---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Masalah Pemilu: Apa Indonesia punya pemimpin2 (capres, caleg, etc) yang bermutu? Saya setuju dengan mereka yang berpendapat (e.g. Pak Supangkat) bahwa mungkin seorang pemimpin seperti Ali Sadikin tepat menjadi calon Presiden. Alasannya: Satu, A. Sadikin is a proven manager, leader, and "builder"; kesanggupan dia untuk memimpin dan membangun telah diuji dan dia lulus. Apakah Amien Rais, Megawati, Gus Dur, Wiranto, Habibie, Nurcholish Majid, dan semua orang lain yang dipertimbangkan menjadi capres (juga orang orang yang akan jadi caleg2) cukup berpangalaman dalam memimpin negara dalam arti pernah dan/atau telah lulus diuji oleh tantangan2 kepemimpinan dan �governing skills and managerial challenges� yang mahaberat dan super-complex itu?. Apakah caleg2 Indonesia telah membuktikan kesanggupan, ketrampilan, dan loyalitas dalam mewakili rakyat yang memilihnya? Do they know �needs assessment� skills, are they sensitive to �reliable data�? Kedua, A. Sadikin telah bertahun2 menunjukkan bahwa dia ini �antithesis of the New Order�; dia adalah salah seorang pelopor reformasi waktu Amien Rais masih ingusan di SD. Idealnya, calon presiden dan caleg2 itu harus orang yang bukan saja tak pernah berpatisipasi dalam Orba dan KKN-nya, tapi juga jelas dalam sejarah hidupnya tidak mempraktekan ideologi dan praktek2 Orba. Ideologi dan praktek2 Orba itu ada enam: anti-demokrasi, anti otonomi daerah, anti-rule-of-law, anti-ekonomi-untuk-rakyat, anti hak2 azasi manusia, dan anti-trasparansi atau anti-accountability. Apakah pemimpin2 dan calon2 pemimpin di Indonesia sekarang ini sibuk hanya �mouthing� atau hanya bersemangat berpidato menggembar-gemborkan nilai2 reformasi (demokrasi, otonomi daerah, rule-of-law, ekonomi untuk rakyat, HAM, transparansi), tapi belum cukup secara nyata menunjukan pengalaman2 mempraktekan nilai2 itu? Mereka yang mempraktekan nila2 reformasi hanya dalam era reformasi �suspect� atau harus dicurigai niatnya. Jadi pemimpin2, termasuk capres2 dan caleg2, yang diperlukan oleh Indonesia ialah orang2 yang tidak hanya mempraktekan �verbalisme� (ngomong doang, �ngahuntu�), yang hanya mengemukakan analisa2 muluk atau �even� ilmiah seperti cendekiawan atau ilmuwan dalam �graduate seminars� , atau yang hanya sanggup membuat massa (yang dengar pidato) penuh semangat dan tekad untuk membangun Indonesia (tapi begitu pulang kerumah pusing masalah sembako atau beaya sekolah anak2). Bahasa Inggeris-nya: talk is cheap!; bahasa Sundanya: ngahuntu! Seperti tulisan saya ini, meskipun mungkin benar dan mungkin bermanfaat, tak lain daripada ngomong doang! Mungkinkah pemimpin2 dan tokoh2 Indonesia itu kena penyakit �verbalisme doang�, �analisis doang�, �diskusi dan rapat doang�, �bekumpul dengar pidato doang�, �marah2 dan menyalahkan masa lampau doang�, dsb; mungkinkah mereka ini harus lebih banyak �aktivisme�, �diam2 bertindak mengentaskan kemiskinan�, �kampanye bukan ngomong tapi ber-amal yang kongkrit�, �tolong satu anak yatim piatu�, �fund-raising untuk beli obat utk si miskin yang sakit keras�, �mengadakan �empowerment meeting serukun tetangga� dimana sekelompok orang diarahkan untuk dengan kongkrit menimbulkan sumber2 penghasilan sehari2�, dst. Barangkali syarat yang paling penting bagi calon2 pemimpin Indonesia bulan Juni 1999 ini adalah apakah mereka ini telah menunjukan kesanggupan mendidik diri dan masyarakat untuk membebaskan diri dari �sentralisasi�, �ketergantungan pada pemimpin�, �ketergantungan pada pemerintah�, �kultus individu atau pemujaan pemimpin, mulai dari lurah sampai Presiden�, �ketergantungan pada koneksi�, �tidak percaya bahwa birokrasi itu bisa bersih dan efektif�, dsb, dst. Salah satu arti demokrasi ialah �people empowerment�, artinya kampung, desa, sekelompok tetangga, guru2 dan orangtua murid, individu pada umumnya, dsb bukan saja percaya dan berani bisa memecahkan masalahnya sendiri, tapi juga mau belajar ketramplian dan kecakapan untuk hidup mandiri tanpa ketergantungan pada KKN, pemimpin, koneksi, dan praktik2 anti �rule-of-law�. Saya mohon maaf seandainya ada kata2 yang tak layak. Wassalam, Imat Amidjaya ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 14 Apr 1999 jam 11:06:39 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
