----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

KOLOM SUPANGKAT:

                                        BUAH SI MALAKAMO PEMILU

Pemilu 1999 yang kita dambakan menjadi pintu gerbang era reformasi total yang
akan memulihkan ekonomi dan politik dengan tumpuah harapan kepada para wakil
rakyat pasca ordebaru, akhirnya menjadi buah si malakamo, suatu dilema
musykil.

Kalau dilanjutkan, pemilu 1999 akan melegitimasi neo-ordebaru yang tidak mau
di-
sebut golongan statuskuo, tapi itulah jatidiri mereka sebenarnya, apakah kita
mau
atau tidak mau menerimanya.

Kalau diundurkan maka akibatnya memperpanjang hidup ordebaru dalam bentuk
aslinya, bukan saja neo-ordebaru yang ibarat bunglon lari kepohon pohonan
hijau
yang dengan sendirinya akan berubah warnanya menjadi hijau pula. Namun warna
hijau tidak merubah jatidiri si bunglon.

Walhasil bagi rakyat jelata kedua kemungkinan itu resultatnya sama saja,
kehidu-
pan sehari hari semakin parah, perekonomian mikro dan makro longsor menuju
jurang yang tiada dasarnya, kehidupan sosial dan politik tentunya idem ditto
(podo
wae).

Neo-orde baru berteriak teriak bahwa kegagalan pemilu akan memenangkan pihak
statuskuo, pihak statuskuo berteriak teriak bahwa pemilu akan membawa kita
semua
ke era baru, era reformasi menuju gemah rimah loh jinawi.

Tetapi teriakan mereka yang masih mempunyai hatinurani lain daripada si
bunglon
dan si statuskuo. Yaitu bahwa masalah dahsyat ekonomi, politik, sosial yang
dari
hari kesehari semakin dahsyat itu akan membawa kita semua ke jurang kehancuran
yang tiada lagi obatnya: apakah itu disintegrasi, anarki, revolusi sosial
semu yang
tidak dibimbing oleh ideologi kerakyatan seperti semestinya karena ideologi
komunis
dilarang, ideologi marhaen-marxis dilarang, sedangkan ideologi murba tinggal
nama
saja tanpa pemimpinnya lagi yang ideolog. Ini sama saja bahayanya dengan
anarki.

Memilih salah tidak memilih salah, serbasalah.
Namun daripada membiarkan anarki bersrimaharajalela, saya kira lebih baik kita
terjun ke dunia politik "mumpung" diberi kesempatan dan memilih "the leser
evil"
(sayang tidak ada istilahnya dalam bahasa Indonesia yang masih melarat ini),
sia-
papun juga dia itu adanya. Dan inilah yang akan saya lakukan secara pribadi,
bukan
untuk mengajak atau memimpin orang lain: cobloslah partai atau caleg yang
balegh.
Untuk itu saya bersedia mencalonkan diri jadi caleg.

H.S.Hidayat Supangkat
New York.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 Apr 1999 jam 19:49:06 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke