----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

"Musuh Bersama Itu Sudah Tak Ada Lagi"

Budayawan yang juga pengajar di STF Driyarkara, Mudji Soetrisno
menilai bahwa yang kerusuhan terjadi di Ambon karena rakyat
mengalami krisis kepercayaan. Selain rakyat krisis kepercayaan
pada kepemimpinan nasional, kredibilitas pemerintah juga mulai
diragukan.

Dihubungi di kantornya kemarin, Mudji juga mengungkapkan
bahwa kondisi krisis ini semakin parah karena di dalam kedua krisis
itu, rakyat sendiri mengalami krisis. Yaitu: krisis identitas.
Dimana rakyat sulit percaya pada orang lain. Rakyat cenderung
semakin percaya pada dirinya sendiri.

Dalam pengamatan Mudji, ketiga krisis yang tengah melanda rakyat
Indonesia sekarang ini tidak bisa hanya diselesaikan dengan
pendekatan budaya atau agama saja. Inti dari permasalahan yang
sesungguhnya, harus menjadi prioritas untuk diselesaikan.

"Kita akhirnya menjadi terbiasa dengan penyelesaian budaya dan
agama. Selama ini, kita seolah mengindahkan cara-cara budaya atau
agama. Tapi, ketika krisis ini bendar-benar terjadi, kita baru
melirik kedua cara itu," katanya.

"Ini bukan terlambat. Tapi membuktikan bahwa kedua cara itu memang
diperlukan. Tapi ibaratnya orang sakit kanker. Budaya itu
hanya untuk menahan agar sakit tidak menyerang atau menyebar.
Tapi untuk membebaskan dari penyakit itu, ya harus dituntaskan sampai
ke akarnya," jelasnya lagi.

Mudji juga melihat, salah satu penyebab berkembangya konflik
horizontal ini karena tidak adanya kesatuan lagi di dalam diri
masyarakat. Menurutnya, rakyat saat ini berada di dalam kondisi
yang 'berkeping-keping'. Antara yang satu dengan yang lain, saling
terpisah.

Hal ini terjadi karena rakyat tidak mempunyai 'musuh bersama'.
Inilah kenyataan yang seharusnya disadari oleh para tokoh masyarakat
yang ingin mengadakan perubahan dan perbaikan di negeri ini.

"Setelah Soeharto lengser, musuh bersama itu sudah tidak ada lagi.
Dan ini yang mengakibatkan rakyat terpecah. Apalagi, performa
pemerintahan transisi ini banyak mengundang rasa kurang simpati
rakyat. Terutama, ketika pemerintahan ini tidak menunjukkan niatan
serius untuk melakukan perubahan kesejahteraan rakyat," tegasnya.

Sebagai misal, Mudji menunjuk pada permohonan maaf Golkar yang
terkesan biasa saja. Menurut dia, hal itu menunjukkan betapa
pemerintah terutama Golkar yang menjadi bagian penting dalam
pemerintahan merasa tidak berbuat dosa terhadap rakyatnya. Inilah
yang membuat hati rkayat semakin sakit.

'Musuh bersama' itu, kata dia, memang menjadi faktor penting bagi
rakyat dalam melakukan reformasi kemarin. Tapi, ketika dia sudah
lengser, kondisinya ternyata berubah. Konflik elite untuk
menghadapi musuh bersama yang sudah jatuh itu, ternyata
merembet menjadi konflik horisontal yang berkelanjutan.
"Situasinya juga sulit ditebak. Tapi, dari polanya yang cenderung
sama, tampak bahwa ada pukulan balik yang cukup berbahaya bagi
rakyat. Karena itu satu-satunya yang harus dilakukan adalah pemilu.
Selain membendung pukulan balik ini, pemilu akan membawa kita
pada penyelesaian persoalan substansial yang dihadapi bangsa.
Yaitu: persoalan ekonomi," jelasnya.

Selain itu, Mudji juga mengungkapkan bahwa pemerintahan sipil
mulai menunjukkan kegagalannya. Sebab utamanya, lebih terletak
pada ketidaktegasan sikap pemerintah sendiri pada tuntutan rakyat.
"Terhadap KKN, tampak sekali ketidaktegasan ini," ungkapnya.

Karena itu, satu-satunya jalan yang harus ditempuh agar persoalan
ini bisa diselesaikan adalah Pemilu. Ditandaskan oleh Mudji, pemilu
yang jurdil adalah agenda penting yang harus 'diselamatkan'. Dari
situ nanti, kita akan mengawali perjalanan baru di dalam kehidupan
bernegara," tandasnya. (IMS)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 2 Feb 1999 jam 09:29:54 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke