orang-orang Suharto yang dulu pernah mengkoordinir Pam-Swakarsa, sehingga selain Yorries disebut pula keterlibatan Ongen Sangaji, tokoh Ambon di-Jakarta yang kebetulan beragama Islam. Keterlibatan sebagian orang Islam dalam Pam-Swakarsa memang tidak terbantahkan, namun itu didorong oleh adanya niat dari orang-orang tertentu yang takut akan pelaksanaan PEMILU untuk menggagalkan Sidang Umum MPR. Seseorang yang terlibat dalam Pam-Swakarsa memang menerima imbalan materi dan konsumsi sekedarnya. Tetapi imbalan yang dimaksud bukan motivator utama, yang lebih penting adalah Islam tetap berkibar sewajarnya sesuai dengan azas proporsionalitas. Keterlibatan orang Islam seperti Ongen Sangaji sebagai dalang kasus Ambon sangat tidak logis, karena fihak terserang pada kasus Ambon adalah umat Islam yang sedang merayakan Iedul-Fitri sehingga sama sekali tidak siap, disamping itu Ongen juga masih orang tua yang tinggal di-salah satu kampung Islam yang terserang (Waihong). Lebih logis, jika disebut dalang kasus Ambon adalah orang Ambon Kristen termasuk dengan idenya untuk menghidupkan kembali RMS (Republik Maluku Sarani bukan Republik Maluku Selatan, karena Maluku Selatan sendiri sebenarnya tidak ada). Jelas orang Sarani/Kristen akan menyangkal keras, bak maling yang tertangkap basahpun akan mungkir. Orang Ambon Kristen secara alami minimal simpatisan RMS. Ide separatisme tumbuh subur dan didorong oleh Islam Phobia, padahal didengung-dengungkan saat Islam menguasai MPR nanti, Indonesia akan menjadi negara Islam dan kaum minoritas akan tertindas. Orang Kristen tentu sudah merencanakan dan mempersiapkan diri, seperti pindah rumah, mengasah parang, membuat panah api/beracun dan bom molotov yang jelas perlu waktu. Jelas-jelas menurut Gus Dur, kasus Ambon disebabkan oleh preman-preman yang pulang ke-Ambon (Milton dkk) marah mendapati beberapa perubahan seperti makin banyaknya jabatan di-Pemda diduduki oleh orang Islam. Orang Ambon Kristen khususnya sangat marah mendapati kenyataan bahwa Ketua BAPEDA Maluku diduduki oleh orang Buton, padahal orang Buton di-Ambon telah distreotypekan sebagai orang rendahan, seperti tukang becak dan buruh kasar. Orang Ambon Kristen yang sangat dimanjakan dan mendapat kesempatan (termasuk pendidikan) yang lebih baik di-jaman Belanda, sekarang mendapat kenyataan bahwa orang Islam, baik asli Ambon maupun pendatang lebih maju, yaitu dengan kedudukannya di-Pemda dan kemampuan dalam menunaikan ibadah haji. Memang setelah kemerdekaan orang Islam di-maluku lebih rajin mengejar ketinggalannya selama ini, sedang orang Kristennya yang terbiasa dimanja malas2an dan gengsinya tinggi (pekerjaan kasar nggak mau), akhirnya kebanyakan jadi pegawai negeri, preman, sopir angkot atau penyanyi. Operator kerusuhan di-Ambon diperlengkapi dengan HT seperti terlihat pada Japie Sainima, sedangkan salah satu dalang lokalnya adalah mantan walikota, Kolonel (Purn) Dicky Watimena yang diduga masih memiliki senjata api dan menggunakan untuk menembak orang Islam. Selama kerusuhan orang Kristen menunjukkan kebencian yang amat mendalam terhadap orang Islam, seperti membunuh dengan membelah dada, merobek perut wanita hamil dan mencabik-cabik calon bayi serta membunuh satu keluarga perantau dari Minang (6 orang termasuk anak-anak)yang konon masih keluarga dengan pak Darsjah/Dirjen Anggaran. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 2 Feb 1999 jam 09:26:40 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
