---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- Pemilu Satu-satunya Jalan Rekonsiliasi JAKARTA (Media): Presiden BJ Habibie mengatakan, satu-satunya jalan untuk melakukan rekonsiliasi nasional adalah melalui pemilu yang jurdil, transparan, terbuka, dan diawasi oleh siapa saja, khususnya tokoh masyarakat, pemuda, mahasiswa, dan orsospol peserta pemilu. "Ide rekonsiliasi nasional atau dialog nasional itu merupakan iktikad yang baik, tetapi pelaksanaannya sulit terutama untuk menentukan siapa yang berdialog atas nama rakyat," kata Presiden saat menerima anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin. Menurut Presiden, walau mungkin diundang 100 tokoh namun belum tentu mencerminkan rakyat. Karena itu, tegas Presiden, satu-satunya jalan untuk rekonsiliasi nasional adalah melalui pemilu. Presiden mengatakan, dari 103 partai politik, terserah siapa yang memenuhi kriteria untuk mengikuti pemilu, sebab merekalah yang sah melakukan dialog melalui rekonsiliasi dan melaksanakan Tap MPR. "Termasuk memilih presiden dan wakil presiden," katanya. Sebab itu, Presiden meminta agar persatuan dan kesatuan bangsa dipelihara. "Dalam empat bulan ini, kita harus menyiapkan pemilu yang berkualitas tinggi yaitu jurdil, transparan, dan bersih." Mengenai pemilu yang jurdil itu, Presiden meminta agar diberikan informasi yang jelas dan tepat kepada rakyat. "Tidak ada gunanya pemilu jurdil tetapi informasi yang diberikan kepada rakyat tidak jurdil dan tidak benar," tutur Presiden. Jadi, kata Presiden, tidak hanya sekadar melaksanakan pemilu tetapi pelaksanaan dan informasinya juga harus jurdil. Untuk itu, Presiden mengajak tokoh-tokoh masyarakat dan media massa berlomba-lomba memberi informasi yang jurdil, bersih, transparan, dan tidak merugikan rakyat. "Janganlah rakyat dijadikan kelinci percobaan," tandas Presiden. Presiden mengatakan di saat perekonomian global baik secara makro seperti penyatuan mata uang Eropa (euro) dan mikro seperti penyatuan perusahaan besar di negara-negara maju melakukan konsolidasi, bangsa Indonesia masih mempermasalahkan hal-hal yang tidak prinsipil dan tidak bersikap profesional. "Bangsa Indonesia harus bangkit mengejar ketertinggalannya dengan belajar dari kesalahan-kesalahan selama ini." Menanggapi tentang status quo, Presiden mengatakan bahwa semua yang ada adalah hasil perjuangan bangsa selama 53 tahun. "Tidak ada dalam kehidupan masyarakat status quo itu. Yang ada adalah kehidupan yang terus berkembang secara dinamis tetapi tetap setia pada dasar-dasar kehidupan yang telah diletakkan bersama dalam UUD '45, tradisi, dan budaya," kata Presiden. (Rid/P-2) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 2 Feb 1999 jam 09:29:13 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
