---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk KESAKSIAN SEORANG GADIS: PENYERBUAN RUMAH MANUEL CARRASCALAO DILI (MateBEAN, 21/4/99), Aparat punya versi sendiri tentang peristiwa pembunuhan rakyat sipil yang terjadi pada Sabtu (17/4) lalu, namun rakyat punya versinya yang lebih asli. Berikut adalah kesaksian Dita (bukan nama sebenarnya) dalam insiden penyerangan para milisi bersenjata terhadap rumah Manuel Carras- calao. Gaya bahasa Dita sengaja tidak kami edit agar nafas asli penuturannya tidak hilang. ========= Pada pk 10.00 wita, Dita pergi ke rumah Cris Carrrascalao dengan tujuan menginformasikan keadaan pengungsi di Suai dan keadaan politik saat ini di Timtim. Pada waktu itu, memang ada upacara pengukuhan pasukan AITARAK dan para milisia lainnya di depan kantor gubernur. Dita sedang menceritakan keadaan pengungsi Suai dan juga ulah para panitia pengungsian yang memperjualbelikan pangan yang sebenarnya harus diberikan kepada para pengungsi. Mereka berdua sedang asyik bicara soal pengungsian tersebut, tiba-tiba terdengar suara atau bunyi rentetan tembakan di jalan Bidau menuju ke arah Lecidere dan Dili Jaya. Mereka berhenti sebentar dan saling memberitahu pada teman-teman yang ada di dalam rumah untuk lebih berhati-hati dengan tembakan itu. Seketika saja datang kelompok para milisi dan TNI dengan truk, kenderaan beroda dua dari dua arah yakni dari arah Dili Jaya dan dari arah KODIM untuk mengepung rumah Pak Carrascalao. Kami berteriak dan saling membantu satu sama lain untuk menghindari dari tembakan membabi buta tersebut. Pada waktu Chris memanggil saya (Dita), saya sudah keluar duluan dari rumah untuk mencari perlindungan dan bagaimana dapat meloloskan diri dari tragedi itu. Saya (Dita) memanjat pohon yang ada di sekitar itu dan meloncat ke pagar tetangga yang kurang lebih 6 meter dan kemudian melompat ke bawah. Menurut Dita, teman-teman Manuel Carrascalao (anak Pak Manuel) yang berada disitu 7 orang, mereka sedang bicara di belakang, dan belum menghitung para pengungsi dan keluarga pak Carrascalao sendiri. Saya (Dita) pada hari itu tidak bisa keluar dari tempat persembunyian karena jalan-jalan dijaga ketat tentara dan para milisi. Esok hari baru bisa berusaha untuk pulang ke rumah. Para milisia dan tentara mengepung dari jam kira-kira 12.30 sampai dengan pagi hari (03.00 am), maksudnya hari Minggu (18/04/99), mereka menembak, mencaci-maki, memukul dan lain-lain, ini semua saya dengar dari tempat persembunyian. Anda dapat bayangkan saja pagar yang tinggi kurang lebih 6 meter itu saya meloncat dengan mudah dari pohon itu dan meloncat kembali ke bawah, sepertinya sesuatu yang kecil sekali dalam waktu kepepet dan tidak merasa apa-apa. Setelah itu, baru saya bayangkan kembali tragedi tersebut dan merasa sangat benci terhadap kekejian yang dilakukan para militer yang tidak manusiawi terhadap orang-orang kecil yang tak berdosa. Pada waktu para militer membabi buta menembak ke rumah Bapak Manuel C. beliau tidak ada di rumah dan sempat saya melihat mobil putih (automovel), masuk ke rumah pak Carrascalao, kemungkinan Pak Carrascalao dan mencoba mengambil anak-anaknya dari rumah, pada waktu saya sedang memanjat pohon, tapi saya kurang tahu apakah dapat meloloskan diri atau tidak. Kemudian setelah saya pulang ke rumah baru saya dengar berita bahwa anaknya pak Manuel meninggal dunia dan orang-orang lainnya, termasuk para pengungsi dan beberapa yang luka parah.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Apr 1999 jam 12:28:09 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
