> > > > > hi...... mau duit...... klik saja........
> > > > > http://xtracash.webjump.com/000340.html
> > > > > 
> > > > > ada yang baru nih......penghasilan tanpa batas dan dijamin pasti
> > > > dapat.....
> > > > > end .....syaratnya mudah
> > > > > dan mendapatkan bonus terus-terus....dan terus........
> > > > > hanya mengklik......   http://xtracash.webjump.com/000340.html
> > > > > 
> > > > > ayoooooo segera...... 
> > > > > 
> > > > > ##################
> > > > > ingin bonus abadi silakan klik :
> > > > > http://xtracash.webjump.com/000340.html
> > > > > http://www.ratesaver.com.au/index.htm?$i5nk 
> > > > > =================================================
> 


----------
> From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; Puspa Bangsa <[EMAIL PROTECTED]>
> Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
> Subject: [reformasitotal] Re: Jabatan Rangkap (2)
> Date: 28 Oktober 1998 12:51
> 
> Setuju Bung!
> 
> Justru Presiden Habibie kalau memang konsisten dan ingin melepaskan diri
> dari bayang-bayang masa lalu maka sebelum PEMILU beliau dapat mulai
memberi
> contoh dengan membersihkan kabinetnya termasuk dirinya dari JABATAN
RANGKAP
> tersebut.
> 
> Presiden Habibie mungkin memang tidak memiliki latar belakang pendidikan
> politik. Namun demikian, dengan menggunakan kemampuan otaknya
> 0,00000000000001% saja maka beliau pasti dapat mengerti bahwa perangkapan
> jabatan tersebut akan menjadi awal ketidakadilan dalam Pemilu yad.
> 
> Paling sedikit beliau dapat memulai dari dirinya sendiri dengan cara
> melepaskan diri dari jabatannya di Golkar. Disusul kemudian dengan Akbar
> Tanjung, dan kemudian yang lain.
> 
> Dengan cara tersebut, kita memiliki harapan bahwa Pemilu yang akan datang
> memang telah dimulai dengan niat yang baik dan jujur. Disamping itu,
> Presiden Habibie yang mempunyai pedoman hidup "jadilah sumber air yang
> bersih" juga konsisten mengimplementasikan pedoman hidup itu dalam
> kegiatannya sebagai presiden agar di contoh atau menjadi model bagi orang
> lain.
> 
> Bila reshuffle kabinet itu tidak terjadi, maka pertama sumber air itu
memang
> tidak lagi bersih, kedua, seperti ditulis oleh Puspa Bangsa, Golkar pasti
> akan mengulang cara-cara lama dengan segala jaringan kekuasaannya untuk
> meraih suara sebanyak-banyaknya guna menutup malu. Seandainya mereka
kalah
> mereka pasti tidak mau kalah terpuruk seperti PDI dalam Pemilu lalu.
Gejala
> pertama sudah tampak dimana Wiranto dicalonkan menjadi Presiden.
> 
> ��
> 
> -----Original Message-----
> From: Puspa Bangsa
> 
> Date: Wednesday, October 28, 1998 1:59 AM
> Subject: [reformasitotal] Jabatan Rangkap (2)
> 
> 
> |Jakarta, 27 Oktober 1998
> |
> |Jabatan Rangkap (2)
> |
> |Sebenarnya adanya perangkapan jabatan sudah lama ada di bumi Indonesia.
> |Bahkan di muka bumi ini. Tapi mungkin baru kali ini, kita bisa
> |membahasnya agak mendalam.
> |
> |Di era 80-an, Bapak Soedarmono yang waktu itu menjabat Mensesneg,
> |merangkap jabatan sebagai Ketua Umum Golkar. Beliau juga merangkap
> |jabatan sebagai "ketua yayasan-yayasan" milik Soeharto.
> |Waktu itu memang pandangan masyarakat mungkin belum luas, pikiran
> |kita belum terbuka. Masyarakat memandang, bila seseorang menjabat
> |lebih dari satu jabatan, berarti orang tersebut mempunyai kemampuan
> |lebih dari yang lain. Apalagi kapasitasnya sebagai pemimpin atau ketua
> |dalam organisasi yang dipimpinnya.
> |Masyarakat belum mampu menimbang, di mana dan bagaimana seharusnya
> |yang benar ditempatkan, dan yang salah disingkirkan bahkan dihindari.
> |Apalagi dengan propaganda yang didengung-dengungkan Golkar saat itu
> |semisal adanya asas tunggal - yang mana apabila kita mempunyai
> |organisasi dan tidak berasas Pancasila kita bisa dikenai tuduhan
> |"Subversif". Masyarakat dibuat sedemikian sehingga meyakini apabila
> |suatu organisasi berasas Pancasila, maka dia legal dan tidak subversif.
> |Beginilah, masyarakat sudah tercuci otaknya dengan propaganda tersebut.
> |Bahkan sampai hari ini pun masih ada sisa-sisa masyarakat yang sudah
> |"bersih" otaknya tersebut. Anda bisa buktikan.
> |
> |Demikian halnya dengan jabatan. Di mana suatu organisasi didukung
> |pemerintah, maka tidaklah mungkin ada tuduhan subversif.
> |Apalagi bila yang menjadi ketuanya adalah seorang pejabat pemerintahan.
> |Dijamin aman. Maka tersusunlah kepanitiaan tidak resmi yang memilih
> |dan mengangkat setiap pejabat pemerintahan dalam setiap organisasi
> |terutama yang besar, semisal Golkar.
> |
> |Golkar pada awalnya memang hanya suatu organisasi. Yang kemudian
> |dari pengurus sampai ketuanya, adalah notabene pejabat pemerintah
> |atau keluarganya, maka Golkar bisa "mengakar" - ini istilah orang
> |Golkar sendiri. Bahkan Pembinanya sendiri adalah pejabat pemerintah
> |tertinggi/ Presiden. Maka tidaklah sulit membuat Golkar menjadi suatu
> |kekuatan baru, atau semacam partai politik. Atau lebih tepatnya
> |organisasi kemasyarakatan tapi bergerak dalam bidang politik.
> |- Sampai sekarang tidak ada pernyataan resmi, bahwa Golkar ini adalah
> |organisasi kemasyarakatan atau partai politik. Karena sebelum ini,
> |kontestan pemilu adalah 2 parpol dan Golkar. Ini berarti Golkar
> |bukan partai politik, bukan? -
> |Bahkan partai politik yang ada saat itu, bisa dikebiri. Memang hebat
> |organisasi yang satu ini.
> |
> |Setelah dipegang Bapak Soedarmono, Golkar sukses berat dalam Pemilu.
> |Lalu dilanjutkan oleh Bapak Harmoko. Lagi-lagi beliau adalah pejabat
> |pemerintahan, yang waktu itu beliau menjabat Menteri Penerangan.
> |Sampai waktu terakhir sewaktu beliau terpilih menjadi Ketua DPR/ MPR.
> |Setelah ini, "dipilih" lagi pejabat pemerintahan, Bapak Akbar Tanjung,
> |sampai sekarang masih menjabat Mensesneg. Lihat reaksinya waktu
> |beliau "terpilih" menjadi Ketua. Menjijikkan. Padahal setahu saya,
> |terpilihnya beliau memang sudah direkayasa.
> |
> |Mari kita lihat fenomena ini. Sepanjang sejarah Orde Baru, yang namanya
> |Ketua Umum Golkar adalah pejabat pemerintah dan Golkar selalu "menang"
> |dalam setiap Pemilu. Mengapa?
> |
> |Ada beberapa analisa sebagai berikut.
> |1. Golkar memanfaatkan ketaatan rakyat pada penguasa, walaupun dengan
> |   segala cara untuk membuat rakyat taat. Dari rayuan halus sampai
> |   tuduhan subversif.
> |
> |2. Golkar memanfaatkan ketidakberdayaan rakyat untuk mendukungnya
> |   dengan propaganda "Golkar milik wong cilik" -> Golkar milik
> |   orang kecil. Kecil bisa diartikan kerdil, picik (kerdil otaknya).
> |   Jadi orang yang mendukung Golkar itu otaknya kecil. Tidak bisa
> |   membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan lagi selalu
> |   meminta petunjuk dari atasan untuk pelaksanaan setiap kebijakan.
> |   Anda tahu sendiri...
> |
> |3. Golkar memanfaatkan fasilitas pemerintahan untuk menjalankan setiap
> |   kampanye terselubungnya. Dulu Bapak Harmoko, selalu berkeliling ke
> |   seluruh pelosok nusantara. Bukan dalam kapasitas sebagai Menpen.
> |   Tapi sebagai Ketua Umum Golkar. Ini dilakukan berulang-ulang
> |   sehingga tercipta image dalam pikiran masyarakat, bahwa Harmoko
> |   identik dengan Golkar. Dan kekuatan Golkar ada "di mana-mana".
> |   Maka rakyat mau tidak mau memilih kekuatan yang "besar".
> |
> |4. Golkar memanfaatkan kapasitas pengurus sampai ketuanya yang notabene
> |   mereka adalah pejabat pemerintahan dan keluarganya.
> |   Bila anda ingin mengecek, lihat rekaman kampanye pemilu terakhir.
> |   Anda bisa menilainya dengan akal yang jernih dan hati yang bersih
> |   tentunya.
> |
> |5. Golkar memanfaatkan organisasi-organisasi lain yang dipimpin oleh
> |   pengurus Golkar yang sebagian adalah pejabat pemerintah, atau
> |   mantannya. Yayasan Dakab sudah jelas-jelas menyokong Golkar.
> |   Dan jelas-jelas yang mengetuai adalah mantan pejabat.
> |   Ini mungkin yang paling rumit untuk diuraikan.
> |
> |Dapat ditarik kesimpulan bahwa jabatan-jabatan yang dirangkapkan pada
> |satu orang akan membawa orang tersebut pada tindakan kolusi, korupsi,
> |bahkan nepotisme dan monopoli.
> |Saya tidak setuju dengan sikap pemerintah yang terus mempertahankan
> |rangkap-merangkap jabatan ini. Inilah sumber KKN, sumber kemerosotan
> |moral pejabat kita, sumber kemerosotan tata nilai politik kita.
> |Apalagi akhir minggu ketiga Oktober, pemerintah menegaskan kembali
> |tidak akan melepas jabatan rangkap tersebut - Mensesneg dan Ketua
> |Umum Golkar.
> |
> |Apakah pemerintah menganggap itu adalah jabatan strategis untuk
> |memenangkan Pemilu nanti?
> |Kalau ini dijawab ya, berarti pemerintah tidak fair. Pemerintah
> |secara terbuka mendukung salah satu kontestan. Pemerintah tidak
> |konsekuen dengan pernyataan sendiri yang akan memberantas KKN.
> |Pemerintah sudah tidak adil, dengan mementingkan salah satu golongan
> |dan ini bertentangan dengan Pancasila.
> |Bila diintegralkan berarti pemerintah kita sudah menyalahi Pancasila,
> |yang menurut pemerintah sendiri dijadikan asas tunggalnya.
> |
> |Bapak Habibie, Anda sebagai Presiden, apakah Anda bersedia untuk
> |bertindak sebagaimana seharusnya?
> |Tentunya saya tidak meminta Anda untuk merangkap jabatan.
> |
> |Terima kasih.
> |
> |
> |
> |Get your FREE E-mail at http://mailcity.lycos.com
> |Get your PERSONALIZED START PAGE at http://personal.lycos.com
> |------------------------------------------------------------------------
> |Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
> |at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.
> |
> 
> ------------------------------------------------------------------------
> Subscribe, unsubscribe, opt for a daily digest, or start a new e-group
> at http://www.eGroups.com -- Free Web-based e-mail groups.
> 

------------------------------------------------------------------------
eGroups Spotlight:
"Kosovo-Reports" - Direct reports from Kosovo/Serbia/Yugoslavia.
http://offers.egroups.com/click/252/0

eGroup home: http://www.eGroups.com/list/mimbarbebas
Free Web-based e-mail groups by eGroups.com

Kirim email ke