> > > > > hi...... mau duit...... klik saja........
> > > > > http://xtracash.webjump.com/000340.html
> > > > > 
> > > > > ada yang baru nih......penghasilan tanpa batas dan dijamin pasti
> > > > dapat.....
> > > > > end .....syaratnya mudah
> > > > > dan mendapatkan bonus terus-terus....dan terus........
> > > > > hanya mengklik......   http://xtracash.webjump.com/000340.html
> > > > > 
> > > > > ayoooooo segera...... 
> > > > > 
> > > > > ##################
> > > > > ingin bonus abadi silakan klik :
> > > > > http://xtracash.webjump.com/000340.html
> > > > > http://www.ratesaver.com.au/index.htm?$i5nk 
> > > > > =================================================
> 


----------
> From: Puspa Bangsa <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
> Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
> Subject: [mimbarbebas] Jabatan Rangkap (2)
> Date: 27 Oktober 1998 9:34
> 
> Jakarta, 27 Oktober 1998
> 
> Jabatan Rangkap (2)
> 
> Sebenarnya adanya perangkapan jabatan sudah lama ada di bumi Indonesia.
> Bahkan di muka bumi ini. Tapi mungkin baru kali ini, kita bisa 
> membahasnya agak mendalam.
> 
> Di era 80-an, Bapak Soedarmono yang waktu itu menjabat Mensesneg,
> merangkap jabatan sebagai Ketua Umum Golkar. Beliau juga merangkap
> jabatan sebagai "ketua yayasan-yayasan" milik Soeharto.
> Waktu itu memang pandangan masyarakat mungkin belum luas, pikiran
> kita belum terbuka. Masyarakat memandang, bila seseorang menjabat
> lebih dari satu jabatan, berarti orang tersebut mempunyai kemampuan
> lebih dari yang lain. Apalagi kapasitasnya sebagai pemimpin atau ketua
> dalam organisasi yang dipimpinnya.
> Masyarakat belum mampu menimbang, di mana dan bagaimana seharusnya 
> yang benar ditempatkan, dan yang salah disingkirkan bahkan dihindari.
> Apalagi dengan propaganda yang didengung-dengungkan Golkar saat itu
> semisal adanya asas tunggal - yang mana apabila kita mempunyai 
> organisasi dan tidak berasas Pancasila kita bisa dikenai tuduhan
> "Subversif". Masyarakat dibuat sedemikian sehingga meyakini apabila
> suatu organisasi berasas Pancasila, maka dia legal dan tidak subversif.
> Beginilah, masyarakat sudah tercuci otaknya dengan propaganda tersebut.
> Bahkan sampai hari ini pun masih ada sisa-sisa masyarakat yang sudah
> "bersih" otaknya tersebut. Anda bisa buktikan.
> 
> Demikian halnya dengan jabatan. Di mana suatu organisasi didukung
> pemerintah, maka tidaklah mungkin ada tuduhan subversif.
> Apalagi bila yang menjadi ketuanya adalah seorang pejabat pemerintahan.
> Dijamin aman. Maka tersusunlah kepanitiaan tidak resmi yang memilih
> dan mengangkat setiap pejabat pemerintahan dalam setiap organisasi
> terutama yang besar, semisal Golkar.
> 
> Golkar pada awalnya memang hanya suatu organisasi. Yang kemudian 
> dari pengurus sampai ketuanya, adalah notabene pejabat pemerintah
> atau keluarganya, maka Golkar bisa "mengakar" - ini istilah orang
> Golkar sendiri. Bahkan Pembinanya sendiri adalah pejabat pemerintah
> tertinggi/ Presiden. Maka tidaklah sulit membuat Golkar menjadi suatu
> kekuatan baru, atau semacam partai politik. Atau lebih tepatnya
> organisasi kemasyarakatan tapi bergerak dalam bidang politik.
> - Sampai sekarang tidak ada pernyataan resmi, bahwa Golkar ini adalah
> organisasi kemasyarakatan atau partai politik. Karena sebelum ini,
> kontestan pemilu adalah 2 parpol dan Golkar. Ini berarti Golkar
> bukan partai politik, bukan? -
> Bahkan partai politik yang ada saat itu, bisa dikebiri. Memang hebat 
> organisasi yang satu ini.
> 
> Setelah dipegang Bapak Soedarmono, Golkar sukses berat dalam Pemilu.
> Lalu dilanjutkan oleh Bapak Harmoko. Lagi-lagi beliau adalah pejabat
> pemerintahan, yang waktu itu beliau menjabat Menteri Penerangan.
> Sampai waktu terakhir sewaktu beliau terpilih menjadi Ketua DPR/ MPR.
> Setelah ini, "dipilih" lagi pejabat pemerintahan, Bapak Akbar Tanjung,
> sampai sekarang masih menjabat Mensesneg. Lihat reaksinya waktu
> beliau "terpilih" menjadi Ketua. Menjijikkan. Padahal setahu saya,
> terpilihnya beliau memang sudah direkayasa.
> 
> Mari kita lihat fenomena ini. Sepanjang sejarah Orde Baru, yang namanya
> Ketua Umum Golkar adalah pejabat pemerintah dan Golkar selalu "menang"
> dalam setiap Pemilu. Mengapa?
> 
> Ada beberapa analisa sebagai berikut.
> 1. Golkar memanfaatkan ketaatan rakyat pada penguasa, walaupun dengan
>    segala cara untuk membuat rakyat taat. Dari rayuan halus sampai
>    tuduhan subversif.
> 
> 2. Golkar memanfaatkan ketidakberdayaan rakyat untuk mendukungnya 
>    dengan propaganda "Golkar milik wong cilik" -> Golkar milik
>    orang kecil. Kecil bisa diartikan kerdil, picik (kerdil otaknya).
>    Jadi orang yang mendukung Golkar itu otaknya kecil. Tidak bisa
>    membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan lagi selalu
>    meminta petunjuk dari atasan untuk pelaksanaan setiap kebijakan.
>    Anda tahu sendiri...
> 
> 3. Golkar memanfaatkan fasilitas pemerintahan untuk menjalankan setiap
>    kampanye terselubungnya. Dulu Bapak Harmoko, selalu berkeliling ke
>    seluruh pelosok nusantara. Bukan dalam kapasitas sebagai Menpen.
>    Tapi sebagai Ketua Umum Golkar. Ini dilakukan berulang-ulang 
>    sehingga tercipta image dalam pikiran masyarakat, bahwa Harmoko
>    identik dengan Golkar. Dan kekuatan Golkar ada "di mana-mana".
>    Maka rakyat mau tidak mau memilih kekuatan yang "besar".
> 
> 4. Golkar memanfaatkan kapasitas pengurus sampai ketuanya yang notabene
>    mereka adalah pejabat pemerintahan dan keluarganya.
>    Bila anda ingin mengecek, lihat rekaman kampanye pemilu terakhir.
>    Anda bisa menilainya dengan akal yang jernih dan hati yang bersih
>    tentunya.
> 
> 5. Golkar memanfaatkan organisasi-organisasi lain yang dipimpin oleh
>    pengurus Golkar yang sebagian adalah pejabat pemerintah, atau
>    mantannya. Yayasan Dakab sudah jelas-jelas menyokong Golkar.
>    Dan jelas-jelas yang mengetuai adalah mantan pejabat.
>    Ini mungkin yang paling rumit untuk diuraikan.
> 
> Dapat ditarik kesimpulan bahwa jabatan-jabatan yang dirangkapkan pada
> satu orang akan membawa orang tersebut pada tindakan kolusi, korupsi,
> bahkan nepotisme dan monopoli.
> Saya tidak setuju dengan sikap pemerintah yang terus mempertahankan
> rangkap-merangkap jabatan ini. Inilah sumber KKN, sumber kemerosotan
> moral pejabat kita, sumber kemerosotan tata nilai politik kita.
> Apalagi akhir minggu ketiga Oktober, pemerintah menegaskan kembali
> tidak akan melepas jabatan rangkap tersebut - Mensesneg dan Ketua
> Umum Golkar.
> 
> Apakah pemerintah menganggap itu adalah jabatan strategis untuk 
> memenangkan Pemilu nanti?
> Kalau ini dijawab ya, berarti pemerintah tidak fair. Pemerintah
> secara terbuka mendukung salah satu kontestan. Pemerintah tidak
> konsekuen dengan pernyataan sendiri yang akan memberantas KKN.
> Pemerintah sudah tidak adil, dengan mementingkan salah satu golongan
> dan ini bertentangan dengan Pancasila.
> Bila diintegralkan berarti pemerintah kita sudah menyalahi Pancasila,
> yang menurut pemerintah sendiri dijadikan asas tunggalnya.
> 
> Bapak Habibie, Anda sebagai Presiden, apakah Anda bersedia untuk
> bertindak sebagaimana seharusnya?
> Tentunya saya tidak meminta Anda untuk merangkap jabatan.
> 
> Terima kasih.
> 
> 
> 
> Get your FREE E-mail at http://mailcity.lycos.com
> Get your PERSONALIZED START PAGE at http://personal.lycos.com
> ------------------------------------------------------------------------
> Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
> at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.
> 

------------------------------------------------------------------------
eGroups Spotlight:
"Kosovo-Reports" - Direct reports from Kosovo/Serbia/Yugoslavia.
http://offers.egroups.com/click/252/0

eGroup home: http://www.eGroups.com/list/mimbarbebas
Free Web-based e-mail groups by eGroups.com

Kirim email ke