---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- Soal Kompromi Jatah Kursi di DPR dan DPRD ABRI Sangat Berkepentingan Selalu Tampil di Depan Rancangan Undang-Undang tentang Partai Politik, Pemilu serta Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD hari kamis ini (27/1) disetujui DPR untuk disahkan menjadi Undang-undang. Berarti selesai sudah satu agenda nasional sehubungan persiapan Pemilu 1999. Benarkah Undang- undang ini kan diterima oleh masyarakat dan Parpol-Parpol? Dari sekian pokok bahasan yang alot, posisi ABRI di DPR menjadi sorotan. Soalnya, fraksi-fraksi kompromi dengan angka 38 kursi untuk ABRI di DPR dan 10 persen di DPRD I dan II, padahal kalangan Parpol harus berjuang mati-matian. Itupun tidak ada jaminan bakal berhasil. Kompromi terhadap jatah anggota ABRI itu disayangkan oleh pengamat dan kalangan Parpol. Sebab, dinilai tidak aspiratif dan sebenarnya merugikan simpati masyarakat terhadap ABRI. "Seharusnya, kalau mau memberikan angka harus lebih rendah dari 38. Itu terlalu besar, sehingga bukan mungkin menjadi mayoritas di DPR," ujar pengamat politik Machrus Irsyam kepada Merdeka. Menurut dia, dalam kondisi dimana kredibilitas banyak disorot berbagai kalangan, kini momentum bagi ABRI untuk memperbaiki citranya. Caranya dengan mengurangi jumlah kursi sekecil mungkin, bahkan kalau perlu sampai tidak ada lagi alias nol. "Kalangan ABRI meninggalkan DPR justru mendapatkan simpati besar. Masyarakat akan menilai langkah demikian sebagai sifat mengalah. Dan itu yang seharusnya yang ditempuh," ujarnya. Dikemukakan, dengan meninggalkan DPR, ABRI sama sekali tidak dirugikan karena mereka tetap bisa berperan secara aktif dan strategis di bidang lainnya. ABRI tidak akan kehilangan peran sosial politik yang selama ini memang menjadi tugasnya. "ABRI tidak akan kehilangan apa-apa, justru mendapat simpati. Dengan tidak lagi duduk di DPR, ABRI tetap bisa berperan menjadi pembina teritorial, konsultan partai poitik dan pemerintah mengenai berbagai masalah sosial politik sebelum diambil suatu kebijakan," paparnya. Namun, jika keputusan angka 38 sudah final, artinya perjuangan para reformis ang menginginkan agar jatah ABRI dihilangkan di DPR masih belum tuntas dan perlu terus digulirkan. "Mau tak mau, karena merupakan hasil keputusan keempat fraksi, kita harus menerima sambil terus mengingatkan bahwa secara konstitusional keberadaan ABRI di DPR memang tidak diatur," ujarnya. Dikemukakan, penurunan dari 75 menjadi 38 cukup besar dan merupakan perjuangan berat bagi ABRI. Karena itu meskipun tidak memuaskan semua pihak, hendaknya kekuatan-kekuatan reformis bersabar. Menurut dia, kesempatanbagi ABRI untuk mendapatkan jatah cukup hanya satu periode dari sekarang, selanjutnya sebaiknya kosong. Lagipula ABRI sendiri sebenarnya mau meninggalkan DPR, hanya saja kelihatannya tidak terburu-buru. Meski tidak puas dengan keputusan tadi. Machrus mengakui ada kemajuan kalau melihat pengurangan sampai separuh. Memang setiap keputusan yang kompromistis tidak ada satu pihak pun yang dipuaskan 100 persen. Ketika ditanya apakah hasil keputusan 38 jatah kursi itu akan memunculkan aksi-aksi demonstrasi lebih besar, Machrus menyatakan memahami kalau kekuatan reformis, khususnya mahasiswa "gatal' akan turun dan melakukan aksi besar-besaran. Namun, jika itu dilakukan yang terjadi adalah munculnya bentrokan dua kekuatan sangat besar yang akan berakibat kepada berjatuhannya korban-korban yang notabene rakyat kecil. "Jadi kita harus bersabar bagaimanapun harus diakui ini merupakan hasil maksimal. ABRI jangan dipojokkan, karena yang akan terjadi justru kemunduran dan perpecahan," jelasnya. Ketika ditanya mengapa ABRI bersikeras dengan jumlah yang tergolong besar, Machrus mengingatkan bahwa dalam membawa perjalanan bangsa ke depan, ABRI sangat berkepentingan untuk selalu tampil di depan. "Pertama, ABRI melihat bahwa Pemilu merupakan suatu momen paling penting, tidak saja bagi ABRI tapi bangsa Indonesia," ujarnya. Dikemukan melalui Pemilu, ABRI akan bertindak dan menunjukkan kepada komponen masyarakat benar-benar netral sebagaimana yang dijanjikan. Sikap ini sangat berbeda dengan Pemilu-Pemilu sebelumnya dimana ABRI lebih berpihak kepada Golkar yang waktu lalu menjadi mayoritas tunggal. "Ini sangat penting, dengan menunjukkan bahwa mereka merupakan kekuatan netral, tentunya berharap citra dan kredibilitas dapat naik kembali," ujarnya. Selain itu, ABRI tetap bertahan untuk duduk di DPR karena merupakan kekuatan sosial dan politik dan keamanan yang siap mengawal perjalan bangsa keluar dari kemelut poltik yang semakin berkepanjangan.(KUIS) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 2 Feb 1999 jam 09:30:10 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
