----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

KOLOM SUPANGKAT:

                        NOSTALGIA JEBAK WISHFUL THINKING LAWAN REALITA
                        INDONESIA IBARAT NABI AYUB YANG AGNOSTIS

Nostalgia (kegandrungan) ke tanah air telah menjebak saya kedalam wishful
think-
ing melawan realisme yang selama ini dipegang teguh sehingga ingin pulang.

Nostalgia dan utopia untuk mencapai Indonesia yang aman tenteram, gemah ripah
loh jinawi yang merupakan kombinasi rasionalisme dan emosionalisme
sedemikian kuatnya sehingga saya terjebak dan mau menyisihkan segala maraba-
baya untuk mencapai tujuan mencapai kebenaran sehingga saya bersedia pulang
untuk menerima tawaran menjadi caleg.

Tapi seorang teman yang jujur melarang saya: jangan pulang dulu, saya sendiri
katanya mau lari ke luar negeri kalau bisa karena kekacauan yang sudah
berkobar
akan bertambah dahsyat kalau kampanye pemilu sudah berlangsung.

Saya tertegun bepikir dan benarlah nasihat teman ini, justru yang menjadi
kesim-
pulan saya selama ini tiba tiba disapu oleh nostalgia dan utopia dan ingin
pulang,
membayangkan duduk di DPR memperjuangkan kepentingan 130 juta melarat, 40
juta penganggur, 10 juta busunglapar.
Ternyata kesemuanya itu hanya utopia yang didorong oleh nostalgia tanah air
ter-
cinta yang sudah 10 tahun tidak dijenguk.

Sekalipun pemilu sukses, kalau neo-ordebaru apalagi kalau ordebaru blongkotan
sampai menang atau berkuasa kembali dengan jalan koalisi, rakyat Indonesia
yang
sudah "sick and tired" merana-derita perut lapar, hutang piutang menghantui,
masa
depan gelap, sudah kehilangan kesabarannya dan tinggal menunggu waktu saja
untuk meledak karena Kabinet baru harus lebih banyak berembug dengan DPR,
akan bertele tele karena banyaknya partai, semakin menjauhkan sasaran yang
dituju.

Premanisme sudah mencapai tingkat kolosal membuat semua orang "vulnerable"
terhadap: penculikan, penganiayaan, pembunuhan, dsb.
Hanya para pemimpin yang dikawal massa yang masih aman, pemimpin tanpa
bodyguard ibarat telur di ujung tanduk setiap saat bisa pecah. Polisi, TNI
sudah
lama kewalahan oleh situasi di Aceh, Timtim, ditambah dengan Ambon dan Kali-
mantan, tidak mustahil ledakan ledakan di sana sini. Banyuwangi, Purbalingga
bukan peristiwa yang pertama dan terakhir mengingat tubuh Indonesia dewasa ini
ibarat manusia korengan a la Nabi Ayub diserang bisul massal yang belum juga
ada obatnya.

Kalau Ayub bisa sembuh karena perdebatannya dengan Allah disertai iman seo-
rang Nabi dan akhirnya pulih fisik dan harta bendanya, kita ini menderita
bisul bi-
sul Ayub jangankan dengan iman dengan kepercayaan atau kepercayaan diri se-
kalipun tidak, malah dengan agnotisme dan dendam-kesumat yang menyala nyala,
makanya tidak akan bisa sembuh.

H.S. Hidayat Supangkat
New York

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Apr 1999 jam 14:22:29 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke